Body Matter

8:28 PM Tameila 0 Comments



“Hidup ini nggak kayak fairy tale ya, Ta?”
“Ya menurut lo?”
“Iya, nggak ada ciuman di tengah taman, di antara rumput-rumput gitu, atau di bawah hujan”.
“Ya kali, itu cuma Edward Cullen sama Bella Swan”.
Begitulah alasan saya menyukai fairy tale. Dongeng. Kisah cinta seorang putri dan pangeran. Istana. Kuda putih. Pedang. Perjuangan. Darah. Air mata. Cinta. Tampaknya semua penantian dan perjuangan dibayar dengan kebahagiaan. Happy ending. Happily ever after. Tapi kenyataannya nggak seperti itu toh? Nggak semua penantian patut diteruskan. Nggak setiap perjuangan dibayar kebahagiaan. Sama halnya dengan ciuman pertama. Nggak selamanya menyisakan senyuman.

Bukan cuma satu-dua orang yang datang ke saya dan malu-malu bercerita tentang ciuman pertamanya. Bukan juga cuma cerita tentang ciuman, ada yang sampai menuturkan rasanya berpeluh dengan pasangannya. Pasangan di sini nggak mesti pacar, bisa teman yang ke bawa suasana, selingkuhan, gebetan, yang pasti nggak sendirian. Soalnya sampai sekarang belum pernah ada yang jujur ke saya kalau menstimulasi dirinya sendiri untuk libido.

Sayang, bisa dihitung hanya beberapa yang berbagi kisah pengalamannya itu dengan senyuman. Sisanya dengan air mata, kepalan tangan, atau helaan nafas berat. Menyesalkah mereka? Beberapa menjawab iya, selebihnya menggelengkan kepala. Dengan lirih mereka jujur kalau nggak bisa ngebedain rasanya bahagia dan bersalah. Ketika saya bertanya, “kenapa? Kok ngerasa bersalah?”. Mereka jawab, “iya lah, Ta. Sekarang diri gue udah kotor”.
 
Ngomong-ngomong, sebenarnya pertanyaan itu nggak dijawab juga nggak apa-apa. Itu cuma pertanyaan retoris. Saya sudah tau jawabannya. Hanya saja saya ingin tahu, apakah pemikiran perempuan sekarang udah “belok” apa masih “lempeng” tentang “kesucian”. Syukur, mayoritas masih “lempeng”. Tapi ironisnya, hubungan seksual yang dilakukan dengan rasa penyesalan atau diakhiri dengan rasa penyesalan adalah hubungan seksual yang nggak sehat. Eh, ini bukan kata saya pribadi, tapi kata seorang ahli gender dan seksualitas. Seorang dosen sekaligus ibu luar biasa yang pernah menghabiskan menit-menit diskusi singkat dengan saya.

Begitu pun dengan yang diungkapkan oleh Alfred Charles Kinsey. Rasanya dulu saya pernah menulis ini, yang bunyinya “satu-satunya tindak seks yang tidak normal adalah yang tidak bisa kita lakukan”. Entah tidak bisa dilakukan di sini karena memang tidak tahu caranya, atau kah merasa bersalah ketika melakukannya. Nah, karena ilmu saya masih cetek, jadi saya menggolongkan orang-orang yang menyesal dengan hubungan seksualnya adalah orang-orang yang melakukan tindak seks tidak normal.

Let me explain. Stop! Jangan dulu men-judge saya ini perempuan berkerudung yang meng-amin-i seks bebas. Oh, the big NO! Saya tetap meyayangkan perempuan-perempuan yang berumur dini melepaskan virginitasnya (walau pun begitu, saya tetap menghormati karena itu adalah pilihan mereka). Tapi jauh dalam lubuk hati saya, saya lebih menyayangkan perempuan-perempuan yang menyakiti diri sendiri, baik secara fisik maupun pikiran, karena telah menyesal melakukan tindakan seks.

Hello, ladies, sekeras apa pun kalian menyalahkan diri sendiri nggak akan mengubah status kalian yang telah “terpakai”! Sound rude?! Indeed! Tapi memang itu toh yang kalian pikirkan? Merasa bersalah. Berdosa. Nggak bernilai. Buruk. Blah blah blah. Akhirnya kalian melakukan dua opsi ini: mengisolasi diri dan menyalahkan pihak laki-laki. Padahal coba deh kalian flash back nih, ingat lagi “kejadian” itu. Apakah bisa terjadi hanya karena adanya si laki-laki? Nggak toh? Logikanya, tangan nggak akan bersuara kalau tidak ditepuk oleh satunya. Nggak ada gayung bersambut istilahnya. Kalian mempersilahkan si pria untuk melakukan itu. Nggak usah nyalahin setan, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang lebih pintar dibanding malaikat sekalipun.

Kalian punya seribu satu alasan untuk membenci si cowok, then apakah itu menyelesaikan permasalahan? Berpikir si cowok brengsek, bajingan, nggak sayang, dan nggak menghormati kita. Terus? Kita nggak pernah tahu isi hati orang, mungkin bagi pria berhati mulia akan feeling guilty. Tapi mau taruhan berapa yang perasaan menyesalnya sebesar perasaan menyesal pihak perempuan?

Ladies, open your eyes! Masalah yang sebenar-benarnya masalah adalah apakah kalian mau menerima “status” baru kalian itu? It’s hard. Sulit. Nggak bisa mengandalkan pasangan waktu “having fun” dulu, teman-teman, bahkan orangtua. Nggak. Kuncinya adalah di diri kalian. Seberapa jauh kalian mau memaafkan diri sendiri, menerima “kondisi” baru, dan nggak mengulangi tindakan yang sama.

Pada suatu titik mungkin akan berhadapan dengan orang-orang, khususnya perempuan yang bilang,
 Ih, gila aja sama cewek yang udah ‘dipake’”.
“Cewek itu harus ngejaga dirinya, karena itu adalah kesuciannya”.
“Keperawanan gue cuma buat suami gue”.
 …dan blah blah blah.
Pasti akan ada perasaan tersudut. Terkucil. Terpukul. Tersentil. It’s okay. Tapi semakin kita terlarut dengan perasaan-perasaan itu dan menyetujuinya, semakin sulit pula kita respek dengan diri sendiri. Bagaimana tidak, bawaannya ya balik lagi, mikir diri ini udah kotor, nggak suci, dan serentetan lainnya.

Apa yang dilakukan masa lalu memang salah. Tapi nggak berarti terus-terusan melabelkan diri dengan “wanita nggak suci”. Ingat, salah dan tidaknya itu konstruksi sosial. Dari kecil kita diajarin untuk menjaga keperawanan. Pakai baju jangan ketat-ketat nanti payudara ngejiplak. Rok jangan terlalu pendek nanti paha ke mana-mana atau celana dalam tersingkap. Dandan nggak boleh berlebihan nanti mengundang orang buat memperkosa. Dan sejumlah aturan lainnya. Bagus sih, tapi hal itu pun yang akhirnya membuat kita merasa di pihak yang paling salah saat melakukan tindakan tersebut.

Saya sebagai perempuan nggak menyalahkan pihak perempuan, nggak juga berdiri di pihak laki-laki. Sebagai manusia dan insan yang dianugerahi cinta, semestinya kita saling menjaga. Cinta itu penghormatan, bukan? Menghormati artinya tidak merusak, melainkan menjaga. Menjaga yang suci, dan tidak menyakiti yang dianggap tidak suci.

Saya jadi teringat ucapan teman saya saat bercerita tentang pengalaman making love pertamanya saat SMA. Dia bilang begini,
Gue heran, Ta. Sekarang dia nyesel-nyesel gitu. Kadang suka nangis sambil nyalah-nyalain gue. Kenapa sih kalau urusan begini pasti cowoknya yang disalahin? Nggak ngehormatin lah, nggak ngejaga lah. Padahal dianya juga nikmatin kan!”
Sejalan dengan beberapa ucapan juga yang intinya, “jangan salahkan pria kalau perempuan diperkosa. Habisnya kalian juga yang pakai baju mini dan tembus pandang”.
 
Sekarang salah nggak kalau saya bilang, “harusnya laki-laki, yang konon katanya dinobatkan sebagai pemimpin bagi perempuan, pun bisa menjaga diri. Menahan nafsu. Bukan kah pemimpin itu melindungi yang dipimpinnya?”. Sebenarnya masih banyak rentetan kalimat kalau mau saling mematenkan peran laki-laki dan perempuan, tapi mau sampai kapan? Hidup di tatanan patriarki akan selalu memosisikan laki-laki superior. Pihak yang paling benar. Paling berkuasa. Paling tinggi. Paling suci. Mau se-open minded apapun pasangan kita, kalau lingkungannya patriarki sejati ya tetap aja akan begitu.

Nggak ada cara lain selain menerima diri apa adanya. Memaafkan diri yang masih awam dan papa tentang “kehormatan” dan “kesucian”. Adanya tulisan ini bukan semata barisan kalimat tanpa ruh. Ada juga nafas berat saya di dalamnya. Ada juga air mata. Begitu pun kepalan tangan. Tapi bukan lagi untuk menyesal, melainkan untuk mengusir pemikiran kalau perempuan suci adalah perempuan yang belum “tersentuh” pria. Suci itu kata sifat, artinya subjektif. Bagi saya, perempuan suci adalah perempuan yang menjaga pikirannya untuk selalu positif terhadap apa yang terjadi pada dirinya, karena dia yakin semuanya atas izin Tuhan dan ada maksud-Nya di balik itu semua.

Sebelum saya akhiri, saya ingin bertanya,

kalau perempuan yang berparfume dan ketika lewat kerumuman orang wanginya tercium maka dikatakan pezina, apakah hal itu juga berlaku bagi laki-laki?”.
Sekian, ladies and gentle men. It’s just a body matter.

You Might Also Like

0 comments: