31HariMenulis
Ruang Sirkus
Gua orangnya suka bingung, jadi tolong
luruskan pemikiran gua ini. Gua merasa makin hari makin banyak aja acara
sosial. Konser charity, kunjungan-kunjungan, sampai social enterprise. Oh iya,
socialpreneur juga mulai bermunculan. Yang menjadi perhatian gua di sini bukan
orang-orang yang ditolong, tapi seberapa jauh sih pemahaman si pelaku terhadap
“bakti sosial” itu?
Yes, memang di era 3.0 katanya orang lebih
suka sharring, caring, dan sejenisnya. Tapi apakah ketika sesuatu telah menjadi
tren, esensinya akan hilang?
Siang tadi gua didatengin sama salah satu
penyelenggara acara sosial. Nggak usah gua sebutin namanya, yang pasti mereka
ingin menyelenggarakan acara sosial. Temanya difable. Okay. Then, gua dan salah
seorang teman menanyakan gimana konsep acaranya, mulai dari isi acara, tema,
sampai penataan lokasi.
Kenapa sih kita sampai sedetail itu?
Well here kalau para penyelenggara acara
pengen mengundang difable ya nggak bisa sembarangan. Artinya, nggak bisa
seenaknya mengusung “persamaan”, “apresiasi”, atau “kepedulian”, kalau nggak
paham difable itu apa dan siapa. Aneh bukan menyelenggarakan acara tapi nggak
paham esensinya? Nah itu lah yang terjadi siang ini.
Begini deh, buat teman-teman yang suka
fotografi, misalnya datang ke sebuah pameran tapi nggak ada esensi fotografinya
gimana? Buat apa toh datang ke acara tersebut? Sama dengan teman-teman difable
juga. Kalau pada akhirnya acara-acara yang katanya sosial itu nggak
menyentuhkehidupan mereka, ya terus mau ngapain? So acara itu cuma buat
keren-kerenan penyelenggara aja? Cuma buat dapat sanjungan, “wah baik ya udah bikin acara sosial”
atau “keren acara pedulinya”? Sorry
to say ya kalau statement barusan menohok, tapi kalau mau bikin acara sosial
yang begitu sesungguhnya lebih menyakitkan bagi teman-teman difable.
Untuk terlihat baik dan peduli nggak usah
bikin acara besar. Efek. Dampak. Yang penting itu. Lagi, kebingungan kedua gua
(tolong dilurusin), ada beberapa acara charity yang dana penyelenggaraannya
lebih gede dibandingkan dana charity-nya sendiri. Sering banget gua dan
beberapa teman mikir, “lha nek ngono
kenapa nggak langsung aja disumbangin? Toh jumlah uangnya jauh lebih gede dari
apa yang belum tentu didapat nanti”. Untuk mengangkat isunya ke publik?
Bukan pakai acara hura-hura. Mending deh bantuin audiensi ke pemerintah aja
sana.
Banyak orang yang bilang gua bawel, cerewet,
nyebelin, bahkan judes sama panitia kalau di lapangan lagi ngedampingin
teman-teman difable. Ya jelas aja gimana nggak jengkel, pelaksananya suka
seenaknya sih. Mau ngundang difable kok tapi nggak ada persiapan. Simpel
contohnya, waktu itu gua mendampingi teman-teman tuli di acara workshop. Acara
itu dihadiri oleh banyak difable. Nggak masalah sih untuk teman-teman tuli,
tapi gua kasihan dengan teman-teman yang pakai kursi roda. Gimana mau masuk
kalau akses jalannya aja sempit? Waktu itu langsung aja gua cerewetin EO-nya.
Untung ada teman yang sama cerewetnya sama gua. Nggak peduli deh kita
ganti-ganti setting ruangan yang udah ready. Ada lagi contoh lainnya, jadi
acara yang katanya amal ini konsepnya konser. Mereka ngundang difable. Tapi di
lapangan difable dibaurkan dengan orang-orang biasa. Sekarang coba kalian pikir:
1.
Gimana rasanya duduk di kursi roda
atau jadi seorang cerebal palsy di tengah orang-orang yang jingkrak-jingkrak?
2.
Gimana rasanya jadi tuli di tengah
orang-orang bernyanyi?
3.
Gimana rasanya menjadi buta ketika
mendengar hingar-bingar kebahagiaan?
Geez!
Sebenarnya gua nggak mau ngomong ini, tapi gua
dan beberapa teman merasa hal ini perlu dibicarakan bahwa nggak sedikit acara
sosial yang pada akhirnya menjadikan teman-teman difable bahan tontonan. Mereka
dipertujukkan seperti sirkus yang kemudian ditepuktangani. Padahal mereka
sendiri nggak ngerti ngapain dan acara apakah yang dihadiri. No! Mereka nggak
butuh tepuk tangan. Apresiasi mereka adalah penerimaan di ruang publik yang
sama, tanpa adanya rasa kasihan atau direndahkan. Kalau bagus, ya bilang bagus.
Kalau perlu kritik, ya dikritik lah. Itu yang gua bersama teman-teman DAC dan
difable lakukan. Misalnya ada hal yang kurang manner, teman-teman difable biasa
saling menegur. Begitu pun kalau teman-teman difable melakukan kesalahan, kami
dalam lingkungan inklusi saling mengingatkan.
Gua nggak bilang kalau acara difable harus
sedih, sendu, sunyi , dan senyap. But please, think what they’re gonna get when
come to your event.Buktinya banyak juga kok acara-acara yang semua difable
menikmati, misalnya kemarin diskusi seni pantomim di TBY, atau acara workshop
fotografi yang diikuti teman-teman tuli di Solo. Dalam acara itu mereka semua
menjadi pelaku aktif, bukan pelengkap apalagi objek tontonan. Adanya kemampuan
mereka bukan untuk ditonton, tapi untuk diapresiasi. Sekarang tinggal kitanya
aja sih, kalau masih memahami bentuk apresiasi sebatas tepuk tangan dan senyum
anggukan, kayaknya harus belajar lagi tentang apresiasi. Setau gua, apresiasi
masuk juga ke kritik dan saran. Nggak tau deh menurut yang lainnya.
0 comments: