“Terserah mau jadi apa”
Saya percaya kalau nggak ada anak
nakal di dunia ini. Coba kita luangkan waktu sejenak untuk mendengar dan
memahami mereka. Coba perhatikan apa yang mereka lakukan selama ini sehingga
kita anggap nakal, bahkan nggak beradab. Selalu ada selusup rasa bersalah
ketika saya pada akhirnya benar-benar tahu dan paham alasan-alasan mereka
melakukan klepto, seks bebas, kecanduan narkotika, bullying, tawuran, sampai bolos sekolah. Ada tanggung jawab yang
belum saya penuhi sebagai sesama makhluk Tuhan untuk mengingatkan mereka. Mencegah
hal buruk terjadi. Memberi jawaban pasti supaya mereka nggak harus meraba atas
semua rasa penasaran yang mampir.
Sedih lho
rasanya mendapati anak-anak terjerumus ke dalam hal-hal negatif hanya karena
mereka mengobati rasa penasarannya. Kalau bukan karena itu, ya karena salah
mengekspresikan perasaannya. Apa rasanya ketika kita tahu ada anak deaf yang menghamili pacarnya hanya
karena yang ia pahami tentang bentuk cinta tertinggi adalah persetubuhan?
Bagaimana rasanya saat menemukan anak deaf
yang mencoba bunuh diri karena salah paham dengan orangtuanya? Miris. Hati saya
itu langsung mencelos kalau dengar alasan-alasan polos mereka. Sadar bahwa PR
kita sebagai sesama manusia masih banyak. Tidak hanya berkarya, tapi bagaimana
dari karya-karya kita membuat hidup orang-orang yang kurang beruntung menjadi
lebih baik.
Dulu
waktu saya ngajar di SLB sering ditanya hal-hal aneh. Sangaaaatt sepele. Misalnya
saya sempat ditanya, “bu pacaran itu
boleh nggak sih?” oleh seorang siswa C kelas 3 SMA. Saat itu saya
menanggapinya becanda, bahkan menjawab asal-asalan. Nah sekarang saat mendengar
kabar anak deaf yang ngehamilin
pacarnya hanya karena konsep cinta yang salah..hemm...damn...guilty banget
rasanya. Contoh lain saat itu pernah ditanya, “bu kenapa pakai kerudung?”, “bu
kalau sudah kuliah mau ngapain?”, atau “bu
kenapa pemimpin itu harus laki-laki?”, dan serentetan pertanyaan-pertanyaan
polos lainnya.
Berangkat
dari sebuah obrolan iseng dengan salah satu orangtua yang anaknya deaf, kami sama-sama sadar kalau yang mereka
butuhkan saat ini nggak semata kemampuan akademik dan soft skill. Menyadari mereka tumbuh dan berkembang seperti
anak-anak pada umumnya, mereka pun butuh pendidikan agama dan gender, sex education, pengetahuan hak dan
hukum, sampai pemahaman terhadap politik. Berat mungkin kedengarannya, tapi
itulah kenyatannya. Supaya apa? Ya supaya mereka nggak dibego-begoin dan salah
langkah.
Sekarang salah mereka kah ketika
nggak paham kesemuanya itu sedangkan kita yang hidup disekitarnya tidak pernah
mengajarkan?
Kalau ditanya, saya pun belum
melakukan banyak hal. Belum ada yang bisa dibanggakan. Mungkin kenanya masih
terlalu banyak omong daripada aksi. Saya pun masih berusaha bersama
orangtua-orangtua dan pihak-pihak yang memandang anak-anak berkebutuhan khusus
itu sama. Sama-sama manusia. Sama-sama generasi muda. Sama-sama butuh
pendidikan. Kita bukan hanya berkejaran dengan waktu, tapi juga dengan
informasi.
Banyak orang yang menyalahkan isi
media. Tontonan udah nggak mendidik. Iklan-iklan yang nggak berkualitas. Bacaan
yang menjerumuskan. Ah, banyak segambreng hujatan lainnya. Kita nggak bisa
menyalahkan media sepenuhnya. Sebatas pengetahuan tentang media yang saya tahu,
mereka itu cuma memenuhi kebutuhan publik. Mayoritas. Nah berbicara tentang
kekuatan mayoritas, kini tinggal bagaimana kita memanfaatkan atribut mayoritas
untuk mendidik yang minoritas, karena bagaimana pun susah untuk melumpuhkan dan
mengganti kekuatan mayoritas. Jadi daripada mengeluhkan media, mengapa nggak
kita jadikan media sebagai partner yang harus kita gaet supaya anak-anak berkebutuhan khusus nggak merasa kerdil atau
salah langkah? Toh menyenangkan rasanya ternyata saya bisa memberikan pemahaman
sederhana tentang kriminalitas kepada seorang anak deaf lewat contoh tayangan-tayangan di TV.
Duduk di tengah anak-anak
berkebutuhan khusus sambil membaca Totto-chan rasanya campur aduk. Terharu,
senang, sedih, miris. Semuanya menyatu menjadi perasaan rindu pada murid-murid
di Serang sana. Untungnya saat ini sudah banyak sekolah inklusi atau
konsep-konsep sekolah baru yang memberikan kebebasan berekspresi namun tetap
bertanggung jawab bagi murid-muridnya. Mereka tidak harus terpaku dengan tata
krama yang sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Terkadang malah menjadikan mereka
objek, bukan partisipan. Padahal siapa yang mau belajar di sekolah? Murid toh,
bukan guru. Terkadang juga aturan-aturan itu memaksa mereka untuk berjalan di
track yang belum tentu cocok bagi mereka. Mereka terlalu diatur dan tidak bebas
menentukan pilihannya. Kembali bertanya, sekarang katanya demokrasi..kenapa
nggak ditanamkan sejak kecil? Membiarkan mereka memilih apa yang disuka dan
dianggap benar, sedangkan kita mengarahkan. Satu lagi, katanya kurikulum
sekarang student oriented, kenapa
murid-murid masih disuruh A,B,C, dan bla bla bla, bukannya dibebaskan berkarya
sendiri?
Nggak semua sekolah seperti itu. Nggak
semua sekolah memakukan dan menancapkan anak-anaknya di jalur yang “dianggap”
baik untuk mereka. Ada beberapa sekolah yang kini memberikan keleluasaan bagi
anak-anak, misalnya dibiarkan untuk lebih mendalami pelajaran-pelajaran yang diminati.
Mereka juga dibebaskan untuk bertanya ini-itu sehingga pendidikan berbagai
macam topik bisa disampaikan lebih menyenangkan dan disesuaikan dengan
kadarnya. Nggak ada pertanyaan yang nggak patut diajukan. Nggak ada pertanyaan
yang salah. Nggak ada pertanyaan yang dijawab, “kamu belum pantas tahu. Nanti saja kalau sudah besar”.
Saya iri kepada anak-anak yang
bersekolah di tempat ini. Bagaimana tidak, sejak dini mereka sudah diajarkan
untuk bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Sejak muda mereka dilibatkan
dalam proses pengenalan diri. Mereka semua yang memutuskan tanpa adanya paksaan
dari sistem atau cekokan ini-itu dari
orang dewasa. Mereka dibebaskan mau jadi apa yang menurutnya dapat memperbaiki
dan berkonstribusi untuk hidup orang lain, bukan untuk hidupnya dan keluarganya
semata.
Tapi terlepas dari itu semua,
saya harusnya tetap bersyukur atas semua pendidikan dan sistem yang saya terima
dari SD hingga saat ini. Mungkin kalau saya tidak “dibegitukan”, saya nggak
akan terharu dengan anak-anak yang sedang membatik di dekat saya saat membaca
cerita Totto-chan. Masih perasaan senang dan haru bercampur iri saat
memperhatikan anak-anak normal berbagi dengan anak-anak berkebutuhan khusus di
sini. Satu sama lain membantu pekerjaan temannya. Polos. Yang mereka tahu
adalah hasil pekerjaan temannya harus sempurna, bukan siapa yang hasilnya
paling bagus di sini.
Bukan berarti mereka tidak
memiliki mental persaingan. Rasa kompetitif ditanamkan dengan cara dan perspektif
yang berbeda. Saya memahaminya ketika mendengar celotehan seorang anak perempuan
yang duduk di samping saya dan (katanya) sedang menggambar air terjun (tapi
kelihatannya seperti sungai, hehehe). Dari sikapnya terhadap empat teman
laki-laki yang menghampirinya saya tahu kalau kompetitif itu bukan permusuhan
atau persaingan untuk menjatuhkan, tetapi siapa yang mampu menciptakan karya
baik dan bermanfaat bagi sesama tanpa mengerdilkan orang lain.
0 comments: