Beach Wedding Party

11:08 PM Tameila 0 Comments


Setelah sebulan lebih menanti akhirnya datang juga ke wedding expo. Sebenarnya lebih lama dari sebulan sih, karena wedding exhibition nggak cuma yang ini yang ditunggu – tunggu. Yang mana ? Yang tadi sesorean saya sambangi.

                Emang kalau udah niat mau gimana juga pasti dihajar. Nggak peduli dengan hujan, lupa sama pilek, apalagi tugas. Setelah pelencuran menerjang badai Jogja (lagi), sampai lah kami di Restaurant Pasific. Tempat yang dulu pernah saya ceritakan sebagai tempat konser Afghan dan Abdul and The Coffee Theory disulap jadi serba putih. Saya sendiri nggak ngerti kenapa kalau wedding pasti identik dengan warna putih. Jawaban teman saya tadi sih, “kan memulai sesuatu yang baru, Ta. Jadi masih suci gitu. Baru pertama kali kan yee”.

                Alright. Terlepas dari jawabannya nyambung atau nggak, kita berdua asyik muter – muter stand. Baju pengantinnya cantik – cantik. Gaun putih dengan payet perak bertaburan. Belum lagi gaun – gaun yang panjang membentang hingga satu meter di lantai. Wedding cake ukuran raksasa berdiri dengan anggunnya di tengah ruangan. Kalau nggak salah ada sekitar tiga kue putih dan satu kue dengan nuansa bajak laut. Stand lainnya menawarkan souvenir pernikahan. Mulai dari kantong handphone sampai lilin, bahkan mug juga ada.

                Mayoritas stand adalah wedding organizer dan photographer. Ada satu stand yang menarik saya, entah apa namanya yang pasti menawarkan jasa foto pre – wedding. Mereka (si mbaknya) bilang kalau tema foto bebas sesuai yang si calon pegantin mau. Si calon pengantin bisa merangkai ceritanya sendiri sehingga outputnya berupa cerita dalam foto (entah apa istilahnya dalam fotografi). Karena menurut saya stand ini menawarkan jasa yang unik, maka saya melepas beberapa menit di dalamnya.

                Pulang dari wedding expo saya sedikit kecewa karena kesemuanya tidak ada yang menawarkan konsep beach wedding party, konsep pernikahan impian saya. Ada yang menawarkan outdoor konsepnya garden party. Saya jadi mikir, apa konsep pernikahan di pantai di Indonesia belum umum ya ? Padahal di Indonesia banyak pantai cantik, bukan ? Atau masyarakat Indonesia masih cenderung berpikir simpel dan sesuatu yang possible aja, maksudnya “nanti ngerepotin undangan kalau pesta di pantai ? Gitu kali, ya ?

                Padahal kan seru tuh kalau menikah di pantai ! Nggak usah sewa gedung, tinggal kuatin aja uang dan konsepnya di dekorasi. Karena air laut udah biru (asumsinya married di pantai yang bersih dong ya) dan pasirnya abu – abu, dekorasinya pasti bagus kalau didominasi warna putih. Alasan kenapa warna putih bukan kayak teman saya tadi, tapi untuk memberikan kecerahan. Makannya yang ada di bayangan saya akan lebih bagus lagi kalau dikombinasiin dengan warna merah muda.

                Sekarang ke kostumnya. Untuk acara resmi, maksudnya proses ijab – kabul dan tradisi, sepasang mempelai pakai kebaya putih. Karena akhir – akhir ini saya lagi suka kebudayaan Jawa, agaknya akan lebih kece kalau bawahannya pakai batik Jogja yang putih itu. Ah, saya lupa namanya ! Si mempelai pria bisa pakai baju adat Jawa juga yang warna putih atau setelan jas putih. Warna putih di sini menunjukkan keformalan. Oh iya, gaun pengantin wanitanya nggak sepenuhnya warna putih. Tapi akan lebih manis kalau dipadukan dengan sedikit warna biru muda. Dan yang terpenting, saya nggak mau lupa pakai stiletto putih ! Harus pokoknya ! Bagi saya stiletto putih itu lambang keseimbangan seorang wanita antara sisi kemandiriannya dengan sisi kemampuannya sebagai pasangan hidup.

                Kalau memang mau ada pergantian kostum, maka warna golden lah yang saya pilih. Warna ini akan senada nantinya dengan warna seragam untuk keluarga. Pasalnya, warna yang nanti akan saya pilih adalah warna peach yang disentuh sedikit dengan kesan emas supaya nggak begitu pucat. Tapi kalau ternyata kombinasi warnanya aneh, mungkin bisa dipadukan dengan cokelat terang. Untuk pihak – pihak lain yang membantu acara resepsi, saya nggak mau mereka pakai kemeja putih, celana atau rok hitam, sepatu pantofel, lalu dasi kupu – kupu. Mereka bukan pegawai restoran ! Even mereka dari bagian katering, buat saya siapa pun yang ada dan membantu pernikahan adalah bagian dari keluarga. Maka dari itu, kostum mereka memang akan dibedakan, tapi tetap spesial. Warna biru muda lah yang saya pilihkan untuk mereka.

                Masuk ke bagian yang tak kalah penting, yaitu makanan. Saya ingin ada makanan tradisional asal kami berdua (kalau yang menikah saya). Hal ini untuk menunjukkan bahwa meskipun pernikahannya modern kami masih memerhatikan tradisi. Baru lah kue – kue dan minumanya yang bervariasi. Saya lebih cenderung memvariasikan cemilan dan minumannya karena tanpa kita sadari memang itu lah yang lebih banyak diambil daripada main foodnya.
                Untuk kue pernikahannya, saya ingin yang berwarna cream. Hiasan kuenya nanti bisa warna putih dan cokelat. Cukup dua warna saja dengan hiasan inisial nama saya dan pasangan saya nanti. Sengaja saya tidak mengkombinasikan banyak warna. Selain karena takut hasilnya aneh, nantinya malah keluar dari konsep awal.
                Bagian terakhir terpikir hingga saat ini adalah souvernir. Bagi saya, souvenir ini nggak sekedar tanda terima kasih ke para undangan karena telah datang. Souvenir pernikahan adalah secuil kebahagiaan yang kami bagi dengan mereka. Saya ingin memberi mereka sekotak kecil cokelat dan lilin aroma theraphy bentuk bintang laut. Kenapa cokelat ? Karena saya adalah orang yang menganut kepercayaan kalau kita memakan cokelat maka akan tercipta rasa senang dan tenang. Dan kenapa lilin aroma therapy berbentuk bintang laut ? Karena bagi saya lilin adalah benda yang dapat menerangi di tengah kegelapan. Inginnya saya dan pasangan saya bisa terus menjadi teman bagi para undangan sampai kapan pun. Lewat aroma theraphy pula lah kami ingin memberikan ketenangan untuk teman – teman.
                Oh iya, satu lagi ! UNDANGAN ! Ini pun tak kalah penting. Saya sempat terpikir untuk mengirimkan undangan berbentuk CD. Jadi di sana akan ada slide show atau video singkat tentang pelaksanaan pernikahan. Di dalamnya juga diisi oleh lagu – lagu. Tapi ide ini sempat dikritik oleh teman saya. Katanya ide itu terlalu ribet dan nggak semua undangan punya CD player atau sejenisnya. Beberapa pun ada yang meragukan ide saya. “Yakin lo, Ta, mau nikah pake tradisi tapi di pantai ? Ribet kali”.
                Ribet, ya ? Imposibble ? Ah, namanya juga mimpi. Jangankan cuma married pakai tradisi di pantai, we are allowed to dream nikah di bulan kok ! :D

You Might Also Like

0 comments: