Do’a yang Tak Disengaja

2:45 PM Tameila 0 Comments

Awalnya sederhana. Dulu, waktu kaki ini pertama kali menginjak Jogja, saya cuma ingin 3 hal. Satu, lulus dalam waktu 3,5 tahun. Dua, bisa datang ke acara seni. Tiga, beli buku yang banyak, yeah..Jogja kan kota pelajar jadi gampang banget cari buku di sini. Murah, terus bagus-bagus lagi. Empat, jalan-jalan ke museum. Eh, wait..tiga? Empat yang benar. Nah, memang begitu adanya, keinginan-keinginan kita selalu bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Dari satu ke dua, dua ke tiga, lalu ke empat, kemudian menjadi belasan. Awalnya sederhana, sampai akhirnya membesar.

                Keinginan-keinginan yang terus bertambah akhirnya membuat saya harus mendaftar itu semua. Hitungannya bukannya lagi satuan, tapi menembus angka belasan. Nggak jarang sampai puluhan. Rutinitas menulis harapan nggak saya lakukan di akhir tahun. It’s too mainstream for me. Saya melakukannya setiap akhir semester. Padahal kalau dipikir-pikir apa bedanya, ya? Setiap orang berhak toh menjadikan setiap harinya as a brand new start. Mungkin itulah yang menyebabkan kita harus bersyukur setiap harinya. Setiap hari adalah baru. Setiap hari adalah kado. Setiap hari adalah anugerah.

                Impian-impian yang saya tulis nggak besar. Kecil, bahkan mungkin terkesan konyol. Nggak usah bahas diet atau tekad berolahraga secara kontinu. Itu sih selalu saya tempatkan di nomor satu, tapi selalu juga yang paling sulit diwujudkan. Pernah suatu hari saya menulis, “pokoknya selama di Jogja harus sempat nonton konser D’Cinnamons, Tompi, Abdul and The Coffee Theory, sama Endah and Rhesa”. Alhamdulillah, semuanya terwujud, kecuali konsernya Endah and Rhesa. Ada lagi impian sederhana lainnya, “harus punya tanda tangan penulis yang disuka, Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami”. Memang Tuhan Maha Baik, Dia nggak hanya mengizinkan novel-novel saya dibubuhi tanda tangan mereka. Saya bisa bertemu, bercakap, bahkan foto bersama dengan mbak Djenar.

                 Impian yang agak keren sih misalnya, “gue harus dapat sertifikat A3 bahasa Jerman” atau “selama kuliah gue harus bisa menghasilkan uang sendiri”. Sampai pada akhirnya kemarin saya menyadari kalau poin-poin impian saya bukan lah hal kecil. Mungkin terdengar sepele, tapi luar biasa rasanya ketika saya membuka ulang buku-buku diary saya dari semester satu hingga tujuh. (Damn, am I that old?). List yang tercentang lebih banyak daripada list yang tercoret gagal. Dan you know, saya semakin speech less saat menyadari “do’a tak sengaja” saya dijawab oleh Tuhan.

                “Do’a tak disengaja” itu terucap tiga tahun lalu. Ya, sama waktunya ketika kaki saya menginjakkan tanah Jogja. Di suatu hari ketika mata saya beradu tatap dengan papan putih bertuliskan “Taman Budaya Yogyakarta”. Ada flash blub memory yang cepat, yang membawa saya dengan kehidupan teater jaman SMP-SMA. Make up, kostum, naskah, musik, panggung, dan penonton. Ah, benar, rasanya sudah lama sekali tidak tercebur dalam dunia itu. Seketika itu juga hati saya berbisik, “god, damn! Asyik kali ya kalau gue bisa datang ke acara-acara kesenian yang ada di Jogja sebelum pulang ke Serang? Apalagi kalau gue bisa terlibat di dalamnya. Apalagi kalau bisa pentas lagi.” Wait, pentas? Mari kita hitung sudah berapa lama saya nggak terjun ke panggung. Hmm...satu, dua, tiga, empat, lima. Ya, lima, ehm..mungkin enam. Entah lah, saya melempar pandang ke arah lain dan melupakannya.

                Tapi sungguh, Tuhan nggak lupa dengan bisikan hati saya. Setelah tiga tahun wara-wiri kuliah, sibuk dengan ini-itu yang kadang lupa tujuan awal, akhirnya Dia menepuk pundak saya. Mengingatkan saya bahwa ada satu cita-cita yang harus diwujudkan, yakni kembali menikmati panggung. Yeah, setidaknya mencicipi lagi yang namanya “teater” atau pertunjukkan apapun itu.

                28 Desember 2012. Bagaimana caranya bisa melupakan tanggal itu? Bagaimana caranya supaya dada ini tidak sesak saat riuhnya kembali terekam? Bagaimana caranya untuk tidak merasa rindu saat tidak lagi di Jogja?

                Satu pertanyaan yang belum terjawab, bagaimana caranya Tuhan mengabulkan do’a saya? Kun fayakun. Ah, bukan itu maksudnya. Maksud saya adalah bagaimana bisa Tuhan mengizinkan saya mencecap impian menjadi kenyataan padahal saya sering mengesampingkan-Nya?

                Adalah malu rasanya ketika saya berdiri di bawah lampu tapi tidak mengucap syukur kepada Yang Maha Esa. Dia lah yang akhirnya mengizinkan saya berdiri di atas panggung. Sama persis seperti yang saya bayangkan dan inginkan dulu, padahal saya nggak pernah mengutarakan hal ini dalam do’a. Setiap habis shalat, saya langsung lipat mukena. Kalau pun berdo’a pakai gaya kilat alias mulut komat-kamit nggak karuan. Makannya saya malu waktu sadar kalau ini lah list usang yang nggak Tuhan coret dari diary saya.

                Lebih dari itu, impian yang saya sebut dengan “do’a tak disengaja” tadi dikabulkan lewat teman-teman yang luar biasa. Ada teman-teman tuna rungu, orangtua dan keluarga yang penuh cinta, orang-orang kesenian yang gila, dan mereka yang berdedikasi dengan caranya masing-masing. It’s more than enough. Sampai pada suatu waktu hati saya berkata, “so what’s next, Gita? Semua impian lo udah terkabul. Then?”.

                Yes, so what?

                Pertanyaan di atas akhirnya terjawab perlahan. Lewat malam, lewat sore, lewat hujan, lewat tawa, bahkan lewat amarah. Ada clue Tuhan yang akhirnya ketika saya kumpulkan menjadi jawaban utuh.

                Bertemu dengan teman-teman deaf memberi jawaban bahwa saya nggak boleh berhenti bermimpi. List semua sudah tercontreng, then? Buat list baru! Jangan pernah takut dengan kemampuan yang dimiliki. Darinya saya sadar bahwa sugesti dan rasionalitas bisa membendung impian. Tuhan selalu menilai setiap hal yang kita lakukan. Semuanya menjadi tabungan yang akhirnya dapat kita gunakan untuk membeli impian. Prinsipnya, jumlah barang sesuai dengan jumlah uang. Sama dengan, jumlah cita-cita yang tercapai sesuai dengan jumlah usaha, bukan?

                Bertemu dengan teman-teman kampus yang ambisius,  saya belajar bahwa cuma ayam yang menyerah dalam kegelapan. Ayam kan buta dalam gelap, bukan? Begitu lah yang saya tahu, dan kita bukan lah ayam. Tidak ada jalan, tidak ada pencerahan bukan berarti berhenti. Mereka mengajarkan bahwa pencerahan itu berasal dari dalam diri, bukan luar diri. Saya pernah membaca sebuah pepatah bahwa sebagai manusia kita cuma punya 2 pilihan, mengubah diri atau mengubah keadaan. Dan mereka adalah orang-orang yang mengubah keadaan demi perubahan diri yang lebih baik.

                Bertemu dengan teman-teman galau. Yeah, saya nggak punya istilah yang tepat, tapi kira-kira begitu lah keadaan mereka. Walau pun begitu, dari mereka lah saya mengerti yang namanya kesetiaan. Saya belajar perlahan menjadi pribadi yang konsisten. Dari mereka pula saya belajar menghargai dan peka dengan perasaan orang lain. Terkadang memang lelah, tapi di sana lah titik yang menampar saya bahwa manusia yang merugi adalah yang nggak peka sama orang lain.

                Bertemu dengan teman-teman seniman. Ah, satu kata. Gila. Bagaimana tidak, saya selalu melihat mereka tertawa. Apapun ditertawakan, baik kebenaran terlebih kesalahan. Ya, mereka adalah orang-orang yang memaklumi kesalahan. Besar artinya sikap selow mereka ini. Darinya saya belajar untuk memaafkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Saya kini paham dengan pepatah, “nggak salah, nggak belajar”, hanya saja kemudian saya tambahkan dengan, “tapi kalau salah terus kapan belajarnya?”. Excuse. Ya, pemakluman. Kalau saya bisa memaklumi kesalahan oranglain, kenapa saya tidak memaklumi diri sendiri ketika melakukan kesalahan dan belajar darinya?

                Bertemu dengan para pekerja sosial menyadaran bahwa saya ini bukan robot. Bukan ciptaan yang hanya melulu mengerjakan hal sama. Itu lagi, itu lagi. Bukan. Saya punya Bob, si ikan cupang tercinta yang harus diganti airnya dan diberi makan. Saya punya Choky-Chiko yang harus dicium setiap pagi. Saya punya teman-teman kost yang harus disapa dan diperhatikan. Saya punya skripsi yang harus dipertanggungjawabkan. Saya punya guru-guru dan dosen-dosen yang harus dihormati. Saya punya teman-teman yang harus dicintai. Dan saya punya keluarga yang harus saya..ah..entah lah apa yang harus saya lakukan untuk mereka. Orang-orang yang tak ternilai harganya. Oh ya, satu lagi..saya punya Tuhan yang selalu mendengar bisikan hati saya.

                Kepada-Nya kita memang tidak bisa berbohong. Kepada-Nya dusta sama seperti kain tembus pandang. Transparan. Nggak perlu ada yang disembunyikan, apalagi dipungkiri. Hanya Dia-lah yang tau apa sebenarnya yang kita mau, kita butuhkan, bahkan kita inginkan namun belum terasa. Dari ini semua, saya pun belajar bahwa do’a yang sebenarnya adalah do’a yang tak disengaja. Yang terucap dalam hati dengan tulus ikhlas. Yang terbisik dalam asa dengan penuh harap. Dan satu lagi, yang terpatri dalam iman dengan keyakinan bahwa Tuhan lebih dekat dan mengerti dari yang kita kira.

You Might Also Like

0 comments: