31HariMenulis
Talk with the Hand
“Semua orang bisa
bahasa Inggris. Mau ngomong, nulis, sampai nerjemahin. Terus apa bedanya
dengan seorang yang profesional?”
“Bedanya ya dia
profesional. Nggak cuma asal bisa, tapi paham kaidah-kaidahnya”, jawab
teman saya.
Itulah pertanyaan stupid yang gua ajuin ke seorang teman. Dia
lulusan kedokteran, but now dia malah mendalami linguistik. Gua tanya
cita-citanya, dia bilang mau jadi ahli linguistik. Nggak ada sedikit pun
kepengen jadi dokter. Okay then, whatsoever, tapi yang menarik dari dia adalah
usahanya untuk menjadi seorang ahli linguistik. To be a professional.
“Aku pengen jadi
penerjemah profesional”, begitu sering dia bilang.
Penerjemah? Hmm…sounds easy, doesn’t it?
No. Ternyata nggak. Jadi penerjemah nggak semudah kita
nyanyi lagu barat atau pakai Google Translate. Ada aturannya untuk menerjemahkan, bahkan
untuk disebut sebagai penerjemah. Now I know, penerjemah adalah sebuah profesi,
bukan pekerjaan. Dia membutuhkan keahlian, nggak cukup kemampuan.
In the other hand, gua mengalami hal yang sama. Beberapa orang
menyebut orang-orang yang bisa bahasa isyarat adalah interpreter. Akhirnya gua
penasaran, apa sih standarisasi seseorang disebut sign interpreter?
Gua mendiskusikan hal di atas dengan Bunda Galuh, an
incredible deaf woman. Darinya gua banyak belajar tentang budaya deaf, mulai
dari hal yang terkecil sampai yang terpribadi. Darinya juga gua sedikit banyak
memahami etika berisyarat dan sign language linguistic. Wait, sign language
linguistic???
Awalnya pun gua aneh kalau sign language ada tata bahasanya,
bahkan jurusan khusus yang mempelajari bahasa ini. Gua pikir bahasa isyarat
adalah bahasa alamiah yang dibuat sendiri oleh teman-teman tuli. Mereka menciptakannya
sendiri untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. But then I know
kalau bahasa isyarat adalah salah satu jenis bahasa, sama halnya seperti bahasa
Spanyol, bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa lainnya.
Bunda Galuh sering bilang kalau berisyarat lah yang benar
jika ingin jadi interpreter. Gua tanya, memangnya berisyarat yang benar itu
gimana sih? Waktu itu lewat Whatsapp Bunda bilang, “jadi interpreter itu nggak sembarangan. Ada sertifikasinya, dan itu
diberikan oleh tuli dewasa ketika kamu praktik isyarat di depan mereka. Kalau tuli
dewasa paham, artinya bahasa isyarat kamu bagus. Kalau cuma bisa doang itu
nggak bisa disebut interpreter, tapi pendamping tuli. Sayangnya di Indonesia
memang belum ada sertifikasi begini, jadi ya begitu lah. Aku pernah ngajarin
kalian sign linguistic toh?”.
Karena kemarin sibuk skripsi (alesan, bleah!), gua agak-agak
lupa kaidah bahasa isyarat. Akhirnya, gua bongkar lah tumpukan kertas. Thanks God
bundel materi sign language linguistic itu masih ada! Gua buka, gua baca, dan
gua sadari kalau kemampuan bahasa isyarat gua masih jauh dari yang semestinya
untuk membantu teman-teman tuli.
Untuk saat ini mungkin belum saatnya gua mendalami bahasa
isyarat lebih mendalam (atau mungkin malah udah saatnya?), yang pasti harusnya
gua memahami hal mendasar dari bahasa tersebut, yaitu fonologi. Hemm…aduh,
sayangnya gua bukan anak linguistik, tapi intinya fonologi sama dengan fonem
dalam bahasa Indonesia. Ini gunanya untuk membentuk kata dan juga membedakan
kata yang sama tapi bunyinya beda. (Bunda, permisi, ngutip dari bundel materimu
nih).
Okay, next ke contekan gua.
Dalam fonologi isyarat itu dibagi lima elemen, yaitu
handshape, orientation, location, movement, dan expression. Kalau lima ini udah
dipenuhi, at least dosa kita dalam berisyarat berkurang sedikit, karena emang
benar sih kelima elemen itu yang bisa membuat teman-teman tuli paham isyarat
kita. Awalnya gua pun nggak nangkep maksud kelima elemen tadi. Apa sih
pentingnya memerhatikan itu semua selama teman-teman tuli paham? Tapi setelah
sering diprotes teman-teman DAC kalau kadang isyarat gua berantakan, gua jadi
paham kalau lima elemen itu sama halnya ketika kita berbicara. Kejelasan lafal,
maksud, dan konteks pembicaraan.
Gua mau bahas sedikit, jadi begini… (bagi siapa pun yang merasa
penjelasan ini salah atau kurang nanti tolong dikoreksi, ya!)
Handshape adalah bentuk tangan. Iya lah Google Translate aja
tau. Tapi maksud bentu tangan di sini adalah kejelasan bentuk itu. Karena kita
berbicara pakai jari, jadi bentuknya kadang-kadang nggak jelas atau mirip
dengan isyarat lain. Makannya nggak heran kalau isyarat yang diperagakan dan
dilihat oleh lawan bicara berbeda pemahaman. Mungkin kita bisa bilang handshape
sebagai artikulasi. Ya, kejelasan dalam pengucapan.
Orientation itu arah telapak tangan. Selain udah bentuknya
jelas, nah sekarang arahnya pun harus diperhatikan karena artinya bisa beda. Misalnya
kita membentuk huruf “u” (pakai isyarat internasional), nah kalau diubah
arahnya menjadi horizontal maka akan berubah jadi huruf “h”.
Location, penempatan. Ini nih yang sering bikin
misunderstanding antara gua dan teman-teman tuli. Kalau orang cerewet kan
ngomongnya cepat, jadi orang sulit nangkep. Sama aja kalau kita berisyarat
cepat pun terkadang sulit ditangkap oleh teman-teman tuli. Dasar gua emang
terlalu semangat kalau berisyarat, makannya suka lupa penempatan jari atau
tangan gua. Jadinya kadang-kadang bikin bingung teman-teman tuli. Ya, location
sama fatalnya seperti orientation. Beda tempat, beda arti.
Movement ini penting karena bertujuan untuk membedakan makna
(begitu lah dari contekan slidenya Bunda Galuh). Selain itu, pengalaman gua sih
dengan memerhatikan gerakan kita pun bisa memvisualisasikan keadaan dari
suasana yang kita isyaratkan, misalnya kata “sepi”, “sempurna”, “hujan”, dan
lainnya.
Nah, movement tadi harus ditunjang oleh ekspresi. Dengan huruf
kapital, di contekan gua tertulis “KARENA
EKSPRESI GERAKAN MATA, GERAKAN ALIS, GERAKAN KEPALA, MULUT, HIDUNG, dan BAHU
adalah merupakan bagian dari TATA BAHASA ISYARAT!”. Bagian ini sangat
penting karena teman-teman tuli memang hanya memahami pesan secara visual, so kalau
kita nggak mengekspresikannya dengan jelas ya mereka nggak paham. Bagian ini
juga yang paaaaling sulit gua pelajari. Kita nggak boleh malu, apalagi jaim.
There it goes, setelah gua membuka lagi materi yang pernah
gua dapat, sekaligus baca-baca buku deaf rasanya gua masih jauuuuuuhhh disebut
sebagai interpreter. Harus banyak belajar, memahami kebudayaan, dan mengerti
kebutuhan mereka. Terkadang gua lupa kalau mereka tuli, karena bagi gua mereka
nggak ada bedanya. Sama. Gua pun terkadang “nggak-bisa-mendengar”. If only you
know what I mean.
NB: Nanti kalau ilmu gua udah ter-upgrade, bakal gua benerin deh yang salah. Just correct it sekecil apapun kekeliruan itu, guys! Gua harus berguru lagi sama teman-teman tuli dan orang-orang yang mempelajari sign language linguistic.
0 comments: