Do’a yang Tak Disengaja
Awalnya sederhana. Dulu, waktu kaki ini pertama kali
menginjak Jogja, saya cuma ingin 3 hal. Satu, lulus dalam waktu 3,5 tahun. Dua,
bisa datang ke acara seni. Tiga, beli buku yang banyak, yeah..Jogja kan kota
pelajar jadi gampang banget cari buku di sini. Murah, terus bagus-bagus lagi.
Empat, jalan-jalan ke museum. Eh, wait..tiga? Empat yang benar. Nah, memang
begitu adanya, keinginan-keinginan kita selalu bertambah seiring dengan
berjalannya waktu. Dari satu ke dua, dua ke tiga, lalu ke empat, kemudian
menjadi belasan. Awalnya sederhana, sampai akhirnya membesar.
Keinginan-keinginan
yang terus bertambah akhirnya membuat saya harus mendaftar itu semua.
Hitungannya bukannya lagi satuan, tapi menembus angka belasan. Nggak jarang
sampai puluhan. Rutinitas menulis harapan nggak saya lakukan di akhir tahun.
It’s too mainstream for me. Saya melakukannya setiap akhir semester. Padahal
kalau dipikir-pikir apa bedanya, ya? Setiap orang berhak toh menjadikan setiap
harinya as a brand new start. Mungkin itulah yang menyebabkan kita harus
bersyukur setiap harinya. Setiap hari adalah baru. Setiap hari adalah kado.
Setiap hari adalah anugerah.
Impian-impian
yang saya tulis nggak besar. Kecil, bahkan mungkin terkesan konyol. Nggak usah
bahas diet atau tekad berolahraga secara kontinu. Itu sih selalu saya tempatkan
di nomor satu, tapi selalu juga yang paling sulit diwujudkan. Pernah suatu hari
saya menulis, “pokoknya selama di Jogja
harus sempat nonton konser D’Cinnamons, Tompi, Abdul and The Coffee Theory,
sama Endah and Rhesa”. Alhamdulillah, semuanya terwujud, kecuali konsernya
Endah and Rhesa. Ada lagi impian sederhana lainnya, “harus punya tanda tangan penulis yang disuka, Djenar Maesa Ayu dan Ayu
Utami”. Memang Tuhan Maha Baik, Dia nggak hanya mengizinkan novel-novel
saya dibubuhi tanda tangan mereka. Saya bisa bertemu, bercakap, bahkan foto
bersama dengan mbak Djenar.
Impian yang agak keren sih misalnya, “gue harus dapat sertifikat A3 bahasa Jerman”
atau “selama kuliah gue harus bisa
menghasilkan uang sendiri”. Sampai pada akhirnya kemarin saya menyadari
kalau poin-poin impian saya bukan lah hal kecil. Mungkin terdengar sepele, tapi
luar biasa rasanya ketika saya membuka ulang buku-buku diary saya dari semester
satu hingga tujuh. (Damn, am I that old?).
List yang tercentang lebih banyak daripada list yang tercoret gagal. Dan you
know, saya semakin speech less saat menyadari “do’a tak sengaja” saya dijawab
oleh Tuhan.
“Do’a
tak disengaja” itu terucap tiga tahun lalu. Ya, sama waktunya ketika kaki saya
menginjakkan tanah Jogja. Di suatu hari ketika mata saya beradu tatap dengan
papan putih bertuliskan “Taman Budaya Yogyakarta”. Ada flash blub memory yang cepat, yang membawa saya dengan kehidupan
teater jaman SMP-SMA. Make up, kostum,
naskah, musik, panggung, dan penonton. Ah, benar, rasanya sudah lama sekali
tidak tercebur dalam dunia itu. Seketika itu juga hati saya berbisik, “god, damn! Asyik kali ya kalau gue bisa
datang ke acara-acara kesenian yang ada di Jogja sebelum pulang ke Serang?
Apalagi kalau gue bisa terlibat di dalamnya. Apalagi kalau bisa pentas lagi.”
Wait, pentas? Mari kita hitung sudah berapa lama saya nggak terjun ke panggung.
Hmm...satu, dua, tiga, empat, lima. Ya, lima, ehm..mungkin enam. Entah lah,
saya melempar pandang ke arah lain dan melupakannya.
Tapi
sungguh, Tuhan nggak lupa dengan bisikan hati saya. Setelah tiga tahun wara-wiri kuliah, sibuk dengan ini-itu
yang kadang lupa tujuan awal, akhirnya Dia menepuk pundak saya. Mengingatkan
saya bahwa ada satu cita-cita yang harus diwujudkan, yakni kembali menikmati
panggung. Yeah, setidaknya mencicipi lagi yang namanya “teater” atau
pertunjukkan apapun itu.
28
Desember 2012. Bagaimana caranya bisa melupakan tanggal itu? Bagaimana caranya
supaya dada ini tidak sesak saat riuhnya kembali terekam? Bagaimana caranya
untuk tidak merasa rindu saat tidak lagi di Jogja?
Satu
pertanyaan yang belum terjawab, bagaimana caranya Tuhan mengabulkan do’a saya? Kun fayakun. Ah, bukan itu maksudnya.
Maksud saya adalah bagaimana bisa Tuhan mengizinkan saya mencecap impian
menjadi kenyataan padahal saya sering mengesampingkan-Nya?
Adalah
malu rasanya ketika saya berdiri di bawah lampu tapi tidak mengucap syukur
kepada Yang Maha Esa. Dia lah yang akhirnya mengizinkan saya berdiri di atas
panggung. Sama persis seperti yang saya bayangkan dan inginkan dulu, padahal
saya nggak pernah mengutarakan hal ini dalam do’a. Setiap habis shalat, saya
langsung lipat mukena. Kalau pun berdo’a pakai gaya kilat alias mulut
komat-kamit nggak karuan. Makannya saya malu waktu sadar kalau ini lah list
usang yang nggak Tuhan coret dari diary saya.
Lebih
dari itu, impian yang saya sebut dengan “do’a tak disengaja” tadi dikabulkan
lewat teman-teman yang luar biasa. Ada teman-teman tuna rungu, orangtua dan
keluarga yang penuh cinta, orang-orang kesenian yang gila, dan mereka yang berdedikasi
dengan caranya masing-masing. It’s more than enough. Sampai pada suatu waktu
hati saya berkata, “so what’s next, Gita?
Semua impian lo udah terkabul. Then?”.
Yes, so
what?
Pertanyaan
di atas akhirnya terjawab perlahan. Lewat malam, lewat sore, lewat hujan, lewat
tawa, bahkan lewat amarah. Ada clue Tuhan
yang akhirnya ketika saya kumpulkan menjadi jawaban utuh.
Bertemu
dengan teman-teman deaf memberi jawaban bahwa saya nggak boleh berhenti
bermimpi. List semua sudah tercontreng, then? Buat list baru! Jangan pernah
takut dengan kemampuan yang dimiliki. Darinya saya sadar bahwa sugesti dan
rasionalitas bisa membendung impian. Tuhan selalu menilai setiap hal yang kita
lakukan. Semuanya menjadi tabungan yang akhirnya dapat kita gunakan untuk
membeli impian. Prinsipnya, jumlah barang sesuai dengan jumlah uang. Sama
dengan, jumlah cita-cita yang tercapai sesuai dengan jumlah usaha, bukan?
Bertemu
dengan teman-teman kampus yang ambisius,
saya belajar bahwa cuma ayam yang menyerah dalam kegelapan. Ayam kan
buta dalam gelap, bukan? Begitu lah yang saya tahu, dan kita bukan lah ayam.
Tidak ada jalan, tidak ada pencerahan bukan berarti berhenti. Mereka
mengajarkan bahwa pencerahan itu berasal dari dalam diri, bukan luar diri. Saya
pernah membaca sebuah pepatah bahwa sebagai manusia kita cuma punya 2 pilihan,
mengubah diri atau mengubah keadaan. Dan mereka adalah orang-orang yang
mengubah keadaan demi perubahan diri yang lebih baik.
Bertemu
dengan teman-teman galau. Yeah, saya nggak punya istilah yang tepat, tapi
kira-kira begitu lah keadaan mereka. Walau pun begitu, dari mereka lah saya
mengerti yang namanya kesetiaan. Saya belajar perlahan menjadi pribadi yang
konsisten. Dari mereka pula saya belajar menghargai dan peka dengan perasaan
orang lain. Terkadang memang lelah, tapi di sana lah titik yang menampar saya
bahwa manusia yang merugi adalah yang nggak peka sama orang lain.
Bertemu
dengan teman-teman seniman. Ah, satu kata. Gila. Bagaimana tidak, saya selalu
melihat mereka tertawa. Apapun ditertawakan, baik kebenaran terlebih kesalahan.
Ya, mereka adalah orang-orang yang memaklumi kesalahan. Besar artinya sikap selow mereka ini. Darinya saya belajar
untuk memaafkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan. Saya kini paham dengan
pepatah, “nggak salah, nggak belajar”,
hanya saja kemudian saya tambahkan dengan, “tapi
kalau salah terus kapan belajarnya?”. Excuse. Ya, pemakluman. Kalau saya
bisa memaklumi kesalahan oranglain, kenapa saya tidak memaklumi diri sendiri
ketika melakukan kesalahan dan belajar darinya?
Bertemu
dengan para pekerja sosial menyadaran bahwa saya ini bukan robot. Bukan ciptaan
yang hanya melulu mengerjakan hal sama. Itu lagi, itu lagi. Bukan. Saya punya
Bob, si ikan cupang tercinta yang harus diganti airnya dan diberi makan. Saya
punya Choky-Chiko yang harus dicium setiap pagi. Saya punya teman-teman kost
yang harus disapa dan diperhatikan. Saya punya skripsi yang harus
dipertanggungjawabkan. Saya punya guru-guru dan dosen-dosen yang harus
dihormati. Saya punya teman-teman yang harus dicintai. Dan saya punya keluarga
yang harus saya..ah..entah lah apa yang harus saya lakukan untuk mereka.
Orang-orang yang tak ternilai harganya. Oh ya, satu lagi..saya punya Tuhan yang
selalu mendengar bisikan hati saya.
Kepada-Nya
kita memang tidak bisa berbohong. Kepada-Nya dusta sama seperti kain tembus
pandang. Transparan. Nggak perlu ada yang disembunyikan, apalagi dipungkiri.
Hanya Dia-lah yang tau apa sebenarnya yang kita mau, kita butuhkan, bahkan kita
inginkan namun belum terasa. Dari ini semua, saya pun belajar bahwa do’a yang
sebenarnya adalah do’a yang tak disengaja. Yang terucap dalam hati dengan tulus
ikhlas. Yang terbisik dalam asa dengan penuh harap. Dan satu lagi, yang
terpatri dalam iman dengan keyakinan bahwa Tuhan lebih dekat dan mengerti dari
yang kita kira.
0 comments: