31HariMenulis

Ruang Sirkus

7:40 PM Tameila 0 Comments

Gua orangnya suka bingung, jadi tolong luruskan pemikiran gua ini. Gua merasa makin hari makin banyak aja acara sosial. Konser charity, kunjungan-kunjungan, sampai social enterprise. Oh iya, socialpreneur juga mulai bermunculan. Yang menjadi perhatian gua di sini bukan orang-orang yang ditolong, tapi seberapa jauh sih pemahaman si pelaku terhadap “bakti sosial” itu?

Yes, memang di era 3.0 katanya orang lebih suka sharring, caring, dan sejenisnya. Tapi apakah ketika sesuatu telah menjadi tren, esensinya akan hilang?

Siang tadi gua didatengin sama salah satu penyelenggara acara sosial. Nggak usah gua sebutin namanya, yang pasti mereka ingin menyelenggarakan acara sosial. Temanya difable. Okay. Then, gua dan salah seorang teman menanyakan gimana konsep acaranya, mulai dari isi acara, tema, sampai penataan lokasi.
Kenapa sih kita sampai sedetail itu?

Well here kalau para penyelenggara acara pengen mengundang difable ya nggak bisa sembarangan. Artinya, nggak bisa seenaknya mengusung “persamaan”, “apresiasi”, atau “kepedulian”, kalau nggak paham difable itu apa dan siapa. Aneh bukan menyelenggarakan acara tapi nggak paham esensinya? Nah itu lah yang terjadi siang ini.

Begini deh, buat teman-teman yang suka fotografi, misalnya datang ke sebuah pameran tapi nggak ada esensi fotografinya gimana? Buat apa toh datang ke acara tersebut? Sama dengan teman-teman difable juga. Kalau pada akhirnya acara-acara yang katanya sosial itu nggak menyentuhkehidupan mereka, ya terus mau ngapain? So acara itu cuma buat keren-kerenan penyelenggara aja? Cuma buat dapat sanjungan, “wah baik ya udah bikin acara sosial” atau “keren acara pedulinya”? Sorry to say ya kalau statement barusan menohok, tapi kalau mau bikin acara sosial yang begitu sesungguhnya lebih menyakitkan bagi teman-teman difable.

Untuk terlihat baik dan peduli nggak usah bikin acara besar. Efek. Dampak. Yang penting itu. Lagi, kebingungan kedua gua (tolong dilurusin), ada beberapa acara charity yang dana penyelenggaraannya lebih gede dibandingkan dana charity-nya sendiri. Sering banget gua dan beberapa teman mikir, “lha nek ngono kenapa nggak langsung aja disumbangin? Toh jumlah uangnya jauh lebih gede dari apa yang belum tentu didapat nanti”. Untuk mengangkat isunya ke publik? Bukan pakai acara hura-hura. Mending deh bantuin audiensi ke pemerintah aja sana.

Banyak orang yang bilang gua bawel, cerewet, nyebelin, bahkan judes sama panitia kalau di lapangan lagi ngedampingin teman-teman difable. Ya jelas aja gimana nggak jengkel, pelaksananya suka seenaknya sih. Mau ngundang difable kok tapi nggak ada persiapan. Simpel contohnya, waktu itu gua mendampingi teman-teman tuli di acara workshop. Acara itu dihadiri oleh banyak difable. Nggak masalah sih untuk teman-teman tuli, tapi gua kasihan dengan teman-teman yang pakai kursi roda. Gimana mau masuk kalau akses jalannya aja sempit? Waktu itu langsung aja gua cerewetin EO-nya. Untung ada teman yang sama cerewetnya sama gua. Nggak peduli deh kita ganti-ganti setting ruangan yang udah ready. Ada lagi contoh lainnya, jadi acara yang katanya amal ini konsepnya konser. Mereka ngundang difable. Tapi di lapangan difable dibaurkan dengan orang-orang biasa. Sekarang coba kalian pikir:

1.       Gimana rasanya duduk di kursi roda atau jadi seorang cerebal palsy di tengah orang-orang yang jingkrak-jingkrak?

2.       Gimana rasanya jadi tuli di tengah orang-orang bernyanyi?

3.       Gimana rasanya menjadi buta ketika mendengar hingar-bingar kebahagiaan?

Geez!

Sebenarnya gua nggak mau ngomong ini, tapi gua dan beberapa teman merasa hal ini perlu dibicarakan bahwa nggak sedikit acara sosial yang pada akhirnya menjadikan teman-teman difable bahan tontonan. Mereka dipertujukkan seperti sirkus yang kemudian ditepuktangani. Padahal mereka sendiri nggak ngerti ngapain dan acara apakah yang dihadiri. No! Mereka nggak butuh tepuk tangan. Apresiasi mereka adalah penerimaan di ruang publik yang sama, tanpa adanya rasa kasihan atau direndahkan. Kalau bagus, ya bilang bagus. Kalau perlu kritik, ya dikritik lah. Itu yang gua bersama teman-teman DAC dan difable lakukan. Misalnya ada hal yang kurang manner, teman-teman difable biasa saling menegur. Begitu pun kalau teman-teman difable melakukan kesalahan, kami dalam lingkungan inklusi saling mengingatkan.

Gua nggak bilang kalau acara difable harus sedih, sendu, sunyi , dan senyap. But please, think what they’re gonna get when come to your event.Buktinya banyak juga kok acara-acara yang semua difable menikmati, misalnya kemarin diskusi seni pantomim di TBY, atau acara workshop fotografi yang diikuti teman-teman tuli di Solo. Dalam acara itu mereka semua menjadi pelaku aktif, bukan pelengkap apalagi objek tontonan. Adanya kemampuan mereka bukan untuk ditonton, tapi untuk diapresiasi. Sekarang tinggal kitanya aja sih, kalau masih memahami bentuk apresiasi sebatas tepuk tangan dan senyum anggukan, kayaknya harus belajar lagi tentang apresiasi. Setau gua, apresiasi masuk juga ke kritik dan saran. Nggak tau deh menurut yang lainnya.

You Might Also Like

0 comments: