#7HariMenulis

Cermin

10:22 PM Tameila 2 Comments


Mereka bilang badannya sudah turun. Auranya lesu seperti emak-emak yang sudah dipermak habis oleh para suami. Tidak sumringah lagi. Bahkan jalannya pun sudah ngangkang. Vaginanya jebol alhasil selaput daranya pun sudah terkoyak. Apa lagi selanjutnya selain semua orang meragukan orisinalitasnya?


Yang terbayang oleh saya ketika mereka berkata-kata seperti itu adalah anjing bulldog.

Mereka bilang payudaranya sudah tidak kencang. Rambutnya yang terurai panjang sering jadi lengket karena keringat. Bibirnya sudah dower akibat sering cipokan. Di lehernya banyak bekas cupang yang tidak jarang ditutupi oleh plester. Lebih-lebih dibubuhi oleh bedak tebal atau kalau sedang nekat dihalangi oleh tato.

Yang terbayang oleh saya ketika mereka menjelaskan semuanya secara gamblang adalah wewe gombel.

Mereka bilang orangnya asyik. Mulai diajak kopi darat hingga di ranjang tak mengecewakan. Suaranya pun dapat membuat konak. Siapa yang mengira tubuh nyaris sempurna itu membosankan? Lelaki impoten juga bisa “bangun” lagi hanya dengar suaranya.

Yang terbayang oleh saya ketika mereka mengkhayal tentang semua itu adalah Marilyn Monroe.

Mereka bilang virginnya sudah tidak ada. Kalau pun ada, badannya sudah habis dijamah oleh para pejantan yang gatal. Bagi saya tidak salah. Selama masih ada yang mau menggaruk dengan senang hati mengapa harus ribut-ribut? Toh yang menggaruknya pun rela dengan lelah menghilangkan kegatalan itu.

Yang terbayang oleh saya ketika mereka mengutarakan kenikmatan itu adalah alat penggaruk yang mengeluarkan suara saat dibolak-balik. Ngeeekk-ngoookk~

Mereka bilang walau begitu pribadinya baik, ramah, santun, walau agak binal ada sisi penyayang dan keanggunan yang tersimpan. Tak ayal solidaritas terkadang menjadi nomor satu. Buktinya satu rasa sama rata berlaku. Konyol juga...padahal dari kaca mata dunia keegoisan menyelimuti itu semua. Apa bisa solidaritas terpacung tegak di tengah keegoisan?

Yang terbayang oleh saya ketika mereka semua mengeluarkan pujian-pujian itu adalah manusia purba. Tidak! Mereka adalah lebah. Manis, lengket, berisik, dan menyengat.

Mereka bilang saya tidak tahu apa-apa. Tidak abu-abu terlebih hitam. Apa kertas putih terbayang di wajah saya? Apa kepolosan terpancar di mata saya? Kosongkah otak saya? Atau saya mulai tertarik oleh magnet kata-kata yang selalu saja mereka gunjingkan? Cermin saya mengatakan kalau otot klitoris mereka belum pernah menegang. Kalau pun sudah hanya kontraksi normal saat mensturasi.

Rasa gatal menggelitik tubuh saya. Awalnya hanya terasa di bagian bawah, tapi lama kelamaan menjalar hingga ke leher lalu ke kulit kepala. Semuanya berganti. Jadi apa? Entahlah...saya pusing. Saya bingung. Saya gamang.

Mereka bilang saya harus berselimut tebal. Paling tidak ada sesuatu yang menutupi diri saya. Mereka begitu menjaga saya, padahal saya tidak tahu apa yang harus saya jaga (selain lubah rahim saya agar tidak melebar sebelum waktunya). Bilang saja saya tidak boleh nge-seks sebelum pasangan saya halal. Padahal, bagi saya hanya dengan pegangan tangan dan hati sudah “ser-ser”-an itu sudah nge-seks. Jadi, apa bedanya dengan ciuman atau making love sekalian? Hanya organ tubuh yang bekerjanya saja yang berbeda. Ujung-ujungnya...sama saja bikin kita sange.


Mereka bilang konak itu menjijikan. Saya pun berpikiran sama, tapi saya tak berani mengumbar. Perut saya sering mual membayangkan itu semua, apalagi harus membesar-besarkannya. Padahal mereka sendiri tidak tahu apa-apa. Mereka hanya berspekulasi.

Yang terbayang oleh saya ketika mereka seperti itu adalah ........

You Might Also Like

2 comments:

  1. waw. agak gimana gitu tahu kalo penulisnya pake jilbab. :)

    salam kenal mbak

    ReplyDelete
  2. salam kenal :)

    emm..gimana gimana maksudnya?

    ReplyDelete