31HariMenulis

What They Don’t Talk About (When They Do Sex)

9:45 PM Tameila 0 Comments



For some people pasti udah tau film yang berjudul “What They Don’t Talk About When They Talk About Love”. Well here gua nggak mau nge-review filmnya. Gua pun nggak bermaksud untukjadi spoiler. Ini cuma efek yang gua lihat ketika para orangtua, anak-anak tuli, dan pembuat film menonton itu dalam waktu yang bersamaan.

Jadi beberapa waktu lalu gua dapet tiket gratis. Technically nggak gratis dari PH-nya, ada seorang film maker yang nyuruh gua nonton film itu akhirnya gua dibeliin tiket. Then selama film berlangsung gua enjoy aja, karena pada dasarnya gua suka nonton film, mulai dari yang religius sampai yang jorok-jorok. Seriously, bagi gua setiap film punya jalan cerita yang unik dan kita nggak boleh nge-judge itu bagus atau jelek, karena yapp gua pun belum tentu bisa membuat hal yang sama dengan kualitas di atasnya.
That’s the point! Judging!

Berdasarkan cerita yang gua dapat, para orangtua ada yang marah terhadap film itu. Katanya, “terlalu vulgar”, “nggak mendidik”, dan sejenisnya. Akhirnya, gua coba berpaling ke anak-anak tuli. Gimana sih respon mereka? Untuk anak-anak yang masih teenage, mereka sependapat dengan para orangtua tadi. Untuk yang udah agak dewasa sih, yaahh..mereka paham masing-masing. Ada yang menangkap seutuhnya makna film, tapi kebanyakan hanya concern dengan adegan ciuman dan raba-rabaannya. Wait, masih ada satu lagi, si film maker. Setalah gua selesai nonton, gua menanyakan komentar si pihak ketiga ini. Cuma ada senyum tipis dan kalimat, “nggak seharusnya tayang di layar lebar secara umum” yang keluar dari mulutnya.

And now, bagaimana menurut gua?

Dari ketiga pihak di atas nggak ada yang salah. Tapi mau nggak mau gua emang harus meng-amin-i kata si film maker. Sayang, mungkin film itu kurang cocok untuk dilempar ke publik. Bukan karena jalan ceritanya (yang kata beberapa orang ngebosenin), tapi hati-hati lho karena fenomena yang diangkat di dalamnya masalah sensitif.

Difable dan seksualitas.

Dalam beberapa obrolan, baik formal maupun chit-chat, permasalahan difable dan seksualitas adalah masalah laten. Tau laten? Sesuatu yang berbahaya tapi nggak kelihatan. Baru kelihatan bahayanya ketika dampaknya udah sampai di permukaan.

Semua paham kalau seks itu krusial bagi anak-anak, tapi masalahnya untuk kasus difable agak berbeda. Some of them simply think that sex is all about love. When you love someone, then you deserve to do sex. Oke, mostly remaja umum pun banyak yang seperti itu, but for difable it needs to be more communicated.
Pernah dengar banyak korban sexual harrasment terhadap difable? Siapa sih yang paling banyak pelakunya?
Ya orang-orang yang nggak difable. Orang-orang itu yang mengatasnamakan sex is love. You love, you sex. That’s it.

Rasanya gua dulu pun pernah share tentang salah satu anak yang menjadi korban seksual dari pacarnya deh ya? Well cerita singkatnya she did sex in bathroom with her bf. Kalau nggak nurut nanti ada aja ancemannya. Nah anak berkebutuhan khusus nggak semudah anak-anak biasa untuk terbuka. Terkadang di usia dewasa aja, mereka pemahaman “benar-salah”, “baik-buruk”, “pantas-tidak”, itu masih setaraf pemahaman teenage. So nggak heran ketika akhirnya ditanya si anak kenapa nurut dengan pacarnya, dia cuma jawab, “karena aku sayang”. Saat orangtuanya ngelarang, dia nyoba bunuh diri.

Mungkin kalian bertanya, kenapa sih orangtuanya nggak jadi gate keeper?

Yes, here. Ada satu elemen yang terkadang orangtua kita lupakan. They communicate with their style, not their kids. Anak yang kemampuannya masih sedikit disuruh ngikut gaya komunikasi mereka yang dewasa. Ya mau kapan pesannya sampai? Makannya nggak heran kalau ada beberapa anak difable yang gua tanya ini-itu masalah sepele tapi mereka nggak bisa jawab terus mereka nerusin dengan, “aku nggak tau. Nggak pernah ada yang kasih tau aku”. Contohnya begini deh, dulu ada yang nanya ke gua, “bu kenapa kita nggak boleh punya pacar lebih dari satu?”. Waktu itu yang nanya anak lulusan SMA lho. See? It’s so damn basic. 

Untuk beberapa hal yang tabu atau melanggar secara sosial, satu-satunya alasan yang sering diucapkan adalah “dosa”. They don’t even get rational reason kenapa hal ini bagus atau jelek, berbahaya atau nggak. Yang gua takutkan cuma satu, mereka nggak benar-benar paham apa yang dilakukannya nanti. So how could they built their self-concept? Bagaimana mereka mau menjadi seorang inventor kalau sejak dini nggak paham benar alasan mereka berbuat sesuatu? Akan kah mereka terus-terusan menjadi follower?

Terlepas dari itu semua, film “What They Don’t Talk About When They Talk About Love” sedikit banyak menggambarkan apa yang terjadi, meski action-nya nggak benar-benar sama. But it happens until now. Something that difable don’t talk about and don’t ask because the fear of sin. So far gua mengajarkan dosa itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipahami kenapa harus dihindari sehingga kita benar-benar bertakwa kepada-Nya dengan sepenuh hati, bukan-karena-takut-dosa.

Bagaimana jika surga dan neraka nggak pernah diciptakan?


NB: For some people yang concern juga dengan difable, I'll be glad to get anycorrection. :)


You Might Also Like

0 comments: