Dari Balik Hijab

12:28 AM Tameila 0 Comments

“Illusions commend themselves to us because they save us pain and allow us to enjoy pleasure instead. We must therefore accept it without complaint when they sometimes collide with a bit of reality against which they are dashed to pieces.”  ― Sigmund Freud, Reflections on War and Death (www.goodreads.com).


Jujur, aku takut untuk mengungkapkan ini. Entah apa yang akan ku dapatkan nanti saat semuanya sudah ku keluarkan. Ketika untuk pertama kalinya aku menyentuhkan jari ke keyboard, hatiku berdegup kencang. Kepalaku pusing, tapi terus ku lawan. Aku terus berkata dalam hati, ‘”aku harus mengetiknya. Aku harus menulisnya. Kalau tidak, aku gila”. Sekarang, saat ketikan sudah ku mulai, maka aku harus menyelesaikannya.


                Semuanya berawal dari mimpi. Ada kamu di sana. Sederhana, kita berjumpa lagi. Setelah sekian lama raga kita tak bertemu, akhirnya aku kembali merasa dekat denganmu. Aku tak peduli durasinya, toh kamu dulu selalu bilang kalau kualitas tidak ditentukan dari lamanya tapi dari seberapa banyak yang kita bagi. Jadi baiklah, aku mengabaikan kekecewaan saat bangun dan menyadari hanya 15 menit bersamamu di dalam mimpi. Namun begitu, aku puas.


                Aku hanya bisa menemuimu dalam mimpi. Di mimpi itu, ada dua pasangan mata yang saling bercerita. Kita memang selalu begitu, sejak dulu tak butuh banyak kata untuk mentransfer cinta. Kamu paham setiap kerut bibirku. Begitu pun aku, aku bisa menjawab semua heran dari balik matamu. Di mimpi kita diam, tapi tubuh tak hentinya berdialog.


                Aku senang kembali bisa menyusuri setiap lekuk tubuhmu. Kulitmu putih. Meski tidak seputih susu, aku selalu suka meneguknya. Lewat hidungku. Lewat bibirku. Lewat mataku. Lewat jemariku. Lewat apapun yang bisa mengenyangkan rinduku.


                Masih sama juga seperti dulu, asin keringat tak pernah mengurangi aroma Musk-mu. Ya, Musk. Hanya itu yang kamu tau tentang parfume laki-laki. Lucu, padahal dulu kamu yang selalu memilihkan parfume-ku. Kamu pun selalu bisa menebak kalau aku berganti parfume. “Kamu pakai aroma mawar, ya?” “Loh kok sekarang wanginya beda?” “Kamu pakai minyak wangi apa? Ini lebih wangi” dan masih banyak lagi celotehanmu yang jeli terhadap aroma tubuhku. Tapi satu yang tidak pernah aku lupa dan paling aku suka, saat kamu membisikkan, “kamu bayi, nggak pantas pakai minyak wangi, udah pakai minyak telon saja”.


                Entah kini menit ke berapa, matamu semakin mendekat kepadaku. Tatapanmu tak pernah tajam, tapi selalu bisa memakuku. Tubuhku menghangat ada di dekatmu. Tidak, bukan hanya dekat, tapi sangat dekat. Aku di dekapanmu. Terakhir saat kamu melakukan ini, kamu bertanya padaku, “masih boleh?”. Apa maksudnya? Tapi semuanya segera terjawab ketika bibirmu mendekat ke bibirku. Oh, ini yang kamu mau? Baiklah. Aku pejamkan mata, sisanya hanya ada nafas berat di antara kita. Kini, mata kita sudah semakin dekat. Nafas saling beradu. Otot-otot rahangmu bergeming. Tanpa izin, bibir tipismu mengigit bibir bawahku. Siapa yang bisa menolak? Ku gerakkan rahangku. Membuka dan mempersilahkan bibirmu bermain di mulutku.


                Dulu, setiap kamu melakukan ini, mataku selalu terpejam. Pernah sesekali aku mengintip, tapi yang ku jumpai hanya lah matamu yang juga terpejam. Rapat. Tak bercelah. Apa yang kamu pikirkan? Sama kah dengan apa yang ada di kepalaku? Entah, hingga kini pun aku tak pernah mengerti isi kepalamu. Apakah cinta atau kah nafsu yang bertengger di batinmu, aku tidak peduli. Yang bisa ku rasakan pasti, saat jemarimu menyentuh bagian belakang leherku, aku merasa dimiliki. Aku merasa dicintai. Aku merasa dipertahankan. Kembali, untuk sebuah cinta atau kah nafsu aku tidak peduli.


                Biasanya tanganmu bermain. Perlahan dari belakang leher turun ke pundak. Kamu tak pernah menyentuh dadaku, melainkan menyusuri sisi-sisi tanganku hingga ke pinggang. Sudah berhenti di sana. Tak lama kemudian kembali merengkuhku dari punggung. Di mimpi itu kamu tidak melakukan semuanya. Kedua tanganmu berhenti di pinggangku. Sesekali naik ke bagian punggung, tepat di bagian pengikat pakaian dalamku. Dari sana kamu menarikku semakin dalam ke pelukanmu. Aku merasa pengap, tapi aku bisa apa? Toh rasanya lebih menyenangkan sulit bernafas di pelukanmu daripada berjingkrak riang namun terpenjara rindu padamu.


                Seketika aku bisa mendengar cicit burung di antara kita. 


                “Mereka riuh sekali, ya?” tanyaku.


                Retoris sebenarnya, tapi kamu memang tidak pernah mengecewakan pertanyaan-pertanyaan bodohku. Kamu mengangguk seraya tersenyum. Kamu mengangkat kepala dan melihat ke sekeliling. Sikapmu menyadarkanku kalau sekarang kita ada di hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi. Sejauh mata memandang ke depan hanya semak-semak hijau yang ada. Tapi tidak, kamu lah yang ada di depanku. Bukan cuma hijau, tapi warna-warni.


                Sedetik kemudian kamu meraihku lagi, lalu satu kecupan singkat di dahi. Kamu mundur. Semakin jauh. Dan aku tahu, kembali aku harus berpisah denganmu.


Nafasku memburu saat harus duduk dan menyadarkan diri bahwa tadi semuanya mimpi. Tak ada yang nyata selain hujan di luar sana. Tapi batinku menolak dengan alasan bahwa pelukanmu terasa nyata, bahkan saat kamu menyentuh pipiku di sana. Di mimpi itu.


Aku mendengus. Bukan karena kesal, tapi karena merasa berdosa. Baiklah, aku akui aku kesal. Aku kesal kepada diriku mengapa harus bermimpi seperti itu. Aku malu kepada Tuhan. Pasti lah Dia marah karena aku memimpikan hal yang tidak semestinya. Tapi aku bisa apa? Semuanya ada di alam bawah sadarku. Aku tidak bisa mengendalikannya. Biarpun aku senang bertemu dengannya dalam mimpi, tapi andai aku bisa mengendalikan alam bawah sadarku maka aku tidak akan membiarkan mimpi itu terjadi.


Aku bangkit dan berkaca. Aku menatap kosong bayangan diriku. Sejurus aku menangkap bayangan tumpukan jilbab dari dalam cermin. Malu. Apakah aku masih pantas mengenakannya?


“Satu-satunya tindak seks yang tidak normal adalah yang tidak bisa kita lakukan”. _Alfred Charles Kinsey. (Oetomo, Memberi Suara Pada yang Bisu, 2003).

You Might Also Like

0 comments: