Museum Banten Lama: Yang Tertinggal dan Yang Hilang
Kota beragama. Begitu kata mereka setiap mendengar kota saya berasal. Ada juga yang bilang kota sakti. Katanya sih di kota ini banyak orang sakti, yang nggak mempan dibacok atau disambit golok, dan juga ahli santet, pelet, atau sejenisnya. Entah lah mana yang tepat menggambarkan kota saya dilahirkan. Bagi saya, nafas Banten lebih dari sekedar spiritualitasnya.
Lama tinggal di Jogja dan bergumul dengan kebudayaannya membuat
saya paham betapa mendalam self belonging
warga Yogyakarta. Heran, tapi benar terjadi, self belonging ini nggak hanya mendera penduduk asli, tapi juga
pendatang. Lha saya ini contohnya. Tiga tahun yang lalu jiper tinggal sendiri di kota istimewa ini, sekarang malah betah
dan masih pengen banyak belajar dari kebudayaannya. Dulu masih malu-malu
belajar bahasanya, sekarang biar keren dikit baca-baca tentang Nyi Roro Kidul padahal
habis sempat tiga hari berturut-turut mimpi seram. Well then…hal itu nggak
menyurutkan saya untuk semakin ingin tahu tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah
semakin tahu, semakin penasaran, semakin jatuh cinta.
Layaknya orang jatuh cinta, pada titik tertentu kita pasti
akan terdiam dan berefleksi. Di titik itu lah saya bertanya pada diri sendiri, “kalau lo berusaha keras untuk tahu tentang Yogyakarta
dan jatuh cinta karenanya, seberapa besar lo mengenal Banten? Seberapa tahu lo
tentangnya dan bisa kah lo juga jatuh cinta karenanya? Bisa kah lo ngeliat
Banten selain dari pemerintahannya?”.
Ya, akhirnya itulah salah satu alasan yang membuat saya
untuk mengambil cuti seminggu dari pekerjaan saya. Niatnya mencari cinta yang
telah hilang, ups…bukan, mencari alasan untuk mencintai yang belum tercintai
dan mempertahankan cinta kepada yang telah tercinta. Pulang ke Serang, ke tanah
beragama yang katanya juga sakti.
Salah satu tempat pencarian cinta saya adalah museum, namanya
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Begitulah tulisan yang tercetak di
tembok dekat gerbang masuk. Harapannya di tempat ini saya memiliki alasan
secara historis untuk mencintai Banten. Setidaknya dengan mengetahui sejarah
saya tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya.
Masuk ke sana hanya membutuhkan selembar uang Pattimura. Seribu
rupiah. Jejak langkah pertama mata kita langsung disambut dengan dua gentong
tanah liat berukuran besar. Latarnya menyebutkan bahwa selepas kerajaan
Hindu-Budha, Banten Girang diserahkan kepada Maulana Hasanuddin yang kemudian
menjadi pusat pemerintahan Banten.
Hmm…Sultan Maulana
Hasanuddin. Saya tersenyum. It’s been for years nggak meresapinya sebagai
salah satu sultan Banten. Maklum, terakhir main ke museum Banten itu..emm..SMP
kah? No. SD. Okay, saya lupa.
Saya menghirup nafas dalam-dalam. Aroma kayu, debu, sekaligus
pengap menguar di bulu-bulu hidung saya. Suasana saat itu hening. Sangat hening.
Sayang itu hanyalah sugesti dari otak saya untuk menampikkan bahwa sesungguhnya
museum itu sepi. Bagaimana tidak, sejak di loket pembelian tiket saya melirik
buku pengunjung dan hari itu baru empat pengunjung yang datang. Ditambah saya
dan teman saya jadinya enam. Dalam sehari hanya enam orang yang datang! Ketika
saya bertanya banyak kah yang berkunjung ke sana, dengan rendah hati si teteh penjaga loket menjawab,
“Alhamdulillah atuh teh rame, setiap hari mah ada aja yang dateng.”
Enam orang pengunjung dalam waktu delapan jam operasional
masih dibilang ramai?! Baiklah, seharusnya memang patut disyukuri setiap hari
masih ada yang mau berkunjung ke bangunan itu. Terlepas dari niatnya yang
beragam, mungkin untuk rekreasi atau mencari cinta seperti saya, yang penting
masih ada orang yang berkenan masuk dan melihat kehidupan Banten lama.
Apa yang saya harapkan dari Jogja nampaknya harus ditelan
bulat-bulat. Jangan bandingkan museum ini dengan museum-museum yang ada di
Jogja. Kalau museum-museum di Jogja yang bagus aja masih sepi, bagaimana
nasibnya bangunan ini kalau di taruh di sana? Mungkin lama kelamaan jadi tempat
transit barang dagangan kaki lima. Jelas aja, bangunan ini nggak lebih dari
bangunan tua yang dikelilingi pedagang aksesoris dan kios makanan-minuman. Tempatnya
yang terpencil semakin tertutup oleh tenda-tenda pedagang.
Di dalam museum hanya ada pecahan guci, beberapa benda tanah
liat yang sudah gumpal, uang logam berkarat, dan sebangun rumah adat salah satu
suku di Banten. Ada juga sepasang baju kerjaan yang dipajang tapi tidak terawat
dengan baik. Beberapa lukisan pun catnya sudah usang, bahkan ada beberapa yang
pinggiran bingkainya sudah gumpal. Kesemuanya tergeletak begitu saja, tanpa ada
penataan yang membuat pengunjung nyaman mengamati. Tidak ada caption atau
pejelasan apapun yang mampu memuaskan pencarian cinta ini.
Lemari-lemari kaca memang masih tegak berdiri, seakan
menantang waktu yang membuatnya kian lama kian usang. Atau malah memelihara
laba-laba di dalamnya? Untuk kesekian kalinya, entah lah…angan-angan saya untuk
mendapatkan cerita tentang kerjaan Banten Girang dari museum ini tampaknya
harus dikubur.
Seperti mengerti kekecewaan saya, seorang teman yang asyik
meraba sebuah nisan menjawab keluhan saya,
“Nggak heran kali. Benda kayak gini kan laku dijual. Harganya mahal. Mungkin aja abis digali langsung dijual”.
Money. It’s all about money.
Saya pernah membaca sebuah buku, judulnya Lalita karya Ayu
Utami. Di bagian awal diceritakan bahwa ada seorang ayah berkata kepada anaknya,
mirip seperti yang dikatakan teman saya tadi. Saat itu si anak merasa sakit
hati. Ada rasa perih yang mendera jiwanya. Ya, begitu lah yang saya rasakan
ketika harus mendengar kenyataan dari mulut teman saya. Ironis memang, tapi
begitu lah kenyataannya. Seakan kalimat di tembok pintu keluar yang mengandung
pesan “dengan mengenal sejarah kita akan menghargai budaya dan meningkatkan
iman dan takwa” hanyalah barisan huruf-huruf bisu.
Keluar dari bangunan putih itu kami tidak langsung pulang. Kami
berjalan sejenak ke sisi-sisi bangunan. Saya masih berharap ada sesuatu yang
setidaknya memuaskan pencarian cinta saya. Di sebelah kiri bangunan tergeletak
sekitar tujuh nisan cina. Tanpa caption. Tanpa penjelasan. Tanpa cerita
sejarah. Tak jauh dari sana ada sebentuk batu yang konon dulunya alat
penggiling tebu. Sudah tidak ada apa-apa lagi. Akhirnya sebelum pulang kami
melangkahkan kaki ke utara, tempat sebuah meriam yang terkenal. Hanya itu lah
benda yang satu-satunya warga sekitar pahami dari museum Banten ini. Sejak saya
masih bermerah-putih sampai sekarang, meriam ini lah yang membuat museum Banten
terkenal. Untunglah meriam itu tampaknya terawat dengan baik sehingga masih
bisa menjadi ikon si bangunan tua.
Matahari turun perlahan. Saya merasa harus kembali sebelum
langit berubah menjadi lembayung. Sebenarnya saya ingin masuk ke benteng yang
terletak tepat di depan bangunan museum. Sayang, saat itu pintu masuk benteng
digembok. Demi menjaga pikiran yang
positif, saya berkata dalam hati kalau saat itu jam kunjung sudah habis, bukan
karena memang tidak pernah diberdayakan sebagai media penganalan sejarah
Banten.
Sepanjang jalan menjauhi daerah Banten lama di kanan-kiri
terdapat beberapa bangunan aneh. Teman saya menjawab,
“Itu makam raja-raja. Biasa dipakai buat ziarah”.
Makan raja? Ziarah? Ah iya, mengapa saya lupa dengan
kebudayaan masyarakat sini yang masih senang sekali berziarah ke makam raja? Ketika
saya sadari tak hanya makam-makam raja, tetapi pesantren-pesantren pun masih
eksis di sekitarnya, baik yang berukuran besar atau kecil. Langgar-langgar,
tempat mengaji dan menghafal Al-Qur’an. Ah ya, ini lah mengapa Banten kental
dengan agamanya.
Perlahan kekecewaan saya meluntur. Setidaknya ada beberapa memori
masa kecil yang menumbuhkan kembali kecintaan ini kepada tanah kelahiran. Ada
dorongan untuk mengenalnya lebih jauh, tidak hanya melalui kisah-kisah pribadi
masa lalu tapi sebisa mungkin juga secara ilmiah. Ketinggian kah impian itu?
Kami semakin menjauhi Banten lama dan seketika sebuah
pertanyaan mendesak hati saya.
“Banten itu sempat jadi tempat penyebaran agama Islam kan? Agama Islamnya kuat, kan?” tanya saya minta diyakinkan kepada teman saya.“Iya”.“Selama di museum tadi lihat mushaf Al-Qur’an?”Dia diam, kemudian menggeleng. “Enggak”.“Hey, aneh nggak sih?! Banten yang terkenal Islam-nya tapi di museum tadi nggak satu pun kita temuin mushaf Al-Qur’an. Apapun yang meninggalkan jejak Al-Qur’an nggak ada toh tadi di sana?”“Iya, nggak ada”.Datar. Suara teman saya datar. Mungkin dia nggak peduli dengan sejarah Banten, atau mungkin di balik helm-nya dia tersenyum satir.
Ironis. Padahal Banten kini sedang berupaya untuk
mengembangkan diri sebagai kota pariwisata. Apakah pariwisata hanya dilihat
dari tempat-tempat yang mampu menyediakan keindahan alam? Apakah kota
pariwisata artinya sebatas destinasi pantai, pulau, gunung, bukit, atau
perkebunan? Tidak kah museum mampu menjadi destinasi pariwisata? Tidak kah
makam-makam raja pantas menjadi destinasi pariwisata? Ke mana rencana
rehabilitasi museum dan benteng yang terpampang di tembok museum Banten tadi?
Kenapa jalan menuju tempat makam raja, museum, benteng, dan masjid agung begini
rusaknya? Tidak adakah lokalisasi pedagang sehingga tendanya tidak menutupi
museum? Mengapa bendera merah putih di depan museum begitu usang? Dan…ke mana
lembaran-lembaran suci ayat Al-Qur’an sebagai saksi bisu betapa spiritualnya
kota ini?
Demi menjaga kecintaan, sebaiknya pertanyaan itu tidak saya ajukan.
0 comments: