31HariMenulis
What They Don’t Talk About (When They Do Sex)
For some people pasti udah tau film yang berjudul “What They Don’t Talk About When They Talk
About Love”. Well here gua nggak mau nge-review filmnya. Gua pun nggak
bermaksud untukjadi spoiler. Ini cuma efek yang gua lihat ketika para orangtua,
anak-anak tuli, dan pembuat film menonton itu dalam waktu yang bersamaan.
Jadi beberapa waktu lalu gua dapet tiket gratis. Technically
nggak gratis dari PH-nya, ada seorang film maker yang nyuruh gua nonton film
itu akhirnya gua dibeliin tiket. Then selama film berlangsung gua enjoy aja,
karena pada dasarnya gua suka nonton film, mulai dari yang religius sampai yang
jorok-jorok. Seriously, bagi gua setiap film punya jalan cerita yang unik dan
kita nggak boleh nge-judge itu bagus atau jelek, karena yapp gua pun belum
tentu bisa membuat hal yang sama dengan kualitas di atasnya.
That’s the point! Judging!
Berdasarkan cerita yang gua dapat, para orangtua ada yang
marah terhadap film itu. Katanya, “terlalu
vulgar”, “nggak mendidik”, dan
sejenisnya. Akhirnya, gua coba berpaling ke anak-anak tuli. Gimana sih respon
mereka? Untuk anak-anak yang masih teenage, mereka sependapat dengan para
orangtua tadi. Untuk yang udah agak dewasa sih, yaahh..mereka paham
masing-masing. Ada yang menangkap seutuhnya makna film, tapi kebanyakan hanya
concern dengan adegan ciuman dan raba-rabaannya. Wait, masih ada satu lagi, si
film maker. Setalah gua selesai nonton, gua menanyakan komentar si pihak ketiga
ini. Cuma ada senyum tipis dan kalimat, “nggak
seharusnya tayang di layar lebar secara umum” yang keluar dari mulutnya.
And now, bagaimana menurut gua?
Dari ketiga pihak di atas nggak ada yang salah. Tapi mau
nggak mau gua emang harus meng-amin-i kata si film maker. Sayang, mungkin film
itu kurang cocok untuk dilempar ke publik. Bukan karena jalan ceritanya (yang
kata beberapa orang ngebosenin), tapi hati-hati lho karena fenomena yang
diangkat di dalamnya masalah sensitif.
Difable dan seksualitas.
Dalam beberapa obrolan, baik formal maupun chit-chat,
permasalahan difable dan seksualitas adalah masalah laten. Tau laten? Sesuatu
yang berbahaya tapi nggak kelihatan. Baru kelihatan bahayanya ketika dampaknya
udah sampai di permukaan.
Semua paham kalau seks itu krusial bagi anak-anak, tapi masalahnya
untuk kasus difable agak berbeda. Some of them simply think that sex is all
about love. When you love someone, then you deserve to do sex. Oke, mostly
remaja umum pun banyak yang seperti itu, but for difable it needs to be more
communicated.
Pernah dengar banyak korban sexual harrasment terhadap
difable? Siapa sih yang paling banyak pelakunya?
Ya orang-orang yang nggak difable. Orang-orang itu yang
mengatasnamakan sex is love. You love, you sex. That’s it.
Rasanya gua dulu pun pernah share tentang salah satu anak
yang menjadi korban seksual dari pacarnya deh ya? Well cerita singkatnya she
did sex in bathroom with her bf. Kalau nggak nurut nanti ada aja ancemannya. Nah
anak berkebutuhan khusus nggak semudah anak-anak biasa untuk terbuka. Terkadang
di usia dewasa aja, mereka pemahaman “benar-salah”, “baik-buruk”, “pantas-tidak”,
itu masih setaraf pemahaman teenage. So nggak heran ketika akhirnya ditanya si
anak kenapa nurut dengan pacarnya, dia cuma jawab, “karena aku sayang”. Saat orangtuanya
ngelarang, dia nyoba bunuh diri.
Mungkin kalian bertanya, kenapa sih orangtuanya nggak jadi
gate keeper?
Yes, here. Ada satu elemen yang terkadang orangtua kita
lupakan. They communicate with their style, not their kids. Anak yang
kemampuannya masih sedikit disuruh ngikut gaya komunikasi mereka yang dewasa. Ya
mau kapan pesannya sampai? Makannya nggak heran kalau ada beberapa anak difable
yang gua tanya ini-itu masalah sepele tapi mereka nggak bisa jawab terus mereka
nerusin dengan, “aku nggak tau. Nggak pernah
ada yang kasih tau aku”. Contohnya begini deh, dulu ada yang nanya ke gua, “bu kenapa kita nggak boleh punya pacar lebih
dari satu?”. Waktu itu yang nanya anak lulusan SMA lho. See? It’s so damn
basic.
Untuk beberapa hal yang tabu atau melanggar secara sosial,
satu-satunya alasan yang sering diucapkan adalah “dosa”. They don’t even get
rational reason kenapa hal ini bagus atau jelek, berbahaya atau nggak. Yang gua
takutkan cuma satu, mereka nggak benar-benar paham apa yang dilakukannya nanti.
So how could they built their self-concept? Bagaimana mereka mau menjadi
seorang inventor kalau sejak dini nggak paham benar alasan mereka berbuat
sesuatu? Akan kah mereka terus-terusan menjadi follower?
Terlepas dari itu semua, film “What They Don’t Talk About When They Talk About Love” sedikit
banyak menggambarkan apa yang terjadi, meski action-nya nggak benar-benar sama.
But it happens until now. Something that difable don’t talk about and don’t ask
because the fear of sin. So far gua mengajarkan dosa itu bukan untuk ditakuti,
tapi untuk dipahami kenapa harus dihindari sehingga kita benar-benar bertakwa
kepada-Nya dengan sepenuh hati, bukan-karena-takut-dosa.
Bagaimana jika surga dan neraka nggak pernah diciptakan?
NB: For some people yang concern juga dengan difable, I'll be glad to get anycorrection. :)
0 comments: