31HariMenulis

Throw Your Coins

8:35 PM Tameila 0 Comments

Beberapa waktu lalu gua baca satu tweet yang menggelitik. Tweet itu gua baca dari retweet salah satu akun yang gua follow, dari akunnya Najwa Shihab kalau nggak salah. Intinya, si akun asal menyebutkan kalau uang mungkin bisa membeli penghormatan, tapi nggak bisa membeli kehormatan. Begitu lah kira-kira. Tweet tersebut pun turut di-retweet juga oleh Pandji dan beberapa akun lainnya. Saat itu gua nggak begitu paham maksud real-nya gimana, but so far abstraknya gua ngerti lah.

Nggak lama besok sorenya gua jalan bareng teman. Sepanjang perjalanan dia ngebahas tentang segala sesuatu yang nggak bisa diukur pakai uang di muka bumi ini. Salah satunya adalah kepuasan batin. Dia bilang kalau orang ngukur kepuasan batin dengan materi, maka nggak akan ada puasnya. Kita nggak akan bisa bersyukur. Bahkan ujung-ujungnya hidup ini hanya untuk memuaskan ekspetasi orang lain kepada kita, bukan untuk diri kita sendiri.

Pernah nggak sih kalian ngerasa bingung, kok dalam waktu berturut-turut selalu terlibat dalam topik pembicaraan yang sejalan? Seperti ada benang merahnya gitu. Nah iya, dua hari kemarin gua ngerasa begitu. Tapi sok slow aja, kayak nggak ada apa-apa. Barulah gua paham kalau dua kejadian di atas adalah prolog Tuhan mau ngajarin gua sesuatu.

Pagi tadi gua diminta untuk mendampingi Lisa, tuli dari Amerika, dalam acara pelatihan perpustakaan. Acara ini bertujuan supaya pustakawan-pustakawati (begitu kah sebutannya?) bisa memberikan layanan untuk difable, bukan hanya untuk tuli tapi semuanya. Materi yang Lisa sampaikan sebenarnya cukup simpel dan seharusnya gua bisa menjadi pendamping yang baik.SE-HA-RUS-NYA. But as we know, we gotta ready for unplanned shit.

Materinya cuma seputar bagaimana mengubah buku menjadi file digital yang menghasilkan suara supaya bisa diakses oleh teman-teman blind dan low vision. Very simple! Tapi ya itu tadi, gua mengutuk diri sendiri nggak bisa mendampingi Lisa secara maksimal. Selesai acara gua nggak enak perasaan sama Lisa. Dasar emang dia itu baik, pundak gua dielus-elus dan Lisa cuma bilang, “it’s not your fault. We didn’t meet yesterday, so we have no preparation. These people (maksudnya si penyelenggara acara)don’t have good understanding about us (orang-orang tuli dan pendampingnya). We need at least three days to prepare the materials so that what I say and what you interpret would be the same. Not like today. They told me about this event on 2 pm YES-TER-DAY (penekanan nih, karena Lisa agak ngotot kesal gitu), and you see this event was hold on 9 morning. Crazy. I don’t understand them. But it’s okay.”

Lisa pergi, sibuk dengan salah seorang teman blind. Then, gua duduk sendiri. Menenangkan diri. Inhale-exhale. Tiba-tiba suaminya Lisa nanya ke gua, “are you paid here?”. Gua kaget. Actually, gua agak jengah ngomongin duit sama teman-teman difable. Gua punya prinsip, gua membedakan gua bekerja dengan siapa dan gua bekerja untuk siapa. “Untuk siapa” adalah pihak yang memiliki ikatan profesional dengan gua. Means gua menyukseskan goalnya. Kalau “dengan siapa” adalah orang-orang yang berinteraksi ketika gua bekerja. Nah dalam kasus social works, gua memisahkan keduanya. Sangat berbeda di sini, kita bekerja untuk A, belum tentu dengan si A. Makannya gua nggak enak ngomongin fee dengan teman-teman difable, karena mereka adalah pihak “gua-bekerja-dengan-siapa”, bukan di bagian “gua-bekerja-untuk-siapa”.

Pertanyaan itu gua jawab dengan senyum, “sometimes. But it doesn’t matter, I learn a lot from you guys”.

Melotot lah mata si suami itu, “don’t be like that. You helped us, you should be appreciated. They must pay you! We all deaf know that it’s not easy to change sign into verbal. And also sometimes you need to change it into Indonesia, both in verbal and sign right?”.

Well, kalau aja laki-laki di depan gua itu nggak beristri, udah gua peluk deh. Why? Karena nggak banyak yang paham pekerjaan sosial itu sama besar resikonya dengan kerjaan yang lain. Everything has itsown risk right? Ini lha yang kurang disadari ketika beberapa orang terjun di dunia pekerjaan sosial. Dipikirnya gampang, tinggal berbuat baik terus selesai? Of course no! It has its ethic and professional standard too.

Profesionalitas yang dipahami cowok tadi mungkin setaraf dengan uang. Gua nggak menyalahkan, but just so you know dalam pekerjaan sosial uang aja nggak cukup. Professionalism has nothing to do with money. Eh, ada sih, tapi cuma sepersekian persen. Selebihnya adalah bagaimana kita menjadi problem solving, mau memberikan pelayanan kek atau pendampingan. Semuanya nggak bisa dilakukan dengan uang. You can keep or just throw your coins into somewhere else.

Kalau boleh jujur, gua sebenarnya agak kecewa dengan pelatihan tadi. I think they have enough money for the better preparation. Nggak usah ngomongin fee gua, persiapan secara teknis, susunan acara, dan kehadiran pesertnya aja deh. Entah ya, gua ngerasa kok kayaknya niat nggak niat gitu. Bukan sombong, tapi gua yakin kalau acara itu di-construct sama Lisa sendiri bisa lebih ter-manage. So then gua tadi dateng dan semangat hingga akhir just because Lisa and deaf friends. That’s all.

Acara selesai sekitar jam 11 siang. Gua memilih untuk pulang karena hati kepenuhan jengkel. Daripada muka ditekuk depan teman-teman deaf yang nggak berdosa, mending gua balik. Sepanjang jalan Solo gua mikir apa ini maksudnya “uang dan kehormatan”? Atau ini juga yang maksudnya “uang dan kepuasan batin”? Dua hal yang sama-sama bisa dibeli uang tapi nggak sampai ke esensinya. Hanya covernya. Just for the surface itself.

Ya, mungkin benar sekarang saatnya kita menambahkan pepatah, “uang nggak bisa membeli segalanya”, dengan “kata siapa? Bisa kok. Beli bungkusnya doang”.

You Might Also Like

0 comments: