Don't Worry, be Commit

9:35 AM Tameila 0 Comments



Gua nggak mau jadi orang yang paling ngerti dalam hidup ini. Tapi ada satu hal yang bisa gua pastikan, yakni kita pasti akan mencapai titik jenuh. Nggak usah lo bayangin titik jenuh adalah suatu kondisi penat. Bukan. Bisa jadi titik jenuh adalah refleksi diri.

Titik jenuh yang gua rasakan kemarin adalah ketika memandang tebaran kertas di lantai kamar. Kertas berubah jadi pengganti ubin dan alas tidur gua. Ya, gua tidur di atas kertas. Pikiran gua kacau sampai gua lupa kalau manusia itu tidurnya di atas kasur, bukan di atas kertas. Then setelah gua sadar otak ini ngebalik, I grab my phone cell. I call my Mom.

Hallo, dek?” she asked.

Ma, Gita ini normal nggak sih?” I replied.

No need times for her to guess what happened in me. After all, the time was hers. Setengah mati dalam debat nyokap meyakinkan bahwa gua adalah makhluk normal. Normal ketika merasa stress. Normal ketika merasa sendiri. Normal ketika merasa kekurangan. And the thing is “you’re normal when you think that you need to change. It’s your life, not mine. My job is guiding, not interrupting. Live your life not only for you, but also for your children, family, and carrier”. (okay, nyokap nggak ngomong pakai bahasa Inggris begitu, but gua nggak menghapus esensi di dalamnya).

One thing that across my mind was, “kenapa nyokap selalu menempatkan ‘anak’ di atas segalanya?”. I mean like this, gua ngga bisa bohong kalau sejak kecil terbiasa dengan orangtua yang berangkat pagi dan pulang malam. My sister and I could deal with it well. Surprisingly, kita berdua pun nggak pernah ngerasa kekurangan cinta. Terlepas dari sikap bokap yang keras, we both feel their love until now. So what happened with it all?

“Komitmen, dek,” she answered, just like guessing what I was thinking at that moment. “Meskipun Mama kerja, Mama tetap menempatkan keluarga nomor satu. Mama nggak bisa ngelupain anak udah makan atau belum selama Mama kerja. Mama nggak bisa tidur sebelum PR kalian selesai. Dan sekarang, Mama nggak bisa ngebiarin kamu gitu aja di Jogja meskipun kamu udah besar.”

Yes I know then. My Mom chooses to think her family more than anything. SHE CHOOSES, NOT BECAUSE SHE MUST! And that’s all true. Gua jadi inget dulu setiap pulang sekolah pasti dapat telefon dari nyokap yang ngingetin buat sekolah agama, padahal gua tau kerjaan nyokap sibuk kayak gimana di kantor. Gua pun inget dulu setiap malam nyokap marah-marah kalau gua makan di ruang tengah buat nonton Jin dan Jun, padahal jarak dari ruang makan ke ruang TV cuma tiga langkah kaki. Gua inget nyokap selalu ngirimin nasi tim untuk makan siang setiap gua sakit, padahal gua tau untuk makan siang pun kadang nyokap ngelakuinnya menjelang sore. What is it all? It’s all buktinya nyokap mau tetap stick together dengan keluarganya di dalam waktu 24 jam yang terbatas. Dia memaksimalkan setiap detik untuk bersama orang yang dicintanya. Dan dia memilih untuk ‘membelah waktunya’ karena memang mencintai kami, bukan karena kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri. SHE DECIDES TO DO THAT BECAUSE SHE WANTS TO BE WITH US.

Gua pun jadi ingat semua perjuangan yang dilakukan orangtua dari anak-anak berkebutuhan khusus. Semua orangtua yang melakukannya dengan penuh cinta karena mereka berkomitmen dengan titipan Tuhan. Anak. They wanted children so bad, so this time they have to prove. They are not even shy, otherwise they introduce their children to people, to the world.

Well...I wonder, could I be like that supermom? No need to lie that deep inside my heart, I want to be a Mom who grows her children by her ownhands.

 Ya udah, Ma. Assalamu’alaikum,” Click! I ended the phone.

Gua kembali memandangi kertas-kertas. Yes, itu skripsi gua! For the first time gua pilih tema ini agak random. Sumpah! Judul yang akhirnya gua garap sekarang adalah pemikiran yang nggak sengaja keceplosan di depan dosen. But it was accepted, and I had no more reason untuk nunda-nunda bikin FORM 1, bimbingan, seminar proposal, revisi, bikin BAB 1, wawancara, bikin BAB 2, bikin BAB 3, cari jurnal, nge-print, bla bla bla. Nggak kerasa satu semester lewat dan pertanyaan, “kapan lulus?” “kapan siding?” “kapan wisuda?” “kapan selesai?” bahkan sampai “kapan nikah?” udah jadi kayak angin lalu di telinga. For the first time, I could handle them so well. Well…gua pun manusia biasa, secara psikologis pelan-pelan pertanyaan itu bikin gua gatel. Gatel pengen cepat nyelesain ini semua.

Akhirnya, gua coba bikin timeline. Jadwal ini-itu. Gua desain ulang segalanya supaya cepat selesai. Tapi semakin gua in a rush, gua malah tersesat. Gua jadi nggak paham apa yang gua tulis, bahkan gua nggak tau untuk apa nulis skripsi ini. Gua emang nggak punya cita-cita skripsi gua harus jadi buku. KAGAK! Ilmu gua masih setinggi dengkul. Tapi apakah skripsi ini cuma jadi sesuatu, “yang-penting-gua-lulus”?

*inhale-exhale*

For times, orangtua gua menjadi salah satu sosok yang membuka mata gua. Gua nggak pernah cerita kegalauan gua di atas sama mereka, tapi gua percaya kalau mereka adalah mulutnya Tuhan. Suatu waktu, nggak ada angin cuma ada hujan di Jogja, bokap nelfon dan ngomong, “ayo, dek, semangat skripsinya. Jangan asal-asalan ya. Adek tau kan ini proses, jadi harus banyak belajar. Ingat dulu alasan ke Jogja. Ingat kenapa ade pilih komunikasi. Ingat udah hampir empat tahun di sana sebenarnya mau ngapain”.

Omongan bokap barusan mengingatkan gua sama quote yang bunyinya, “before you give up, think about the reasons why you held so long”. Dan lo semua pikir kalau gua udah menemukan alasan-alasan itu? I’m not pretty sure, karena yang gua rasakan sekarang bukan kehadiran alasan-alasan itu, tapi diri gua yang memutuskan untuk membuat alasan. Diri gua yang memilih alasan-alasan.

Bahwa pada kenyataannya alasan setiap orang itu berbeda, maka nggak semestinya kita men-judge mereka. Gua mungkin beralasan A, tapi nggak selamanya A is fit in B or even the other A. Gua cuma yakin setiap orang punya alasan untuk melakukan, memperjuangkan, bahkan mengorbankan sesuatu. Nggak ada alasan yang salah atau benar, yang ada cuma sejauh mana kita mempertahankan alasan itu untuk membuat kehidupan kita dan sekitar menjadi lebih baik.

You Might Also Like

0 comments: