*speechless*

10:34 PM Tameila 1 Comments


                Tulisan ini adalah tulisan yang paliiiingg jujur yang pernah saya buat secara duet. Kenapa duet ? Kerena kontennya dibantuin sama seorang cewek. Cantik kok ! Rambutnya panjang, bergelombang, putih, kurus, belo. Jenong pula. Serem ya ? Memang ! Tapi perwujudannya masih kalah serem sama petualangan kami. Kami namakan petualangan ini dengan “Petualangan Menuju Pukul 21.00”.

                Ada apa sih dengan pukul 21.00 ?

                Jadi begini ceritanya. Dua wanita ini sedang semangat – semangatnya untuk ngejar deadline. Berbekal semangat dan uang seadanya, kita ngesot – ngesot pakai motor menerjang badai hujan Jogja. Saya udah nggak peduli betapa lancar hidung ini meler. Dia pun sama, udah nggak peduli betapa keriputnya otot – otot yang dari pagi dipakai buat jualan baju.

                Pada suatu titik waktu kita bertemu. Beratapkan cafe yang nasi gorengnya mahal sekaligus asin dan hot white milk – nya yang rasa santan, kami memeras otak. Mikirin gimana bikin campaign yang memasukkan local wisdom. Jelas harus berpikir keras karena kami adalah generasi – generasi mengalir. Kami generasi seadanya. Kami menghargai budaya, tapi kadang nggak tahu budaya sendiri itu apa.

                Sudah nggak penting ngebahas betapa butanya kami terhadap budaya. Yang pasti, dalam keremangan temaram lampu kuning kami asyik meng-microsoft word. Ketak ketik ketak ketik. Ctrl S. Buka grup YM. Minimize. Ketak ketik ketak ketik. Begitu kerjaannya. Yang satu pipinya ngegembung, yang satunya lagi bibirnya ditekuk. Sampai akhirnya adzan berkumandang. Biar kata generasi seadanya, kami masih sadar ibadah. Sanking semangatnya untuk shalat, akhirnya kami langsung jalan mencari masjid. Padahal kalau dipikir – pikir kenapa nggak bawa motor. Padahal bisa lebih cepat mengingat kita dikejar deadline. Tapi menyesal pun nggak ada gunanya karena kita sadarnya juga pas udah selesai shalat.

                Kata si jenong, eh kasihan saya panggil jenong terus namanya Wina saudara – saudara, “udah lah nggak apa – apa Ceu, itung – itung pahalanya gede. Kan perjuangan”. Sebenarnya nggak nolong sih sama badan saya yang udah pegal – pegal, tapi setidaknya bisa lah membuat saya mau menerima keadaan.

                Jam menunjukkan pukul 20.00. SEJAM LAGI ! Masih banyak bagian yang belum dikerjain. Si Jenong, eh Wina, asyik pilih layout cover sedangkan saya ngegombal di paper. Jampi – jampi dan komat – kamit mudah – mudahan kata – kata yang keluar bisa bikin yang baca amnesia. Terus terus teruuuss waktu berjalan dan DENG ! 10 MENIT LAGI ! Paper kami belum di layout. Entah bagaimana nasibnya teman kami di Solo sana dengan keponakan kembarnya, yang pasti di sini, di Jogja berbadai, kami pasrah. Rasanya sudah tidak mungkin memenuhi deadline jam 21.00.

                Dengan sisa harapan seadanya, Wina melanjutkan layout – nya. Alih – alih seharusnya saya berdo’a, saya bengong menatap desktop laptop. Dalam hati saya berkata, “yah, mudah – mudahan panitianya baik. Kita udah kirim seratus lima puluh ribu masa iya telat beberapa menit nggak diterima”.
                Beberapa menit ? Benarkah itu ?

                21:49. 49 Menit. Masih pantas disebut beberapa menit ? Ah, pantas kok ! Nggak ada patokan yang rigid dari “beberapa”, bukan ?

                Paper sudah terkirim. Sambil mengecek update twitter si panitia, saya dan Wina menyanyikan lagu “One Last Cry”. Bukan karena habis dengar lagu itu atau punya kenangan dengan lagu itu, entah mengapa dengan sendirinya kami berdua nyanyi itu. Mungkin bibir ini bisa membaca sampai ke dalam hati dan pikiran kami. (halah).

                Di menit selanjutnya, ada sesuatu yang mengejutkan. Bukan karena “hot white milk santan” – nya Wina berubah jadi “white choco melted”, tapi karena ternyata...deadline – nya...diundur...sampai...tanggal...10 MEI !

                “TAIK !” jerit Wina.

                Saya ? Mau teriak “taik” juga malu sama kerudung, akhirnya cuma malu – malu misuh “ASU!”.

                Antara senang dan emm...speechless. Senang sih karena di satu sisi kita masih bisa ngebenerin paper, tapi di sisi lain kok ya..yah..gitu deh. Kita berdua cuma ketawa miris. Entah apa yang diketawain, antara kegoblokan atau keberuntungan. Tapi yang namanya manusia nggak mau dong disalahin akhirnya kami mencari kambing hitam. Kami antara nyalahin dan berterima kasih sama panitia yang ternyata baru meng – update berita ini tadi sore. PUKUL 15.00. PUKUL DI MANA KAMI MENGUMPULKAN SISA – SISA TENAGA DAN SEMANGAT UNTUK MENGEJAR DEADLINE. TITIK DI MANA PENENTUAN APAKAH PAPER INI MAU DISELESAIKAN ATAU TIDAK.

                Masih dengan nelangsa yang bahagia, kami bersenandung “One Last Cry” lagi. Wina bilang kalau lagu itu versi Justin Timberlake – nya keren. Saya minta. Lalu kami diam.

                “HUAHAHAHAA...FAIL !”

                Kenapa ?

                Kami berteriak tepat mendengar intro lagu “One Last Cry” diputar di cafe itu. Yah, kami ketawa lagi. Antara senang, lucu, aneh, dan... speechless.

You Might Also Like

1 comment:

  1. Tagged as a fav-failed-satnite-ever :))

    malam minggu yang penuh dengan kejutan!!! *nyanyi one last cry sambil ngakak garing* ahahahha

    ReplyDelete