Sorry Cake

10:30 AM Tameila 0 Comments

Aku menimbang ketika hendak melahap kue itu. Kotak persegi panjang. Tidak besar, mungkin hanya 10 x 5 cm. Entah lah, my math is so suck. Krim putih tebal dibalut cokelat dipinggirannya menggoda air liur. Siapa yang bisa menahan untuk setidaknya menjilat krim berbentuk badut itu? Ku susuri mangkuk plastik kecil yang menjadi wadahnya. Pelan. Aku enggan merusak wajah ceria si badut.

Aku teringat saat kamu memberikannya. Setelah kita melewati masa-masa berat, masa di mana sulitnya untuk mengerti satu sama lain. Aku bicara apa, kamu bicara apa. Tidak ada titik temu. Masing-masing menganggap dirinya benar. Tapi malam itu, semuanya meleleh. Mencair seperti cokelat Belgia yang pernah meluruh di lidahku beberapa waktu silam. Ya, begitu lah kita saat saling mengerti kemudian memaafkan. Melebur dan mencair menjadi satu.

Di bawah lampu tidak aku temukan setitik amarah seperti dalam kata-katamu sebelumnya. Alih-alih, aku menangkap bayangan penyesalan di sana. Ah, tapi bukan kamu namanya kalau tidak pandai mengakaliku, wahai pria licik! Segenap sesal itu kamu jejalkan dalam senyum dan kemudian, “ini kue, kamu pasti suka”.

Jengkel. Kesal rasanya diakali seperti itu. Egoku sempat bergemuruh minta diledakkan. Siapa aku pikirmu dengan mudahnya dikompensasikan dengan sepotong kue? Ku intip plastik itu dan ku temukan senyum si badut. Di sanalah aku akhirnya sadar, kita baiknya begini untuk mulai membereskan apa yang telah kita kacaukan kemarin.

Kamu menurut. Sangat penurut malah. Jadinya kamu hanya diam saat aku bimbing menuju kursi itu. Kita duduk beradapan, karena memang jarang sekali duduk bersebelahan. Alasannya? Mudah saja untuk ditebak. Kita akan sulit untuk berkomunikasi. Hanya dengan melihat lah kita saling paham, bukan dengan mendengar. Apa yang orang lain pikir dengan cara kita yang seperti ini? A distance? No. We both know distance never separates us. They just don’t get what makes us close. Harus kah aku menyodorkan “autonomy and connection” dalam Basic Relational Dialectics kepada mereka? Bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang mampu mendekatkan dan menjauhkan seseorang dalam hubungan (yang tidak akan pernah dimengerti oleh pihak ketiga). Ah, sudahlah. Toh ini tentang kita, bukan mereka.

Tidak ada kata-kata kemudian. Kamu meluruhkan bahumu yang kelelahan. Aku menatapnya iba. Sungguh. Garis lelah terlukis jelas di kening, pipi yang semakin tirus, dan senyum yang dipaksakan. Oh come on, don’t lie to me. Jangan hanya karena aku tidak menghabiskan 24 jamku, artinya aku tidak mengerti non-verbalmu. Aku tahu kamu capek. Jadi cepat katakan apa yang menjejali pikiranmu? Mari segera kita bereskan kekacauan di antara kita.

Ada ragu di sana, tapi akhirnya kamu mulai menjelaskan “angin ribut” yang bergemuruh di otakmu. Baiklah, kamu mulai menyalahkan aku. Kamu tuturkan serentetan dosa-dosaku padamu, mulai dari yang tidak punya waktu hingga kepribadian yang berubah-ubah. Kamu jujur kalau itu semua membuatmu bingung harus bagaimana. Sejurus itu pun aku mulai membela diri. Aku katakan kalau seharusnya kamu mengerti dengan segala kesibukanku. Aku enggan disalahkan begitu saja. Aku tidak mau diposisikan sebagai pengacau dalam kerusakan ini. Aku sudah cukup lelah bertengkar untuk masalah yang sama.

Ini masalah sepele. Harus kah kita ulangi lagi?” tanyaku akhirnya dengan putus asa. Aku sudah kehabisan akal untuk membuatmu mengerti bahwa ini tidak seharusnya memperburuk keadaan.

Ada jeda yang cukup panjang di antara kita. Aku sudah tidak lagi memikirkan siapa yang salah di sini. Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kamu bereaksi berlebihan dan aku tidak sanggup “menangkapnya”. Cukup lama kita adu kuat “saling-tatap-dengan-nafas-mendengus-tertahan”. Permaian “siapa-yang-kuat-dia-yang-duduk-tegak” akhirnya kamu akhiri juga. Sebenarnya, selama pertandingan “saling-tatap-dengan-nafas-mendengus-tertahan” itu berlangsung aku tidak pernah ingin menang, aku hanya ingin kamu tahu kalau sudah saatnya kamu belajar untuk memahami orang lain. Ini lah waktunya kamu berhadapan dengan “hal-hal-di-luar-pikiranmu”. Aku hanya ingin kamu mengerti kalau dunia tidak selalu sejalan dengan pemikiran atau perkiraanmu. Jadi, sesungguhnya dengan hati terluka, aku biarkan malam itu kamu merasa menyesal.

Kamu menunduk. Bahumu meluruh semakin rendah. Dari balik tubuh ringkihmu, kamu menghela nafas dan, “ya mungkin ini salahku. Dua malam aku tidak bisa tidur dan memikirkan apa yang terjadi. Aku berpikir seharusnya bagaimana. Aku bingung. Sampai akhirnya tadi siang, aku mengerti kalau ‘sayang’ atau ‘cinta’ tidak harus terus diucapkan. Aku seharusnya paham kalau ‘sayang’ atau ‘cinta’ adalah perhatian”.

Aku menghela nafas lega. Bersyukur akhirnya kamu mengerti juga. Aku sentuh ujung jemarinya lembut dan, “ya, begitulah. Jangan pernah pikir ‘sayang’ harus terus diucapkan. Capek. Apa artinya aku berkata ‘sayang’ kalau tidak peduli padamu? Maafkan aku juga kalau tidak punya banyak waktu untuk berkata ‘sayang’, tapi jangan pernah pikir aku tidak menyayangimu”.

Damn! Cheesy! Is it what we call as “an-intimacy-at-the-moment”?

Aku rasa aku terbawa keadaan.

No. Tidak. Aku lah yang memutuskan untuk memanfaatkan keadaan ini sebagai media pembelajaran dia. Sama halnya ketika dia memanfaatkan kegemaranku akan cake sebagai perekat hubungan kita lagi.

Sudah lah. Ini kuenya. Ayo dimakan, kamu pasti suka. Nanti besok-besok aku belikan yang lebih besar”.

Aku tertawa setiap mengingatnya. Aku jadi semakin tidak tega untuk mengigit senyum si badut.

You Might Also Like

0 comments: