31HariMenulis
Karena Arum
Gua paling suka nulis tentang rindu. Kalau kata teman gua
tadi yang suka ngedalang, segala sesuatu yang keluar dari jiwa yang merih, termasuk rindu, biasanya lebih “nendang”.
Apa emang benar? Entah lah, tapi memang rasanya dari rindu membuat kita tetap
hidup. At least kita bisa bertahan untuk seseorang atau sesuatu yang kita
rindu.
Gua mungkin bisa menjadikan Arum (-nama disamarkan), murid
gua yang pernah gua ceritain dulu (yang terjangkit virus HIV), sebagai alasan bertahan.
Bertahan untuk apa? Untuk tetap berharap sama anak-anak berkebutuhan khusus
bahwa mereka akan mendapatkan kehidupan yang layak. Well...konteksnya di sini
sih pendidikan. Sering gua menemukan di lapangan dan diskusi dengan beberapa
guru kalau mendidik mereka kurang memanusiakan. Namanya juga
anak-berkebutuhan-khusus, nggak bisa dipaksa dan disamakan metode pengajarannya
sama anak umum.
Siang tadi gua bertemu dengan Arum. Agak terkejut, karena
pertama gua ketemu di tempat yang nggak pernah diduga. Kedua, Arum masih sangat
hafal dengan gua. Ketiga, kondisi Arum.
Dulu, saat pertama kali gua ketemu Arum, dia memang kurang
rapi. Rambutnya dan cara berpakaiannya berantakan. Kontras sekali dengan ibunya
yang...bisa lah kita nilai serba matching.
Lama nggak ketemu Arum, gua pikir kondisinya jauh lebih baik. Gua selalu
berharap kalau guru-guru dan pendamping baru yang Arum temui nantinya bisa
lebih baik dari pengasuhan gua. Gua nggak bilang gua ini bagus, makannya gua
harap dia bisa ketemu yang jauuuh lebih kompeten dari gua. Secara masuk ke
dunia pendidikan luar biasa gua nggak berbekal ilmu khusus, gua otodidak dan
belajar dari pengamatan di lapangan. Tapi siang tadi, pengen rasanya gua urus
Arum dengan tangan gua sendiri lagi.
Gua lihat Arum seketika pengen gua peluk. Tapi sayang, saat
itu Arum asyik bergelayut di tangan pendamping barunya. Pendampingnya ini
cowok, nggak mungkin juga langsung gua peluk kan? Akhirnya setelah kenalan dan
basa-basi dengan pendamping barunya, gua langsung jongkok dan ngobrol sebentar
dengan Arum.
Kurus. Semakin kurus. Itu lah yang suddenly terlintas di
kepala gua. Selanjutnya, setidaknya gua bisa tersenyum. Dari obrolan singkat,
gua bisa menyimpulkan kalau kemampuan sosialnya mengalami kemajuan, but still
kenapa manner-nya terasa degradasi? Apakah kemampuan sosialnya nggak diimbangi
dengan kontrol perilaku dari dalam dirinya?
Kalau memang benar begitu, gua bisa sangat menyayangkan apa
yang udah gua tanam bersama dua gurunya dulu. Waktu gua masih jadi guru
pendampingnya, anger management-nya Arum emang agak berantakan. Kadang suka
diem kalau lagi marah, sangaaatt diem sampai gua bingung harus ngapain. Kadang juga
sangat ekspresif, bisa jerit-jerit sampai ngerusak lembar kerja. Ini lah yang
menjadi sorotan utama gua dan gurunya waktu itu. Alhamdulillah saat waktu tugas
gua udah mau selesai, Arum bisa lebih mengontrol dirinya. Tapi sekarang?
Sebenarnya mungkin gua juga nggak berhak untuk nge-judge
secepat itu kalau kontrol dirinya Arum menurun. Pertemuan tadi nggak ada lebih
dari 30 menit. But still...hampir setiap hari gua menghabiskan waktu dulu
bersama Arum membuat gua hafal gelagat dia. Semoga, ya semoga tebakan gua ini
salah, dan harapan self control Arum bisa lebih baik dengan guru-guru barunya.
Entah kenapa akhir-akhir ini gua kangen Arum. Puncaknya adalah
kemarin lusa. Mungkin Tuhan Maha Tahu rindu yang ada di dalam diri ini,
makannya gua tadi dipertemukan dengan Arum. Dan dari sana, rasanya gua nggak
perlu ragu lagi untuk terima project pendidikan anak-anak cerebal palsy dan
down syndrome. Jujur, sebelumnya gua sempat ragu. Bukan karena kemampuan
anak-anak itu, tapi lebih kepada kompetensi diri gua. Apakah gua capable untuk
meng-handle mereka dan menjadikan mereka lebih baik? Buat gua, mendidik mereka
bukan untuk menjadikan mereka pintar dan tenaga-tenaga yang mampu menciptakan
uang. Pendidikan buat mereka setidaknya mampu mendekatkan mereka dengan Tuhan,
karena ilmu “kesadaran” itulah yang seringnya terlupakan oleh mereka. Kemampuan
mereka yang berbeda nggak seperti orang pada umumnya. Indra dan seluruh
organnya yang bekerja sempurna bisa dengan gampang menarik hikmah. Mereka? Butuh
bantuan kita, bahkan untuk sekedar menyadarkan adanya Tuhan.
So, mungkin pengobatan rindu gua terhadap Arum hari ini
mengukirkan harapan baru. Harapan supaya gua bisa meningkatkan kemampuan bagi
anak-anak di sana. Harapan energi gua nggak akan habis untuk menjadikan mereka
manusia seutuhnya, bukan insan yang patut dikasihani atau kuda peras yang hanya
mengerti rupiah.
Ada yang bilang kalau orang bertahan hidup dari harapan. Apa
emang benar?
Entah. Apakah harapan gua ini bisa menjadi alasan untuk tetap
hidup di dunia mereka atau tidak. Tapi, yang pasti, selama harapan itu masih
ada semoga gua nggak pernah bosan belajar dari mereka sampai akhirnya gua bisa
melaksanakan prinsip “learn more, share
much more”.
0 comments: