1:1 = IMPAS!

9:40 AM Tameila 0 Comments



Saya salah satu pecinta musik random. Apa pun itu. Mau emang ditemuin secara random atau memang lirik lagunya yang random. Tapi beda dengan lagu satu ini. Ditemukannya emang random. Jadi dulu waktu jamannya KKN, ketua sub-unit saya seneng banget nyanyiin lagu ini. Sampai akhirnya hingga saat ini kalau dengar lagu itu saya keingetan dia terus. Bukan karena kita terjebak dalam satu memori yang sesuai dengan liriknya, tapi karena cara bernyanyinya dia.

Lama kelamaan, semakin di dengar lagunya malah mengaburkan bayangan ketua sub-unit saya. Bayangan berganti kepada orang-orang yang memandang sinis terhadap PHP. No offense nih ya tulisan ini ditujukan kepada siapa. Pada dasarnya saya pun sering mendiskusikan masalah PHP dengan beberapa teman, khususnya perempuan, lebih ditekankan lagi perempuan-perempuan yang dianggap PHP. Kesimpulannya terkadang normatif dan terdengar perempuan sangat egois. Tapi diskusi dengan dosen saya membuka jendela baru, bahwa sesungguhnya PHP hanya lah masalah bargaining power dan sifat alami seorang manusia.

Well..okay then..lagu itu adalah “Coba Katakan” yang dinyanyiin sama Maliq & d’ Essentials. Mungkin lagu itu nggak seterkenal istilah PHP. Ya, siapa yang saat ini nggak kenal PHP? Pemberi Harapan Palsu. Begitu (katanya) kepanjangannya. Sebuah istilah yang dicapkan di jidat orang yang suka mengumbar kata “cinta” atau “sayang”, orang yang senang menjalin hubungan romantis dengan orang lain, atau singkatnya “playboy”/”playgirl”. Orang yang PHP itu heartbreaker, katanya. Senangnya ganti-ganti pasangan, nggak punya komitmen, mainin perasaan orang, memanfaatkan perhatian dan kasih sayang orang, ah..pokoknya macam-macam deh. Oh ya, satu lagi, orang PHP itu doyannya flirting.

Tapi apa semuanya itu benar?

Awalnya saya pun mikir hal yang sama. PHP itu jahat banget deh pokoknya, sampai akhirnya suatu siang saya berdiskusi dengan seorang dosen. Dia ahli antropologi dan darinya saya paham kalau pride, ego, dan self-esteem itu penting supaya kita nggak jadi korban PHP. Dari situ pula lah saya nggak menyalahkan lelaki yang bikin saya down kalau ternyata mereka PHP. Bukan. Bukan salah orang menjadi PHP (dan semestinya istilah PHP itu nggak ada), tapi kekuatan kita lah yang nggak sebanding dengan “lawan main” perasaan kita.

Coba kalian baca “pure relationship”-nya Giddens. Jangan nguap dulu kalau sekarang saya membicarakan pemikirannya si eyang yang udah tenang di alamnya. Coba duduk sejenak, buka pikiran, dan buang stigma negatif terhadap orang-orang yang udah bikin harapan “being with you together forever” kita luluh lantak. Coba sedikit ngaca dan lihat ke dalam diri. Introspeksi.

Saya menemukan konsep tentang “pure relationship” bukan dari blog random. Bukan. Saya menemukannya langsung dari tulisan tentang pemikiran Giddens pada tahun 1992 “The Transformation of Intimacy: Sexuality, love and eroticism” dan sebuah hasil penelitian terhadap sejumlah remaja Amerika yang gemar memanfaatkan chatroom untuk berbagai tujuan.

Pure relationship” terjalin ketika adanya keseimbangan antara dua orang yang berpasangan. Keseimbangan ini disebut juga “bargaining power”, yaitu kapasitas seseorang untuk mendominasi pihak lainnya. Indikatornya adalah status, kekuatan, bahkan hingga taktik persuasi. Nggak tau “persuasi” itu apa? Cari sendiri di Google atau kamus Bahasa Indonesia!

Okay then, dari sini Giddens pada akhirnya merefekleksikan sebuah hubungan antarmanusia itu ke dalam sebuah kalimat pertanyaan, “how is this relationship fulfilling to me?”. Kok kesannya kayak pamrih ya mencintai seseorang? Mungkin akan lebih cocok kalau bukan kata “pamrih” yang kita pakai, tapi “pemenuhan kebutuhan” dan “penyeimbangan”. Kenapa hal itu terjadi? Freud bilang kalau udah dari “sono”-nya manusia itu selalu ingin memenuhi kebutuhan dirinya. Kalau kalian kenal dengan Maslow, salah satu kebutuhan manusia adalah afeksi. Nah, dapat benang merahnya?

Kemudian, dosen saya bilang kalau penyeimbangan dalam hubungan antarmanusia itu pasti terjadi makannya ada dinamika hubungan. Satu nuntut ini, satu nuntut itu. Nah, tuntutan dan saling menunjukkan power-nya itu dipengaruhi oleh dinamika lingkungan. Karena nilai-nilai lingkungan sosial kita berubah, maka itu mempengaruhi bargaining power-nya setiap orang.

Orang yang menempatkan dirinya sebagai “korban” PHP adalah orang-orang yang tidak memiliki power setara dengan lawannya. Lawannya di sini adalah pasangannya yang, ehm..yeah..kasihan..awalnya disanjung tapi ujung-ujungnya dijulukin PHP itu. Kenapa bisa dibilang power-nya nggak setara? Ya iya lah, si PHP (anw sebenarnya saya enggan menggunakan istilah PHP, tapi belum nemu istilah yang tepat. Jadi anggap saja PHP adalah orang, bukan julukan negatif) juga kan manusia. Dia punya kebutuhan afeksi yang harus dipenuhi, sedangkan di sisi lain ada faktor X yang kita nggak pernah tau kenapa dia nggak mau membentuk romance relationship. Demi memenuhi kebutuhan afeksinya, dia menggunakan power­-nya dong? Mulai dari banyak menjalin pertemanan, memberikan perhatian kepada orang lain, melakukan berbagai usaha agar ia mendapatkan kasih sayang, dan banyak lagi.

Biasanya nggak sedikit orang yang nyaman dengan orang tipe di atas. Banyak. Nah, masalahnya, orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai “korban” PHP adalah orang-orang yang too much expectation sama orang di atas. Harapannya bisa “happily ever after” padahal kita nggak boleh lupa sama faktor X. Faktor yang memungkinkan seseorang belum tentu mau bersama kita atau kalian tidak bisa bersama. Itu ada lho dan beragam bentuknya! Ada beberapa orang yang mau melihat dan mempertimbangkan faktor X itu, tapi banyaknya gelap mata. Makannya ketika sadar mereka nggak bisa “in relationship” langsung aja orang tipe di atas dihajar dengan status PHP.

Konsepnya Giddens ini jadi semakin seksi ketika dipertemukan dengan konsep “Liquid Love”-nya Baumann. Ketika dua pemikiran ini digabungkan, maka jangan terbelalak kalau makin hari akan semakin mudah setiap orang punya “gandengan” lain saat sedang mempunyai hubungan. Kok bisa? Ya jelas bisa lah, cinta menjadi begitu cairnya di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Kita akan semakin mudah berinteraksi dengan orang lain. Saat kita ngerasa “klop” maka kita punya keinginan untuk terus berkomunikasi dengan orang itu bukan? Ingat, meningkatnya intensitas komunikasi mempengaruhi jumlah dan kedalaman obrolan kita dengan orang lain. Dengan begini, kita akan semakin merasa dekat dengan orang itu. Dalam ilmu komunikasi interpersonal, hal ini dinamakan intimacy (keintiman), sebuah akumulasi perasaan kedekatan terhadap orang lain.

Saat diskusi makan malam, seorang teman bertanya, “jadi menurut lo bagus nggak, Ta, relationship macem gitu? Kok based on needs banget, ya?”

Indeed! Semua yang kita lakukan di muka bumi kan berdasarkan kebutuhan, bahkan sedekah pun yang katanya ikhlas itu sebuah pemenuhan kebutuhan lho. Kebutuhan untuk selalu dekat dengan Tuhan. Kebutuhan untuk terus mengisi celengan amal. Kebutuhan untuk merasa aman dari api neraka.

Nah, masalah “pure realtionship” itu bagus atau nggak tergantung dari mana kita memandangnya. Kalau kita tipe orang yang berharap orang lain dapat mewujudkan mimpi kita, jelas aja “pure relationship” nggak bagus. Relationship ini sangat rentan. Dia mudah terbentuk dan mudah juga disappear. Dia dapat terjalin dalam satu waktu yang sama dengan banyak orang, tapi sangat memungkinkan juga putus semuanya dalam sekejap. Ingat, basisnya adalah kebutuhan dan benefit.

Tapi kalau kita memandangnya melalui kacamata, “gue pengen kenal dengan banyak orang.Status itu nggak penting, yang penting seberapa jauh gue mengenal dia. Masalah dia jadi pacar atau pendamping gue nanti, lihat situasi di mana kita sudah bisa excuse dengan ikhlas dan siap hidup dengan segala kekurangan serta kelebihannya”. This! Dua orang yang punya pemikiran yang seperti ini biasanya nggak akan pernah ngucap PHP untuk “lawan mainnya”. Mereka sama-sama tahu cara menjalankan peran dan seberapa banyak tuntutan yang pantas diajukan. Mereka nggak pernah menggantungkan harapan sama “lawan mainnya” dan saya rasa inilah yang dinamakan “hubungan mengalir”.  


Sayangnya, “pure relationship” adalah ruang utopis bagi manusia. Dia adalah mimpi dan angan-angan. Suatu kondisi kesempurnaan yang nggak mungkin dimiliki oleh setiap diri individu. Kita hanya bisa menciptakannya. Pada kenyataannya “pure relationship” tidak bisa benar-benar dimiliki. Sudah sifat dasar manusia juga yang menginginkan sebuah kepastian, maka kepastian dari “pure relationship” ini beragam, being single, friendship, romance relationship, bahkan stranger. Nggak aneh, toh memang kesempurnaan hanya milik Tuhan, bukan? Tidak dengan manusia.

You Might Also Like

0 comments: