“Salah gue ?”

8:17 AM Tameila 0 Comments

Kalau disebutkan dalam undang – undang bahwa pendidikan dan agama adalah hak setiap manusia, maka agaknya harus sedikit ditambah jika  informasi pun masuk di dalamnya. Atau mungkin sebenarnya sudah ada aturannya bahwa informasi adalah hak bagi setiap warga ? Bagaimana implementasinya?

Seorang teman pernah berkata pada saya, “yah kalau jadi orang itu harus aktif, biar nggak ketinggalan berita harus mau cari. Tanya. Jangan diem aja. Jaman sekarang kok maunya disuapin”. Indeed. Bener sih omongannya. Tapi kalau kasusnya sudah dicari, sudah ditanya, tapi orang – orang sekitar nggak bisa membuatnya mengerti masih kah salah orang- yang – dianggap - nggak – aktif tadi ?

Mungkin kalian pernah dengar sebuah pepatah, emm...bukan pepatah, entah lah apa sebutannya yang tepat, bunyinya begini, “semua orang secara tidak langsung menanggung hidup orang lain. Ada sebagian hidup mereka di pundak kita, begitu pun sebaliknya. Namun tidak seyogyanya kita meminta bagian kita tanpa memberikan milik mereka terlebih dahulu”. Well...actually sebenarnya saya mendapatkan pemahaman barusan dari sebuah ceramah zakat. Bagaimana seharusnya kita sebagai manusia itu berbagi, tanpa memandang kita adalah pemeluk agama Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, atau seorang atheis sekali pun. Sebenarnya tanpa kita sadari kita pun mengamini hal ini. Bagaimana tidak, lihat lah buktinya dari penggunaan Facebook, Twitter, Instagram, Blog, dan sebagainya. Kita mulai senang berbagai hobi, hal – hal menyenangkan, nilai – nilai, sampai cerita – cerita pribadi. Kita belajar dari sana. Kita belajar dari “berbagi”.

Sayang, hal semanis itu nggak mudah untuk dikecap oleh teman – teman deaf. Kalian pikir dengan membaca cukup memberikan informasi untuk mereka ? No, guys. They may get it, but not to understand it. Susah untuk memahami informasi baru bagi mereka. Bukan hanya karena masalah pemahaman istilah – istilah baru, tapi juga pemahaman konteks dari berita itu. Mudah saja bagi kita untuk memahami istilah baru karena ketika kita bertanya pada orang lain maka akan dijelaskan saat itu juga. Langsung. Secara verbal. Tanpa menerjemahkannya lagi ke bahasa isyarat. Lha mereka ?

Pertama, harus baca informasinya. Kedua, harus memahami. Karena struktur kalimat mereka berbeda dengan kita, maka pemahaman itu bukan sekedar isi berita, tetapi juga konteks dan makna setiap kata. Ketiga, kalau ada yang nggak dimengerti maka harus bertanya. Nggak semua orang bisa menerjemahkan sesuatu dengan baik. Jangankan untuk ke bahasa isyarat, diterjemahkan ke dalam bahasa sehari – hari saja terkadang masih susah, bukan ? Jadi, ketika mereka ketinggalan berita masih kah salah mereka ?

Agak kurang ajar rasanya kalau saja kita masih berpikir, “terus salah gue kalau mereka nggak ngerti karena mereka tuli ?”. Gila ya, kalau ada sampai orang ngomong kayak gitu depan hidung saya bakalan saya colok hidungnya pakai garpu. Paling nggak saya gampar mulutnya. Harusnya kita malu sama Tuhan, diberi kelebihan kok malah menelantarkan sesama. Nggak usah malu sama Tuhan deh, malu sama zaman. Malu sama trend yang katanya senang berbagi.

Tapi sepertinya saya yang harus malu sama diri sendiri. Saya ini harus ngaca kalau saya pun masih sering malas menjelaskan hal – hal baru pada mereka. Bukan karena nggak bisa menerjemahkannya, namun lebih kepada pertanyaan – pertanyaan yang muncul setelahnya. Terkadang pertanyaannya itu aneh – aneh dan sulit untuk diterangkan, jadi saya membiarkannya dan beranggapan kalau mereka nanti akan mengerti dengan sendirinya.

Saya salah ? 

Tentu !

Bagaimana tidak, dengan begitu saya membiarkan mereka dalam ketidaktahuan. Ketidakpastian. Padahal saya sendiri pun nggak suka di “gantung”. Saya pun jadinya merasa percuma jadi pembelajar ilmu komunikasi kalau masih membiarkan orang dalam ambiguitas. Untuk apa belajar ilmu komunikasi kalau nggak bisa menyampaikan dan membuat orang paham terhadap pesan ? Kuliah aja di hukum terus jadi hakim yang doyannya nge – judge.

Sore kemarin usai latihan interpreter saya jadi sadar kalau ada sebagian hidup mereka di pundak saya. Ada hak mereka untuk memahami informasi yang harus saya penuhi. Mungkin di sini lah Tuhan menginginkan ilmu saya diaplikasikan. Ah, rasanya terlalu jauh menempatkan diri sebagai pembelajar ilmu komunikasi. Harusnya saya mulai dari yang paling sederhana, yakni sebagai sesama hamba – Nya. Sebagai makhluknya yang saling berbagi dan mengingatkan. Bukan kah Dia pun menyuruh kita untuk saling mengingatkan ? Alangkah meruginya orang – orang yang tidak saling mengingatkan, bukan ?

Malu mungkin, tapi tidak seharusnya ini membuat saya tertekan. Sebenarnya memikul tanggung jawab ini nggak berat, asal saya mau belajar sama mereka. Belajar lebih sabar, belajar kosa kata baru, belajar membedakan mana ASL (American Sign Language) dan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia), belajar kalau setiap manusia memiliki caranya masing – masing untuk memahami sesuatu.

Menyenangkan rasanya ketika kemarin berhasil diskusi tentang agama dengan salah satu teman DAC. Berawal dari sebuah pertanyaan polos, “bolehkah orang Islam pindah ke Katholik, Hindu, Budha dan sebaliknya ?”. Di situlah saya diuji, sejauh mana saya objektif dan jujur kepada mereka. Bisa saja saya berbohong kalau sudah masuk Islam tidak bisa pindah agama dan menjelekkan agama lain. Tapi kembali saya ingat kalau agama pun hak setiap orang, saya tidak boleh memaksa apalagi meracuni. Hanya Tuhan yang mampu membuka hati setiap orang. Makannya dengan hati – hati saya menjelaskan kalau kita bisa berpindah – pindah agama, tetapi Tuhan lebih senang ketika kita memeluk agama satu hingga bertemu dengan – Nya.

Konsistensi. Ya, itulah yang coba saya transfer kepadanya. Sebuah komitmen kesetiaan terhadap Tuhan. Ah, sudah lah..saya give up kalau membicarakan komitmen, baik sama Tuhan maupun sama manusia. Nggak pantas membicarakan sesuatu yang kita belum mampu melakukannya. Nanti saja, mungkin saya bisa membicarakan komitmen kalau janji saya pada ibu Oing sudah terpenuhi. Kalau Oing, murid deaf manis saya yang duduk di kelas 5 SD, sudah bisa membaca, menulis, dan berisyarat dengan baik. Karena komitmen bukan sekedar janji yang diucapkan, tapi perilaku konsisten untuk memenuhi janji itu sendiri.

You Might Also Like

0 comments: