Gerimis di Taman
Sore ini taman tidak terlalu ramai. Masih sama seperti
kemarin dan minggu lalu. Semak-semak hijau basah dengan tanah becek. Siapapun yang
lewat kalau tidak hati-hati pasti terpeleset. Bangku-bangku pun masih berjejer
rapi. Beberapa catnya sudah terkelupas menyisakan pemandangan karat. Ayunan berderak
pelan. Beberapa ibu-ibu muda menemani balitanya jalan-jalan sambil bergosip. Sekedar
menyambut lembayung dengan cerita aib-aib tetangga atau keluarga mereka
sendiri.
Kolam
ikan tidak memancurkan air. Maklum, di musim penghujan airnya lebih cepat
hijau. Baru saja si bapak petugas kebersihan bilang kalau besok kolamnya baru
dibersihkan. Tapi apalah gunanya pancuran, kalau kita masih bisa mendengar
cekikikan anak-anak muda yang memadu kasih di sana. Wajah malu-malu yang
bersatu dengan rayuan-rayuan. Cinta dan semarak alam sama indahnya dengan
bisik-bisik gombalan.
Bisa dipastikan
suasana ini akan menguap ketika malam tiba. Sunyi akan merajai taman,
didampingi dengan gelap. Ayunan, seluncuran, tanah, rumput, bangku, lampu
taman, jungkitan akan saling bertukar cerita. Mereka akan saling berbagi
kisah-kisah yang disimpannya sepanjang hari. Membicarakan manusia-manusia yang
menghampirinya. Tak peduli apakah dia seorang lugu atau pintar. Sama halnya
apakah dia seorang papa atau konglomerat.
Cerita manusia
tak hanya tersimpan di taman. Tak hanya didengar oleh alam. Cerita manusia juga
disimpan manusia. Bedanya, manusia bisa memilih cerita mana yang mau
didengarnya, disimpannya, dan dibaginya. Begitulah manusia. Selalu memilih dan
ingin mengambil yang baik. Padahal, hidup tercipta lewat keseimbangan. Baik dan
buruk. Benar dan salah. Suci dan hina.
Siapa
yang menentukan itu semua? Lampion? Pelangi? Atau merpati yang gemar bermain
air? Baik-buruk, benar-salah, suci-hina adalah nilai. Nilai merupakan sesuatu
yang kita dapat kemudian kita yakini. Dari mana asalnya? Ia berasal dari
akumulasi pengalaman pribadi, kasih sayang keluarga, pendidikan formal,
interaksi pertemanan, hukum pemerintahan, dan kebudayaan masyarakat. Semuanya menyatu
kemudian melebur dengan diri. Apa hasilnya? Prinsip hidup.
Ku intip
kamus dan ku pahami beberapa definisi. Semuanya sama. Arti prinsip bermuara
pada satu hal, yakni pegangan hidup. Apa yang kita percayai dan kita pegang
teguh adalah prinsip. Jadi, prinsip adalah nilai, tetapi tak selamanya nilai
menjadi prinsip. Lalu, mengapa orang-orang selalu risau dengan prinsip
seseorang yang lain jika berbenturan dengan nilai-nilai? Statement salah, tidak
semestinya, tidak bagus pasti mampir kepada orang-orang yang prinsipnya berada
di seberang nilai-nilai. Bukan kah prinsip adalah pegangan hidup secara pribadi
dan individual?
“Ini harus dihentikan”, begitu
katanya atau “ini tak boleh dilanjutkan”. “Rasakan akibatnya kalau kamu tetap
memaksa”, itulah tambahannya. Seperti ancaman yang dipanahkan pada diri,
akhirnya membuat setiap pribadi bertanya, “sebenarnya prinsip atau kepercayaan
itu kita yang memilih atau dipilihkan?”
Satu malam aku menguping
pembicaraan sekumpulan orang asing. Aku tidak tertarik dengan diskusinya, aku
tertarik dengan epilognya. Mereka membungkus diskusi dengan kesimpulan kalau
selama kita terikat dengan nilai-nilai, maka selama itu juga hidup kita diatur
olehnya. Ingat, nilai ini nilai kolektif. Nilai mayoritas. Bukan nilai diri,
bukan nilai pribadi. Sekuat apapun seseorang memaksakan diri dan kehendaknya,
apabila terbentur dengan nilai mayoritas maka akan sia-sia. Begitu kata mereka.
Namun kataku dalam hati, “benar kah begitu adanya?”
Hagemoni. Seseorang atau kelompok
minoritas tidak punya pilihan karena dominasi pihak lain sehingga ide-ide
mayoritas menjadi common sense. Jadilah
sebagai minoritas hanya bisa manut dan bilang,”kita bisa apa?”. Lantas untuk
apa adanya prinsip, sikap, keteguhan, atau apa pun itu namanya?
Aku tidak membicarakan hagemoni
dalam konsep Gramsci. Aku tak mengerti fasisme, sosiologi, dan juga revolusi. Konsep-konsep
itu hanya normatif, pada kenyataannya selalu ada excuse apabila teori tidak selajalan dengan praktiknya toh? Aku
hanya mengerti dominasi, koersi yang tak kasat mata, dan common sense. Tau kenapa? Ya, karena semuanya akan berujung pada
pemakluman. Aku tidak lelah pada pemakluman, hanya saja jadinya aneh ketika
pemakluman harus kita turuti. Pemakluman itu bukan keharusan toh? Ia berangkat
dari kerelaan, bukan?
Pemakluman itu seperti jungkitan
yang tak pernah menuntut karena dibenturkan berkali-kali ke tanah oleh
anak-anak. Pemakluman itu seperti lampu taman yang tak pernah mengeluh kalau
belum padam karena pagi masih terasa gelap bagi manusia. Pemakluman itu seperti
ubin yang rela retak karena pemuda-pemudi shuffeling
diatasnya. Pemakluman itu seperti
bangku taman yang sedia berkarat karena disentuh oksigen dan air. Pemakluman itu
ya seperti itu. Tak menuntut, namun menerima dan memahami dengan cara yang baik.
Tapi aku manusia. Aku bukan
seluncuran yang diam ketika pantat-pantat menempel. Aku bukan keset yang diam
ketika kaki-kaki menginjak. Aku pun bukan beton yang tak bergeming ketika
ditekan. Aku seonggok daging yang memiliki ruh. Digerakkan oleh akal dan hati. Untung
jika keduanya masih berfungsi dengan baik, karena tak banyak manusia kini yang
menyadari bagaimana kinerja keduanya.
Di sore ini, di taman yang
menyebarkan aroma tanah usai hujan, harus kah aku memaklumi kalau perasaanku
ini salah dan tidak pada tempatnya? Haruskah memberangus anugerah Tuhan dan
menyelaraskannya dengan nilai-nilai? Bukan nilaiku, tapi nilai mereka. Nilai yang
katanya akan membuat hidupku lebih baik dan bahagia, dunia-akhirat. Nilai pertemanan,
nilai keluarga, nilai agama, dan nilai kebudayaan. Haruskah aku membuat mereka
mengerti kalau perasaan ini justru membuat hidupku lebih baik, bahagia, dan
dekat dengan-Nya?
Aku rasa tidak bisa. Menurut mereka,
bukan begini jalannya untuk tetap bersama-Nya. Ya, menurut mereka. Bukan menurutku.
Ternyata, terlalu banyak
nilai-nilai mayoritas yang mempengaruhi hidup manusia daripada pegangan manusia
itu sendiri. Jadi apalah bedanya aku dengan ayunan itu? Mainan anak-anak yang
dikuatkan oleh mata-mata rantai sehingga bisa berayun secara teratur. Depan-belakang.
Aku tidak bisa berayun ke samping atau miring. Aku adalah ayunan. Menyedia tempat
bagi setiap pantat yang ingin merasakan desiran angin. Aku adalah ayunan. Sesuatu
yang bergerak sesuai susunan mata rantai. Seberapa keras pun manusia-manusia
mengarahkan aku ke luar jalur rantai, aku akan tetap kembali sejalur mata
rantai menyusunku.
Mari kita sudahi saja pertanyaan
tentang nilai dan prinsip ini karena prinsipku “perasaan ini pasti akan
mengubahnya perlahan” akan percuma. Terlalu banyak nilai-nilai yang aku
seberangi. Terlalu riskan menyusuri jembatan ini sendirian. Mungkin mentalku
lemah karena tak berani berjalan sendiri. Tak apa, karena memang sebenarnya aku
hidup dalam sebuah sistem. Sistem pertemanan, sistem kebudayaan, sistem agama,
sistem pemerintahan, sistem hukum, dan sistem-sistem lainnya. Roda-roda berantai
yang tak akan melepaskanku keluar jalur. Mungkin bisa keluar jalur, tapi
rasakan lah akibatnya. Begitu yang aku dengar lagi untuk kesekian kalinya tatkala
gerimis perlahan mulai turun dan menyepikan taman ini.
0 comments: