Dari Balik Hijab
“Illusions commend themselves to us because they save us pain and allow us to enjoy pleasure instead. We must therefore accept it without complaint when they sometimes collide with a bit of reality against which they are dashed to pieces.” ― Sigmund Freud, Reflections on War and Death (www.goodreads.com).
Jujur, aku takut untuk
mengungkapkan ini. Entah apa yang akan ku dapatkan nanti saat semuanya sudah ku
keluarkan. Ketika untuk pertama kalinya aku menyentuhkan jari ke keyboard,
hatiku berdegup kencang. Kepalaku pusing, tapi terus ku lawan. Aku terus
berkata dalam hati, ‘”aku harus mengetiknya. Aku harus menulisnya. Kalau tidak,
aku gila”. Sekarang, saat ketikan sudah ku mulai, maka aku harus
menyelesaikannya.
Semuanya berawal dari mimpi. Ada
kamu di sana. Sederhana, kita berjumpa lagi. Setelah sekian lama raga kita tak
bertemu, akhirnya aku kembali merasa dekat denganmu. Aku tak peduli durasinya,
toh kamu dulu selalu bilang kalau kualitas tidak ditentukan dari lamanya tapi
dari seberapa banyak yang kita bagi. Jadi baiklah, aku mengabaikan kekecewaan
saat bangun dan menyadari hanya 15 menit bersamamu di dalam mimpi. Namun
begitu, aku puas.
Aku hanya bisa menemuimu dalam
mimpi. Di mimpi itu, ada dua pasangan mata yang saling bercerita. Kita memang
selalu begitu, sejak dulu tak butuh banyak kata untuk mentransfer cinta. Kamu paham
setiap kerut bibirku. Begitu pun aku, aku bisa menjawab semua heran dari balik
matamu. Di mimpi kita diam, tapi tubuh tak hentinya berdialog.
Aku senang kembali bisa
menyusuri setiap lekuk tubuhmu. Kulitmu putih. Meski tidak seputih susu, aku
selalu suka meneguknya. Lewat hidungku. Lewat bibirku. Lewat mataku. Lewat
jemariku. Lewat apapun yang bisa mengenyangkan rinduku.
Masih sama juga seperti dulu,
asin keringat tak pernah mengurangi aroma Musk-mu. Ya, Musk. Hanya itu yang
kamu tau tentang parfume laki-laki. Lucu, padahal dulu kamu yang selalu
memilihkan parfume-ku. Kamu pun selalu bisa menebak kalau aku berganti parfume.
“Kamu pakai aroma mawar, ya?” “Loh kok sekarang wanginya beda?” “Kamu pakai
minyak wangi apa? Ini lebih wangi” dan masih banyak lagi celotehanmu yang jeli
terhadap aroma tubuhku. Tapi satu yang tidak pernah aku lupa dan paling aku
suka, saat kamu membisikkan, “kamu bayi, nggak pantas pakai minyak wangi, udah
pakai minyak telon saja”.
Entah kini menit ke berapa,
matamu semakin mendekat kepadaku. Tatapanmu tak pernah tajam, tapi selalu bisa
memakuku. Tubuhku menghangat ada di dekatmu. Tidak, bukan hanya dekat, tapi
sangat dekat. Aku di dekapanmu. Terakhir saat kamu melakukan ini, kamu bertanya
padaku, “masih boleh?”. Apa maksudnya? Tapi semuanya segera terjawab ketika
bibirmu mendekat ke bibirku. Oh, ini yang kamu mau? Baiklah. Aku pejamkan mata,
sisanya hanya ada nafas berat di antara kita. Kini, mata kita sudah semakin
dekat. Nafas saling beradu. Otot-otot rahangmu bergeming. Tanpa izin, bibir
tipismu mengigit bibir bawahku. Siapa yang bisa menolak? Ku gerakkan rahangku.
Membuka dan mempersilahkan bibirmu bermain di mulutku.
Dulu, setiap kamu melakukan ini,
mataku selalu terpejam. Pernah sesekali aku mengintip, tapi yang ku jumpai
hanya lah matamu yang juga terpejam. Rapat. Tak bercelah. Apa yang kamu
pikirkan? Sama kah dengan apa yang ada di kepalaku? Entah, hingga kini pun aku
tak pernah mengerti isi kepalamu. Apakah cinta atau kah nafsu yang bertengger
di batinmu, aku tidak peduli. Yang bisa ku rasakan pasti, saat jemarimu
menyentuh bagian belakang leherku, aku merasa dimiliki. Aku merasa dicintai.
Aku merasa dipertahankan. Kembali, untuk sebuah cinta atau kah nafsu aku tidak
peduli.
Biasanya tanganmu bermain.
Perlahan dari belakang leher turun ke pundak. Kamu tak pernah menyentuh dadaku,
melainkan menyusuri sisi-sisi tanganku hingga ke pinggang. Sudah berhenti di
sana. Tak lama kemudian kembali merengkuhku dari punggung. Di mimpi itu kamu
tidak melakukan semuanya. Kedua tanganmu berhenti di pinggangku. Sesekali naik
ke bagian punggung, tepat di bagian pengikat pakaian dalamku. Dari sana kamu
menarikku semakin dalam ke pelukanmu. Aku merasa pengap, tapi aku bisa apa? Toh
rasanya lebih menyenangkan sulit bernafas di pelukanmu daripada berjingkrak
riang namun terpenjara rindu padamu.
Seketika aku bisa mendengar
cicit burung di antara kita.
“Mereka riuh sekali, ya?”
tanyaku.
Retoris sebenarnya, tapi kamu
memang tidak pernah mengecewakan pertanyaan-pertanyaan bodohku. Kamu mengangguk
seraya tersenyum. Kamu mengangkat kepala dan melihat ke sekeliling. Sikapmu menyadarkanku
kalau sekarang kita ada di hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi. Sejauh mata
memandang ke depan hanya semak-semak hijau yang ada. Tapi tidak, kamu lah yang
ada di depanku. Bukan cuma hijau, tapi warna-warni.
Sedetik kemudian kamu meraihku
lagi, lalu satu kecupan singkat di dahi. Kamu mundur. Semakin jauh. Dan aku
tahu, kembali aku harus berpisah denganmu.
Nafasku memburu saat
harus duduk dan menyadarkan diri bahwa tadi semuanya mimpi. Tak ada yang nyata
selain hujan di luar sana. Tapi batinku menolak dengan alasan bahwa pelukanmu
terasa nyata, bahkan saat kamu menyentuh pipiku di sana. Di mimpi itu.
Aku mendengus. Bukan
karena kesal, tapi karena merasa berdosa. Baiklah, aku akui aku kesal. Aku
kesal kepada diriku mengapa harus bermimpi seperti itu. Aku malu kepada Tuhan.
Pasti lah Dia marah karena aku memimpikan hal yang tidak semestinya. Tapi aku
bisa apa? Semuanya ada di alam bawah sadarku. Aku tidak bisa mengendalikannya.
Biarpun aku senang bertemu dengannya dalam mimpi, tapi andai aku bisa
mengendalikan alam bawah sadarku maka aku tidak akan membiarkan mimpi itu
terjadi.
Aku bangkit dan
berkaca. Aku menatap kosong bayangan diriku. Sejurus aku menangkap bayangan
tumpukan jilbab dari dalam cermin. Malu. Apakah aku masih pantas mengenakannya?
“Satu-satunya
tindak seks yang tidak normal adalah yang tidak bisa kita lakukan”. _Alfred
Charles Kinsey. (Oetomo, Memberi Suara Pada yang Bisu, 2003).
0 comments: