#7HariMenulis

(tanpa judul)

10:58 AM Tameila 0 Comments



Baiklah..saat ini aku hanya ingin didengarkan. Aku tidak ingin diintrupsi. Aku tidak ingin kamu menyela sebelum aku selesai bicara. Kalau kamu ingin menilaiku terserah. Asal jangan pernah kamu memotong pembicaraanku. Aku tahu kamu pasti akan banyak berkomentar karena kamu orang yang kritis. Tapi tolong lah berkomentar dalam hati saja. Aku tidak ingin mendengar suaramu. Aku tak ingin mulutmu, aku hanya ingin telingamu.

            Aku benci kalau harus mengingat apa yang mereka katakan kepadaku. “Kepala batu !” itulah kata mereka. Kamu kira aku bangga dengan sebutan itu ? Tidak. Aku malah risih. Aku merasa tidak nyaman di tengah mereka yang begitu lunak dengan keadaan. Begitu cair dengan kebekuan. Begitu munafik ketika melihat ada kesalahan. Aku gerah dengan mereka yang terus berpura – pura baik – baik saja padahal mereka tidak sebaik itu. Kamu pikir aku sok tahu ? Tidak. Aku benar – benar tahu mereka. Tahu kalau mereka itu tersiksa. Tahu kalau mereka itu tertekan.

            Sudah ku lakukan segala cara agar mereka bisa jujur. Setidaknya adil dengan keadaan. Bisa membagi antara yang hak dan batil sesuai kadar seimbang kalau belum mampu meninggalkan kebatilan itu sepenuhnya. Toh mereka tahu aku pun di sini sedang belajar. Kami semua sama – sama belajar. Tapi mengapa mereka tidak mau sedikit mengambil resiko ? Toh semua yang baik pun pasti akan tersandung dulu awalnya. Lihatlah para Nabi. Lihatlah para pembawa kebenaran. Lihatlah para pahlawan. Tidak ada dari mereka yang mulus – mulus saja kehidupannya. Coba bandingkan dengan para pecundang yang memakai topeng. Mereka memang bisa diterima di mana saja. Tapi apakah mereka cukup bahagia ?Apakah mereka tidak merasa palsu ? Jujur kah mereka pada diri mereka sendiri ?

            Mengapa kamu menatapku nanar seperti itu ? Kamu kasihan padaku ? Tidak usah. Lebam di sudut mata kananku, robekan kemeja ini dan beberapa barang rusak di belakangku bukan apa – apa. Ada yang lebih menderita daripada aku. Ada yang lebih parah dibanding aku. Tapi lihat lah mereka sekarang. Mereka dikenang. Mereka dikenal oleh orang – orang. Mereka pahlawan. Tapi bukan berarti juga aku melakukan ini hanya ingin dikenang, dikenal dan dijadikan pahlawan. Bukan. Mati saja aku sekarang kalau begitu. Aku hanya ingin membawa kejujuran bagi dunia. Aku hanya ingin membuka kacamata generasi muda kalau yang mereka lihat itu tidak sepenuhnya benar. Aku hanya ingin mereka menulis sesuatu yang benar – benar mereka ketahui untuk dijadikan status pada jejaring sosial. Bukan umpatan atau rengekan semata.

            Lihatlah aku. Pandang aku baik – baik. Coba selami diriku lewat kedua bola mata ini. Apa ada yang salah denganku ? Tolong bantu aku. Dukung aku. Aku sedang butuh topangan sekarang. Raga dan jiwaku sudah cukup lelah untuk terus tegak membujuk mereka. Alih – alih mereka terpengaruh olehku, peganganku malah mereka rampas. Goyahlah aku. Limbung. Dan sekarang kamu lihat kan kalau aku jatuh ? Aku sekarang sedang kesakitan. Tak ada mereka yang mengobatiku padahal mereka mengaku teman. Tidak ada mereka yang menjengukku padahal mereka mengaku setia. Memang betul cara termudah untuk tidak terkena masalah adalah tidak bersentuhan sedikit pun dengan segala hal yang tersangkut di dalamnya. Dan mereka memang tidak ingin terkena masalah seperti diriku sekarang.

            Aku benci kamu ! Kenapa kamu diam saja ? Aku memang memintamu untuk tidak bersuara. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa mendukungku lewat sorot matamu. Bukan berarti kamu tidak bisa mengobatiku dengan tanganmu. Bukan berarti kamu tidak bisa membelaiku untuk mengurangi rasa sakitku. Ke mana empatimu ? Ke mana ? Kamu yang dulu bisa membahagiakanku lewat seringaimu. Kamu yang dulu bisa menguatkanku lewat sorot matamu. Mengapa kamu sekarang menjadi begitu lemah ? Lelah juga kah kamu, wahai jiwa yang ada di hadapanku ?

            “PRANG !”

            Hening.

Aku membenamkan tubuh ke kasur. Sendirian. Tidak ada lagi kamu yang tegar. Tidak ada lagi kamu yang teguh pendirian. Tidak ada lagi kamu yang kuat. Jemariku perih. Cairan merah hangat mengalir di sana karena aku meninjumu hingga hancur.

You Might Also Like

0 comments: