*speechless*
Tulisan
ini adalah tulisan yang paliiiingg jujur yang pernah saya buat secara duet. Kenapa
duet ? Kerena kontennya dibantuin sama seorang cewek. Cantik kok ! Rambutnya
panjang, bergelombang, putih, kurus, belo. Jenong pula. Serem ya ? Memang !
Tapi perwujudannya masih kalah serem sama petualangan kami. Kami namakan
petualangan ini dengan “Petualangan Menuju Pukul 21.00”.
Ada apa
sih dengan pukul 21.00 ?
Jadi
begini ceritanya. Dua wanita ini sedang semangat – semangatnya untuk ngejar deadline. Berbekal semangat
dan uang seadanya, kita ngesot – ngesot pakai motor menerjang badai hujan
Jogja. Saya udah nggak peduli betapa lancar hidung ini meler. Dia pun sama,
udah nggak peduli betapa keriputnya otot – otot yang dari pagi dipakai buat
jualan baju.
Pada suatu
titik waktu kita bertemu. Beratapkan cafe yang nasi gorengnya mahal sekaligus
asin dan hot white milk – nya yang rasa santan, kami memeras otak. Mikirin gimana
bikin campaign yang memasukkan local wisdom. Jelas harus berpikir keras karena
kami adalah generasi – generasi mengalir. Kami generasi seadanya. Kami menghargai
budaya, tapi kadang nggak tahu budaya sendiri itu apa.
Sudah nggak
penting ngebahas betapa butanya kami terhadap budaya. Yang pasti, dalam
keremangan temaram lampu kuning kami asyik meng-microsoft word. Ketak ketik
ketak ketik. Ctrl S. Buka grup YM. Minimize. Ketak ketik ketak ketik. Begitu kerjaannya.
Yang satu pipinya ngegembung, yang satunya lagi bibirnya ditekuk. Sampai akhirnya
adzan berkumandang. Biar kata generasi seadanya, kami masih sadar ibadah. Sanking
semangatnya untuk shalat, akhirnya kami langsung jalan mencari masjid. Padahal kalau
dipikir – pikir kenapa nggak bawa motor. Padahal bisa lebih cepat mengingat
kita dikejar deadline. Tapi menyesal pun nggak ada gunanya karena kita sadarnya
juga pas udah selesai shalat.
Kata si
jenong, eh kasihan saya panggil jenong terus namanya Wina saudara – saudara, “udah
lah nggak apa – apa Ceu, itung – itung pahalanya gede. Kan perjuangan”. Sebenarnya
nggak nolong sih sama badan saya yang udah pegal – pegal, tapi setidaknya bisa
lah membuat saya mau menerima keadaan.
Jam menunjukkan
pukul 20.00. SEJAM LAGI ! Masih banyak bagian yang belum dikerjain. Si Jenong,
eh Wina, asyik pilih layout cover sedangkan saya ngegombal di paper. Jampi –
jampi dan komat – kamit mudah – mudahan kata – kata yang keluar bisa bikin yang
baca amnesia. Terus terus teruuuss waktu berjalan dan DENG ! 10 MENIT LAGI !
Paper kami belum di layout. Entah bagaimana nasibnya teman kami di Solo sana
dengan keponakan kembarnya, yang pasti di sini, di Jogja berbadai, kami pasrah.
Rasanya sudah tidak mungkin memenuhi deadline jam 21.00.
Dengan sisa
harapan seadanya, Wina melanjutkan layout – nya. Alih – alih seharusnya saya
berdo’a, saya bengong menatap desktop laptop. Dalam hati saya berkata, “yah,
mudah – mudahan panitianya baik. Kita udah kirim seratus lima puluh ribu masa
iya telat beberapa menit nggak diterima”.
Beberapa
menit ? Benarkah itu ?
21:49.
49 Menit. Masih pantas disebut beberapa menit ? Ah, pantas kok ! Nggak ada
patokan yang rigid dari “beberapa”, bukan ?
Paper sudah
terkirim. Sambil mengecek update twitter si panitia, saya dan Wina menyanyikan
lagu “One Last Cry”. Bukan karena habis dengar lagu itu atau punya kenangan
dengan lagu itu, entah mengapa dengan sendirinya kami berdua nyanyi itu. Mungkin
bibir ini bisa membaca sampai ke dalam hati dan pikiran kami. (halah).
Di menit
selanjutnya, ada sesuatu yang mengejutkan. Bukan karena “hot white milk santan”
– nya Wina berubah jadi “white choco melted”, tapi karena ternyata...deadline –
nya...diundur...sampai...tanggal...10 MEI !
“TAIK !”
jerit Wina.
Saya ?
Mau teriak “taik” juga malu sama kerudung, akhirnya cuma malu – malu misuh “ASU!”.
Antara senang
dan emm...speechless. Senang sih karena di satu sisi kita masih bisa ngebenerin
paper, tapi di sisi lain kok ya..yah..gitu deh. Kita berdua cuma ketawa miris. Entah
apa yang diketawain, antara kegoblokan atau keberuntungan. Tapi yang namanya
manusia nggak mau dong disalahin akhirnya kami mencari kambing hitam. Kami antara
nyalahin dan berterima kasih sama panitia yang ternyata baru meng – update berita ini tadi sore. PUKUL
15.00. PUKUL DI MANA KAMI MENGUMPULKAN SISA – SISA TENAGA DAN SEMANGAT UNTUK
MENGEJAR DEADLINE. TITIK DI MANA PENENTUAN APAKAH PAPER INI MAU DISELESAIKAN
ATAU TIDAK.
Masih dengan
nelangsa yang bahagia, kami bersenandung “One Last Cry” lagi. Wina bilang kalau
lagu itu versi Justin Timberlake – nya keren. Saya minta. Lalu kami diam.
“HUAHAHAHAA...FAIL
!”
Kenapa
?
Kami
berteriak tepat mendengar intro lagu “One Last Cry” diputar di cafe itu. Yah,
kami ketawa lagi. Antara senang, lucu, aneh, dan... speechless.
Tagged as a fav-failed-satnite-ever :))
ReplyDeletemalam minggu yang penuh dengan kejutan!!! *nyanyi one last cry sambil ngakak garing* ahahahha