31HariMenulis

Pelayan(an) Publik

7:23 PM Tameila 0 Comments

Sore begini enaknya ngapain, ya? Hmm..gua share aja deh apa yang gua lakuin tadi sepagian di kantor imigrasi dengan suami-istri tuli.

Si istri ini dari Amerika, tepatnya dari Pennsylvania, somewhere around di Amerika sana. Then, lakinya dari Sri Lanka. Okay, kita sebut aja si istri ini Lisa, suaminya sebut aja Sarath.
Jadi ceritanya si Lisa sekarang lagi menjalankan banyak program difable untuk salah satu universitas di Jogja. Udah sekitar lima bulan Lisa di Indonesia, mulai dari awal tahun 2013. Nggak lama, beberapa waktu lalu (sekitar sebulan lalu), suaminya dateng ke sini. Maklum, mereka pengantin baru, mungkin karena “program-membuat-keturunan” jadi terhambat makannya Sarath nyusul ke Indonesia.

Nah, terlepas dari alasan Sarath ke Indonesia, akhirnya masa berlaku visa habis juga. Mau nggak mau harus diperpanjang dong? Yap! Mulai di sini lah perjalanan gua, Lisa, Sarath, dan satu teman baik gua dimulai.

Pagi tadi gua dateng ke kantor imigrasi Jogja. Gua nggak peduli apakah gua dateng kepagian karena pas saat kantor dibuka, atau kah apaan. Yang pasti, petugas di sana nggak ready service. Gua jadi mikir, kalau Lisa dan Sarath ini nggak ada pendampingnya gimana? Oke lah kalau masalah “pegawai-yang-masih-ngantuk” harus ditolerir, tapi mbok di sana dikasih direction yang jelas. Awalnya, gua ngebiarin Lisa dan Sarath jalan sendiri. Nggak lama kok cuma sekitar dua menit, tapi mereka udah kebingungan. Langsung lah akhirnya saya yang tackle.

Akhirnya kita masuk ke ruangan untuk urus-urusan perpanjangan visa. Karena ada dokumen yang kurang, akhirnya Lisa dan Sarath harus melengkapi dokumen itu. Nggak ribet sih, cuma untuk kedua kalinya gua mikir, gimana kalau Lisa dan Sarath nggak didampingi? Melihat perilaku petugas-petugas di sana gua jadi sangsi dengan program accessible-nya pemerintah Indonesia. Lho iyo, gimana mau accessible kalau petugasnya aja tadi bingung mau komunikasi sama Lisa? Gua sempet ngebiarin sebentar Lisa dan petugasnya berinteraksi. Bleaahh..selak stress duluan nunggunya.

Padahal nih beberapa waktu lalu (sekitar dua bulan lalu) gua ikutan acara perencaan kota inklusi yang diusung sama UNESCO dan beberapa LSM difable di Jogja. Kota istimewa ini mau dijadiin pilot projectnya, jadi nanti beberapa kota di Indonesia akan berkaca pada Jogja. But wait, sudah siapkah Jogja?

Serangkaian acara waktu itu emang benar menceritakan betapa accessible-nya kota ini. But needs to be noted, masih dari segi infrastruktur. Padahal, kalau kita mau ngomongin masalah pemerintahan dan kota yang accessible, itu bukan hanya dari bangunannya aja. Lha kalau difable tidak mendapat pelayanan seperti orang-orang biasa, apa masih bisa disebut accessible?

Ayo kita cek trotoar yang ada di Malioboro. Kalau kalian (yang udah pernah ke Malioboro) lihat ada ubin kuning dengan permukaan yang timbul, itu untuk apaan sih? Pemerintah iseng dan selo gitu pilih ubin begituan? No. Itu untuk teman-teman yang menggunakan tongkat. Ada garis timbul lurus dan bulat-bulat itu sebagai penanda. Tapi coba lihat sekarang, jangankan untuk dipakai teman-teman yang bertongkat, pedestrian biasa aja deh bisa nggak? Bisa sih, iya bisa nyelip-nyelip di antara abang-abang jualan dan mamang becak.

Untuk beberapa perkantoran memang sudah ada yang accessible juga. Misalnya membuat tangga landai untuk teman-teman yang pakai kursi roda, penanda dengan braille, dan tulisan-tulisan untuk teman-teman tuli. Biar begitu, masih ada lucunya juga nih. Beberapa perkantoran masih banyak yang nggak punya tangga landai (ah, so sorry gua lupa nama istilahnya). So far infrastruktur untuk difable hanya tersedia di dinas sosial dan perkantoran yang berbau sosial. Terus kantor yang lain kenapa nggak ada? Apa karena mungkin orang-orang difable nggak akan datang dan nggak akan mengakses tempat-tempat itu?

Well here..could we say it as hidden discrimination? Or an unconscious discrimination?

It’s all your right bebas mau menganggap fenomena di atas sebagai apa. But for sure, itu lah yang memang ada di lapangan. Just a simple thing. Masalah sepele kok. Sesuatu yang ada di depan mata dan nggak pernah kita sadari dampaknya untuk orang lain.

Kita nggak usah dulu deh ngomongin yang berat-berat, misalnya penyelesaian hukum yang butuh interpreter, bla bla bla. Itu masih terlalu jauh. Simply, kota yang inklusif bukan cuma dari bangunan, tapi pelayan di dalamnya juga. Orang nggak hanya memenuhi kebutuhannya dari benda mati, they need to interact with others. Mungkin dibutuhkan juga pendidikan, setidaknya pengetahuan inklusif, bagi para petugas. Ya jelas lha, kalau nggak nanti yang ada cuma accessible building, bukan accessible governance.

Ngomong-ngomong enak juga yee nyinyir sore-sore begini. Ah, bukan nyinyir, ini pendapat kok. Silahkan didebat, apalagi dibantai. *kecups*

You Might Also Like

0 comments: