Filosofi Ulat

9:57 PM Tameila 0 Comments


Untuk kesekian kalinya saya memandangi kostum itu. Baju hitam dengan gambar kupu – kupu di tengahnya. Ada tiga baris kata yang disusun rapi berwarna merah – putih dengan desain aksara Jawa. Bunyinya, “Aku Ingin Menjadi Kupu – Kupu”. Ups, salah. Empat baris ternyata. Tapi siapa yang peduli dengan kesalahan, karena mereka lah yang membuat saya berani dan tak malu untuk melakukan kesalahan demi pembelajaran.

                Siapa mereka ?

                Tidak ada yang spesial dari mereka. Sama seperti kita, punya dua mata, dua telinga, sepasang kaki dan tangan. Semuanya sama. Tapi herannya orang – orang selalu membedakan mereka. Orang – orang bilang mereka difabel, artinya orang – orang yang sulit untuk melakukan sesuatu karena kekurangan atau keterbelakangan fisiknya. Konon istilah “difabel” sendiri berangkat dari “disability” atau “disabilitas” yang artinya “tidak mampu” atau ada juga yang memaknainya dengan “kesulitan”. Terlepas dari apa pun pengertiannya, bersama mereka membuat saya malu jika terus menerus mengeluh pada Tuhan.

                Malam ini, saya baru tahu betapa dalamnya makna “kupu – kupu merah – putih” itu. Awalnya saya pikir itu hanya simbolisasi tingginya impian mereka. Kita pun sama, bukan ? Selalu punya simbolisasi untuk setiap pencapaian. Dan begitu lah saya mengartikan kupu – kupu di atas kaos hitam itu. Simbolisasi semangat. Selesai.

                Semangat seperti apa saya tidak pernah mengerti kalau malam ini tidak hadir di acaranya anak – anak Psikologi UGM. Di atas tanah yang basah oleh sentuhan hujan, Pak Broto menjelaskan apa makna sablon baju mereka. Entah saya yang bodoh atau kurang menaruh perhatian, sebenarnya beliau sudah berulang kali menjelaskan ini tapi mengapa saya baru meresapinya sekarang ?

                Pak Broto, yeah bisa dibilang pembimbing sekaligus teman mereka, bilang kalau kupu – kupu adalah simbol semangat mereka yang ingin terbang tinggi. Hal ini diawali oleh seorang pria yang bertanya mengenai ulat. Masih ingat tragedi Indonesia yang diserang ulat ? Nah, saat pria tadi membaca serangan ulat itu ia bertanya mengapa Indonesia diserang oleh ulat. Jawaban Pak Broto simpel, “karena Tuhan menciptakan ulat”. Karena masih ada yang mengganjal, pria itu bertanya lagi, “lalu mengapa harus dibasmi ?” (kira – kira seperti itulah pertanyaannya).

                “Karena ulat itu jelek, semua orang tidak suka dengan ulat. Semua orang menjauhi ulat”. (mungkin begini pula lah jawabanya. Saya tidak bisa menuliskannya dengan tepat terkait kelemahan long term memory saya :D)

                Dengan polosnya pria tadi menimpali, “berarti sama sepertiku dong ? Aku jelek, tidak bisa mendengar, dan semua orang menjauhiku”.

                Kalau saya yang ada di sana, entah lah apa yang akan saya lakukan. Tapi Pak Broto pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia menyembunyikan tangisnya lalu kembail ke hadapan pria tadi.

                “Kalau kamu jadi ulat, jangan khawatir. Ulat nanti akan berubah menjadi kupu – kupu. Kalau ulat sudah berubah menjadi kupu – kupu semua orang akan senang. Orang – orang bahagia melihat kupu – kupu”.

                Masih dengan kepolosan yang sama, ucapan itu dibalas dengan, “kalau begitu aku mau menjadi ulat. Aku mau mengasah diriku supaya bisa mejadi kupu – kupu. Nanti pada saatnya aku sudah mejadi kupu – kupu maka semua orang akan senang”.

                Mungkin hal tersebut tidak ada apa – apanya kalau diucapkan oleh saya. Saya yang kerjaannya ngomong doang mau diet, alih – alih celana panjang nggak muat. Sudah beli sepatu olahraga dipakainya untuk kuliah, bukan untuk jogging. Tapi tekad di atas rasanya beda kalau dari mulut pria itu. Pria yang tidak peduli betapa susahnya untuk mengutarakan pendapat lewat diamnya. Pria yang selalu yakin kalau setiap orang berhak untuk sukses dan pasti sukses. Pria yang tidak pernah menyerah mengajarkan banyak hal ke banyak orang.

                Pria itu Arief.

                Arief si gondrong yang saya temui tadi setelah sekian lama tak jumpa. Masih dengan rambut dan gayanya yang sama, namun dengan auranya yang berbeda. Bukan karena saya lama tak bersua, tapi karena kini saya mengerti arti “ulat” baginya. Pantas saja ia tak pernah meninggalkan kata “kupu – kupu”, “terbang”, dan “ulat” setiap menyemangati saya. Saya paham artinya proses baginya. Saya mengerti semangat baginya. Dan saya pun merasakan keharusan untuk berani mencoba baginya.

                Malu rasanya kalau sudah berkumpul dengan mereka. Teman – teman hebat dari Deaf Art Community (DAC) dan beberapa kawan dari beatbox. Nggak pantas untuk ngerasa kerdil dan nggak berdaya setiap dikasih cobaan oleh – Nya. Saya harus mikir dua kali bahkan berkali – kali untuk mundur dari tantangan yang tiba – tiba saya hadapi. Satu hal yang membuat saya berhenti untuk takut yakni saat saya tahu mereka bilang, “untuk apa kamu takut sesuatu kalau kami pun tak takut menjadi tuli seumur hidup ?”

                Ya, kawan, untuk apa saya takut menghadapi sesuatu kalau masih bisa saya atasi. Bagi kalian ketulian yang tak bisa disembuhkan pun masih kalian hadapi. Bukan karena kalian tidak bisa apa – apa lagi dengan takdir Tuhan, tapi karena kalian tidak takut. Kalian tidak takut tuli, kalian tidak takut tidak mendengar, karena kalian tahu Tuhan dan makhluk - Nya selalu punya cara lain untuk berbicara kepada kalian.

*jempol-telunjuk-kelingking*
:)

You Might Also Like

0 comments: