#7HariMenulis
Cermin
Mereka
bilang badannya sudah turun. Auranya lesu seperti emak-emak yang sudah dipermak
habis oleh para suami. Tidak sumringah lagi. Bahkan jalannya pun sudah
ngangkang. Vaginanya jebol alhasil selaput daranya pun sudah terkoyak. Apa lagi
selanjutnya selain semua orang meragukan orisinalitasnya?
Yang terbayang oleh
saya ketika mereka berkata-kata seperti itu adalah anjing bulldog.
Mereka
bilang payudaranya sudah tidak kencang. Rambutnya yang terurai panjang sering
jadi lengket karena keringat. Bibirnya sudah dower akibat sering cipokan. Di lehernya
banyak bekas cupang yang tidak jarang ditutupi oleh plester. Lebih-lebih
dibubuhi oleh bedak tebal atau kalau sedang nekat dihalangi oleh tato.
Yang terbayang oleh
saya ketika mereka menjelaskan semuanya secara gamblang adalah wewe gombel.
Mereka bilang
orangnya asyik. Mulai diajak kopi darat hingga di ranjang tak mengecewakan. Suaranya
pun dapat membuat konak. Siapa yang mengira tubuh nyaris sempurna itu
membosankan? Lelaki impoten juga bisa “bangun” lagi hanya dengar suaranya.
Yang terbayang oleh
saya ketika mereka mengkhayal tentang semua itu adalah Marilyn Monroe.
Mereka bilang
virginnya sudah tidak ada. Kalau pun ada, badannya sudah habis dijamah oleh
para pejantan yang gatal. Bagi saya tidak salah. Selama masih ada yang mau
menggaruk dengan senang hati mengapa harus ribut-ribut? Toh yang menggaruknya
pun rela dengan lelah menghilangkan kegatalan itu.
Yang terbayang oleh
saya ketika mereka mengutarakan kenikmatan itu adalah alat penggaruk yang
mengeluarkan suara saat dibolak-balik. Ngeeekk-ngoookk~
Mereka bilang
walau begitu pribadinya baik, ramah, santun, walau agak binal ada sisi
penyayang dan keanggunan yang tersimpan. Tak ayal solidaritas terkadang menjadi
nomor satu. Buktinya satu rasa sama rata berlaku. Konyol juga...padahal dari
kaca mata dunia keegoisan menyelimuti itu semua. Apa bisa solidaritas terpacung
tegak di tengah keegoisan?
Yang terbayang oleh saya
ketika mereka semua mengeluarkan pujian-pujian itu adalah manusia purba. Tidak!
Mereka adalah lebah. Manis, lengket, berisik, dan menyengat.
Mereka bilang
saya tidak tahu apa-apa. Tidak abu-abu terlebih hitam. Apa kertas putih
terbayang di wajah saya? Apa kepolosan terpancar di mata saya? Kosongkah otak
saya? Atau saya mulai tertarik oleh magnet kata-kata yang selalu saja mereka
gunjingkan? Cermin saya mengatakan kalau otot klitoris mereka belum pernah
menegang. Kalau pun sudah hanya kontraksi normal saat mensturasi.
Rasa gatal
menggelitik tubuh saya. Awalnya hanya terasa di bagian bawah, tapi lama
kelamaan menjalar hingga ke leher lalu ke kulit kepala. Semuanya berganti. Jadi
apa? Entahlah...saya pusing. Saya bingung. Saya gamang.
Mereka bilang
saya harus berselimut tebal. Paling tidak ada sesuatu yang menutupi diri saya. Mereka
begitu menjaga saya, padahal saya tidak tahu apa yang harus saya jaga (selain
lubah rahim saya agar tidak melebar sebelum waktunya). Bilang saja saya tidak
boleh nge-seks sebelum pasangan saya halal. Padahal, bagi saya hanya dengan pegangan
tangan dan hati sudah “ser-ser”-an itu sudah nge-seks. Jadi, apa bedanya dengan
ciuman atau making love sekalian?
Hanya organ tubuh yang bekerjanya saja yang berbeda. Ujung-ujungnya...sama saja
bikin kita sange.
Mereka bilang
konak itu menjijikan. Saya pun berpikiran sama, tapi saya tak berani mengumbar.
Perut saya sering mual membayangkan itu semua, apalagi harus
membesar-besarkannya. Padahal mereka sendiri tidak tahu apa-apa. Mereka hanya
berspekulasi.
Yang terbayang oleh
saya ketika mereka seperti itu adalah ........
waw. agak gimana gitu tahu kalo penulisnya pake jilbab. :)
ReplyDeletesalam kenal mbak
salam kenal :)
ReplyDeleteemm..gimana gimana maksudnya?