Gerimis di Taman

2:48 PM Tameila 0 Comments

Sore ini taman tidak terlalu ramai. Masih sama seperti kemarin dan minggu lalu. Semak-semak hijau basah dengan tanah becek. Siapapun yang lewat kalau tidak hati-hati pasti terpeleset. Bangku-bangku pun masih berjejer rapi. Beberapa catnya sudah terkelupas menyisakan pemandangan karat. Ayunan berderak pelan. Beberapa ibu-ibu muda menemani balitanya jalan-jalan sambil bergosip. Sekedar menyambut lembayung dengan cerita aib-aib tetangga atau keluarga mereka sendiri.

                Kolam ikan tidak memancurkan air. Maklum, di musim penghujan airnya lebih cepat hijau. Baru saja si bapak petugas kebersihan bilang kalau besok kolamnya baru dibersihkan. Tapi apalah gunanya pancuran, kalau kita masih bisa mendengar cekikikan anak-anak muda yang memadu kasih di sana. Wajah malu-malu yang bersatu dengan rayuan-rayuan. Cinta dan semarak alam sama indahnya dengan bisik-bisik gombalan.

              Bisa dipastikan suasana ini akan menguap ketika malam tiba. Sunyi akan merajai taman, didampingi dengan gelap. Ayunan, seluncuran, tanah, rumput, bangku, lampu taman, jungkitan akan saling bertukar cerita. Mereka akan saling berbagi kisah-kisah yang disimpannya sepanjang hari. Membicarakan manusia-manusia yang menghampirinya. Tak peduli apakah dia seorang lugu atau pintar. Sama halnya apakah dia seorang papa atau konglomerat.

                Cerita manusia tak hanya tersimpan di taman. Tak hanya didengar oleh alam. Cerita manusia juga disimpan manusia. Bedanya, manusia bisa memilih cerita mana yang mau didengarnya, disimpannya, dan dibaginya. Begitulah manusia. Selalu memilih dan ingin mengambil yang baik. Padahal, hidup tercipta lewat keseimbangan. Baik dan buruk. Benar dan salah. Suci dan hina.

                Siapa yang menentukan itu semua? Lampion? Pelangi? Atau merpati yang gemar bermain air? Baik-buruk, benar-salah, suci-hina adalah nilai. Nilai merupakan sesuatu yang kita dapat kemudian kita yakini. Dari mana asalnya? Ia berasal dari akumulasi pengalaman pribadi, kasih sayang keluarga, pendidikan formal, interaksi pertemanan, hukum pemerintahan, dan kebudayaan masyarakat. Semuanya menyatu kemudian melebur dengan diri. Apa hasilnya? Prinsip hidup.

                Ku intip kamus dan ku pahami beberapa definisi. Semuanya sama. Arti prinsip bermuara pada satu hal, yakni pegangan hidup. Apa yang kita percayai dan kita pegang teguh adalah prinsip. Jadi, prinsip adalah nilai, tetapi tak selamanya nilai menjadi prinsip. Lalu, mengapa orang-orang selalu risau dengan prinsip seseorang yang lain jika berbenturan dengan nilai-nilai? Statement salah, tidak semestinya, tidak bagus pasti mampir kepada orang-orang yang prinsipnya berada di seberang nilai-nilai. Bukan kah prinsip adalah pegangan hidup secara pribadi dan individual?

“Ini harus dihentikan”, begitu katanya atau “ini tak boleh dilanjutkan”. “Rasakan akibatnya kalau kamu tetap memaksa”, itulah tambahannya. Seperti ancaman yang dipanahkan pada diri, akhirnya membuat setiap pribadi bertanya, “sebenarnya prinsip atau kepercayaan itu kita yang memilih atau dipilihkan?”

Satu malam aku menguping pembicaraan sekumpulan orang asing. Aku tidak tertarik dengan diskusinya, aku tertarik dengan epilognya. Mereka membungkus diskusi dengan kesimpulan kalau selama kita terikat dengan nilai-nilai, maka selama itu juga hidup kita diatur olehnya. Ingat, nilai ini nilai kolektif. Nilai mayoritas. Bukan nilai diri, bukan nilai pribadi. Sekuat apapun seseorang memaksakan diri dan kehendaknya, apabila terbentur dengan nilai mayoritas maka akan sia-sia. Begitu kata mereka. Namun kataku dalam hati, “benar kah begitu adanya?”

Hagemoni. Seseorang atau kelompok minoritas tidak punya pilihan karena dominasi pihak lain sehingga ide-ide mayoritas menjadi common sense. Jadilah sebagai minoritas hanya bisa manut dan bilang,”kita bisa apa?”. Lantas untuk apa adanya prinsip, sikap, keteguhan, atau apa pun itu namanya?

Aku tidak membicarakan hagemoni dalam konsep Gramsci. Aku tak mengerti fasisme, sosiologi, dan juga revolusi. Konsep-konsep itu hanya normatif, pada kenyataannya selalu ada excuse apabila teori tidak selajalan dengan praktiknya toh? Aku hanya mengerti dominasi, koersi yang tak kasat mata, dan common sense. Tau kenapa? Ya, karena semuanya akan berujung pada pemakluman. Aku tidak lelah pada pemakluman, hanya saja jadinya aneh ketika pemakluman harus kita turuti. Pemakluman itu bukan keharusan toh? Ia berangkat dari kerelaan, bukan?

Pemakluman itu seperti jungkitan yang tak pernah menuntut karena dibenturkan berkali-kali ke tanah oleh anak-anak. Pemakluman itu seperti lampu taman yang tak pernah mengeluh kalau belum padam karena pagi masih terasa gelap bagi manusia. Pemakluman itu seperti ubin yang rela retak karena pemuda-pemudi shuffeling  diatasnya. Pemakluman itu seperti bangku taman yang sedia berkarat karena disentuh oksigen dan air. Pemakluman itu ya seperti itu. Tak menuntut, namun menerima dan memahami dengan cara yang baik.

Tapi aku manusia. Aku bukan seluncuran yang diam ketika pantat-pantat menempel. Aku bukan keset yang diam ketika kaki-kaki menginjak. Aku pun bukan beton yang tak bergeming ketika ditekan. Aku seonggok daging yang memiliki ruh. Digerakkan oleh akal dan hati. Untung jika keduanya masih berfungsi dengan baik, karena tak banyak manusia kini yang menyadari bagaimana kinerja keduanya.

Di sore ini, di taman yang menyebarkan aroma tanah usai hujan, harus kah aku memaklumi kalau perasaanku ini salah dan tidak pada tempatnya? Haruskah memberangus anugerah Tuhan dan menyelaraskannya dengan nilai-nilai? Bukan nilaiku, tapi nilai mereka. Nilai yang katanya akan membuat hidupku lebih baik dan bahagia, dunia-akhirat. Nilai pertemanan, nilai keluarga, nilai agama, dan nilai kebudayaan. Haruskah aku membuat mereka mengerti kalau perasaan ini justru membuat hidupku lebih baik, bahagia, dan dekat dengan-Nya?

Aku rasa tidak bisa. Menurut mereka, bukan begini jalannya untuk tetap bersama-Nya. Ya, menurut mereka. Bukan menurutku.

Ternyata, terlalu banyak nilai-nilai mayoritas yang mempengaruhi hidup manusia daripada pegangan manusia itu sendiri. Jadi apalah bedanya aku dengan ayunan itu? Mainan anak-anak yang dikuatkan oleh mata-mata rantai sehingga bisa berayun secara teratur. Depan-belakang. Aku tidak bisa berayun ke samping atau miring. Aku adalah ayunan. Menyedia tempat bagi setiap pantat yang ingin merasakan desiran angin. Aku adalah ayunan. Sesuatu yang bergerak sesuai susunan mata rantai. Seberapa keras pun manusia-manusia mengarahkan aku ke luar jalur rantai, aku akan tetap kembali sejalur mata rantai menyusunku.

Mari kita sudahi saja pertanyaan tentang nilai dan prinsip ini karena prinsipku “perasaan ini pasti akan mengubahnya perlahan” akan percuma. Terlalu banyak nilai-nilai yang aku seberangi. Terlalu riskan menyusuri jembatan ini sendirian. Mungkin mentalku lemah karena tak berani berjalan sendiri. Tak apa, karena memang sebenarnya aku hidup dalam sebuah sistem. Sistem pertemanan, sistem kebudayaan, sistem agama, sistem pemerintahan, sistem hukum, dan sistem-sistem lainnya. Roda-roda berantai yang tak akan melepaskanku keluar jalur. Mungkin bisa keluar jalur, tapi rasakan lah akibatnya. Begitu yang aku dengar lagi untuk kesekian kalinya tatkala gerimis perlahan mulai turun dan menyepikan taman ini.

You Might Also Like

0 comments: