#7HariMenulis

Kangen

9:38 PM Tameila 0 Comments

Apa yang paling aneh di dunia ini?

Ada satu. Satu kata. Satu rasa. Kangen. Missing. Vermisse.

Gimana ya...dia itu aneh. Dia seperti ruh yang hidup saat terpisah dari raga yang memberinya nafas. Dia bernafas saat si empunya tenggelam dalam kenangan. Dia gagah saat si empunya dimabuk penyesalan. Dia waras saat si empunya gila.

Kangen juga aneh. Seringnya dia menghampiri yang haram untuk dikenang. Pengen dilupain, malah semakin kerasa. Semakin dirasa, malah bikin hina.

Kangen mengundang sikap-sikap kontradiktif. Bagaimana tidak, disuruh ketemu jawabnya “nggak mau, udah nggak pantes”. Disuruh kontak ngelesnya, “ogah ah, gengsi”. Disuruh diam malah ngebales, “lama-lama gue bisa gila”. Nah lho, terus maunya apa dari kangen?

Saya suka aneh dengan beberapa orang yang misuh kalau lagi dilanda kangen. Lha piye, kangen kan erat kaitannya dengan memori, sedangkan memori itu sendiri hasil dari perbuatan kita. Kalau kita nggak bahagia saat diserang kangen, artinya kita tidak puas terhadap masa lalu kita. Nyesel gitu?

Hmm...agaknya harus sedikit berhati-hati. Jikalau begini, tandanya ada kanal kosong dalam perkembangan hidup kita. Dibilang bahaya mungkin nggak se-dangerous buaya yang lepas dari penangkarannya. Tapi kalau di masa selanjutnya kita nggak cukup wise sama diri sendiri, ya masa lalu bisa berubah jadi singa yang menerkam kehidupan kita.

Lihat saja beberapa orang yang merasa tidak puas dengan kehidupan masa lalunya, di masa depan sikapnya menjadi negatif. Negatif di sini tidak selalu berkaitan dengan kriminal ya, meski mayoritas berujung pada sikap destruktif. Perhatikan Hitler yang begitu membenci Yahudi dan menganggap kaum itu membuatnya miskin di saat kanak-kanak. Apa yang terjadi ketika Hitler menjadi pemimpin? Ia menghabiskan kaum Yahudi. Atau nggak usah jauh-jauh, saya sering ngobrol dengan beberapa orang yang sudah berumur dan seringnya mereka menutup perbincangan dengan, “andai bapak/ibu masih muda mungkin bla bla bla,”. Kembali, mereka berandai-andai ke masa muda. Padahal secara psikologis, orangtua yang sehat adalah orang-orang yang merasa puas dengan masa mudanya. Tidak berandai-andai untuk mengulang waktu karena mereka tidak merasa menyesal.

Kanal kosong adalah tugas seseorang dalam perkembangan hidupnya yang belum terpenuhi. Kalau kanal itu tidak dipenuhi pada periode umurnya, maka tugasnya bertambah di periode selanjutnya. Misalnya, di periode anak-anak seharusnya mereka mampu merawat dirinya. Apabila kemampuan itu tidak terpenuhi, maka di periode remaja ia harus mengisi kanal “merawat diri” sedangkan ia punya kanal “self-concept” yang harus diisi. Begitu seterusnya jika kita tidak memenuhi kanal-kanal sesuai periode usia. Pada akhirnya semakin tua akan semakin banyak kanal kosong, semakin banyak pula tugas kita sebagai manusia.

Jangan dibayangkan kalau kanal-kanal dalam periode umur itu seperti check list tugas. Kalau yang ini udah terus dicentang, kemudian memenuhi yang itu. Bukan. Kanal-kanal ini akan terisi dengan sendirinya, bahkan tanpa kita sadari. Inilah perkembangan manusia. Ia tumbuh dan berkembang mengikuti waktu, kanal-kanal akan terisi dengan sendirinya. Namun bagi mereka yang memahami dirinya, tidak mau kanal itu terisi begitu saja tanpa tahu apa yang dimasukkan ke dalamnya. Oleh sebab itu, aneh lah bagi orang-orang yang merindu namun tersiksa dengan masa lalunya. Bolehkah saya melemparkan pertanyaan, “apakah kamu benar-benar sadar dengan apa yang kamu lakukan di masa lalu?”.

 Saya salute dengan orang-orang yang mampu melawan setiap sayatan kangen. Mereka bahkan menikmatinya! Orang-orang begini biasanya insan yang tahu betul dosa di masa lalu. Biasanya dari kangen mereka bisa introspeksi diri. Mereka menyadari apa yang membuatnya harus menarik nafas dalam-dalam kemudian membuka mata dan berkata, “yes, this is the reality”. Ibarat imun, mereka bisa mengobati dirinya sendiri. Apakah rasa sakit itu layak atau tidak, kita tidak pernah tahu. Hanya mereka sendiri yang mampu menjawabnya, bahkan terkadang mereka pun tidak mampu menjawabnya.

Sayang saya bukan mahasiswa Psikologi. Kalau iya, mungkin saya bisa sok-sokan ngebedah kangen pakai psikoanalisis.

“Git, barusan bilang ‘sayang saya bukan mahasiswa Psikologi’ ? Nyesel jadi mahasiswa komunikasi?”

Ups, nggak. Emm..maksud saya..err..bukan begitu. Tapi, emm....

Be careful dengan perasaanmu. Dia adalah peliharaan yang hidup di alam bawah sadar. Jaga baik-baik, bisa jadi dia adalah kanal kosong yang akan menerungkup kamu di masa tua nanti”.

Na’udzubillah!

Buru-buru deh jadi manusia yang bersyukur sebelum telat. Dan oh iya, beresin juga semua unfinished business sebelum terlambat.

You Might Also Like

0 comments: