31HariMenulis

Menye

10:03 PM Tameila 0 Comments

Dua hari terakhir ini gua dikasih tantangan buat nulis lagu. Gua sempat nolak. Alasannya klise, gua nggak PD tulisan gua dilempar ke publik. Tapi teman gua maksa, dia bilang apa bedanya dengan nge-blog? Toh dengan nge-blog gua melempar tulisan ke publik juga. Lama gua pikir benar juga sih. Akhirnya gua mau. I accept that challenge.

Nah, sekarang tinggal gua kebingungan sendiri. Gua udah lama nggak galau. Ehm, maksudnya nggak secara konsisten merasakan masa lalu gua. Sakit hati. Kegagalan. Air mata. Yes, bahkan gua sekarang lupa rasanya falling in love. I mean, so damn want to live with someone. Gregetan dan salah tingkah ketemu seseorang yang disuka. Hell no. Kapan gua terakhir bertingkah begitu?

Dalam kebingungan ini, kemudian gua mencoba untuk membuka luka lama. Halah! Ya sebut aja begitu. Gua coba denger lagu-lagu kenangan mantan, bahkan gua obrak-abrik e-mail dengan mantan. Jijay sih, tapi gua merasa mungkin itu satu-satunya cara yang bisa membuat gua sakit hati lagi. Harapannya, kali aja gua bisa jadi kayak Adele gitu. Sakit hati berbuah karya.

Sayang, gua sama Adele emang jauh beda. Bukan karya yang gua hasilkan, tapi malah playlist baru. Isinya sederet lagu dengan mantan. Anehnya juga, gua nggak merasa sakit hati lagi, alih-alih gua ketawa sendiri dan merasa bersyukur. Lucu rasanya dulu gua sempat menjadi “begitu” ke pacar gua. Nggak usah disebutin deh ya gua ngapain, yang pasti gua ketawa baca isi e-mail sampai foto-foto dan lagu-lagu yang saling kami tukar. Nggak lupa juga panggilan kesayangan untuk masing-masing.

Di sisi lain gua merasa bersyukur. Semua orang tau kalau kita bisa jadi kuat karena rasa sakit. Hati ini nggak ada bedanya sama tubuh. Kalau disakiti bisa menghasilkan imun sendiri, pada akhirnya menguatkan pribadi ke depannya. Ah, gua bukan motivator, tapi gua cuma mau bilang kalau kekuatan itu lama kelamaan bisa juga bikin hati jadi mati rasa. Bebal. Mengaku kuat padahal sudah tidak bisa merasa. Keduanya hal yang berbeda, bukan?

Well, yes, itu lah yang menjadi pertanyaan gua sekarang. Ketika gua sadar nggak pernah lagi menangisi cowok, apakah hati gua yang sudah mati rasa atau gua yang sudah mampu me-manage emosi?

Lama gua terdiam, mengingat kapan terakhir kali menangisi hubungan (konteksnya romantic relationship yak!) gua dengan cowok? Baik hubungan resmi pacaran atau sekedar cowok-dekat-yang-diharapin-jadi-pacar-tapi-nggak-kesampaian?

*mikir*

Got it! Akhirnya gua dapat jawabannya. After tragedi dua tahun lalu (which yang nggak akan gua lupain), gua pernah menangisi kisah kasih-tak-sampai. Orangnya nggak perlu gua ceritain di sini, yang pasti saat itu gua nangis buat dia. But still, siangnya gua nangis, sorenya gua udah happy lagi. See? For shake, gua lupa rasanya falling for someone!

Anyway, anyhow, tulisan ini mungkin terasa seperti curhat colongan gua. Biarlah, gua toh emang udah lama nggak curhat eksplisit di sini. Cerita ngalor-ngidul tentang masa lalu yang nggak semua orang mau tau. Berkeluh-kesah tentang kegagalan cinta yang nggak semua orang mau peduli. Who’s gonna hell care, Git?

But terlepas dari itu, I just believe that dari setiap cerita kegagalan ada hikmahnya. Hikmah itulah yang bisa menginspirasi hidup. Gua nggak bilang pengalaman cinta gua bisa menginspirasi orang (bleah!), karena gua percaya masih banyak yang lebih tragis than mine (thanks God!). Tapi ketika gua bercerita kembali tentang air mata masa lalu, itu selalu menginspirasi gua. At least gua sadar kalau gua nggak disakiti, mungkin gua nggak sekuat ini. Entah lah, mungkin kuatnya gua sekarang dimasukkan ke dalam kategori bebal. Mati rasa. Biar.

Haruskah gua merasa rugi?

Of course! Gua merugi bukan karena mantan yang (menurut gua) brengsek, tapi gua memilih untuk merasa rugi. Rugi karena terhanyut rasa sakit gua jadi membangun dinding tinggi-tinggi sehingga hati gua nggak se-menye dulu. Eits, jangan salah, menye itu penting, bro, untuk keseimbangan rasional dan emosional.

Keseimbangan.

Ya, pada akhirnya gua sadar kalau yang gua cari selama ini adalah keseimbangan. Kapan gua bisa menye, kapan gua harus setegar batu karang (*ikatkepala*). Itu lah yang mungkin membuat ke-menye-an gua switch off, bahkan dengan hal yang paling menyakitkan pun udah nggak mau on. Pernah nonton Eat, Pray, Love toh? Tokohnya di ending merasa seimbang ketika dia mengikuti ke-menye-annya. Ketika dia merasa kuat dan seimbang, di situ lah dia merasa nggak seimbang.

Apa mungkin gua harus ketemu orang yang bisa bikin gua menye dulu baru bisa seimbang?
I don’t know. I never know.


Just like this post. I don’t actually know what I want to say.

You Might Also Like

0 comments: