31HariMenulis
Atas-Bawah Jalan Terus
Makin hari gua makin sadar kalau nggak ada jurusan di
perkuliahan yang “pilihan terakhir”. Semua jurusan itu sama, mau ekonomi, ilmu
komunikasi, teknik, kedokteran, bahkan filsafat. Nggak pantas rasanya kita
bilang, “jurusan A kan lebih bagus
daripada jurusan B” atau “jurusan A
itu jelek dibanding jurusan B”. Bisakah kita membandingkan sesuatu yang
berbeda? Seumur-umur gua membandingkan sih, gua cuma bisa membandingkan sesuatu
dengan yang sejenisnya. Seringnya gua ngebandingin harga, misalnya harga susu
di toko “ini” dengan di toko “itu” lebih murah yang mana. Gua nggak mengganti
merek susunya, jadi itu sesuatu yang comparable.
Kenapa sih malem ini gua nulis tentang komparasi jurusan? To
be underlined, gua nggak mau me-review jurusan-jurusan kampus se-Indonesia. Apakah
gua bakal ngebahas “pilihan jurusan tepat bagi lulusan SMA”? No way! Biar aja
itu tugas konsultan pendidikan atau penulis-penulis buku motivasi. Sejenisnya lah.
But all I want to write down here is about jurusan PLB.
Sejenis apakah jurusan itu?
PLB adalah singkatan dari Pendidikan Luar Biasa. Jurusan ini
yang jelas ada di kampus-kampus pendidikan. So far gua belum nemu jurusan ini
di kampus-kampus selain kampus pendidikan, misalnya di UGM, ITB, dan UI gitu
mana ada jurusan begini. And also, secara sotoy gua mungkin bisa mengatakan
lulusannya akan berkecimpung dalam dunia pendidikan luar biasa. Ya jelas aja,
namanya juga jurusan PLB, Pendidikan Luar Biasa.
Ironic but it happens, di lapangan yang ada malah sedikit
dari mahasiswa PLB yang benar-benar paham how to handle children with special
needs. Gua nggak bilang kalau gua well-educated terhadap anak berkebutuhan
khusus (ABK), tapi sebagai orang awam gua wajar dong punya ekspetasi lebih
terhadap mahasiswa PLB dan guru-guru ABK untuk mampu mendidik ABK dengan cara
yang proper and professional. Apalah bedanya dengan gua anak komunikasi yang
setiap ketemu orang pasti dibilang, “mau
jadi wartawan ya?”, “cita-cita kerja jadi PR apa?” (FYI, nggak semua anak
ilmu komunikasi bakalan jadi PR), “oh
pasti pinter nih ngomongnya”, atau yang paling nyebelin, “pinter dong komputernya?”. (For shake,
tolong bedakan ilmu komunikasi dengan ilmu komputer, wahai manusia!).
Okay next. Lupakan tentang harapan-harapan (yang menurut
gua) menyimpang tadi.
Jujur, setelah gua punya beberapa teman dari jurusan PLB,
diem-diem gua salut dengan jurusan ini. They are prepared to work with
children, not with a company or adults. Anak-anak yang diajak bekerja nanti pun
bukan anak-anak biasa, tapi mereka yang memiliki kemampuan lain dari biasanya. Sayang,
apa yang selama ini gua lihat di beberapa SLB nggak semua guru mengajar with
passion. Rasanya menjadi guru SLB adalah pilihan terakhir mereka. Seems like
they have no other option than being a teacher for SLB.
Kenapa gua merasa begitu?
Well, gua adalah tipe orang yang sangat berpegang pada first
impression. Kalau dari awal gua menilai seseorang nggak excited dengan apa yang
dilakukannya, so I’m gonna judge that they’re not satisfied with it. Simple,
right? Nah, banyak hal seperti itu yang gua temukan di lapangan. Gua banyak
ngobrol dan ketemu dengan guru-guru SLB. Biasanya gua iseng menyelipkan
pertanyaan, “kok bisa sih Ibu/Bapak
ngajar di SLB? Gimana asalnya?” atau “Ibu/Bapak
dulu ngambil jurusan PLB ya kuliahnya?”. Thanks God mereka nggak pernah
memperlihatkan reaksi “ini-orang-pengen-tau-banget-deh”, alih-alih mereka
cerita perjalanan kuliah sampai akhirnya bisa jadi guru di sana. Some of them,
yes absolutely I can say “some-of-them”, jawabannya atau mengakhiri ceritanya
dengan, “yah mau gimana lagi, mbak, udah
begini takdirnya”, “yah waktu itu bingung mau ngambil jurusan apa, jadi deh ambil
jurusan PLB”, “abisnya mentok, mbak, mau kuliah apa dulu”, dan sebagainya.
Sedih.
Cuma itu yang gua rasain.
Kenapa sih jurusan yang menurut gua hebat ini dipandang
sebelah mata? Apa karena pada akhirnya akan bekerja dengan anak-anak down
syndrome? Atau karena nanti ujung-ujungnya ngurusin anak cerebal palsy?
Informasi aja nih, interacting with special needs children isn’t that easy. Saya
lebih cepat ngerjain brief PR daripada harus mem-built up mood belajar anak. Sumpah!
So that’s why gua sedih, bahkan miris, kalau ada orang yang
membanding-bandingkan jurusan pendidikan dengan jurusan umum, seperti hukum,
MIPA, psikologi, pertanian, dan sebagainya. Jurusan pendidikan, khususnya PLB,
itu nggak ada bedanya kok dengan jurusan-jurusan lain. We’re educated to be
professional. Let see all my friends from PLB. Passion mereka nggak ada bedanya
dengan teman-teman saya di ilmu komunikasi yang greget dengan iklan, PR,
jurnalistik, film, bahkan planner. We just have different field.
Mungkin inilah yang menyebabkan anak-anak di SLB masih
mendapatkan metode pembelajaran yang “kurang memanusiakan”. Istilah “kurang
memanusiakan” ini gua pinjem dari salah satu pendiri sekolah inklusi di Jakarta
sana. Menurut dia, pendidikan untuk ABK agak maksain. Guru ngajar se-kena-nya. Nggak
paham kebutuhan, kemampuan, dan keterbatasan yang dihadapi si anak. Bagi gua,
nggak heran sih, lha wong guru-gurunya aja cuma pakai otak, nggak pakai hati. Atas
doang yang jalan emang akan menciptakan sesuatu yang bagus, tapi kalau hatinya
nggak on ya nggak akan pas. Istilahnya nggak nge-klik gitu.
Dari itu semua akhirnya gua sadar kalau apa pun yang kita
kerjain emang atas-bawah harus jalan beriringan. Sinkron. Otak mencipta, hati
yang menjalankan. Nggak sedikit juga gua ketemu dengan orang-orang yang
bergelut di dunia ABK dan PLB berjalan pakai otak dan hati. Mereka adalah
orang-orang yang menurut gua incredible. Ya, semua orang yang bekerja dengan
otak dan hati adalah orang-orang extra ordinary, terlepas mereka adalah
jurnalis, ibu rumah tangga, guru, bahkan cleaning service. Buat gua, orang yang
atas-bawahnya jalan adalah orang yang stay consistent. Mereka memberi pagar
supaya tujuannya nggak lepas ke atas atau ke bawah. Bisa repot toh kalau
manusia terlalu rasional atau terlalu emosional? *kedip*
0 comments: