Filosofi Ulat
Untuk kesekian kalinya saya memandangi kostum itu. Baju hitam
dengan gambar kupu – kupu di tengahnya. Ada tiga baris kata yang disusun rapi
berwarna merah – putih dengan desain aksara Jawa. Bunyinya, “Aku Ingin Menjadi
Kupu – Kupu”. Ups, salah. Empat baris ternyata. Tapi siapa yang peduli dengan
kesalahan, karena mereka lah yang membuat saya berani dan tak malu untuk
melakukan kesalahan demi pembelajaran.
Siapa mereka
?
Tidak ada
yang spesial dari mereka. Sama seperti kita, punya dua mata, dua telinga,
sepasang kaki dan tangan. Semuanya sama. Tapi herannya orang – orang selalu
membedakan mereka. Orang – orang bilang mereka difabel, artinya orang – orang yang
sulit untuk melakukan sesuatu karena kekurangan atau keterbelakangan fisiknya. Konon
istilah “difabel” sendiri berangkat dari “disability” atau “disabilitas” yang
artinya “tidak mampu” atau ada juga yang memaknainya dengan “kesulitan”. Terlepas
dari apa pun pengertiannya, bersama mereka membuat saya malu jika terus menerus
mengeluh pada Tuhan.
Malam ini,
saya baru tahu betapa dalamnya makna “kupu – kupu merah – putih” itu. Awalnya saya
pikir itu hanya simbolisasi tingginya impian mereka. Kita pun sama, bukan ?
Selalu punya simbolisasi untuk setiap pencapaian. Dan begitu lah saya
mengartikan kupu – kupu di atas kaos hitam itu. Simbolisasi semangat. Selesai.
Semangat
seperti apa saya tidak pernah mengerti kalau malam ini tidak hadir di acaranya
anak – anak Psikologi UGM. Di atas tanah yang basah oleh sentuhan hujan, Pak
Broto menjelaskan apa makna sablon baju mereka. Entah saya yang bodoh atau
kurang menaruh perhatian, sebenarnya beliau sudah berulang kali menjelaskan ini
tapi mengapa saya baru meresapinya sekarang ?
Pak Broto,
yeah bisa dibilang pembimbing sekaligus teman mereka, bilang kalau kupu – kupu adalah
simbol semangat mereka yang ingin terbang tinggi. Hal ini diawali oleh seorang
pria yang bertanya mengenai ulat. Masih ingat tragedi Indonesia yang diserang
ulat ? Nah, saat pria tadi membaca serangan ulat itu ia bertanya mengapa
Indonesia diserang oleh ulat. Jawaban Pak Broto simpel, “karena Tuhan
menciptakan ulat”. Karena masih ada yang mengganjal, pria itu bertanya lagi, “lalu
mengapa harus dibasmi ?” (kira – kira seperti itulah pertanyaannya).
“Karena
ulat itu jelek, semua orang tidak suka dengan ulat. Semua orang menjauhi ulat”.
(mungkin begini pula lah jawabanya. Saya tidak bisa menuliskannya dengan tepat
terkait kelemahan long term memory
saya :D)
Dengan polosnya
pria tadi menimpali, “berarti sama sepertiku dong ? Aku jelek, tidak bisa mendengar,
dan semua orang menjauhiku”.
Kalau saya
yang ada di sana, entah lah apa yang akan saya lakukan. Tapi Pak Broto pergi ke
kamar mandi untuk mencuci muka. Ia menyembunyikan tangisnya lalu kembail ke
hadapan pria tadi.
“Kalau
kamu jadi ulat, jangan khawatir. Ulat nanti akan berubah menjadi kupu – kupu. Kalau
ulat sudah berubah menjadi kupu – kupu semua orang akan senang. Orang – orang bahagia
melihat kupu – kupu”.
Masih
dengan kepolosan yang sama, ucapan itu dibalas dengan, “kalau begitu aku mau
menjadi ulat. Aku mau mengasah diriku supaya bisa mejadi kupu – kupu. Nanti pada
saatnya aku sudah mejadi kupu – kupu maka semua orang akan senang”.
Mungkin
hal tersebut tidak ada apa – apanya kalau diucapkan oleh saya. Saya yang kerjaannya
ngomong doang mau diet, alih – alih celana panjang nggak muat. Sudah beli
sepatu olahraga dipakainya untuk kuliah, bukan untuk jogging. Tapi tekad di
atas rasanya beda kalau dari mulut pria itu. Pria yang tidak peduli betapa
susahnya untuk mengutarakan pendapat lewat diamnya. Pria yang selalu yakin
kalau setiap orang berhak untuk sukses dan pasti sukses. Pria yang tidak pernah
menyerah mengajarkan banyak hal ke banyak orang.
Pria itu
Arief.
Arief si
gondrong yang saya temui tadi setelah sekian lama tak jumpa. Masih dengan
rambut dan gayanya yang sama, namun dengan auranya yang berbeda. Bukan karena
saya lama tak bersua, tapi karena kini saya mengerti arti “ulat” baginya. Pantas
saja ia tak pernah meninggalkan kata “kupu – kupu”, “terbang”, dan “ulat”
setiap menyemangati saya. Saya paham artinya proses baginya. Saya mengerti
semangat baginya. Dan saya pun merasakan keharusan untuk berani mencoba
baginya.
Malu rasanya
kalau sudah berkumpul dengan mereka. Teman – teman hebat dari Deaf Art
Community (DAC) dan beberapa kawan dari beatbox. Nggak pantas untuk ngerasa
kerdil dan nggak berdaya setiap dikasih cobaan oleh – Nya. Saya harus mikir dua
kali bahkan berkali – kali untuk mundur dari tantangan yang tiba – tiba saya
hadapi. Satu hal yang membuat saya berhenti untuk takut yakni saat saya tahu
mereka bilang, “untuk apa kamu takut sesuatu kalau kami pun tak takut menjadi
tuli seumur hidup ?”
Ya,
kawan, untuk apa saya takut menghadapi sesuatu kalau masih bisa saya atasi. Bagi
kalian ketulian yang tak bisa disembuhkan pun masih kalian hadapi. Bukan karena
kalian tidak bisa apa – apa lagi dengan takdir Tuhan, tapi karena kalian tidak
takut. Kalian tidak takut tuli, kalian tidak takut tidak mendengar, karena
kalian tahu Tuhan dan makhluk - Nya selalu punya cara lain untuk berbicara
kepada kalian.
*jempol-telunjuk-kelingking*
:)
0 comments: