Polusi Pemandangan
Mudah
caranya untuk mengetahui siapa yang sedang berkuasa di daerah saya. Kota
Serang. Kalian tinggal lihat sekeliling kota pasti bisa menebaknya. Sebagai
contoh, pagi kemarin saat saya keluar tol Serang Timur, mata ini langsung
disambut banyak spanduk di sana-sini. Bukan spanduk iklan, bukan pula spanduk
pengumuman bagi masyarakat. Tetapi spanduk tokoh. Gambar orang yang mukanya
itu-itu saja.
Saya menyunggingkan senyum. Bukan
karena bahagia, tapi miris rasanya masih saja dari dulu kota kecil ini
disampahi oleh wajah-wajah yang tak kenal lelah dalam pencitraan. Saya masih
maklum kalau saat ini adalah periode kampanye pemilihan wali kota atau
gubernur, sayangnya belum. Masih lama bagi Serang untuk memilih pemimpin baru.
Jadi untuk apalah spanduk-spanduk yang bergambar sesungging senyum retoris?
Senyum yang tidak perlu dijawab karena pernahkah mereka bertanya kebutuhan
warganya selain pada saat kampanye?
Seakan Tuhan menjawab keheranan
saya, siangnya saya mendengar siaran dari RRI Serang. Dalam acara itu ada talk
show bersama pemerintah kota Serang khusus menangangi pemasangan spanduk,
baliho, dan media iklan lainnya. Inti perbincangan yang saya tangkap begini:
- Pemasangan iklan (seperti spanduk dan baliho) di tempat-tempat pemerintah tidak dikenakan biaya alias gratis.
- Adapun pencopotan iklan jika sudah jatuh tempo ditanggung oleh pihak si pemasang iklan. Jika ingin ditertibkan oleh tim Satpol PP, maka si pemasang iklan harus membayar 10% di awal pemasangan sebagai biaya penurunan iklan.
- Biaya pembuatan material iklan di Serang lebih mahal dibandingkan pemasangan dan pencopotan iklan itu sendiri.
- (Kalau saya tidak salah dengar) Pajak yang dikenakan setiap bulannya sebesar Rp50.000,-.
- Urusan pemasangan iklan berkaitan dengan empat dinas (saya tidak hafal) sehingga nantinya berkas pemasangan banyak memiliki tembusan sebagai arsip.
Done.
Begitulah inti wawancara yang dilakukan oleh RRI Serang kepada pihak yang
mengatur pemasangan iklan di kota kecil saya ini.
Well
then..saya ini memang masih mahasiswa (skripsi aja belum selesai), tapi nggak
ada salahnya toh untuk mengasihani kota kelahiran. Kasihan? Ya, memang betul.
Kota Serang ini patut untuk dikasihani, apalagi pemerintahannya. Sudah jadi
rahasia umum kalau sistem pemerintahan di sini nggak jauh beda dengan dinasti.
Turun temurun. Bosan sih, tapi saya pun bisa apa selain berbicara dalam diam.
Mungkin petinggi itu nggak akan mendengar, tapi setidaknya saya bisa
menuliskannya dalam blog ini. Saya pun berterima kasih kepada para jurnalis
yang berani membedah politik dan pemerintahan Banten, khususnya kota Serang.
Nggak lupa juga teman-teman mahasiswa yang (saya pun sebenarnya bingung) selalu
semangat untuk mengangkat isu kotornya pemerintahan dinasti Banten ke public.
Biarlah, kalau kata teman saya, “setiap
orang itu punya caranya masing-masing untuk berjuang, Git”.
Okay,
back to the topic. Saya lebih suka mata ini menangkap tempelan poster-poster
acara. Meskipun sama berantakannnya nanti, tapi setidaknya poster adalah hasil
karya (desain) orang-orang. Butuh pemikiran kreatif di dalamnya. Lagi pula
lebih informatif dan berguna bagi masyarakat, daripada sekedar senyum 3 cm
kanan-kiri dan ucapan terima kasih. Hey, what the hell, masyarakat nggak butuh
senyum terima kasih yang dipajang sepanjang jalan. Benerin aja itu jalan-jalan
yang berlubang, lampu jalan dan hiasan Asmaul Husna yang mati, tertibkan
angkot, dan banyak hal lainnya yang bisa dilakukan sebagai “terima kasih”
dibanding pasang foto sendiri terus digelar di mana-mana. Pusing lihatnya!
Adapun
spanduk untuk iklan masyarakat juga nggak perlu pakai wajah kalian. Ajakan
ber-KB itu lebih baik divisualisasikan dengan gambar sebuah keluarga, bukan
muka gubernur yang anehnya selalu menang pemilu. Masih banyak lagi contoh
spanduk yang menurut saya antara isi pesan dan gambarnya tidak
mengkomunikasikan satu pesan. Atau mungkin satu-satunya pesan bukan pesan
kampanye itu sendiri, melainkan “inilah saya, si pemimpin kota Serang” atau
“lihat saya. Gubernur Banten”.
Saya
menyebut kondisi ini sebagai polusi pemandangan. Dari jaman saya duduk di
bangku SD sampai kemarin mengajar sebagai guru, pemahaman polusi adalah
pencemaran. Ya memang betul, pemandangan kota Serang tercemar dengan
wajah-wajah yang haus pencitraan. Seakan baru memahami pencitraan itu apa,
mereka nggak ada lelahnya mencetak dan terus memasang senyumnya di seantero
kota. Di sepanjang jalan. Di setiap sudut. Di setiap perempatan. Di mana ada
lahan kosong, di sana lah ada senyum mereka.
Repetisi.
Pengulangan pesan dalam iklan memang penting adanya supaya masyarakat ingat.
Tapi yang diulang itu pesan. Oh iya, saya lupa…mungkin diri mereka adalah pesan
itu sendiri. Supaya tidak dilupakan, supaya terus diingat. Mungkin sebagai
pemimpin, atau sebagai seseorang yang gila hormat. Entah, hanya tingkat edukasi
politik warga Serang yang mampu menentukannya.
Sepanjang
jalan menuju rumah, otak saya berputar. Riuh rasanya angan ini, banyak yang
berbenturan di sana. Memori masa kecil dan penjegalan edukasi politik bagi
warga sejak dini. Bagaimana tidak dijegal, saya ingat dulu saat SMA sekolah
saya pernah kedatangan KPU Banten. Waktu itu sedang masanya pemilihan gubernur
Banten. Ada salah satu calon namanya Marrisa Haque (mohon maaf kalau tulisannya
salah). Si calon nomor 4 itu diisukan suaranya dibeli oleh calon nomor 1
(you-know-who). Namanya juga isu, wajar toh kalau dikonfirmasikan? Tapi sakit
rasanya ketika saat di aula saya mengonfirmasi isu itu dan pihak KPU Banten
menjawab, “wah kamu nggak boleh berpikir
seperti itu. Nggak ada beli-beli suara. Lagian kita nggak boleh berpikir
seperti itu”. SHIT! “Lagian kita
nggak boleh berpikir seperti itu” ?!?! Saya ini hanya mengonfirmasi! Kalau
rasa penasaran dan kritis dipangkas sejak dini, bagaimana mau lahir generasi
yang membawa pembaharuan? Pantas saja pemerintahan dan kondisi kota ini
monoton. Tidak ada perkembangan yang signifikan selain kehidupan kelas menengah
yang terus berlomba merangkak untuk menjadi yang teratas. Mall, café, dan
restoran dibangun di mana-mana tanpa memikirkan letaknya, bikin macet atau
tidak, sesuai dengan lingkungannya atau tidak, dan sebagainya.
Jawaban
dari KPU Banten itu masih tersimpan baik dalam memori saya. Sakit rasanya
ketika rasa penasaran itu dicekal. Digunting. Diputus tanpa alas an yang masuk
akal. Jawaban seperti itu sih mamang ojek yang sibuk menawari tumpangan saat
saya turun dari bus juga bisa. Nggak usah keren-keren jadi pejabat negara.
Tulisan
ini bukan bermaksud untuk menjelekkan kota Serang. Bagaimana pun buruknya
pemerintahan di sini dan semrawut-nya
pemandangan, saya tetap cinta. Dari sini lah saya tumbuh. Dari sini lah saya
mengenal cinta. Dari sini pula lah saya sadar kapasitas diri untuk
berkonstribusi. Mungkin kecil, tapi sesuatu yang besar selalu berasal dari hal
kecil, bukan?
Bau
terasi merayapi bulu-bulu hidung. Sensorik penciuman saya mengirim pesan ke
otak kalau itulah masakan rumah. Ya, saya sudah duduk di depan hidangan tiga
telur ceplok yang kuningnya membasahi nasi. Ku tuangkan kecap ke atasnya. Hitam
bercampur kuning. Ku sendok satu per satu telur yang sudah tak berbentuk.
Berantakan, tapi enak. Sama seperti kota Serang. Berantakan, tapi selalu nikmat
untuk dirindukan.
NB:
- Semakin hari semakin banyak spanduk dan baliho yang bermunculan seperti jamur. Apakah semua itu ada di “tempat-tempat gratis”? Atau mungkin spanduk “berwajah” semuanya terlokasi di tempat gratis? Ah, Git, mungkin mereka banyak uang dan mampu membayar setiap spot kota Serang.
- Pencopotan dikenakan biaya 10% dari pemasangan. Nah, katanya pemasangannya gratis, jadi perhitungan 10%-nya dari mana? Terus bagaimana dengan iklan-iklan “berwajah” itu yang tidak berganti hingga kini?
0 comments: