“Terserah mau jadi apa”

8:06 AM Tameila 0 Comments

Saya percaya kalau nggak ada anak nakal di dunia ini. Coba kita luangkan waktu sejenak untuk mendengar dan memahami mereka. Coba perhatikan apa yang mereka lakukan selama ini sehingga kita anggap nakal, bahkan nggak beradab. Selalu ada selusup rasa bersalah ketika saya pada akhirnya benar-benar tahu dan paham alasan-alasan mereka melakukan klepto, seks bebas, kecanduan narkotika, bullying, tawuran, sampai bolos sekolah. Ada tanggung jawab yang belum saya penuhi sebagai sesama makhluk Tuhan untuk mengingatkan mereka. Mencegah hal buruk terjadi. Memberi jawaban pasti supaya mereka nggak harus meraba atas semua rasa penasaran yang mampir.

                Sedih lho rasanya mendapati anak-anak terjerumus ke dalam hal-hal negatif hanya karena mereka mengobati rasa penasarannya. Kalau bukan karena itu, ya karena salah mengekspresikan perasaannya. Apa rasanya ketika kita tahu ada anak deaf yang menghamili pacarnya hanya karena yang ia pahami tentang bentuk cinta tertinggi adalah persetubuhan? Bagaimana rasanya saat menemukan anak deaf yang mencoba bunuh diri karena salah paham dengan orangtuanya? Miris. Hati saya itu langsung mencelos kalau dengar alasan-alasan polos mereka. Sadar bahwa PR kita sebagai sesama manusia masih banyak. Tidak hanya berkarya, tapi bagaimana dari karya-karya kita membuat hidup orang-orang yang kurang beruntung menjadi lebih baik.

                Dulu waktu saya ngajar di SLB sering ditanya hal-hal aneh. Sangaaaatt sepele. Misalnya saya sempat ditanya, “bu pacaran itu boleh nggak sih?” oleh seorang siswa C kelas 3 SMA. Saat itu saya menanggapinya becanda, bahkan menjawab asal-asalan. Nah sekarang saat mendengar kabar anak deaf yang ngehamilin pacarnya hanya karena konsep cinta yang salah..hemm...damn...guilty banget rasanya. Contoh lain saat itu pernah ditanya, “bu kenapa pakai kerudung?”, “bu kalau sudah kuliah mau ngapain?”, atau “bu kenapa pemimpin itu harus laki-laki?”, dan serentetan pertanyaan-pertanyaan polos lainnya.

                Berangkat dari sebuah obrolan iseng dengan salah satu orangtua yang anaknya deaf, kami sama-sama sadar kalau yang mereka butuhkan saat ini nggak semata kemampuan akademik dan soft skill. Menyadari mereka tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya, mereka pun butuh pendidikan agama dan gender, sex education, pengetahuan hak dan hukum, sampai pemahaman terhadap politik. Berat mungkin kedengarannya, tapi itulah kenyatannya. Supaya apa? Ya supaya mereka nggak dibego-begoin dan salah langkah.

Sekarang salah mereka kah ketika nggak paham kesemuanya itu sedangkan kita yang hidup disekitarnya tidak pernah mengajarkan?

Kalau ditanya, saya pun belum melakukan banyak hal. Belum ada yang bisa dibanggakan. Mungkin kenanya masih terlalu banyak omong daripada aksi. Saya pun masih berusaha bersama orangtua-orangtua dan pihak-pihak yang memandang anak-anak berkebutuhan khusus itu sama. Sama-sama manusia. Sama-sama generasi muda. Sama-sama butuh pendidikan. Kita bukan hanya berkejaran dengan waktu, tapi juga dengan informasi.

Banyak orang yang menyalahkan isi media. Tontonan udah nggak mendidik. Iklan-iklan yang nggak berkualitas. Bacaan yang menjerumuskan. Ah, banyak segambreng hujatan lainnya. Kita nggak bisa menyalahkan media sepenuhnya. Sebatas pengetahuan tentang media yang saya tahu, mereka itu cuma memenuhi kebutuhan publik. Mayoritas. Nah berbicara tentang kekuatan mayoritas, kini tinggal bagaimana kita memanfaatkan atribut mayoritas untuk mendidik yang minoritas, karena bagaimana pun susah untuk melumpuhkan dan mengganti kekuatan mayoritas. Jadi daripada mengeluhkan media, mengapa nggak kita jadikan media sebagai partner yang harus kita gaet supaya anak-anak berkebutuhan khusus nggak merasa kerdil atau salah langkah? Toh menyenangkan rasanya ternyata saya bisa memberikan pemahaman sederhana tentang kriminalitas kepada seorang anak deaf lewat contoh tayangan-tayangan di TV.

Duduk di tengah anak-anak berkebutuhan khusus sambil membaca Totto-chan rasanya campur aduk. Terharu, senang, sedih, miris. Semuanya menyatu menjadi perasaan rindu pada murid-murid di Serang sana. Untungnya saat ini sudah banyak sekolah inklusi atau konsep-konsep sekolah baru yang memberikan kebebasan berekspresi namun tetap bertanggung jawab bagi murid-muridnya. Mereka tidak harus terpaku dengan tata krama yang sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Terkadang malah menjadikan mereka objek, bukan partisipan. Padahal siapa yang mau belajar di sekolah? Murid toh, bukan guru. Terkadang juga aturan-aturan itu memaksa mereka untuk berjalan di track yang belum tentu cocok bagi mereka. Mereka terlalu diatur dan tidak bebas menentukan pilihannya. Kembali bertanya, sekarang katanya demokrasi..kenapa nggak ditanamkan sejak kecil? Membiarkan mereka memilih apa yang disuka dan dianggap benar, sedangkan kita mengarahkan. Satu lagi, katanya kurikulum sekarang student oriented, kenapa murid-murid masih disuruh A,B,C, dan bla bla bla, bukannya dibebaskan berkarya sendiri?

Nggak semua sekolah seperti itu. Nggak semua sekolah memakukan dan menancapkan anak-anaknya di jalur yang “dianggap” baik untuk mereka. Ada beberapa sekolah yang kini memberikan keleluasaan bagi anak-anak, misalnya dibiarkan untuk lebih mendalami pelajaran-pelajaran yang diminati. Mereka juga dibebaskan untuk bertanya ini-itu sehingga pendidikan berbagai macam topik bisa disampaikan lebih menyenangkan dan disesuaikan dengan kadarnya. Nggak ada pertanyaan yang nggak patut diajukan. Nggak ada pertanyaan yang salah. Nggak ada pertanyaan yang dijawab, “kamu belum pantas tahu. Nanti saja kalau sudah besar”.

Saya iri kepada anak-anak yang bersekolah di tempat ini. Bagaimana tidak, sejak dini mereka sudah diajarkan untuk bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Sejak muda mereka dilibatkan dalam proses pengenalan diri. Mereka semua yang memutuskan tanpa adanya paksaan dari sistem atau cekokan ini-itu dari orang dewasa. Mereka dibebaskan mau jadi apa yang menurutnya dapat memperbaiki dan berkonstribusi untuk hidup orang lain, bukan untuk hidupnya dan keluarganya semata.

Tapi terlepas dari itu semua, saya harusnya tetap bersyukur atas semua pendidikan dan sistem yang saya terima dari SD hingga saat ini. Mungkin kalau saya tidak “dibegitukan”, saya nggak akan terharu dengan anak-anak yang sedang membatik di dekat saya saat membaca cerita Totto-chan. Masih perasaan senang dan haru bercampur iri saat memperhatikan anak-anak normal berbagi dengan anak-anak berkebutuhan khusus di sini. Satu sama lain membantu pekerjaan temannya. Polos. Yang mereka tahu adalah hasil pekerjaan temannya harus sempurna, bukan siapa yang hasilnya paling bagus di sini.

Bukan berarti mereka tidak memiliki mental persaingan. Rasa kompetitif ditanamkan dengan cara dan perspektif yang berbeda. Saya memahaminya ketika mendengar celotehan seorang anak perempuan yang duduk di samping saya dan (katanya) sedang menggambar air terjun (tapi kelihatannya seperti sungai, hehehe). Dari sikapnya terhadap empat teman laki-laki yang menghampirinya saya tahu kalau kompetitif itu bukan permusuhan atau persaingan untuk menjatuhkan, tetapi siapa yang mampu menciptakan karya baik dan bermanfaat bagi sesama tanpa mengerdilkan orang lain.

Itu. Satu pelajaran. Satu nikmat. Satu cerita. Satu anugerah Tuhan yang Dia selipkan di saat saya menunggu Malu, gadis Jerman berumur 8 tahun yang  hendak bersekolah di Indonesia. Bagaimana rupamu, nak? Semoga lekas sembuh. Tak sabar rasanya berbagi denganmu.

You Might Also Like

0 comments: