Body Matter
“Hidup ini nggak kayak fairy tale ya, Ta?”“Ya menurut lo?”“Iya, nggak ada ciuman di tengah taman, di antara rumput-rumput gitu, atau di bawah hujan”.“Ya kali, itu cuma Edward Cullen sama Bella Swan”.
Begitulah alasan saya menyukai fairy
tale. Dongeng. Kisah cinta seorang putri dan pangeran. Istana. Kuda putih.
Pedang. Perjuangan. Darah. Air mata. Cinta. Tampaknya semua penantian dan
perjuangan dibayar dengan kebahagiaan. Happy
ending. Happily ever after. Tapi kenyataannya nggak seperti itu toh? Nggak
semua penantian patut diteruskan. Nggak setiap perjuangan dibayar kebahagiaan.
Sama halnya dengan ciuman pertama. Nggak selamanya menyisakan senyuman.
Bukan cuma satu-dua orang yang
datang ke saya dan malu-malu bercerita tentang ciuman pertamanya. Bukan juga
cuma cerita tentang ciuman, ada yang sampai menuturkan rasanya berpeluh dengan
pasangannya. Pasangan di sini nggak mesti pacar, bisa teman yang ke bawa
suasana, selingkuhan, gebetan, yang pasti nggak sendirian. Soalnya sampai
sekarang belum pernah ada yang jujur ke saya kalau menstimulasi dirinya sendiri
untuk libido.
Sayang, bisa dihitung hanya beberapa
yang berbagi kisah pengalamannya itu dengan senyuman. Sisanya dengan air mata,
kepalan tangan, atau helaan nafas berat. Menyesalkah mereka? Beberapa menjawab
iya, selebihnya menggelengkan kepala. Dengan lirih mereka jujur kalau nggak
bisa ngebedain rasanya bahagia dan bersalah. Ketika saya bertanya, “kenapa? Kok ngerasa bersalah?”. Mereka
jawab, “iya lah, Ta. Sekarang diri gue
udah kotor”.
Ngomong-ngomong, sebenarnya
pertanyaan itu nggak dijawab juga nggak apa-apa. Itu cuma pertanyaan retoris.
Saya sudah tau jawabannya. Hanya saja saya ingin tahu, apakah pemikiran
perempuan sekarang udah “belok” apa masih “lempeng”
tentang “kesucian”. Syukur, mayoritas masih “lempeng”. Tapi ironisnya, hubungan seksual yang dilakukan dengan
rasa penyesalan atau diakhiri dengan rasa penyesalan adalah hubungan seksual
yang nggak sehat. Eh, ini bukan kata saya pribadi, tapi kata seorang ahli
gender dan seksualitas. Seorang dosen sekaligus ibu luar biasa yang pernah
menghabiskan menit-menit diskusi singkat dengan saya.
Begitu pun dengan yang diungkapkan
oleh Alfred Charles Kinsey. Rasanya dulu saya pernah menulis ini, yang bunyinya
“satu-satunya tindak seks yang tidak
normal adalah yang tidak bisa kita lakukan”. Entah tidak bisa dilakukan di
sini karena memang tidak tahu caranya, atau kah merasa bersalah ketika
melakukannya. Nah, karena ilmu saya masih cetek,
jadi saya menggolongkan orang-orang yang menyesal dengan hubungan seksualnya
adalah orang-orang yang melakukan tindak seks tidak normal.
Let me explain. Stop! Jangan dulu
men-judge saya ini perempuan
berkerudung yang meng-amin-i seks bebas. Oh, the big NO! Saya tetap meyayangkan
perempuan-perempuan yang berumur dini melepaskan virginitasnya (walau pun
begitu, saya tetap menghormati karena itu adalah pilihan mereka). Tapi jauh
dalam lubuk hati saya, saya lebih menyayangkan perempuan-perempuan yang
menyakiti diri sendiri, baik secara fisik maupun pikiran, karena telah menyesal
melakukan tindakan seks.
Hello, ladies, sekeras apa pun
kalian menyalahkan diri sendiri nggak akan mengubah status kalian yang telah
“terpakai”! Sound rude?! Indeed! Tapi memang itu toh yang kalian pikirkan?
Merasa bersalah. Berdosa. Nggak bernilai. Buruk. Blah blah blah. Akhirnya
kalian melakukan dua opsi ini: mengisolasi diri dan menyalahkan pihak
laki-laki. Padahal coba deh kalian flash back nih, ingat lagi “kejadian” itu.
Apakah bisa terjadi hanya karena adanya si laki-laki? Nggak toh? Logikanya,
tangan nggak akan bersuara kalau tidak ditepuk oleh satunya. Nggak ada gayung
bersambut istilahnya. Kalian mempersilahkan si pria untuk melakukan itu. Nggak
usah nyalahin setan, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang lebih pintar
dibanding malaikat sekalipun.
Kalian punya seribu satu alasan
untuk membenci si cowok, then apakah itu menyelesaikan permasalahan? Berpikir
si cowok brengsek, bajingan, nggak sayang, dan nggak menghormati kita. Terus?
Kita nggak pernah tahu isi hati orang, mungkin bagi pria berhati mulia akan
feeling guilty. Tapi mau taruhan berapa yang perasaan menyesalnya sebesar
perasaan menyesal pihak perempuan?
Ladies, open your eyes! Masalah yang
sebenar-benarnya masalah adalah apakah kalian mau menerima “status” baru kalian
itu? It’s hard. Sulit. Nggak bisa mengandalkan pasangan waktu “having fun” dulu, teman-teman, bahkan
orangtua. Nggak. Kuncinya adalah di diri kalian. Seberapa jauh kalian mau
memaafkan diri sendiri, menerima “kondisi” baru, dan nggak mengulangi tindakan
yang sama.
Pada suatu titik mungkin akan
berhadapan dengan orang-orang, khususnya perempuan yang bilang,
“Ih, gila aja sama cewek yang udah ‘dipake’”.“Cewek itu harus ngejaga dirinya, karena itu adalah kesuciannya”.“Keperawanan gue cuma buat suami gue”.…dan blah blah blah.
Pasti akan ada perasaan tersudut.
Terkucil. Terpukul. Tersentil. It’s okay. Tapi semakin kita terlarut dengan
perasaan-perasaan itu dan menyetujuinya, semakin sulit pula kita respek dengan
diri sendiri. Bagaimana tidak, bawaannya ya balik lagi, mikir diri ini udah
kotor, nggak suci, dan serentetan lainnya.
Apa yang dilakukan masa lalu memang
salah. Tapi nggak berarti terus-terusan melabelkan diri dengan “wanita nggak
suci”. Ingat, salah dan tidaknya itu konstruksi sosial. Dari kecil kita
diajarin untuk menjaga keperawanan. Pakai baju jangan ketat-ketat nanti
payudara ngejiplak. Rok jangan terlalu pendek nanti paha ke mana-mana atau
celana dalam tersingkap. Dandan nggak boleh berlebihan nanti mengundang orang
buat memperkosa. Dan sejumlah aturan lainnya. Bagus sih, tapi hal itu pun yang
akhirnya membuat kita merasa di pihak yang paling salah saat melakukan tindakan
tersebut.
Saya sebagai perempuan nggak
menyalahkan pihak perempuan, nggak juga berdiri di pihak laki-laki. Sebagai
manusia dan insan yang dianugerahi cinta, semestinya kita saling menjaga. Cinta
itu penghormatan, bukan? Menghormati artinya tidak merusak, melainkan menjaga.
Menjaga yang suci, dan tidak menyakiti yang dianggap tidak suci.
Saya jadi teringat ucapan teman saya
saat bercerita tentang pengalaman making
love pertamanya saat SMA. Dia bilang begini,
Sejalan dengan beberapa ucapan juga yang intinya, “jangan salahkan pria kalau perempuan diperkosa. Habisnya kalian juga yang pakai baju mini dan tembus pandang”.“Gue heran, Ta. Sekarang dia nyesel-nyesel gitu. Kadang suka nangis sambil nyalah-nyalain gue. Kenapa sih kalau urusan begini pasti cowoknya yang disalahin? Nggak ngehormatin lah, nggak ngejaga lah. Padahal dianya juga nikmatin kan!”
Sekarang salah nggak kalau saya
bilang, “harusnya laki-laki, yang konon
katanya dinobatkan sebagai pemimpin bagi perempuan, pun bisa menjaga diri.
Menahan nafsu. Bukan kah pemimpin itu melindungi yang dipimpinnya?”.
Sebenarnya masih banyak rentetan kalimat kalau mau saling mematenkan peran
laki-laki dan perempuan, tapi mau sampai kapan? Hidup di tatanan patriarki akan
selalu memosisikan laki-laki superior. Pihak yang paling benar. Paling
berkuasa. Paling tinggi. Paling suci. Mau se-open minded apapun pasangan kita, kalau lingkungannya patriarki
sejati ya tetap aja akan begitu.
Nggak ada cara lain selain menerima
diri apa adanya. Memaafkan diri yang masih awam dan papa tentang “kehormatan”
dan “kesucian”. Adanya tulisan ini bukan semata barisan kalimat tanpa ruh. Ada
juga nafas berat saya di dalamnya. Ada juga air mata. Begitu pun kepalan
tangan. Tapi bukan lagi untuk menyesal, melainkan untuk mengusir pemikiran
kalau perempuan suci adalah perempuan yang belum “tersentuh” pria. Suci itu
kata sifat, artinya subjektif. Bagi saya, perempuan suci adalah perempuan yang
menjaga pikirannya untuk selalu positif terhadap apa yang terjadi pada dirinya,
karena dia yakin semuanya atas izin Tuhan dan ada maksud-Nya di balik itu
semua.
Sebelum saya akhiri, saya ingin
bertanya,
Sekian, ladies and gentle men. It’s just a body matter.“kalau perempuan yang berparfume dan ketika lewat kerumuman orang wanginya tercium maka dikatakan pezina, apakah hal itu juga berlaku bagi laki-laki?”.
0 comments: