1:1 = IMPAS!
Saya salah satu pecinta musik random. Apa pun itu. Mau emang
ditemuin secara random atau memang lirik lagunya yang random. Tapi beda dengan
lagu satu ini. Ditemukannya emang random. Jadi dulu waktu jamannya KKN, ketua
sub-unit saya seneng banget nyanyiin lagu ini. Sampai akhirnya hingga saat ini
kalau dengar lagu itu saya keingetan dia terus. Bukan karena kita terjebak
dalam satu memori yang sesuai dengan liriknya, tapi karena cara bernyanyinya
dia.
Well..okay
then..lagu itu adalah “Coba Katakan” yang dinyanyiin sama Maliq & d’
Essentials. Mungkin lagu itu nggak seterkenal istilah PHP. Ya, siapa yang saat
ini nggak kenal PHP? Pemberi Harapan Palsu. Begitu (katanya) kepanjangannya. Sebuah
istilah yang dicapkan di jidat orang yang suka mengumbar kata “cinta” atau “sayang”,
orang yang senang menjalin hubungan romantis dengan orang lain, atau singkatnya
“playboy”/”playgirl”. Orang yang PHP itu heartbreaker, katanya. Senangnya ganti-ganti
pasangan, nggak punya komitmen, mainin perasaan orang, memanfaatkan perhatian
dan kasih sayang orang, ah..pokoknya macam-macam deh. Oh ya, satu lagi, orang
PHP itu doyannya flirting.
Tapi apa
semuanya itu benar?
Awalnya
saya pun mikir hal yang sama. PHP itu jahat banget deh pokoknya, sampai
akhirnya suatu siang saya berdiskusi dengan seorang dosen. Dia ahli antropologi
dan darinya saya paham kalau pride,
ego, dan self-esteem itu penting
supaya kita nggak jadi korban PHP. Dari situ pula lah saya nggak menyalahkan
lelaki yang bikin saya down kalau
ternyata mereka PHP. Bukan. Bukan salah orang menjadi PHP (dan semestinya
istilah PHP itu nggak ada), tapi kekuatan kita lah yang nggak sebanding dengan “lawan
main” perasaan kita.
Coba kalian
baca “pure relationship”-nya Giddens.
Jangan nguap dulu kalau sekarang saya membicarakan pemikirannya si eyang yang
udah tenang di alamnya. Coba duduk sejenak, buka pikiran, dan buang stigma
negatif terhadap orang-orang yang udah bikin harapan “being with you together forever” kita luluh lantak. Coba sedikit
ngaca dan lihat ke dalam diri. Introspeksi.
Saya menemukan
konsep tentang “pure relationship”
bukan dari blog random. Bukan. Saya menemukannya langsung dari tulisan tentang
pemikiran Giddens pada tahun 1992 “The
Transformation of Intimacy: Sexuality, love and eroticism” dan sebuah hasil
penelitian terhadap sejumlah remaja Amerika yang gemar memanfaatkan chatroom untuk berbagai tujuan.
“Pure relationship” terjalin ketika
adanya keseimbangan antara dua orang yang berpasangan. Keseimbangan ini disebut
juga “bargaining power”, yaitu
kapasitas seseorang untuk mendominasi pihak lainnya. Indikatornya adalah
status, kekuatan, bahkan hingga taktik persuasi. Nggak tau “persuasi” itu apa?
Cari sendiri di Google atau kamus Bahasa Indonesia!
Sayangnya, “pure relationship” adalah ruang utopis bagi manusia. Dia adalah mimpi dan angan-angan. Suatu kondisi kesempurnaan yang nggak mungkin dimiliki oleh setiap diri individu. Kita hanya bisa menciptakannya. Pada kenyataannya “pure relationship” tidak bisa benar-benar dimiliki. Sudah sifat dasar manusia juga yang menginginkan sebuah kepastian, maka kepastian dari “pure relationship” ini beragam, being single, friendship, romance relationship, bahkan stranger. Nggak aneh, toh memang kesempurnaan hanya milik Tuhan, bukan? Tidak dengan manusia.
0 comments: