I'm horny. So?
Suatu hari seorang teman lelaki menepis omongan saya, “hush udah ah, Ta, stop. Geli ih dengarnya”.
Saya mingkem. Salah apa saya? Perasaan saya sih nggak ngomong
yang aneh-aneh.
“Kamu itu ih
ngomongnya vulgar banget”.
Oh, jadi karena omongan saya terlalu vulgar buat dia? Well,
let me think, memangnya kalau saya bilang Daniel Radcliffe seksi itu vulgar,
ya? Terus waktu saya bilang, “gue udah
pernah kok liat dia bugil. ‘Barang’-nya kecil ah”, itu jorok?
Di lain waktu, saya menghabiskan malam dengan seorang teman perempuan.
Dia menunjukkan sebuah foto dan seketika bilang, “cakep nggak? Gue horny nih kalau lihat dia”. Mendengar teman saya
ngomong gitu, saya sih cuma mesem-mesem aja. Lha memang benar kok cowok itu
ganteng. So manly. Dadanya bidang,
bahunya tegap, terus perutnya liat. Suguhan yang sempurna, bukan? :D
Tak berapa lama, keesokannya saya menyore dengan obrolan
yang lebih vulgar. Style in Bed. Hold
on, it doesn’t mean I’ve been doing that, tapi bukan berarti saya nggak berhak
ikut membahasnya toh? Yaahh, meski waktu itu lawan bicara saya lebih
mendominasi obrolan, maklum dia emang udah married
jadi ya berpengalaman. Sepanjang obrolan kami asyik cekikikan sambil buka
Google Picture. Ngapain? Ya jelas lihat foto-foto artis cowok Hollywood lha,
mulai dari yang bertato sampai yang masih belasan tahun. Komentarnya nggak
jauh-jauh dari bibir, tulang rahang, dada, hingga tinggi badan. Anehnya, kami
tidak mempermasalahkan warna kulit sama sekali, bahkan dia sempat nyeletuk, “eh cin, kalau kulitnya gelap tapi badannya liat, itu tandanya dia rajin
olahraga. Lihat aja penampilannya, selama rapi dan wangi ya nggak masalah”.
Belum sempat saya jawab, dia udah langsung nyerocos
lagi, “gila, lihat yang ini. Ya ampun,
gue basah deh lihatnya”. Lalu kami cekikikan lagi.
So how menurut kalian? Jorok kah obrolan kami? Vulgar? Tak
senonoh? Atau bahkan tindak asusila kah?
As time goes by saya jadi sadar kalau betapa terbatasnya
saya (dan mungkin beberapa perempuan) untuk mengungkapkan pendapat tentang
seksualitas. Paradigma masyarakat yang udah dipersempit bahwa seksualitas
adalah tindakan yang tak pantas diumbar, hubungan badan, atau sesuatu yang
vulgar, membuat makna seksualitas itu sendiri miring. Padahal, seksualitas
nggak cuma sekedar “olahraga kasur”, take a deeper perspective which
seksualitas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepuasan kita ketika
berinteraksi dengan orang lain. Kalau mau lebih open-minded, interaksi itu nggak selalu body contact, hasrat dan ketertarikan juga termasuk di dalamnya.
Well, ada alasan lain yang sebenarnya bikin saya irritate. Sering
omongan saya di-cut begini, “ta, kamu itu
pakai kerudung. Nggak pantas ih ngomong begitu”.
Saya mingkem. Bukan karena setuju, tapi bingung. Saya bingung
kenapa bentuk kepatuhan saya kepada Tuhan dijadikan penghalang untuk bersuara. I
mean like this, kalau memang karena alasan agama, terus berdosa kah saya ketika
berpendapat, “anjir bibirnya tipis, seksi
banget!” terus ditimpali dengan sedikit candaan, “dicium enak kali, ya?” ? Atau seringnya saya becanda begini, “biarin aja Daniel Radcliffe pendek, kan
nanti kalo ciuman gue nggak perlu naik tangga”. Salah? Dosa? Padahal saya
nggak ngomongin orang, maksudnya dalam arti menjelek-jelekkan (ghibah). Saya pun
nggak memfitnah, nggak juga mengadu domba, dan nggak juga memprovokatori. Terus
kenapa dinilai salah dan sepertinya dianggap
berdosa?
Let say kalau memang omongan saya berdosa, apakah karena
mempengaruhi seseorang untuk berpikiran zina? Well, memangnya ada yang menjamin
kalau saya jaga mulut, omongan saya nggak akan berdosa? Sekarang kalau saya
tanya, lebih berdosa mana: ngomongin kejelekan orang di belakang atau secara
terang-terangan berpendapat tentang masalah seksual?
Saya jadi mikir, mungkin ini yang membuat sex education masih ogah-ogahan untuk
dilaksanakan. Dengan begitu, remaja (khususnya perempuan) nggak terbuka
mengenai permasalahan seksualnya. Mereka yang ciuman jadi takut hamil (trust me
kepercayaan itu hari gini masih ada), making
love diem-diem tanpa ada pengetahuan safe
sex, dan parahnya jatuhnya self
esteem remaja perempuan yang pernah melakukan aktivitas seks. Andai kebebasan
berpendapat dan edukasi seksual sudah dikemas dengan baik, benar, dan menarik,
mungkin angka pernikahan dini bisa ditekan, depresi remaja perempuan bisa
diantisipasi, dan sebagainya.
Ya, mungkin. Semuanya masih mungkin karena pada kenyataanya
masih banyak pengaduan kekerasan seksual (baik dalam rumah tangga dan pacaran),
remaja perempuan yang merasa nggak berarti, bahkan sexual intercourse yang dilakukan tanpa dipahami benar. Korbannya siapa?
Ya, perempuan.
Kenapa? Feminis banget ya saya? Nggak kok. Jangan mikir
terlalu tinggi gitu, saya cuma prihatin sama remaja yang pengetahuan seksualnya
nol. Nggak ada sama sekali. Saya boleh berterima kasih sama Tuhan kalau
pengetahuan seksual saya mulai digenapi sejak SMP. Sumbernya dari mana nggak
usah saya sebutkan. Saya cukup berterima kasih kepada-Nya kalau dianugerahkan
panca indera yang bisa menyerap pelajaran dari mana pun, siapa pun, dan kapan
pun.
NB: Tulisan ini terinspirasi dari X, seorang anak SMA yang mengaku dirinya gay, namun belum memahami betul dunianya. Saat bertemu dengan saya, ia kebingungan untuk mencari informasi tentang gay.
0 comments: