“Mirror Mirror hanging on the wall...”
Ceritanya malam itu kita lagi girls’ day out. Sekalian melestarikan
budaya hanging out, kita juga kumpul temu kangen setelah almost dua bulan nggak
ketemu. Cipika – cipiki udah. Tanya kabar basa – basi udah. Pesen makanan udah.
Duduk juga udah. Yang belum tinggal cerita. Bukan cerita tentang KKN, bukan
juga tentang kuliah. Ah, cukup lah cerita kuliah kita pending satu bulan ke
depan. Now is the time untuk cerita kostan.
Dulu saya pernah cerita tentang perang dingin yang kami
lancarkan dengan si mbak penjaga kostan, bukan ? Waktu itu masalahnya gara – gara router WiFi
yang bermasalah sekaligus parkiran. Just a piece of shit sih sebenarnya, karena
saya sendiri nggak terlalu terganggu. Entah memang sayanya yang cuek karena
udah ada anak yang ngurusin, atau mungkin juga karena saya yang nggak mau ambil
pusing. Bisa jadi juga dua – duanya. Biar lah, yang lalu biar ditelan waktu.
Nah, berdasarkan desas – desus yang beredar sekarang kostan
bermasalah lagi. Tapi lagi – lagi juga saya nggak ambil pusing. Sebenarnya masalah
ini udah ada dari sejak saya masuk kostan, means tiga tahun yang lalu. Tikus. Yap,
si Siti kami menyebutnya. Entah apa yang membuat hewan – hewan berkumis itu
seneng banget keliaran di kostan, bahkan sampai naik ke plafon kamar. Eh nggak
tau sih namanya plafon atau bukan, pokoknya tripleks yang nutupin atap kamar. Yes,
they are there !
Sesungguhnya setiap malam pun saya mendengar aktivitas gank –
nya si Siti. Mulai dari yang lari sana – sini sampai ngegigitin tripleks. Cuma ya
balik lagi ke pribadi saya yang sebodo amat, jadinya saya nggak ambil pusing. Toh
kalau pun memang ngegigitin nggak bakalan sampai bolong. Mungkin bolong, tapi
untungnya otak saya nggak mikir gitu. Terus masalah mereka yang doyan jadiin
atap saya layaknya catwalk ya mau
bagaimana lagi ? Misuh juga nggak bikin mereka pergi, jadi ya dinikmati aja. Hitung
– hitung belajar berdampingan dengan makhluk Tuhan, toh ?
Sayangnya, hal ini berbeda dengan teman kostan saya yang
lain. Teman saya ini butuh ketenangan dalam tidurnya. Nggak bisa dia dengar si
Siti beraksi, alhasil komplain ke si tante pemilik kostan. Setelah melalui
komplain yang panjang dan berbagi bentuk komunikasi dengan si mbak penjaga,
semuanya berujung pada satu. Diabaikan. Yes, teman saya ini nggak dapat tindak
lanjut apa – apa dari si tante begitu juga si mbak penjaga beserta suaminya. Padahal
katanya teman saya ini udah komplain tingkat sirine alias nyaring dan nggak mau
berhenti.
Alih – alih komplainnya ditanggapi, eh malah kena ceramah si
tante dan si mbaknya ungkit – ungkit kesalahan kita, mulai dari yang suka lupa
matiin lampu sampai keran. Memang sih ada beberapa dari penghuni kostan saya
yang seperti itu, tapi no offense untuk membela teman, kami pun berusaha untuk
berubah kok. Kami sekarang saling mengingatkan kalau ada yang lalai.
Hal yang nggak bisa diterima oleh teman saya di sini adalah
karena si mbak penjaga kostan nggak pernah mau minta maaf. Dia selalu nyalahin
kita (saat itu teman saya sih, nggak ada saya :D) dan kalau kita ingatkan
kesalahan dia, yah gitu..dia selalu berkelit dengan kata “tapi”. Tapi ini lah,
tapi itu lah, ah...pokoknya pinter banget memutar balikkan kesalahan.
Dengar semua keluh kesah teman saya di atas, saya sih cuma mesem. Yah, dikit – dikit garuk kepala
terus komentar nyinyir. Tapi jadinya saya diam seribu bahasa saat adik kostan
saya bilang begini, “aku kok ya dengar
Mbaknya nggak pernah mau ngaku salah dan nggak mau minta maaf itu seperti orang
yang paling benar. Padahal coba liat anaknya aja kayak gitu, nyebelin !
Sendirinya juga banyak salah sama kita, tapi kenapa kita terus yang minta maaf
?” Adik kost saya menghela nafas sejenak, lalu, “tapi ya udah lah yah, susah ngadepin orang kayak begitu. Pengennya benar
sendiri dan nggak mau mikir”.
Nggak mau mikir ? Really ? Bukannya ketika kita
memutarbalikkan fakta artinya otak kita bekerja ? Bagaimana caranya mengubah
peluru menjadi boomerang. What an awesome, right ?!
Sayangnya nggak semua hal keren yang kita lakuin itu bakalan
keren juga di mata orang lain. jangankan untuk keren, dianggap aja mungkin
nggak.
Saya jadi ingat sindiran beberapa teman kalau lagi debat
dengan saya, “lo itu emang paling bisa
ngabalikin fakta”. Bangga ? Of course ! Siapa yang nggak bangga kalau bisa
membungkam mulut orang saat debat ? Tapi mendengar omongan adik kost barusan
saya jadi mikir, ketika saya bisa membalikkan kesalahan orang haruskah itu
menjadi sesuatu yang dibanggakan ? Kalau memang iya, apakah artinya saya pun
bangga menjadi orang yang nggak mau mikir ? Nggak mau membuka mata kemudian
menunduk melihat ke kaki. Melihat ke diri sendiri. Pelototin apa aja yang udah
diperbuat oleh raga ini.
Betapa meruginya saya dong yah kalau terus – terusan mempertahankan
prestasi “mengubah peluru menjadi boomerang” ? Ya gimana nggak rugi, jelas –
jelas Tuhan pun nyuruh kita mikir. Mikir supaya apa yang kita omongin itu
sejalan dengan apa yang kita lakuin. Jangan nyuruh orang buat jaga hati, tapi
sendirinya masih “jajan” sana – sini. Jangan bilang ngegombal itu dosa, kalau
masih mengandalkan kekuatan pemilihan kata untuk mendapatkan apa yang kita
inginkan. Jangan mencegah orang selingkuh, kalau sendirinya pun masih milih A,
B, C buat dijadiin pendamping. Jangan woy ! Jangan !
Eist, tapi seharusnya saya bilang hal – hal di atas sama
diri sendiri dulu. Kalau dihitung – hitung, banyak banget “jangan” yang saya
koarkan, tapi saya lakukan juga. Rasanya percuma punya kaca gede sekujur tubuh
di kamar kalau nggak dipakai benar – benar. Bukan untuk dandan, tapi untuk
melihat siapa diri saya sebenarnya. Siapa pribadi yang ada di dalam raga ini,
apakah orang yang suka ngomong doang atau orang yang benar – benar selaras
antara omongan dan perilakunya ?
Untuk mencapai tahap yang kedua buat saya agaknya masih
jauh. Jangan kan untuk menyelaraskan omongan dan tindakan, untuk benar – benar melihat
diri secara jujur aja masih suka ingkar kok. Ya memang begitu kan manusia, pada
sampai suatu titik harus menerima kejujuran ada aja ngeles – nya. Mencari pembenaran. Excuse. Padahal apa susahnya ya benar – benar menerima kekurangan
diri sendiri dan mengaku salah. Ah, tapi mudah – mudahan orang seperti itu
nggak banyak. Biar saya aja dan segilintir orang yang seperti itu. Semoga stok
orang yang mau benar – benar menelanjangi dirinya lebih banyak supaya mampu
juga menelanjangi orang – orang yang takut kedinginan dari kenyataan dirinya.
Memang, harusnya saya ini malu sama kaca dulu sebelum sama
Tuhan. Ketinggian kali kalau langsung sama Tuhan. Imannya nggak nyampe juga. Lha
gimana mau nyampe, wong sama cermin aja yang udah jelas di depan mata dan benda
mati masih berani ingkar. Masih cari excuse.
Masih bohong. Masih melakukan pembenaran. Masih nembak balik. Padahal cermin
sendiri nerima kita seutuhnya dan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Manusia
kayak begini mau malu sama Tuhan? Kalau kata teman saya, “njuk piye toh, dab ?”.
Lha memang benar mau gimana. Sama yang konkrit aja masih
ingkar, apalagi sama yang gaib. Dzat yang nggak kelihatan tapi benar – benar melihat
kita sampai ke dalam. Cermin sih cuma surface
– nya aja, kecuali kita benar – benar mendalami refleksi diri di sana. Barulah bisa
melihat siapa kita sebenarnya.
Okay then kalau begitu besok pagi sebelum mata ini dibubuhi
bedak dan eyeliner, ada baiknya habis baca do’a bercermin dilanjutkan dengan “mirror mirror hanging on the wall who’s that
girl I see ?”, selain biar mirip lirik ost – nya Mulan saya pun nggak mau
disamain dengan nenek lampir di cerita Snow White. Alih – alih nanya siapa diri
kita sebenarnya, malah cari saingan siapa paling cantik di dunia. Kalau begitu
terus, kapan mau belajar nrimo dan
malu sama Tuhan ?
0 comments: