“Salah gue ?”
Kalau disebutkan dalam undang – undang bahwa pendidikan dan
agama adalah hak setiap manusia, maka agaknya harus sedikit ditambah jika informasi pun masuk di dalamnya. Atau mungkin
sebenarnya sudah ada aturannya bahwa informasi adalah hak bagi setiap warga ? Bagaimana
implementasinya?
Seorang teman pernah berkata pada saya, “yah kalau jadi orang itu harus aktif, biar
nggak ketinggalan berita harus mau cari. Tanya. Jangan diem aja. Jaman sekarang
kok maunya disuapin”. Indeed. Bener sih omongannya. Tapi kalau kasusnya
sudah dicari, sudah ditanya, tapi orang – orang sekitar nggak bisa membuatnya
mengerti masih kah salah orang- yang – dianggap - nggak – aktif tadi ?
Mungkin kalian pernah dengar sebuah pepatah, emm...bukan
pepatah, entah lah apa sebutannya yang tepat, bunyinya begini, “semua orang secara tidak langsung menanggung
hidup orang lain. Ada sebagian hidup mereka di pundak kita, begitu pun
sebaliknya. Namun tidak seyogyanya kita meminta bagian kita tanpa memberikan
milik mereka terlebih dahulu”. Well...actually sebenarnya saya mendapatkan
pemahaman barusan dari sebuah ceramah zakat. Bagaimana seharusnya kita sebagai
manusia itu berbagi, tanpa memandang kita adalah pemeluk agama Islam, Katholik,
Protestan, Hindu, Budha, atau seorang atheis sekali pun. Sebenarnya tanpa kita
sadari kita pun mengamini hal ini. Bagaimana tidak, lihat lah buktinya dari
penggunaan Facebook, Twitter, Instagram, Blog, dan sebagainya. Kita mulai
senang berbagai hobi, hal – hal menyenangkan, nilai – nilai, sampai cerita –
cerita pribadi. Kita belajar dari sana. Kita belajar dari “berbagi”.
Sayang, hal semanis itu nggak mudah untuk dikecap oleh teman
– teman deaf. Kalian pikir dengan
membaca cukup memberikan informasi untuk mereka ? No, guys. They may get it,
but not to understand it. Susah untuk memahami informasi baru bagi mereka. Bukan
hanya karena masalah pemahaman istilah – istilah baru, tapi juga pemahaman
konteks dari berita itu. Mudah saja bagi kita untuk memahami istilah baru
karena ketika kita bertanya pada orang lain maka akan dijelaskan saat itu juga.
Langsung. Secara verbal. Tanpa menerjemahkannya lagi ke bahasa isyarat. Lha mereka
?
Pertama, harus baca informasinya. Kedua, harus memahami. Karena
struktur kalimat mereka berbeda dengan kita, maka pemahaman itu bukan sekedar isi
berita, tetapi juga konteks dan makna setiap kata. Ketiga, kalau ada yang nggak
dimengerti maka harus bertanya. Nggak semua orang bisa menerjemahkan sesuatu
dengan baik. Jangankan untuk ke bahasa isyarat, diterjemahkan ke dalam bahasa
sehari – hari saja terkadang masih susah, bukan ? Jadi, ketika mereka
ketinggalan berita masih kah salah mereka ?
Agak kurang ajar rasanya kalau saja kita masih berpikir, “terus salah gue kalau mereka nggak ngerti
karena mereka tuli ?”. Gila ya, kalau ada sampai orang ngomong kayak gitu
depan hidung saya bakalan saya colok hidungnya pakai garpu. Paling nggak saya
gampar mulutnya. Harusnya kita malu sama Tuhan, diberi kelebihan kok malah menelantarkan
sesama. Nggak usah malu sama Tuhan deh, malu sama zaman. Malu sama trend yang
katanya senang berbagi.
Tapi sepertinya saya yang harus malu sama diri sendiri. Saya
ini harus ngaca kalau saya pun masih sering malas menjelaskan hal – hal baru
pada mereka. Bukan karena nggak bisa menerjemahkannya, namun lebih kepada
pertanyaan – pertanyaan yang muncul setelahnya. Terkadang pertanyaannya itu
aneh – aneh dan sulit untuk diterangkan, jadi saya membiarkannya dan
beranggapan kalau mereka nanti akan mengerti dengan sendirinya.
Saya salah ?
Tentu !
Bagaimana tidak, dengan begitu saya membiarkan mereka dalam
ketidaktahuan. Ketidakpastian. Padahal saya sendiri pun nggak suka di “gantung”.
Saya pun jadinya merasa percuma jadi pembelajar ilmu komunikasi kalau masih
membiarkan orang dalam ambiguitas. Untuk apa belajar ilmu komunikasi kalau
nggak bisa menyampaikan dan membuat orang paham terhadap pesan ? Kuliah aja di
hukum terus jadi hakim yang doyannya nge – judge.
Sore kemarin usai latihan interpreter saya jadi sadar kalau ada
sebagian hidup mereka di pundak saya. Ada hak mereka untuk memahami informasi
yang harus saya penuhi. Mungkin di sini lah Tuhan menginginkan ilmu saya
diaplikasikan. Ah, rasanya terlalu jauh menempatkan diri sebagai pembelajar
ilmu komunikasi. Harusnya saya mulai dari yang paling sederhana, yakni sebagai
sesama hamba – Nya. Sebagai makhluknya yang saling berbagi dan mengingatkan. Bukan
kah Dia pun menyuruh kita untuk saling mengingatkan ? Alangkah meruginya orang –
orang yang tidak saling mengingatkan, bukan ?
Malu mungkin, tapi tidak seharusnya ini membuat saya
tertekan. Sebenarnya memikul tanggung jawab ini nggak berat, asal saya mau
belajar sama mereka. Belajar lebih sabar, belajar kosa kata baru, belajar
membedakan mana ASL (American Sign Language) dan Bisindo (Bahasa Isyarat
Indonesia), belajar kalau setiap manusia memiliki caranya masing – masing untuk
memahami sesuatu.
Menyenangkan rasanya ketika kemarin berhasil diskusi tentang
agama dengan salah satu teman DAC. Berawal dari sebuah pertanyaan polos, “bolehkah orang Islam pindah ke Katholik,
Hindu, Budha dan sebaliknya ?”. Di situlah saya diuji, sejauh mana saya
objektif dan jujur kepada mereka. Bisa saja saya berbohong kalau sudah masuk
Islam tidak bisa pindah agama dan menjelekkan agama lain. Tapi kembali saya
ingat kalau agama pun hak setiap orang, saya tidak boleh memaksa apalagi
meracuni. Hanya Tuhan yang mampu membuka hati setiap orang. Makannya dengan
hati – hati saya menjelaskan kalau kita bisa berpindah – pindah agama, tetapi
Tuhan lebih senang ketika kita memeluk agama satu hingga bertemu dengan – Nya.
Konsistensi. Ya, itulah yang coba saya transfer kepadanya. Sebuah
komitmen kesetiaan terhadap Tuhan. Ah, sudah lah..saya give up kalau
membicarakan komitmen, baik sama Tuhan maupun sama manusia. Nggak pantas
membicarakan sesuatu yang kita belum mampu melakukannya. Nanti saja, mungkin
saya bisa membicarakan komitmen kalau janji saya pada ibu Oing sudah terpenuhi.
Kalau Oing, murid deaf manis saya
yang duduk di kelas 5 SD, sudah bisa membaca, menulis, dan berisyarat dengan baik. Karena komitmen
bukan sekedar janji yang diucapkan, tapi perilaku konsisten untuk memenuhi
janji itu sendiri.
0 comments: