Panggungmu, Duniamu = Drama Kita
Sampai akhirnya di mana pandanganku jatuh ke satu titik. Di
sana ada siluet yang meliuk lincah. Lompatannya tiada hempas. Lantai berdebum
dan menyisakan tetes keringat di atasnya. Dari kuning berganti putih, kemudian
merah lalu kuning lagi. Begitu seterusnya. Di bawah temaram lampu kamu tak
mengacuhkanku. Terus berputar seperti gasing yang tiada peduli mengikis
hamparan pasir.
Bayanganmu
di lantai panggung menarikku ke beberapa tahun silam. Di mana ada kamu dan dia
dalam satu waktu. Bedanya, dia telah dulu hadir di kehidupanku, sedangkan kamu
baru pertama kali menyapa. Aku pikir pertemuan kita kala itu tak akan
menyisakan cerita seperti ini. Ya, aku pikir. Namun nyatanya Tuhan masih mensahihkan
diri-Nya lah sutradara kehidupan. Aku salah. Cerita kita berlanjut, sedangkan ceritaku
dengannya berakhir.
Kamu
melompat, kemudian berbalik. Kepalamu di bawah lalu berputar. Apa bedanya
dengan dulu pertama kali kamu mengajakku untuk menghabiskan hari bersama? Kamu
menarikku ke dunia baru. Memutarbalikkan duniaku dan menelantarkanku dalam
kebingungan. Dengan lancangnya kamu berkata kalau duniaku selama ini salah. “This is the real world!” begitulah kamu
menampar mataku. Aku terbelalak. Terhenyak dalam kesendirian. Sendiri, tanpa
mengerti duniamu.
BUM!
Kamu terpeleset. Ku lihat kamu sedikit mengurut urat betis lalu berdiri lagi.
Sayang, aku pernah tidak sekuat dirimu. Pernah? Ah, tidak, rasanya hingga kini
pun mentalmu lebih baja dariku. Kepalaku boleh lebih keras, tapi hati siapa
sangka kalau kamu lah pemenangnya. Masih ingat kah kamu, dulu aku pernah
menangis karena betapa tak berdayanya diri ini? Kalau lupa itu tak masalah,
karena kamu pun selalu bilang, “lupakan...lupakan...kamu
kuat. Kamu pintar. Itu hal sepele”. Ya, kamu selalu menyepelekan segala hal.
Semuanya kamu anggap kecil. Gampang. Tak masalah. Aku benci, tapi aku suka.
Darinya aku belajar untuk lebih tenang menghadapi kerusuhan dalam duniaku.
Panggung
berganti cerita. Kamu keluar dan masuk lah beberapa bocah. Kamu membiarkan
mereka berlagak dan hanya memerhatikan dari sisi panggung. Sesekali kamu masuk,
membenarkan posisi dan gerakan meraka. Di sana kamu lebih cekatan dan sigap,
tetapi tetap halus. Berbeda ketika kamu membenahiku. Kadang kamu kasar tak
terduga, kadang juga kamu yang harus menelan kesabaran. Ya, karena kita memang
benar-benar berbeda. Namun pernah kah kamu berpikir apa yang membuat kita
selalu bersikeras agar bisa sejalan satu sama lain, mulai dari hal remeh sampai
yang penuh prinsip?
Kini
semua pemain naik ke atas panggung. Masing-masing menjalankan perannya.
Mencipta sebuah jalan cerita yang menghanyutkan penonton. Siapa yang mengarang
ceritanya? Kamu? Indah sekali. Andai aku sepandai dirimu dalam mengarang sebuah
cerita, mungkin aku sudah punya pementasan sendiri. Tidak duduk di bangku
penonton. Tidak melulu diam melihatmu berlagak. Ah, tapi untuk apa aku
menyutradarai sebuah pertunjukkan kalau aku belum mampu mengatur drama hidupku
sendiri? Mungkin dunia akan mencemooh,
“bagaimana dramamu dengannya?”. Siapa
“nya” di sana? Tidak usah bertanya, angin malam pun tahu itu jawabannya kamu.
Kadang
aku sebal banyak orang yang bertanya tentang sesuatu yang tak harus
dipertanyakan. Terlebih kalau mereka masih bertanya dibalik asumsi yang sudah
ada. Kalau begitu mengapa masih bertanya? Tapi apakah kamu tahu hal yang lebih
menyesakkan? Yaitu ketika dirimu sendiri yang selalu bertanya akan suatu hal
yang tak semestinya dipertanyakan karena kamu sendiri sudah tahu jawabannya.
Tidak hanya sesak, tapi sakit rasanya. Orang lain mau berkata aku bodoh itu
terserah. Mengaca lah pada diri kita masing-masing. Akui lah kalau kita tidak
pernah bisa menemukan alasan dari hal-hal yang kita lakukan untuk orang yang
disayang.
Sayang?
Benar kah?
“Kalau sayang kenapa tak diungkapkan?”,
begitu lah kiranya kata sekitarku.
Hey,
kalian pikir mengucap sayang itu gampang? Berkata cinta itu mudah? Ini bukan
masalah gender, siapa yang harus mengucapkan duluan. Bukan. I don’t give anyshit.
Aku tak
pernah berkata cinta bukan berarti tak pernah merasakan. Aku mengelak bukan
berarti tak mau. Aku diam bukan berarti tak berbicara. Aku hanya tak ingin
menjadikan cinta sebagai sesuatu yang picisan. Begitu merasa bahagia dan nyaman
langsung berkata, “aku cinta kamu”. Cinta
bukan lah sebatas rasa yang diucapkan dan dibuktikan dengan perbuatan. Kamu tahu
hal terberatnya? Komitmen dan konsistensi. Kita sudah sama-sama besar, kita
tidak ingin sesuatu yang semu, bukan?
Aku tak mau menyakitimu atas nama
cinta. Aku tidak mau melukaimu dengan sebuah komitmen. Aku pernah sakit
karenanya, jatuh di dalamnya, serta buta dan tuli dibuatnya. Kalau pun kamu
harus sakit, labeli itu atas nama aku, bukan cinta atau pun komitmen. Aku tak
mau kamu membenci cinta karena telah banyak berkorban untukku. Aku tak mau kamu
mati rasa karena kecewa oleh palsunya sebuah komitmen. Demi hati yang masih
teriris, jangan pernah hal itu terjadi.
Aku bangga denganmu yang sekarang
dan aku ingin kamu terus tumbuh dengan banyak cinta di dalamnya. Jangan pernah
sakiti ayah, ibu, kakak, dan adikmu, karena mereka adalah garda depan bagi
keterpurukanmu. Jangan pernah sepelekan teman-temanmu, karena mereka adalah
pendukung setia bagi keputusasaanmu. Jangan pernah tinggalkan guru-gurumu,
karena mereka adalah pendamping terbaik bagi kebimbanganmu.
“Tap...Tap...Tap...”, suara itu
menguapkan lamunanku. Eh, langkahmu gontai. Perlahan mencoba menggapai sebotol
minum. Kamu teguk dan terdengar “ah” yang begitu melegakan. Lelah kah kamu?
Sini duduk di sisiku, jangan pedulikan dunia bergunjing apa. Selama aku masih
punya waktu, maka akan aku lakukan apa pun demi kenyamananmu. Kutatap setiap
jejak langkahmu yang tak mengarah padaku. Kamu berhenti di sana, di mana
teman-temanmu berkumpul. Aku tersenyum. Bodoh. Mengapa aku mengharapkan kamu
menghampiriku kalau sejak awal aku tak dihiraukan?
Detik berganti menit, menit pun
kini berwujud jam. Mungkin sudah saatnya aku pergi ke persinggahan yang lain,
ke tempat di mana tak ada pertanyaan tentang kita. Di suatu ruang agar aku bisa
mengintrospeksi diri atas karma-karma yang saling kita jalin selama ini. Bukan
kah dari setiap yang kita lakukan memiliki efek domino, termasuk mencintai dalam
hati toh?
Sejenak aku diam. Ya, sudah
saatnya aku pergi tanpa harus berbalik menatap arah panggung. Untuk apa? Tak
ada kamu di sana. Tak ada cerita lagi yang diperankan. Terima kasih atas setiap
pertunjukkan yang memuaskan dahagaku di dalamnya. Kamu mengerti betul aku
merindukan kehidupan panggung, bukan? Tapi kamu tidak pernah tahu jiwaku turut
pentas di sana setiap kamu memainkan peran.
Sampai berjumpa di pementasan
selanjutnya. Sampai bertemu di lain cerita. Tunggu, kita belum berpisah. Aku
lupa kalau pementasan drama dan cerita kita sebenarnya belum tutup tirai.
0 comments: