Panggungmu, Duniamu = Drama Kita

2:08 AM Tameila 0 Comments


Sampai akhirnya di mana pandanganku jatuh ke satu titik. Di sana ada siluet yang meliuk lincah. Lompatannya tiada hempas. Lantai berdebum dan menyisakan tetes keringat di atasnya. Dari kuning berganti putih, kemudian merah lalu kuning lagi. Begitu seterusnya. Di bawah temaram lampu kamu tak mengacuhkanku. Terus berputar seperti gasing yang tiada peduli mengikis hamparan pasir.

          Bayanganmu di lantai panggung menarikku ke beberapa tahun silam. Di mana ada kamu dan dia dalam satu waktu. Bedanya, dia telah dulu hadir di kehidupanku, sedangkan kamu baru pertama kali menyapa. Aku pikir pertemuan kita kala itu tak akan menyisakan cerita seperti ini. Ya, aku pikir. Namun nyatanya Tuhan masih mensahihkan diri-Nya lah sutradara kehidupan. Aku salah. Cerita kita berlanjut, sedangkan ceritaku dengannya berakhir.

Kamu melompat, kemudian berbalik. Kepalamu di bawah lalu berputar. Apa bedanya dengan dulu pertama kali kamu mengajakku untuk menghabiskan hari bersama? Kamu menarikku ke dunia baru. Memutarbalikkan duniaku dan menelantarkanku dalam kebingungan. Dengan lancangnya kamu berkata kalau duniaku selama ini salah. “This is the real world!” begitulah kamu menampar mataku. Aku terbelalak. Terhenyak dalam kesendirian. Sendiri, tanpa mengerti duniamu.

                BUM! Kamu terpeleset. Ku lihat kamu sedikit mengurut urat betis lalu berdiri lagi. Sayang, aku pernah tidak sekuat dirimu. Pernah? Ah, tidak, rasanya hingga kini pun mentalmu lebih baja dariku. Kepalaku boleh lebih keras, tapi hati siapa sangka kalau kamu lah pemenangnya. Masih ingat kah kamu, dulu aku pernah menangis karena betapa tak berdayanya diri ini? Kalau lupa itu tak masalah, karena kamu pun selalu bilang, “lupakan...lupakan...kamu kuat. Kamu pintar. Itu hal sepele”. Ya, kamu selalu menyepelekan segala hal. Semuanya kamu anggap kecil. Gampang. Tak masalah. Aku benci, tapi aku suka. Darinya aku belajar untuk lebih tenang menghadapi kerusuhan dalam duniaku.

Panggung berganti cerita. Kamu keluar dan masuk lah beberapa bocah. Kamu membiarkan mereka berlagak dan hanya memerhatikan dari sisi panggung. Sesekali kamu masuk, membenarkan posisi dan gerakan meraka. Di sana kamu lebih cekatan dan sigap, tetapi tetap halus. Berbeda ketika kamu membenahiku. Kadang kamu kasar tak terduga, kadang juga kamu yang harus menelan kesabaran. Ya, karena kita memang benar-benar berbeda. Namun pernah kah kamu berpikir apa yang membuat kita selalu bersikeras agar bisa sejalan satu sama lain, mulai dari hal remeh sampai yang penuh prinsip?

                Kini semua pemain naik ke atas panggung. Masing-masing menjalankan perannya. Mencipta sebuah jalan cerita yang menghanyutkan penonton. Siapa yang mengarang ceritanya? Kamu? Indah sekali. Andai aku sepandai dirimu dalam mengarang sebuah cerita, mungkin aku sudah punya pementasan sendiri. Tidak duduk di bangku penonton. Tidak melulu diam melihatmu berlagak. Ah, tapi untuk apa aku menyutradarai sebuah pertunjukkan kalau aku belum mampu mengatur drama hidupku sendiri? Mungkin dunia akan mencemooh, “bagaimana dramamu dengannya?”.  Siapa “nya” di sana? Tidak usah bertanya, angin malam pun tahu itu jawabannya kamu.

Kadang aku sebal banyak orang yang bertanya tentang sesuatu yang tak harus dipertanyakan. Terlebih kalau mereka masih bertanya dibalik asumsi yang sudah ada. Kalau begitu mengapa masih bertanya? Tapi apakah kamu tahu hal yang lebih menyesakkan? Yaitu ketika dirimu sendiri yang selalu bertanya akan suatu hal yang tak semestinya dipertanyakan karena kamu sendiri sudah tahu jawabannya. Tidak hanya sesak, tapi sakit rasanya. Orang lain mau berkata aku bodoh itu terserah. Mengaca lah pada diri kita masing-masing. Akui lah kalau kita tidak pernah bisa menemukan alasan dari hal-hal yang kita lakukan untuk orang yang disayang.

                Sayang? Benar kah?

                Kalau sayang kenapa tak diungkapkan?”, begitu lah kiranya kata sekitarku.

Hey, kalian pikir mengucap sayang itu gampang? Berkata cinta itu mudah? Ini bukan masalah gender, siapa yang harus mengucapkan duluan. Bukan. I don’t give anyshit

                Aku tak pernah berkata cinta bukan berarti tak pernah merasakan. Aku mengelak bukan berarti tak mau. Aku diam bukan berarti tak berbicara. Aku hanya tak ingin menjadikan cinta sebagai sesuatu yang picisan. Begitu merasa bahagia dan nyaman langsung berkata, “aku cinta kamu”. Cinta bukan lah sebatas rasa yang diucapkan dan dibuktikan dengan perbuatan. Kamu tahu hal terberatnya? Komitmen dan konsistensi. Kita sudah sama-sama besar, kita tidak ingin sesuatu yang semu, bukan?

Aku tak mau menyakitimu atas nama cinta. Aku tidak mau melukaimu dengan sebuah komitmen. Aku pernah sakit karenanya, jatuh di dalamnya, serta buta dan tuli dibuatnya. Kalau pun kamu harus sakit, labeli itu atas nama aku, bukan cinta atau pun komitmen. Aku tak mau kamu membenci cinta karena telah banyak berkorban untukku. Aku tak mau kamu mati rasa karena kecewa oleh palsunya sebuah komitmen. Demi hati yang masih teriris, jangan pernah hal itu terjadi.

Aku bangga denganmu yang sekarang dan aku ingin kamu terus tumbuh dengan banyak cinta di dalamnya. Jangan pernah sakiti ayah, ibu, kakak, dan adikmu, karena mereka adalah garda depan bagi keterpurukanmu. Jangan pernah sepelekan teman-temanmu, karena mereka adalah pendukung setia bagi keputusasaanmu. Jangan pernah tinggalkan guru-gurumu, karena mereka adalah pendamping terbaik bagi kebimbanganmu.

“Tap...Tap...Tap...”, suara itu menguapkan lamunanku. Eh, langkahmu gontai. Perlahan mencoba menggapai sebotol minum. Kamu teguk dan terdengar “ah” yang begitu melegakan. Lelah kah kamu? Sini duduk di sisiku, jangan pedulikan dunia bergunjing apa. Selama aku masih punya waktu, maka akan aku lakukan apa pun demi kenyamananmu. Kutatap setiap jejak langkahmu yang tak mengarah padaku. Kamu berhenti di sana, di mana teman-temanmu berkumpul. Aku tersenyum. Bodoh. Mengapa aku mengharapkan kamu menghampiriku kalau sejak awal aku tak dihiraukan?

Detik berganti menit, menit pun kini berwujud jam. Mungkin sudah saatnya aku pergi ke persinggahan yang lain, ke tempat di mana tak ada pertanyaan tentang kita. Di suatu ruang agar aku bisa mengintrospeksi diri atas karma-karma yang saling kita jalin selama ini. Bukan kah dari setiap yang kita lakukan memiliki efek domino, termasuk mencintai dalam hati toh?

Sejenak aku diam. Ya, sudah saatnya aku pergi tanpa harus berbalik menatap arah panggung. Untuk apa? Tak ada kamu di sana. Tak ada cerita lagi yang diperankan. Terima kasih atas setiap pertunjukkan yang memuaskan dahagaku di dalamnya. Kamu mengerti betul aku merindukan kehidupan panggung, bukan? Tapi kamu tidak pernah tahu jiwaku turut pentas di sana setiap kamu memainkan peran. 

Sampai berjumpa di pementasan selanjutnya. Sampai bertemu di lain cerita. Tunggu, kita belum berpisah. Aku lupa kalau pementasan drama dan cerita kita sebenarnya belum tutup tirai.

You Might Also Like

0 comments: