Don't Worry, be Commit
Gua nggak mau
jadi orang yang paling ngerti dalam hidup ini. Tapi ada satu hal yang bisa gua
pastikan, yakni kita pasti akan mencapai titik jenuh. Nggak usah lo bayangin
titik jenuh adalah suatu kondisi penat. Bukan. Bisa jadi titik jenuh adalah
refleksi diri.
Titik jenuh yang
gua rasakan kemarin adalah ketika memandang tebaran kertas di lantai kamar.
Kertas berubah jadi pengganti ubin dan alas tidur gua. Ya, gua tidur di atas
kertas. Pikiran gua kacau sampai gua lupa kalau manusia itu tidurnya di atas
kasur, bukan di atas kertas. Then setelah gua sadar otak ini ngebalik, I grab
my phone cell. I call my Mom.
“Hallo, dek?” she asked.
“Ma, Gita ini normal nggak sih?” I
replied.
No need times
for her to guess what happened in me. After all, the time was hers. Setengah
mati dalam debat nyokap meyakinkan bahwa gua adalah makhluk normal. Normal
ketika merasa stress. Normal ketika merasa sendiri. Normal ketika merasa
kekurangan. And the thing is “you’re
normal when you think that you need to change. It’s your life, not mine. My job
is guiding, not interrupting. Live your life not only for you, but also for
your children, family, and carrier”. (okay, nyokap nggak ngomong pakai
bahasa Inggris begitu, but gua nggak menghapus esensi di dalamnya).
One thing that
across my mind was, “kenapa nyokap selalu menempatkan ‘anak’ di atas
segalanya?”. I mean like this, gua ngga bisa bohong kalau sejak kecil terbiasa
dengan orangtua yang berangkat pagi dan pulang malam. My sister and I could
deal with it well. Surprisingly, kita berdua pun nggak pernah ngerasa
kekurangan cinta. Terlepas dari sikap bokap yang keras, we both feel their love
until now. So what happened with it all?
“Komitmen, dek,”
she answered, just like guessing what I was thinking at that moment. “Meskipun
Mama kerja, Mama tetap menempatkan keluarga nomor satu. Mama nggak bisa
ngelupain anak udah makan atau belum selama Mama kerja. Mama nggak bisa tidur
sebelum PR kalian selesai. Dan sekarang, Mama nggak bisa ngebiarin kamu gitu
aja di Jogja meskipun kamu udah besar.”
Yes I know then.
My Mom chooses to think her family more than anything. SHE CHOOSES, NOT BECAUSE
SHE MUST! And that’s all true. Gua jadi inget dulu setiap pulang sekolah pasti
dapat telefon dari nyokap yang ngingetin buat sekolah agama, padahal gua tau
kerjaan nyokap sibuk kayak gimana di kantor. Gua pun inget dulu setiap malam
nyokap marah-marah kalau gua makan di ruang tengah buat nonton Jin dan Jun,
padahal jarak dari ruang makan ke ruang TV cuma tiga langkah kaki. Gua inget
nyokap selalu ngirimin nasi tim untuk makan siang setiap gua sakit, padahal gua
tau untuk makan siang pun kadang nyokap ngelakuinnya menjelang sore. What is it
all? It’s all buktinya nyokap mau tetap stick together dengan keluarganya di
dalam waktu 24 jam yang terbatas. Dia memaksimalkan setiap detik untuk bersama
orang yang dicintanya. Dan dia memilih untuk ‘membelah waktunya’ karena memang
mencintai kami, bukan karena kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri. SHE
DECIDES TO DO THAT BECAUSE SHE WANTS TO BE WITH US.
Gua pun jadi
ingat semua perjuangan yang dilakukan orangtua dari anak-anak berkebutuhan
khusus. Semua orangtua yang melakukannya dengan penuh cinta karena mereka
berkomitmen dengan titipan Tuhan. Anak. They wanted children so bad, so this
time they have to prove. They are not even shy, otherwise they introduce their
children to people, to the world.
Well...I wonder,
could I be like that supermom? No need to lie that deep inside my heart, I want
to be a Mom who grows her children by her ownhands.
“Ya
udah, Ma. Assalamu’alaikum,” Click! I ended the phone.
Gua kembali
memandangi kertas-kertas. Yes, itu skripsi gua! For the first time gua pilih
tema ini agak random. Sumpah! Judul yang akhirnya gua garap sekarang adalah
pemikiran yang nggak sengaja keceplosan di depan dosen. But it was accepted,
and I had no more reason untuk nunda-nunda bikin FORM 1, bimbingan, seminar
proposal, revisi, bikin BAB 1, wawancara, bikin BAB 2, bikin BAB 3, cari
jurnal, nge-print, bla bla bla. Nggak kerasa satu semester lewat dan
pertanyaan, “kapan lulus?” “kapan
siding?” “kapan wisuda?” “kapan selesai?” bahkan sampai “kapan nikah?” udah jadi kayak angin lalu
di telinga. For the first time, I could handle them so well. Well…gua pun
manusia biasa, secara psikologis pelan-pelan pertanyaan itu bikin gua gatel.
Gatel pengen cepat nyelesain ini semua.
Akhirnya, gua
coba bikin timeline. Jadwal ini-itu. Gua desain ulang segalanya supaya cepat
selesai. Tapi semakin gua in a rush, gua malah tersesat. Gua jadi nggak paham
apa yang gua tulis, bahkan gua nggak tau untuk apa nulis skripsi ini. Gua emang
nggak punya cita-cita skripsi gua harus jadi buku. KAGAK! Ilmu gua masih
setinggi dengkul. Tapi apakah skripsi ini cuma jadi sesuatu, “yang-penting-gua-lulus”?
*inhale-exhale*
For times,
orangtua gua menjadi salah satu sosok yang membuka mata gua. Gua nggak pernah
cerita kegalauan gua di atas sama mereka, tapi gua percaya kalau mereka adalah
mulutnya Tuhan. Suatu waktu, nggak ada angin cuma ada hujan di Jogja, bokap
nelfon dan ngomong, “ayo, dek, semangat
skripsinya. Jangan asal-asalan ya. Adek tau kan ini proses, jadi harus banyak
belajar. Ingat dulu alasan ke Jogja. Ingat kenapa ade pilih komunikasi. Ingat
udah hampir empat tahun di sana sebenarnya mau ngapain”.
Omongan bokap
barusan mengingatkan gua sama quote yang bunyinya, “before you give up, think about the reasons why you held so long”.
Dan lo semua pikir kalau gua udah menemukan alasan-alasan itu? I’m not pretty
sure, karena yang gua rasakan sekarang bukan kehadiran alasan-alasan itu, tapi
diri gua yang memutuskan untuk membuat alasan. Diri gua yang memilih
alasan-alasan.
Bahwa pada
kenyataannya alasan setiap orang itu berbeda, maka nggak semestinya kita
men-judge mereka. Gua mungkin beralasan A, tapi nggak selamanya A is fit in B
or even the other A. Gua cuma yakin setiap orang punya alasan untuk melakukan,
memperjuangkan, bahkan mengorbankan sesuatu. Nggak ada alasan yang salah atau
benar, yang ada cuma sejauh mana kita mempertahankan alasan itu untuk membuat
kehidupan kita dan sekitar menjadi lebih baik.
0 comments: