31HariMenulis

Talk with the Hand

10:35 PM Tameila 0 Comments

Semua orang bisa bahasa Inggris. Mau ngomong, nulis, sampai nerjemahin. Terus apa bedanya dengan seorang yang profesional?
 “Bedanya ya dia profesional. Nggak cuma asal bisa, tapi paham kaidah-kaidahnya”, jawab teman saya.

Itulah pertanyaan stupid yang gua ajuin ke seorang teman. Dia lulusan kedokteran, but now dia malah mendalami linguistik. Gua tanya cita-citanya, dia bilang mau jadi ahli linguistik. Nggak ada sedikit pun kepengen jadi dokter. Okay then, whatsoever, tapi yang menarik dari dia adalah usahanya untuk menjadi seorang ahli linguistik. To be a professional.

Aku pengen jadi penerjemah profesional”, begitu sering dia bilang.

Penerjemah? Hmm…sounds easy, doesn’t it?

No. Ternyata nggak. Jadi penerjemah nggak semudah kita nyanyi lagu barat atau pakai Google Translate.  Ada aturannya untuk menerjemahkan, bahkan untuk disebut sebagai penerjemah. Now I know, penerjemah adalah sebuah profesi, bukan pekerjaan. Dia membutuhkan keahlian, nggak cukup kemampuan.

In the other hand, gua mengalami hal yang sama. Beberapa orang menyebut orang-orang yang bisa bahasa isyarat adalah interpreter. Akhirnya gua penasaran, apa sih standarisasi seseorang disebut sign interpreter?

Gua mendiskusikan hal di atas dengan Bunda Galuh, an incredible deaf woman. Darinya gua banyak belajar tentang budaya deaf, mulai dari hal yang terkecil sampai yang terpribadi. Darinya juga gua sedikit banyak memahami etika berisyarat dan sign language linguistic. Wait, sign language linguistic???

Awalnya pun gua aneh kalau sign language ada tata bahasanya, bahkan jurusan khusus yang mempelajari bahasa ini. Gua pikir bahasa isyarat adalah bahasa alamiah yang dibuat sendiri oleh teman-teman tuli. Mereka menciptakannya sendiri untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. But then I know kalau bahasa isyarat adalah salah satu jenis bahasa, sama halnya seperti bahasa Spanyol, bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa lainnya.

Bunda Galuh sering bilang kalau berisyarat lah yang benar jika ingin jadi interpreter. Gua tanya, memangnya berisyarat yang benar itu gimana sih? Waktu itu lewat Whatsapp Bunda bilang, “jadi interpreter itu nggak sembarangan. Ada sertifikasinya, dan itu diberikan oleh tuli dewasa ketika kamu praktik isyarat di depan mereka. Kalau tuli dewasa paham, artinya bahasa isyarat kamu bagus. Kalau cuma bisa doang itu nggak bisa disebut interpreter, tapi pendamping tuli. Sayangnya di Indonesia memang belum ada sertifikasi begini, jadi ya begitu lah. Aku pernah ngajarin kalian sign linguistic toh?”.

Karena kemarin sibuk skripsi (alesan, bleah!), gua agak-agak lupa kaidah bahasa isyarat. Akhirnya, gua bongkar lah tumpukan kertas. Thanks God bundel materi sign language linguistic itu masih ada! Gua buka, gua baca, dan gua sadari kalau kemampuan bahasa isyarat gua masih jauh dari yang semestinya untuk membantu teman-teman tuli.

Untuk saat ini mungkin belum saatnya gua mendalami bahasa isyarat lebih mendalam (atau mungkin malah udah saatnya?), yang pasti harusnya gua memahami hal mendasar dari bahasa tersebut, yaitu fonologi. Hemm…aduh, sayangnya gua bukan anak linguistik, tapi intinya fonologi sama dengan fonem dalam bahasa Indonesia. Ini gunanya untuk membentuk kata dan juga membedakan kata yang sama tapi bunyinya beda. (Bunda, permisi, ngutip dari bundel materimu nih).

Okay, next ke contekan gua.

Dalam fonologi isyarat itu dibagi lima elemen, yaitu handshape, orientation, location, movement, dan expression. Kalau lima ini udah dipenuhi, at least dosa kita dalam berisyarat berkurang sedikit, karena emang benar sih kelima elemen itu yang bisa membuat teman-teman tuli paham isyarat kita. Awalnya gua pun nggak nangkep maksud kelima elemen tadi. Apa sih pentingnya memerhatikan itu semua selama teman-teman tuli paham? Tapi setelah sering diprotes teman-teman DAC kalau kadang isyarat gua berantakan, gua jadi paham kalau lima elemen itu sama halnya ketika kita berbicara. Kejelasan lafal, maksud, dan konteks pembicaraan.

Gua mau bahas sedikit, jadi begini… (bagi siapa pun yang merasa penjelasan ini salah atau kurang nanti tolong dikoreksi, ya!)

Handshape adalah bentuk tangan. Iya lah Google Translate aja tau. Tapi maksud bentu tangan di sini adalah kejelasan bentuk itu. Karena kita berbicara pakai jari, jadi bentuknya kadang-kadang nggak jelas atau mirip dengan isyarat lain. Makannya nggak heran kalau isyarat yang diperagakan dan dilihat oleh lawan bicara berbeda pemahaman. Mungkin kita bisa bilang handshape sebagai artikulasi. Ya, kejelasan dalam pengucapan.

Orientation itu arah telapak tangan. Selain udah bentuknya jelas, nah sekarang arahnya pun harus diperhatikan karena artinya bisa beda. Misalnya kita membentuk huruf “u” (pakai isyarat internasional), nah kalau diubah arahnya menjadi horizontal maka akan berubah jadi huruf “h”.

Location, penempatan. Ini nih yang sering bikin misunderstanding antara gua dan teman-teman tuli. Kalau orang cerewet kan ngomongnya cepat, jadi orang sulit nangkep. Sama aja kalau kita berisyarat cepat pun terkadang sulit ditangkap oleh teman-teman tuli. Dasar gua emang terlalu semangat kalau berisyarat, makannya suka lupa penempatan jari atau tangan gua. Jadinya kadang-kadang bikin bingung teman-teman tuli. Ya, location sama fatalnya seperti orientation. Beda tempat, beda arti.

Movement ini penting karena bertujuan untuk membedakan makna (begitu lah dari contekan slidenya Bunda Galuh). Selain itu, pengalaman gua sih dengan memerhatikan gerakan kita pun bisa memvisualisasikan keadaan dari suasana yang kita isyaratkan, misalnya kata “sepi”, “sempurna”, “hujan”, dan lainnya.

Nah, movement tadi harus ditunjang oleh ekspresi. Dengan huruf kapital, di contekan gua tertulis “KARENA EKSPRESI GERAKAN MATA, GERAKAN ALIS, GERAKAN KEPALA, MULUT, HIDUNG, dan BAHU adalah merupakan bagian dari TATA BAHASA ISYARAT!”. Bagian ini sangat penting karena teman-teman tuli memang hanya memahami pesan secara visual, so kalau kita nggak mengekspresikannya dengan jelas ya mereka nggak paham. Bagian ini juga yang paaaaling sulit gua pelajari. Kita nggak boleh malu, apalagi jaim.

There it goes, setelah gua membuka lagi materi yang pernah gua dapat, sekaligus baca-baca buku deaf rasanya gua masih jauuuuuuhhh disebut sebagai interpreter. Harus banyak belajar, memahami kebudayaan, dan mengerti kebutuhan mereka. Terkadang gua lupa kalau mereka tuli, karena bagi gua mereka nggak ada bedanya. Sama. Gua pun terkadang “nggak-bisa-mendengar”. If only you know what I mean.


NB: Nanti kalau ilmu gua udah ter-upgrade, bakal gua benerin deh yang salah. Just correct it sekecil apapun kekeliruan itu, guys! Gua harus berguru lagi sama teman-teman tuli dan orang-orang yang mempelajari sign language linguistic.

You Might Also Like

0 comments: