31HariMenulis

We. Random.

5:19 PM Tameila 0 Comments

Sepasang mata itu masih menatap saya tajam. Seakan-akan menghakimi kalau semua ini salah saya. Perbuatan saya. Kebodohan saya. Bah! Itu semua bohong besar. Bukan hanya saya yang menginginkan ini, bahkan sedikit pun saya tidak mau!

Saya mohon percayalah.

Semakin saya memelas, tatapannya semakin menusuk. Seakan-akan semakin saya jujur, mata itu semakin tidak percaya. Padahal saya tahu, jauh dalam lubuk hatinya ia percaya kalau semua ini bukan kemauan saya. Saya percaya, kalau ia percaya pada semua yang saya katakana. Saya perjelas semuanya dengan bukti, tapi ia belum berucap kalau saat ini ia percaya.

Ia bilang kalau saya telah mengoyak kepercayaannya. Entah untuk yang keberapa kalinya, begitu ia menambahkan. Ia juga bilang dengan nafsunya kalau ia sudah tidak mau kenal saya lagi. Ia yakin kalau ia banyak di luar sana yang lebih baik dari saya.

Ah! Sok tahu benar ia!

Saya tahu ia masih mentah. Baru juga besar. Mau bau kencur, sok mengerti tentang kehidupan. Tak ada yang mampu mencintai dan melindungi ia sehebat saya. Yang lainnya, hanya mau menjadikan ia sebagai trophy. Yaahh..paling tidak menjanjikan kebanggaan semu. Bukan pemilik hati mereka.

Tapi, saya pun masih tahu diri. Saya masih punya harga diri. Walau saya mencintainya, bukan berarti diri saya dapat diinjak seenaknya. Dilecehkan. Direndahkan. Dihina. Apalagi sama anak ingusan seperti ia!

Saya masih di sini hanya mau menemani ia. Saya masih ingin menjaga, walau saya tahu ia tak mau saya di sini. Tapi ia terlalu rapuh untuk menanti pahlawan baru yang datang.

Lama kami hanyut dalam kesunyian. Masing-masing sibuk dengan prasangka dalam hati. Hipotesis kini terbentuk dalam memori otak.

Tak lama kendaraan mewah itu datang. Saya tahu yang di dalam sana ingin membawa ia pergi. Katanya, ia merasa tersanjung dengan orang di dalam sana. Biar saja. Saya mau lihat bagaimana jadinya.

“Aku pergi dulu”, kata ia.

Tanpa senyum. Tanpa “dadah”. Tanpa lambaian tangan. Bahkan tanpa air mata.

Rata.
                                                                                                      
Datar.

Tanpa kesan.

“Take care, sayang”, balas saya melepasnya pergi. Merelakan ia menghampiri seseorang di dalam sana. Seseorang yang bisa menyanjungnya. Seseorang yang baru saja memutus sambungan telefon dengan, “aku pergi dulu, honey!”.

You Might Also Like

0 comments: