Beach Wedding Party
Setelah sebulan lebih menanti akhirnya datang juga ke
wedding expo. Sebenarnya lebih lama dari sebulan sih, karena wedding exhibition
nggak cuma yang ini yang ditunggu – tunggu. Yang mana ? Yang tadi sesorean saya
sambangi.
Emang kalau
udah niat mau gimana juga pasti dihajar. Nggak peduli dengan hujan, lupa sama
pilek, apalagi tugas. Setelah pelencuran menerjang badai Jogja (lagi), sampai
lah kami di Restaurant Pasific. Tempat yang dulu pernah saya ceritakan sebagai
tempat konser Afghan dan Abdul and The Coffee Theory disulap jadi serba putih. Saya
sendiri nggak ngerti kenapa kalau wedding pasti identik dengan warna putih. Jawaban
teman saya tadi sih, “kan memulai sesuatu yang baru, Ta. Jadi masih suci gitu. Baru
pertama kali kan yee”.
Alright.
Terlepas dari jawabannya nyambung atau nggak, kita berdua asyik muter – muter stand.
Baju pengantinnya cantik – cantik. Gaun putih dengan payet perak bertaburan. Belum
lagi gaun – gaun yang panjang membentang hingga satu meter di lantai. Wedding cake
ukuran raksasa berdiri dengan anggunnya di tengah ruangan. Kalau nggak salah
ada sekitar tiga kue putih dan satu kue dengan nuansa bajak laut. Stand lainnya
menawarkan souvenir pernikahan. Mulai dari kantong handphone sampai lilin,
bahkan mug juga ada.
Mayoritas
stand adalah wedding organizer dan photographer. Ada satu stand yang menarik
saya, entah apa namanya yang pasti menawarkan jasa foto pre – wedding. Mereka (si
mbaknya) bilang kalau tema foto bebas sesuai yang si calon pegantin mau. Si calon
pengantin bisa merangkai ceritanya sendiri sehingga outputnya berupa cerita
dalam foto (entah apa istilahnya dalam fotografi). Karena menurut saya stand
ini menawarkan jasa yang unik, maka saya melepas beberapa menit di dalamnya.
Pulang
dari wedding expo saya sedikit kecewa karena kesemuanya tidak ada yang
menawarkan konsep beach wedding party, konsep pernikahan impian saya. Ada yang
menawarkan outdoor konsepnya garden party. Saya jadi mikir, apa konsep
pernikahan di pantai di Indonesia belum umum ya ? Padahal di Indonesia banyak
pantai cantik, bukan ? Atau masyarakat Indonesia masih cenderung berpikir
simpel dan sesuatu yang possible aja, maksudnya “nanti ngerepotin undangan
kalau pesta di pantai ? Gitu kali, ya ?
Padahal
kan seru tuh kalau menikah di pantai ! Nggak usah sewa gedung, tinggal kuatin
aja uang dan konsepnya di dekorasi. Karena air laut udah biru (asumsinya
married di pantai yang bersih dong ya) dan pasirnya abu – abu, dekorasinya
pasti bagus kalau didominasi warna putih. Alasan kenapa warna putih bukan kayak
teman saya tadi, tapi untuk memberikan kecerahan. Makannya yang ada di bayangan
saya akan lebih bagus lagi kalau dikombinasiin dengan warna merah muda.
Sekarang
ke kostumnya. Untuk acara resmi, maksudnya proses ijab – kabul dan tradisi,
sepasang mempelai pakai kebaya putih. Karena akhir – akhir ini saya lagi suka
kebudayaan Jawa, agaknya akan lebih kece kalau bawahannya pakai batik Jogja
yang putih itu. Ah, saya lupa namanya ! Si mempelai pria bisa pakai baju adat
Jawa juga yang warna putih atau setelan jas putih. Warna putih di sini
menunjukkan keformalan. Oh iya, gaun pengantin wanitanya nggak sepenuhnya warna
putih. Tapi akan lebih manis kalau dipadukan dengan sedikit warna biru muda.
Dan yang terpenting, saya nggak mau lupa pakai stiletto putih ! Harus pokoknya
! Bagi saya stiletto putih itu lambang keseimbangan seorang wanita antara sisi
kemandiriannya dengan sisi kemampuannya sebagai pasangan hidup.
Kalau memang
mau ada pergantian kostum, maka warna golden lah yang saya pilih. Warna ini
akan senada nantinya dengan warna seragam untuk keluarga. Pasalnya, warna yang
nanti akan saya pilih adalah warna peach yang disentuh sedikit dengan kesan
emas supaya nggak begitu pucat. Tapi kalau ternyata kombinasi warnanya aneh,
mungkin bisa dipadukan dengan cokelat terang. Untuk pihak – pihak lain yang
membantu acara resepsi, saya nggak mau mereka pakai kemeja putih, celana atau
rok hitam, sepatu pantofel, lalu dasi kupu – kupu. Mereka bukan pegawai
restoran ! Even mereka dari bagian katering, buat saya siapa pun yang ada dan
membantu pernikahan adalah bagian dari keluarga. Maka dari itu, kostum mereka
memang akan dibedakan, tapi tetap spesial. Warna biru muda lah yang saya
pilihkan untuk mereka.
Masuk ke
bagian yang tak kalah penting, yaitu makanan. Saya ingin ada makanan
tradisional asal kami berdua (kalau yang menikah saya). Hal ini untuk
menunjukkan bahwa meskipun pernikahannya modern kami masih memerhatikan
tradisi. Baru lah kue – kue dan minumanya yang bervariasi. Saya lebih cenderung
memvariasikan cemilan dan minumannya karena tanpa kita sadari memang itu lah
yang lebih banyak diambil daripada main foodnya.
Untuk kue
pernikahannya, saya ingin yang berwarna cream. Hiasan kuenya nanti bisa warna
putih dan cokelat. Cukup dua warna saja dengan hiasan inisial nama saya dan
pasangan saya nanti. Sengaja saya tidak mengkombinasikan banyak warna. Selain karena
takut hasilnya aneh, nantinya malah keluar dari konsep awal.
Bagian terakhir
terpikir hingga saat ini adalah souvernir. Bagi saya, souvenir ini nggak
sekedar tanda terima kasih ke para undangan karena telah datang. Souvenir pernikahan
adalah secuil kebahagiaan yang kami bagi dengan mereka. Saya ingin memberi
mereka sekotak kecil cokelat dan lilin aroma theraphy bentuk bintang laut. Kenapa
cokelat ? Karena saya adalah orang yang menganut kepercayaan kalau kita memakan
cokelat maka akan tercipta rasa senang dan tenang. Dan kenapa lilin aroma
therapy berbentuk bintang laut ? Karena bagi saya lilin adalah benda yang dapat
menerangi di tengah kegelapan. Inginnya saya dan pasangan saya bisa terus
menjadi teman bagi para undangan sampai kapan pun. Lewat aroma theraphy pula
lah kami ingin memberikan ketenangan untuk teman – teman.
Oh iya,
satu lagi ! UNDANGAN ! Ini pun tak kalah penting. Saya sempat terpikir untuk
mengirimkan undangan berbentuk CD. Jadi di sana akan ada slide show atau video
singkat tentang pelaksanaan pernikahan. Di dalamnya juga diisi oleh lagu –
lagu. Tapi ide ini sempat dikritik oleh teman saya. Katanya ide itu terlalu
ribet dan nggak semua undangan punya CD player atau sejenisnya. Beberapa pun
ada yang meragukan ide saya. “Yakin lo, Ta, mau nikah pake tradisi tapi di
pantai ? Ribet kali”.
Ribet,
ya ? Imposibble ? Ah, namanya juga mimpi. Jangankan cuma married pakai tradisi
di pantai, we are allowed to dream nikah di bulan kok ! :D
0 comments: