31HariMenulis
We. Random.
Sepasang mata itu masih menatap saya tajam.
Seakan-akan menghakimi kalau semua ini salah saya. Perbuatan saya. Kebodohan
saya. Bah! Itu semua bohong besar. Bukan hanya saya yang menginginkan ini,
bahkan sedikit pun saya tidak mau!
Saya mohon percayalah.
Semakin saya memelas, tatapannya semakin
menusuk. Seakan-akan semakin saya jujur, mata itu semakin tidak percaya.
Padahal saya tahu, jauh dalam lubuk hatinya ia percaya kalau semua ini bukan
kemauan saya. Saya percaya, kalau ia percaya pada semua yang saya katakana.
Saya perjelas semuanya dengan bukti, tapi ia belum berucap kalau saat ini ia
percaya.
Ia bilang kalau saya telah mengoyak
kepercayaannya. Entah untuk yang keberapa kalinya, begitu ia menambahkan. Ia
juga bilang dengan nafsunya kalau ia sudah tidak mau kenal saya lagi. Ia yakin
kalau ia banyak di luar sana yang lebih baik dari saya.
Ah! Sok tahu benar ia!
Saya tahu ia masih mentah. Baru juga besar.
Mau bau kencur, sok mengerti tentang kehidupan. Tak ada yang mampu mencintai
dan melindungi ia sehebat saya. Yang lainnya, hanya mau menjadikan ia sebagai
trophy. Yaahh..paling tidak menjanjikan kebanggaan semu. Bukan pemilik hati
mereka.
Tapi, saya pun masih tahu diri. Saya masih
punya harga diri. Walau saya mencintainya, bukan berarti diri saya dapat
diinjak seenaknya. Dilecehkan. Direndahkan. Dihina. Apalagi sama anak ingusan
seperti ia!
Saya masih di sini hanya mau menemani ia.
Saya masih ingin menjaga, walau saya tahu ia tak mau saya di sini. Tapi ia
terlalu rapuh untuk menanti pahlawan baru yang datang.
Lama kami hanyut dalam kesunyian.
Masing-masing sibuk dengan prasangka dalam hati. Hipotesis kini terbentuk dalam
memori otak.
Tak lama kendaraan mewah itu datang. Saya
tahu yang di dalam sana ingin membawa ia pergi. Katanya, ia merasa tersanjung
dengan orang di dalam sana. Biar saja. Saya mau lihat bagaimana jadinya.
“Aku pergi dulu”, kata ia.
Tanpa senyum. Tanpa “dadah”. Tanpa lambaian
tangan. Bahkan tanpa air mata.
Rata.
Datar.
Tanpa kesan.
“Take care, sayang”, balas saya melepasnya
pergi. Merelakan ia menghampiri seseorang di dalam sana. Seseorang yang bisa
menyanjungnya. Seseorang yang baru saja memutus sambungan telefon dengan, “aku
pergi dulu, honey!”.
0 comments: