#7HariMenulis
Kangen
Apa yang paling aneh di dunia ini?
Ada satu. Satu kata. Satu rasa. Kangen. Missing. Vermisse.
Gimana ya...dia itu aneh. Dia seperti ruh yang hidup saat
terpisah dari raga yang memberinya nafas. Dia bernafas saat si empunya
tenggelam dalam kenangan. Dia gagah saat si empunya dimabuk penyesalan. Dia
waras saat si empunya gila.
Kangen juga aneh. Seringnya dia menghampiri yang haram untuk
dikenang. Pengen dilupain, malah semakin kerasa. Semakin dirasa, malah bikin
hina.
Kangen mengundang sikap-sikap kontradiktif. Bagaimana tidak,
disuruh ketemu jawabnya “nggak mau, udah
nggak pantes”. Disuruh kontak ngelesnya, “ogah ah, gengsi”. Disuruh diam malah ngebales, “lama-lama gue bisa gila”. Nah lho, terus
maunya apa dari kangen?
Saya suka aneh dengan beberapa orang yang misuh kalau lagi
dilanda kangen. Lha piye, kangen kan erat kaitannya dengan memori, sedangkan
memori itu sendiri hasil dari perbuatan kita. Kalau kita nggak bahagia saat
diserang kangen, artinya kita tidak puas terhadap masa lalu kita. Nyesel gitu?
Hmm...agaknya harus sedikit berhati-hati. Jikalau begini,
tandanya ada kanal kosong dalam perkembangan hidup kita. Dibilang bahaya
mungkin nggak se-dangerous buaya yang
lepas dari penangkarannya. Tapi kalau di masa selanjutnya kita nggak cukup wise sama diri sendiri, ya masa lalu
bisa berubah jadi singa yang menerkam kehidupan kita.
Lihat saja beberapa orang yang merasa tidak puas dengan
kehidupan masa lalunya, di masa depan sikapnya menjadi negatif. Negatif di sini
tidak selalu berkaitan dengan kriminal ya, meski mayoritas berujung pada sikap
destruktif. Perhatikan Hitler yang begitu membenci Yahudi dan menganggap kaum
itu membuatnya miskin di saat kanak-kanak. Apa yang terjadi ketika Hitler menjadi
pemimpin? Ia menghabiskan kaum Yahudi. Atau nggak usah jauh-jauh, saya sering
ngobrol dengan beberapa orang yang sudah berumur dan seringnya mereka menutup
perbincangan dengan, “andai bapak/ibu
masih muda mungkin bla bla bla,”. Kembali, mereka berandai-andai ke masa
muda. Padahal secara psikologis, orangtua yang sehat adalah orang-orang yang
merasa puas dengan masa mudanya. Tidak berandai-andai untuk mengulang waktu
karena mereka tidak merasa menyesal.
Kanal kosong adalah tugas seseorang dalam perkembangan
hidupnya yang belum terpenuhi. Kalau kanal itu tidak dipenuhi pada periode
umurnya, maka tugasnya bertambah di periode selanjutnya. Misalnya, di periode
anak-anak seharusnya mereka mampu merawat dirinya. Apabila kemampuan itu tidak
terpenuhi, maka di periode remaja ia harus mengisi kanal “merawat diri”
sedangkan ia punya kanal “self-concept”
yang harus diisi. Begitu seterusnya jika kita tidak memenuhi kanal-kanal sesuai
periode usia. Pada akhirnya semakin tua akan semakin banyak kanal kosong,
semakin banyak pula tugas kita sebagai manusia.
Jangan dibayangkan kalau kanal-kanal dalam periode umur itu
seperti check list tugas. Kalau yang ini udah terus dicentang, kemudian
memenuhi yang itu. Bukan. Kanal-kanal ini akan terisi dengan sendirinya, bahkan
tanpa kita sadari. Inilah perkembangan manusia. Ia tumbuh dan berkembang
mengikuti waktu, kanal-kanal akan terisi dengan sendirinya. Namun bagi mereka
yang memahami dirinya, tidak mau kanal itu terisi begitu saja tanpa tahu apa
yang dimasukkan ke dalamnya. Oleh sebab itu, aneh lah bagi orang-orang yang
merindu namun tersiksa dengan masa lalunya. Bolehkah saya melemparkan pertanyaan,
“apakah kamu benar-benar sadar dengan apa
yang kamu lakukan di masa lalu?”.
Saya salute dengan
orang-orang yang mampu melawan setiap sayatan kangen. Mereka bahkan
menikmatinya! Orang-orang begini biasanya insan yang tahu betul dosa di masa
lalu. Biasanya dari kangen mereka bisa introspeksi diri. Mereka menyadari apa
yang membuatnya harus menarik nafas dalam-dalam kemudian membuka mata dan
berkata, “yes, this is the reality”. Ibarat
imun, mereka bisa mengobati dirinya sendiri. Apakah rasa sakit itu layak atau
tidak, kita tidak pernah tahu. Hanya mereka sendiri yang mampu menjawabnya,
bahkan terkadang mereka pun tidak mampu menjawabnya.
Sayang saya bukan mahasiswa Psikologi. Kalau iya, mungkin
saya bisa sok-sokan ngebedah kangen pakai psikoanalisis.
“Git, barusan bilang ‘sayang
saya bukan mahasiswa Psikologi’ ? Nyesel jadi mahasiswa komunikasi?”
Ups, nggak. Emm..maksud saya..err..bukan begitu. Tapi,
emm....
“Be careful dengan
perasaanmu. Dia adalah peliharaan yang hidup di alam bawah sadar. Jaga
baik-baik, bisa jadi dia adalah kanal kosong yang akan menerungkup kamu di masa
tua nanti”.
Na’udzubillah!
Buru-buru deh jadi manusia yang bersyukur sebelum telat. Dan
oh iya, beresin juga semua unfinished
business sebelum terlambat.
0 comments: