Dekat di Mata, Jauh di Hati

11:09 AM Tameila 0 Comments

Kalau ada lebih dari kata “terima kasih”, mungkin udah saya ucapin saat ini untuk dua orang yang selalu mengerti saya tanpa harus berbicara. Wait. Bukan cuma dua, ada kamu, kamu, kamu, emm..terus dia, dia, dan dia. Ah, si itu jangan lupa, terus si anu dan si dia. Eh, banyak juga, ya? Yes, indeed.

Tak usah lah saya bahas satu per satu, karena nggak semuanya juga sering saya brondong dengan pertanyaan, “kenapa sih nggak pernah sms/telefon/bbm gue duluan?”. Seakan udah berkonspirasi, serentak jawabannya sama, “nggak mau ganggu, Ta. Gue tau lo sibuk, waktu malam istirahat. Kalau waktunya ngobrol juga nanti kita ngobrol, kan?” atau yang agak kreatif dikit jawabnya begini, “gue yakin, nanti kalau lo kangen juga bakal ngehubungin sendiri”.

Tapi semalam, jawaban seorang teman membuat saya tersedak nasi goreng. Bukannya menjawab, dia malah balik nanya, “lo pernah nggak sih, dek, speechless sama orang? Bukan karena lo suka, grogi or something. Tapi karena emang kalian udah sama-sama tahu sampe akhirnya topik obrolan udah abis. Nggak tau lagi apa yang mau diomongin. That’s what I feel”.

Sontak dong saya bengong di-smash balik dengan cara begitu. Saya nggak ngapung ke langit ke tujuh, tapi saya bingung. Antara harus membenarkan dan menimpali. Sebelum sempat menjawab, dia nerusin, “semakin orang itu dekat, apalagi sering ketemu, topik obrolan bakal abis. Lo nggak tau lagi apa yang mau diomongin. Bingung karena udah sama-sama tau. Buat kakak sih, lebih baik nggak ketemu lama terus sekalinya ketemu kita bisa cerita banyak. Ngobrol panjang. Itu lebih seru. That’s quality time!”.

Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Pipi saya tiba-tiba memanas. Bukan karena ditampar, tapi dicubit. Mau nggak mau saya ketawa, “bener juga lo, kak!”. Nggak lama, seakan dunia dibalik, saya malah jadi bingung sendiri. Pasalnya, dari bahan bacaan saya kesemuanya menyebutkan “semakin dekat dua orang, maka akan semakin banyak yang dibagi dan diceritakan. Mereka akan sharing sehingga obrolan akan semakin mendalam”.

Kontradiktif. Apa yang disebutkan dalam buku memang benar, tapi ucapan teman saya pun nggak salah.

Pindah ke Mc Donald’s akhirnya kita berdua sadar kalau semuanya ini cuma masalah seberapa besar hidup kita rela dimasukin orang lain. Apalah bedanya dirinya ini dengan McD? Ada pintu masuk, drive thru’, kasir, makan di tempat, dibungkus, hingga ruang kendali. Sama toh? Hidup saya pun begitu. Ada orang yang datang kalau ada mau atau perlunya saja, ada yang stay lalu kalau sudah bosan pergi, nggak sedikit juga yang “menawar” lalu pergi, tapi nggak banyak yang bisa masuk sampai ruang kendali.

Self-disclosure alias segimananya sih kita membuka diri. Mau berbagi dan bercerita tentang kehidupan, mulai dari hal sepele sampai yang prinsip. Masalah ketemu setiap hari bikin speechless alias bosen atau nggak, saya rasa itu nggak sepenuhnya mempengaruhi. Well..nggak sepenuhnya bukan berarti nggak berpengaruh sama sekali ya! Karena kemarin, saya habis bertemu seseorang setelah tiga tahun lamanya tetap aja sepanjang jalan kayak barisan tiang listrik di pinggir jalan alias diem-dieman. Udah saya pancing untuk bercerita sampai nanya hal-hal bego, jawabannya singkat. Setelah terpojok baru deh orangnya ngaku, “masih ya mau diungkit? Udah nggak ada yang menarik dalam 3 tahun belakangan ini”. See? He didn’t allow me untuk masuk lagi ke kehidupannya. I don’t know, mungkin saya sudah terlalu menyakiti atau introvertnya semakin akut.

Saya jadi teringat omongan teman saya. Sarkas, tapi menancap.

“Jangan terlalu dekat sama orang kalau urusan lo nggak mau dicampurin. Semakin dekat dengan orang, mereka bakal semakin leluasa ikut campur sama hidup lo. Masuk ke dalamnya. Gue sih ogah. Better come and go, no pain lingers”.
Saat saya bertanya tentang konstribusinya terhadap orang lain, teman saya yang sarkas cuma bales, “manfaat kan cuma terjadi saat itu. Lagian bukan lo juga yang diinget, yang diinget itu jasa lo. Bukan lonya. Berapa banyak sih orang yang inget orang kalau bukan apa yang dilakuinnya”.

Terpaksa saya harus setuju dengan statement barusan. Sama halnya dengan pribahasa, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, artinya yang diingat dari manusia itu perbuatannya, bukan?

Akhirnya, kalau di awal tadi saya membutuhkan kata lebih dari “terima kasih”, kini saya pun mencari kata lebih dari “maaf”. Kata itu nanti saya persembahkan untuk kamu seorang. Eh bukan cuma seorang, tapi ada kamu, dia, dia, dia, si anu, umm...yang itu, dan si ini. Nggak kalah banyak. Hmm...mungkin kalau dihitung-hitung akan lebih banyak orang yang merasa saya ini “dekat di mata, jauh di hati” daripada “jauh di mata, dekat di hati”. Ya jelas, bagaimana tidak, saya ini kan pengennya dimengerti terus. Memaksa orang untuk mendengarkan dan memahami dalam diamnya saya. Padahal mereka bukan dewa, Tuhan aja ingin hamba-Nya berdo’a untuk setiap keinginannya. Berbicara, bukan diam.

“Terima kasih” dan “Maaf” ya, kamu!

You Might Also Like

0 comments: