Through My Skin
DAC sudah beberapa kali pentas, tapi jujur, hingga saat ini
saya masih belum percaya kalau mereka mampu merasakan musik lewat jantung. Dua
puluh dua tahun saya bisa nangis, marah, dan gamang karena musik dari
mendengarkan, bukan merasakannya lewat jantung. Logikanya, musik itu untuk
didengar, bukan dirasakan. Pun ada sebuah pepatah yang mengatakan “musik itu
untuk dirasakan”, it’s still kita harus mendengarkannya dulu untuk bisa dapat feel-nya.
Itu adalah teguran Pak Broto kepada salah satu dancer yang berkolaborasi dengan DAC untuk pementasan 28 Desember 2012 lalu. Mendengarnya membuat saya membayangkan, bagaimana jadinya hidup saya tanpa mendengarkan musik? Bagaimana tugas-tugas saya, ketikan saya, mood saya, bahkan hidup saya tanpa mendengar musik?“Buang headsetmu! Percuma kalau kamu pakai headset tapi nggak bisa nge-beat. Anak-anak bisa merasakan beat-mu dari caramu membawakannya. Teknik nomor kesekian kalau feeling-nya udah on.”
Sepi
kah? Flat? Kosong?
Mungkin, karena selama ini saya dimanja untuk menikmati musik dengan telinga, bukan dengan hati.
Sore tadi saya memilih menikmati Canon D Piano Version lewat telapak tangan. Berusaha sebisa mungkin menulikan telinga dari denting piano. Rasanya? Sungguh, saya fakir dalam menikmati musik.
Hampir lima kali saya mencoba merasakan dentingan piano Canon D. Saya tulikan telinga saya dengan headset yang disetel keras-keras. Sengaja, agar saya tidak mendengar denting piano Canon D dan hanya merasakan hentakan dentingannya saja di telapak tangan. Satu kali, nggak kerasa. Dua kali, mulai terasa temponya. Tiga kali, ah..buyar..konsentrasi saya tercampur dengan nada-nada yang mengalun di alam bawah sadar. Empat kali, telapak tangan saya mulai kembali bersahabat dengan tempo denting piano lewat speaker. Lima kali, sesak rasanya tanpa kuasa membendung air mata.
Bagaimana
rasanya Canon D lewat telapak tangan?
Sesak,
Tuhan. Saya hanya bisa merasakan hentakannya tanpa memahami mana nada minor dan
mayor. Jantung saya mungkin tidak sesensitif teman-teman tuli, tapi telapak
tangan saya mampu merasakan iringan tempo Canon D. Saat temponya cepat, kulit
saya seketika bergetar dan seperti ada yang menari di atasnya. Saat melodinya
melambat, seperti ada yang merayap di atas telapak tangan saya.
Tuhan,
inikah yang mereka rasakan ketika menikmati musik? Ini pula kah yang dimaksud
guru piano saya dulu saat dia berkata, “jangan
asal tekan tuts. Rasakan temponya dan atur hentakannya lewat jari-jari kamu”?
Sayang, tekad saya untuk menikmati musik tidak setangguh teman-teman tuna rungu. Tempo piano saya berantakan, mayor-minor bercampur tanpa melukiskan keindahan yang pasti. Ditegur begitu, saya langsung stress. Di rumah langsung latihan fingering seperti sedang kejar setoran. Sekarang saya hanya bisa tertawa, pantas saja kalau latihan fingering bawaannya misuh. Jelas, Gita, kamu tidak menikmatinya! Kamu tidak merasakannya, tapi kamu hanya melakukannya.
Sore tadi saya paham apa itu tempo, dan bukan lewat mendengarkan, tapi lewat hentakannya di atas epidermis ini. Saya tahu kalau musik memang untuk dinikmati, bukan sekedar didengarkan. Dirasakan setiap rayapan melodinya. Kecantikannya tidak hanya terlihat saat recital, tapi saat kamu memejamkan mata dan merasakan rambatannya mulai dari ujung jari dari hingga ke jantung.
Dari
sini saya belajar, bukan hanya telinga yang selama ini saya sepelekan, tetapi
juga kulit. Salah satu panca indera yang saya kira hanya berperan sebagai
pembungkus tubuh. Ternyata tidak. Tidak ada kata “hanya” atau “cuma” dari
setiap ciptaan-Nya. Benar lirik lagu Sherina, “lihat segalanya lebih dekat dan ku bisa menilai lebih bijaksana”.
Then,
apakah sekarang saya harus merasa sebagai orang yang bijak?
No. Not
yet. Masih jauh dari kata bijak pribadi ini. Adapun orang yang bijak apakah
akan mengakui dirinya bijak? Entah. Jangankan untuk menjadi bijak, memerhatikan
tanda-tanda-Nya saja masih banyak alpanya. Bernafas saja masih banyak keluhnya.
Berkata saja masih banyak serapahnya. Mendengar saja masih banyak judgement-nya. Dan merasakan, ah..masih
banyak sepelenya dibandingkan mengertinya.
Rasanya
malu ketika membicarakan musik di sini. Siapa saya? Entertaiment saja mainnya
masih berantakan. Tempo saja baru paham beberapa jam yang lalu. Tak usah lah
membahas musik dengan seluruh panca indera, tanyakan saja pada dirimu, Gita,
bagaimana tadi saat berwudhu? Saat kamu membasuh seluruh panca inderamu sebelum
kamu hadapkan kepada Yang Hak?
Adzan
maghrib berkumandang. Saya tidak bisa merasakan getaran pita suara Sang Bilal
di buku-buku jemari. Yang saya rasakan cuma satu, sekujur saya mendingin.
Telapak tangan basah dengan do’a mohon ampun. Rongga mulut yang saya cuci
karena telah banyak mencaci. Kedua lubang hidung yang saya usap. Saya hapus
dari dengus-dengus sirik. Kemudian wajah, ah..yang selalu menghadapkan keangkuhan.
Kini air mengalir ke tangan, semoga keduanya memberikan kesaksian yang berpihak pada saya saat disidang-Nya nanti. Lalu ubun-ubun yang sengaja saya sejukkan dari pikiran-pikiran negatif. Selanjutnya kedua telinga yang bebal menerima masukan-masukan sehingga menumbuhkan jiwa jumawa. Dan akhirnya ke kaki. Kedua ciptaan-Nya yang sering saya arahkan tanpa niat untuk-Nya.
Seluruh
kulit saya mendingin. Pori-pori menyembul sebagai reaksi kesejukan. Darinya
saya tahu kalau seluruh organ berlomba membersihkan diri untuk menampilkan yang
terbaik di hadapan-Nya. Sayang, saya masih papa untuk benar-benar memahami
usaha organ-organ saya ini. Sama awamnya ketika seorang teman berkata,
“Yo wajar, Ta, kowe ra iso ngerasa ning kene (ia menunjuk dadanya), wong kowe denger lagu nggo iki (ia menunjuk telinganya)”.
0 comments: