Sorry Cake
Aku menimbang ketika hendak melahap kue itu. Kotak persegi panjang. Tidak besar, mungkin hanya 10 x 5 cm. Entah lah, my math is so suck. Krim putih tebal dibalut cokelat dipinggirannya menggoda air liur. Siapa yang bisa menahan untuk setidaknya menjilat krim berbentuk badut itu? Ku susuri mangkuk plastik kecil yang menjadi wadahnya. Pelan. Aku enggan merusak wajah ceria si badut.
Aku teringat saat kamu memberikannya. Setelah kita melewati
masa-masa berat, masa di mana sulitnya untuk mengerti satu sama lain. Aku
bicara apa, kamu bicara apa. Tidak ada titik temu. Masing-masing menganggap
dirinya benar. Tapi malam itu, semuanya meleleh. Mencair seperti cokelat Belgia
yang pernah meluruh di lidahku beberapa waktu silam. Ya, begitu lah kita saat
saling mengerti kemudian memaafkan. Melebur dan mencair menjadi satu.
Di bawah lampu tidak aku temukan setitik amarah seperti
dalam kata-katamu sebelumnya. Alih-alih, aku menangkap bayangan penyesalan di
sana. Ah, tapi bukan kamu namanya kalau tidak pandai mengakaliku, wahai pria
licik! Segenap sesal itu kamu jejalkan dalam senyum dan kemudian, “ini kue, kamu pasti suka”.
Jengkel. Kesal rasanya diakali seperti itu. Egoku sempat
bergemuruh minta diledakkan. Siapa aku pikirmu dengan mudahnya dikompensasikan
dengan sepotong kue? Ku intip plastik itu dan ku temukan senyum si badut. Di
sanalah aku akhirnya sadar, kita baiknya begini untuk mulai membereskan apa
yang telah kita kacaukan kemarin.
Kamu menurut. Sangat penurut malah. Jadinya kamu hanya diam
saat aku bimbing menuju kursi itu. Kita duduk beradapan, karena memang jarang
sekali duduk bersebelahan. Alasannya? Mudah saja untuk ditebak. Kita akan sulit
untuk berkomunikasi. Hanya dengan melihat lah kita saling paham, bukan dengan
mendengar. Apa yang orang lain pikir dengan cara kita yang seperti ini? A distance? No. We both know distance never separates us. They just don’t get what
makes us close. Harus kah aku menyodorkan “autonomy and connection” dalam Basic
Relational Dialectics kepada mereka? Bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang
mampu mendekatkan dan menjauhkan seseorang dalam hubungan (yang tidak akan
pernah dimengerti oleh pihak ketiga). Ah, sudahlah. Toh ini tentang kita, bukan
mereka.
Tidak ada kata-kata kemudian. Kamu meluruhkan bahumu yang
kelelahan. Aku menatapnya iba. Sungguh. Garis lelah terlukis jelas di kening,
pipi yang semakin tirus, dan senyum yang dipaksakan. Oh come on, don’t lie to me. Jangan hanya karena aku tidak
menghabiskan 24 jamku, artinya aku tidak mengerti non-verbalmu. Aku tahu kamu
capek. Jadi cepat katakan apa yang menjejali pikiranmu? Mari segera kita
bereskan kekacauan di antara kita.
Ada ragu di sana, tapi akhirnya kamu mulai menjelaskan
“angin ribut” yang bergemuruh di otakmu. Baiklah, kamu mulai menyalahkan aku.
Kamu tuturkan serentetan dosa-dosaku padamu, mulai dari yang tidak punya waktu
hingga kepribadian yang berubah-ubah. Kamu jujur kalau itu semua membuatmu
bingung harus bagaimana. Sejurus itu pun aku mulai membela diri. Aku katakan
kalau seharusnya kamu mengerti dengan segala kesibukanku. Aku enggan disalahkan
begitu saja. Aku tidak mau diposisikan sebagai pengacau dalam kerusakan ini.
Aku sudah cukup lelah bertengkar untuk masalah yang sama.
“Ini masalah sepele.
Harus kah kita ulangi lagi?” tanyaku akhirnya dengan putus asa. Aku sudah
kehabisan akal untuk membuatmu mengerti bahwa ini tidak seharusnya memperburuk
keadaan.
Ada jeda yang cukup panjang di antara kita. Aku sudah tidak
lagi memikirkan siapa yang salah di sini. Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kamu
bereaksi berlebihan dan aku tidak sanggup “menangkapnya”. Cukup lama kita adu
kuat “saling-tatap-dengan-nafas-mendengus-tertahan”. Permaian
“siapa-yang-kuat-dia-yang-duduk-tegak” akhirnya kamu akhiri juga. Sebenarnya,
selama pertandingan “saling-tatap-dengan-nafas-mendengus-tertahan” itu
berlangsung aku tidak pernah ingin menang, aku hanya ingin kamu tahu kalau
sudah saatnya kamu belajar untuk memahami orang lain. Ini lah waktunya kamu
berhadapan dengan “hal-hal-di-luar-pikiranmu”. Aku hanya ingin kamu mengerti
kalau dunia tidak selalu sejalan dengan pemikiran atau perkiraanmu. Jadi,
sesungguhnya dengan hati terluka, aku biarkan malam itu kamu merasa menyesal.
Kamu menunduk. Bahumu meluruh semakin rendah. Dari balik
tubuh ringkihmu, kamu menghela nafas dan, “ya
mungkin ini salahku. Dua malam aku tidak bisa tidur dan memikirkan apa yang
terjadi. Aku berpikir seharusnya bagaimana. Aku bingung. Sampai akhirnya tadi
siang, aku mengerti kalau ‘sayang’ atau ‘cinta’ tidak harus terus diucapkan.
Aku seharusnya paham kalau ‘sayang’ atau ‘cinta’ adalah perhatian”.
Aku menghela nafas lega. Bersyukur akhirnya kamu mengerti
juga. Aku sentuh ujung jemarinya lembut dan, “ya, begitulah. Jangan pernah pikir ‘sayang’ harus terus diucapkan.
Capek. Apa artinya aku berkata ‘sayang’ kalau tidak peduli padamu? Maafkan aku
juga kalau tidak punya banyak waktu untuk berkata ‘sayang’, tapi jangan pernah
pikir aku tidak menyayangimu”.
Damn! Cheesy! Is
it what we call as “an-intimacy-at-the-moment”?
Aku rasa aku terbawa keadaan.
No. Tidak. Aku lah yang memutuskan untuk memanfaatkan
keadaan ini sebagai media pembelajaran dia. Sama halnya ketika dia memanfaatkan
kegemaranku akan cake sebagai perekat
hubungan kita lagi.
“Sudah lah. Ini
kuenya. Ayo dimakan, kamu pasti suka. Nanti besok-besok aku belikan yang lebih
besar”.
Aku tertawa setiap mengingatnya. Aku jadi semakin tidak tega
untuk mengigit senyum si badut.
0 comments: