31HariMenulis
Throw Your Coins
Beberapa waktu lalu gua baca satu tweet yang
menggelitik. Tweet itu gua baca dari retweet salah satu akun yang gua follow,
dari akunnya Najwa Shihab kalau nggak salah. Intinya, si akun asal menyebutkan
kalau uang mungkin bisa membeli penghormatan, tapi nggak bisa membeli
kehormatan. Begitu lah kira-kira. Tweet tersebut pun turut di-retweet juga oleh
Pandji dan beberapa akun lainnya. Saat itu gua nggak begitu paham maksud
real-nya gimana, but so far abstraknya gua ngerti lah.
Nggak lama besok sorenya gua jalan bareng
teman. Sepanjang perjalanan dia ngebahas tentang segala sesuatu yang nggak bisa
diukur pakai uang di muka bumi ini. Salah satunya adalah kepuasan batin. Dia
bilang kalau orang ngukur kepuasan batin dengan materi, maka nggak akan ada
puasnya. Kita nggak akan bisa bersyukur. Bahkan ujung-ujungnya hidup ini hanya
untuk memuaskan ekspetasi orang lain kepada kita, bukan untuk diri kita
sendiri.
Pernah nggak sih kalian ngerasa bingung, kok
dalam waktu berturut-turut selalu terlibat dalam topik pembicaraan yang
sejalan? Seperti ada benang merahnya gitu. Nah iya, dua hari kemarin gua ngerasa
begitu. Tapi sok slow aja, kayak nggak ada apa-apa. Barulah gua paham kalau dua
kejadian di atas adalah prolog Tuhan mau ngajarin gua sesuatu.
Pagi tadi gua diminta untuk mendampingi Lisa,
tuli dari Amerika, dalam acara pelatihan perpustakaan. Acara ini bertujuan
supaya pustakawan-pustakawati (begitu kah sebutannya?) bisa memberikan layanan
untuk difable, bukan hanya untuk tuli tapi semuanya. Materi yang Lisa sampaikan
sebenarnya cukup simpel dan seharusnya gua bisa menjadi pendamping yang
baik.SE-HA-RUS-NYA. But as we know, we gotta ready for unplanned shit.
Materinya cuma seputar bagaimana mengubah buku
menjadi file digital yang menghasilkan suara supaya bisa diakses oleh
teman-teman blind dan low vision. Very simple! Tapi ya itu tadi, gua mengutuk
diri sendiri nggak bisa mendampingi Lisa secara maksimal. Selesai acara gua
nggak enak perasaan sama Lisa. Dasar emang dia itu baik, pundak gua dielus-elus
dan Lisa cuma bilang, “it’s not your
fault. We didn’t meet yesterday, so we have no preparation. These people (maksudnya
si penyelenggara acara)don’t have good
understanding about us (orang-orang tuli dan pendampingnya). We need at least three days to prepare the
materials so that what I say and what you interpret would be the same. Not like
today. They told me about this event on 2 pm YES-TER-DAY (penekanan nih,
karena Lisa agak ngotot kesal gitu), and
you see this event was hold on 9 morning. Crazy. I don’t understand them. But
it’s okay.”
Lisa pergi, sibuk dengan salah seorang teman
blind. Then, gua duduk sendiri. Menenangkan diri. Inhale-exhale. Tiba-tiba
suaminya Lisa nanya ke gua, “are you paid
here?”. Gua kaget. Actually, gua agak jengah ngomongin duit sama
teman-teman difable. Gua punya prinsip, gua membedakan gua bekerja dengan siapa
dan gua bekerja untuk siapa. “Untuk siapa” adalah pihak yang memiliki ikatan
profesional dengan gua. Means gua menyukseskan goalnya. Kalau “dengan siapa”
adalah orang-orang yang berinteraksi ketika gua bekerja. Nah dalam kasus social
works, gua memisahkan keduanya. Sangat berbeda di sini, kita bekerja untuk A,
belum tentu dengan si A. Makannya gua nggak enak ngomongin fee dengan
teman-teman difable, karena mereka adalah pihak “gua-bekerja-dengan-siapa”,
bukan di bagian “gua-bekerja-untuk-siapa”.
Pertanyaan itu gua jawab dengan senyum, “sometimes. But it doesn’t matter, I learn a
lot from you guys”.
Melotot lah mata si suami itu, “don’t be like that. You helped us, you should
be appreciated. They must pay you! We all deaf know that it’s not easy to
change sign into verbal. And also sometimes you need to change it into
Indonesia, both in verbal and sign right?”.
Well, kalau aja laki-laki di depan gua itu
nggak beristri, udah gua peluk deh. Why? Karena nggak banyak yang paham
pekerjaan sosial itu sama besar resikonya dengan kerjaan yang lain. Everything
has itsown risk right? Ini lha yang kurang disadari ketika beberapa orang
terjun di dunia pekerjaan sosial. Dipikirnya gampang, tinggal berbuat baik
terus selesai? Of course no! It has its ethic and professional standard too.
Profesionalitas yang dipahami cowok tadi
mungkin setaraf dengan uang. Gua nggak menyalahkan, but just so you know dalam
pekerjaan sosial uang aja nggak cukup. Professionalism has nothing to do with
money. Eh, ada sih, tapi cuma sepersekian persen. Selebihnya adalah bagaimana
kita menjadi problem solving, mau memberikan pelayanan kek atau pendampingan.
Semuanya nggak bisa dilakukan dengan uang. You can keep or just throw your
coins into somewhere else.
Kalau boleh jujur, gua sebenarnya agak kecewa
dengan pelatihan tadi. I think they have enough money for the better
preparation. Nggak usah ngomongin fee gua, persiapan secara teknis, susunan
acara, dan kehadiran pesertnya aja deh. Entah ya, gua ngerasa kok kayaknya niat
nggak niat gitu. Bukan sombong, tapi gua yakin kalau acara itu di-construct
sama Lisa sendiri bisa lebih ter-manage. So then gua tadi dateng dan semangat
hingga akhir just because Lisa and deaf friends. That’s all.
Acara selesai sekitar jam 11 siang. Gua
memilih untuk pulang karena hati kepenuhan jengkel. Daripada muka ditekuk depan
teman-teman deaf yang nggak berdosa, mending gua balik. Sepanjang jalan Solo
gua mikir apa ini maksudnya “uang dan kehormatan”? Atau ini juga yang maksudnya
“uang dan kepuasan batin”? Dua hal yang sama-sama bisa dibeli uang tapi nggak
sampai ke esensinya. Hanya covernya. Just for the surface itself.
Ya, mungkin benar sekarang saatnya kita
menambahkan pepatah, “uang nggak bisa
membeli segalanya”, dengan “kata siapa? Bisa kok. Beli bungkusnya doang”.
0 comments: