#7HariMenulis
(tanpa judul)
Baiklah..saat ini aku
hanya ingin didengarkan. Aku tidak ingin diintrupsi. Aku tidak ingin kamu
menyela sebelum aku selesai bicara. Kalau kamu ingin menilaiku terserah. Asal
jangan pernah kamu memotong pembicaraanku. Aku tahu kamu pasti akan banyak
berkomentar karena kamu orang yang kritis. Tapi tolong lah berkomentar dalam
hati saja. Aku tidak ingin mendengar suaramu. Aku tak ingin mulutmu, aku hanya
ingin telingamu.
Aku benci kalau harus mengingat apa
yang mereka katakan kepadaku. “Kepala batu !” itulah kata mereka. Kamu kira aku
bangga dengan sebutan itu ? Tidak. Aku malah risih. Aku merasa tidak nyaman di
tengah mereka yang begitu lunak dengan keadaan. Begitu cair dengan kebekuan.
Begitu munafik ketika melihat ada kesalahan. Aku gerah dengan mereka yang terus
berpura – pura baik – baik saja padahal mereka tidak sebaik itu. Kamu pikir aku
sok tahu ? Tidak. Aku benar – benar tahu mereka. Tahu kalau mereka itu
tersiksa. Tahu kalau mereka itu tertekan.
Sudah ku lakukan segala cara agar
mereka bisa jujur. Setidaknya adil dengan keadaan. Bisa membagi antara yang hak
dan batil sesuai kadar seimbang kalau belum mampu meninggalkan kebatilan itu
sepenuhnya. Toh mereka tahu aku pun di sini sedang belajar. Kami semua sama –
sama belajar. Tapi mengapa mereka tidak mau sedikit mengambil resiko ? Toh
semua yang baik pun pasti akan tersandung dulu awalnya. Lihatlah para Nabi.
Lihatlah para pembawa kebenaran. Lihatlah para pahlawan. Tidak ada dari mereka
yang mulus – mulus saja kehidupannya. Coba bandingkan dengan para pecundang
yang memakai topeng. Mereka memang bisa diterima di mana saja. Tapi apakah
mereka cukup bahagia ?Apakah mereka tidak merasa palsu ? Jujur kah mereka pada
diri mereka sendiri ?
Mengapa kamu menatapku nanar seperti
itu ? Kamu kasihan padaku ? Tidak usah. Lebam di sudut mata kananku, robekan
kemeja ini dan beberapa barang rusak di belakangku bukan apa – apa. Ada yang lebih menderita
daripada aku. Ada
yang lebih parah dibanding aku. Tapi lihat lah mereka sekarang. Mereka dikenang.
Mereka dikenal oleh orang – orang. Mereka pahlawan. Tapi bukan berarti juga aku
melakukan ini hanya ingin dikenang, dikenal dan dijadikan pahlawan. Bukan. Mati
saja aku sekarang kalau begitu. Aku hanya ingin membawa kejujuran bagi dunia.
Aku hanya ingin membuka kacamata generasi muda kalau yang mereka lihat itu
tidak sepenuhnya benar. Aku hanya ingin mereka menulis sesuatu yang benar –
benar mereka ketahui untuk dijadikan status pada jejaring sosial. Bukan umpatan
atau rengekan semata.
Lihatlah aku. Pandang aku baik –
baik. Coba selami diriku lewat kedua bola mata ini. Apa ada yang salah denganku
? Tolong bantu aku. Dukung aku. Aku sedang butuh topangan sekarang. Raga dan
jiwaku sudah cukup lelah untuk terus tegak membujuk mereka. Alih – alih mereka
terpengaruh olehku, peganganku malah mereka rampas. Goyahlah aku. Limbung. Dan
sekarang kamu lihat kan
kalau aku jatuh ? Aku sekarang sedang kesakitan. Tak ada mereka yang
mengobatiku padahal mereka mengaku teman. Tidak ada mereka yang menjengukku
padahal mereka mengaku setia. Memang betul cara termudah untuk tidak terkena
masalah adalah tidak bersentuhan sedikit pun dengan segala hal yang tersangkut
di dalamnya. Dan mereka memang tidak ingin terkena masalah seperti diriku
sekarang.
Aku benci kamu ! Kenapa kamu diam
saja ? Aku memang memintamu untuk tidak bersuara. Tapi bukan berarti kamu tidak
bisa mendukungku lewat sorot matamu. Bukan berarti kamu tidak bisa mengobatiku
dengan tanganmu. Bukan berarti kamu tidak bisa membelaiku untuk mengurangi rasa
sakitku. Ke mana empatimu ? Ke mana ? Kamu yang dulu bisa membahagiakanku lewat
seringaimu. Kamu yang dulu bisa menguatkanku lewat sorot matamu. Mengapa kamu
sekarang menjadi begitu lemah ? Lelah juga kah kamu, wahai jiwa yang ada di
hadapanku ?
“PRANG !”
Hening.
Aku
membenamkan tubuh ke kasur. Sendirian. Tidak ada lagi kamu yang tegar. Tidak
ada lagi kamu yang teguh pendirian. Tidak ada lagi kamu yang kuat. Jemariku perih. Cairan merah hangat
mengalir di sana
karena aku meninjumu hingga hancur.
0 comments: