Dekat di Mata, Jauh di Hati
Kalau ada lebih
dari kata “terima kasih”, mungkin udah saya ucapin saat ini untuk dua orang
yang selalu mengerti saya tanpa harus berbicara. Wait. Bukan cuma dua, ada
kamu, kamu, kamu, emm..terus dia, dia, dan dia. Ah, si itu jangan lupa, terus
si anu dan si dia. Eh, banyak juga, ya? Yes, indeed.
Tak usah lah saya
bahas satu per satu, karena nggak semuanya juga sering saya brondong dengan
pertanyaan, “kenapa sih nggak pernah
sms/telefon/bbm gue duluan?”. Seakan udah berkonspirasi, serentak
jawabannya sama, “nggak mau ganggu, Ta. Gue
tau lo sibuk, waktu malam istirahat. Kalau waktunya ngobrol juga nanti kita
ngobrol, kan?” atau yang agak kreatif dikit jawabnya begini, “gue yakin, nanti kalau lo kangen juga bakal
ngehubungin sendiri”.
Tapi semalam,
jawaban seorang teman membuat saya tersedak nasi goreng. Bukannya menjawab, dia
malah balik nanya, “lo pernah nggak sih,
dek, speechless sama orang? Bukan karena lo suka, grogi or something. Tapi karena
emang kalian udah sama-sama tahu sampe akhirnya topik obrolan udah abis. Nggak tau
lagi apa yang mau diomongin. That’s
what I feel”.
Sontak dong saya
bengong di-smash balik dengan cara
begitu. Saya nggak ngapung ke langit ke tujuh, tapi saya bingung. Antara harus
membenarkan dan menimpali. Sebelum sempat menjawab, dia nerusin, “semakin orang itu dekat, apalagi sering
ketemu, topik obrolan bakal abis. Lo nggak tau lagi apa yang mau diomongin. Bingung
karena udah sama-sama tau. Buat kakak sih, lebih baik nggak ketemu lama terus
sekalinya ketemu kita bisa cerita banyak. Ngobrol panjang. Itu lebih seru. That’s
quality time!”.
Sedetik. Dua detik.
Tiga detik. Pipi saya tiba-tiba memanas. Bukan karena ditampar, tapi dicubit. Mau
nggak mau saya ketawa, “bener juga lo,
kak!”. Nggak lama, seakan dunia dibalik, saya malah jadi bingung sendiri. Pasalnya,
dari bahan bacaan saya kesemuanya menyebutkan “semakin dekat dua orang, maka
akan semakin banyak yang dibagi dan diceritakan. Mereka akan sharing sehingga obrolan akan semakin
mendalam”.
Kontradiktif. Apa
yang disebutkan dalam buku memang benar, tapi ucapan teman saya pun nggak
salah.
Pindah ke Mc
Donald’s akhirnya kita berdua sadar kalau semuanya ini cuma masalah seberapa
besar hidup kita rela dimasukin orang lain. Apalah bedanya dirinya ini dengan
McD? Ada pintu masuk, drive thru’, kasir, makan di tempat, dibungkus, hingga
ruang kendali. Sama toh? Hidup saya pun begitu. Ada orang yang datang kalau ada
mau atau perlunya saja, ada yang stay lalu kalau sudah bosan pergi, nggak
sedikit juga yang “menawar” lalu pergi, tapi nggak banyak yang bisa masuk
sampai ruang kendali.
Self-disclosure alias segimananya sih kita membuka
diri. Mau berbagi dan bercerita tentang kehidupan, mulai dari hal sepele sampai
yang prinsip. Masalah ketemu setiap hari bikin speechless alias bosen atau nggak, saya rasa itu nggak sepenuhnya
mempengaruhi. Well..nggak sepenuhnya bukan berarti nggak berpengaruh sama
sekali ya! Karena kemarin, saya habis bertemu seseorang setelah tiga tahun
lamanya tetap aja sepanjang jalan kayak barisan tiang listrik di pinggir jalan
alias diem-dieman. Udah saya pancing untuk bercerita sampai nanya hal-hal bego,
jawabannya singkat. Setelah terpojok baru deh orangnya ngaku, “masih ya mau diungkit? Udah nggak ada yang
menarik dalam 3 tahun belakangan ini”. See? He didn’t allow me untuk masuk
lagi ke kehidupannya. I don’t know, mungkin saya sudah terlalu menyakiti atau
introvertnya semakin akut.
Saya jadi
teringat omongan teman saya. Sarkas, tapi menancap.
“Jangan terlalu dekat sama orang kalau urusan lo nggak mau dicampurin. Semakin dekat dengan orang, mereka bakal semakin leluasa ikut campur sama hidup lo. Masuk ke dalamnya. Gue sih ogah. Better come and go, no pain lingers”.
Saat saya
bertanya tentang konstribusinya terhadap orang lain, teman saya yang sarkas cuma
bales, “manfaat kan cuma terjadi saat
itu. Lagian bukan lo juga yang diinget, yang diinget itu jasa lo. Bukan lonya. Berapa
banyak sih orang yang inget orang kalau bukan apa yang dilakuinnya”.
0 comments: