Semalam, Mungkin Saya Mabuk
Biar kata saya belum pernah dan nggak akan pernah minum
alkohol, tapi pagi ini saya bangun seperti orang habis mabuk. Persis. Semua
tanda – tanda orang yang habis mabuk semalaman terjadi pada saya saat ini. Cuma
satu hal yang melintas di kepala saya tatkala menyadari betapa powerless – nya
pagi saya. Saya tidak boleh menyalahkan malam.
Malam tidak salah. Dan semalam pun tidak ada yang salah.
Semua orang pernah sakit. Dan semua orang pun harus sakit. Bagaimana tidak,
orang akan selamanya lemah dan bermental tempe kalau nggak pernah ditempa.
Orang nggak akan open mind kalau selamanya berada di comfort zone. Orang sulit
menerima kenyataan kalau hidupnya nggak diaduk – aduk.
Tapi nggak bagi dia. Buat dia, everybody is unique. Setiap
orang punya kekebalanya masing – masing untuk bertahan terhadap suatu tekanan.
Makannya, buat dia ketiga pemahaman saya di atas itu salah. Mungkin nggak
sepenuhnya salah, tapi yang pasti dia membantahnya. Bukan kah sesuatu yang
dibantah tidak selamanya salah ?
Ya, itu benar. Karena itulah yang saya kata kan pada dia.
Itu lah yang saya utarakan sampai akhirnya dia harus berkata, “can you just
shut up your mouth ? Diam dan dengar kan lah sejenak. Just be an empty glass
for a while, please. Lo terlalu penuh untuk gue isi”. Ahahahaa...mungkin nggak
sehalus itu perkataannya pada kenyataannya. Mungkin bisa terkesan lebih kasar
atau lebih menye. Ah, tapi siapa
peduli dengan kenyataan apa yang terjadi diantara kita ? Toh sebenarnya saya
pun baru peduli malam itu. Semalam. Di saat langit gelap yang menyebabkan saya
bangun dengan perasaan berkecamuk.
Lagi. Seharusnya saya tidak usah menyalahkan malam. Bukan
salah malam yang menyebabkan saya begini. Bukan salah dia juga yang datang dari
pesakitan. Ketika dia mempengaruhi saya dengan prinsip “hidup adalah pilihan”,
maka semuanya salah saya. Saya yang memutuskan untuk menerima dia lagi. Saya
yang memutuskan membuka pintu (lagi) dan menyilahkan dia masuk. Saya menyesal ?
Tidak. Terlalu jumawa kalau saya menyesali dua momen berkualitas dengannya.
Sebenarnya apa yang disebut berkualitas di sini ? Seharian
penuh berduaan ? Bukan. Saya nggak butuh waktu berdua untuk merasa berkualitas
dengannya. Saya hanya butuh dia “membantai” saya untuk merasa berkualitas.
Karena apa ? Dari sana saya belajar. Biar pun dia bilang cara belajar saya ini
“debat kusir yang nggak berujung” (alias nggak berguna), saya nggak peduli.
Setiap orang punya caranya masing – masing untuk memahami, bukan ? Dan itu lah
cara saya. Untuk mengerti fenomena baru. Untuk mengerti berempati. Untuk
mengerti betapa papa – nya ilmu saya. Untuk mengerti kealpaan saya dalam
memperlakukan orang sebagaimanamestinya. Untuk mengerti dia. Untuk mengerti
kita.
Kalau boleh jujur, “kita” lah yang membuat saya kedinginan
semalam. Kedinginan dalam arti sebenarnya. Dingin. Bintil pori – pori saya
keluar, bibir bergetar, badan mengigil, tubuh meringkuk. Padahal suhu pendingin
ruangan saat itu berada di temperatur hangat. Silahkan tertawa kalau pada
kenyataannya saya kedinginan di suhu 22 derajat. Tapi itu lah yang terjadi. Itu
lah kenyataannya semalam.
Kenyataannya juga semalam terlalu banyak rasa khawatir. Ah
bukan, itu rasa takut. Kenyataannya kita terlalu takut untuk menghadapi
sesuatu. Kenyataannya kita terlau takut untuk menerima konsekuensi. Apakah
artinya kita nggak bisa menerima satu sama lain ? Mungkin. Mungkin karena
terlalu banyak rasa sakit yang pernah kita derita. Terlalu banyak juga
kemungkinan – kemungkinan yang akhirnya menguap begitu saja. Sampai akhirnya
menyatu dengan harapan yang tumbuh sejak putih
abu – abu, lalu melebur jadi ketakutan. Entah lah. Kita belum pernah
mencoba. Tuhan belum memberi kesempatan untuk kita bersama – sama mengalahkan
ketakutan itu.
Atau mungkin sebenarnya Tuhan telah memberikan kesempatan itu
? Bahkan berkali – kali rasanya. Buktinya kita selalu dipertemukan seperti ini
tanpa bisa lagi dihitung jari. Jadi permasalahannya terletak pada, apakah kita,
saya dan dia, bisa membaca tanda – tanda Tuhan ? Sebuah kode di mana Tuhan mendorong
kita untuk mencoba melawan musuh terbesar kita, yaitu ketakutan dari dalam diri
sendiri. Ketakutan yang tak berwujud, namun beralasan.
Kalau begitu, ada benarnya juga. Kita lah yang terlalu buta
untuk mau mengurai kode – kode Tuhan. Bukan karena kita selalu bertemu di malam
saat langit gelap. Tolong, jangan salahkan malam lagi. Kita lah yang tidak
mengaliri hati untuk berani memulai. Benar kata seorang teman di negeri singa
sana. Saat ini, permasalahannya hanya satu, bagaimana kita mengikhlaskan hati
untuk mau membaca dan menerima tanda – tanda – Nya. Kalau begitu, apakah
artinya kita belum saling ikhlas menerima ?
Hey, Ikhlas, coba kamu bertanya seperti itu pada saya, maka
akan saya jawab “iya”. Jawaban itu tidak serta merta meluncur begitu saja. Sama
sepertimu saat berkata lewat teks, saya juga butuh energi untuk menjawab “iya”.
Sulit rasanya untuk jujur pada diri sendiri kalau ternyata masih terselip
ketidakikhlasan terhadap orang yang disayang. Bagaimana tidak, kamu selalu
datang di saat rapuh. Saya nggak bilang kamu datang kalau butuhnya saja. Tidak.
Tapi kenapa kamu selalu hadir di saat rapuh ? Saya bukan dokter. Saya bukan
obat. I’m not a pill. I – am – not – a – medicine. Karena saya pun masih sakit.
Masih belum sembuh dari penyakit yang namanya “komitmen”. Belum.
Biar pun kamu bilang “gue nggak butuh obat”, tapi saya tahu
yang kamu butuhkan sekarang adalah penggantinya. “Nya” dia, perempuan yang
memperhatikanmu hingga dalam. “Dalam” dengan arti sebenarnya, baik secara raga
maupun jiwa. Sayang, saya bukan barang subtitusi. Saya bukan pilihan. I am not
a stunt woman. I am “the woman” itself.
Terlalu berat kalau saya harus meng – amini perasaan saya
saat ini. Kamu sendiri tahu apa yang akan kita hadapi di depan, bukan ? Bukan
hanya jarak, tapi banyak hal lainnya. Saya hanya bisa menyetujui saat kamu
jujur tidak bisa menjanjikan apa – apa. Tidak masalah. Karena saya pun tidak
butuh janji dan tidak ingin dijanjikan juga. Janji lah yang membuat orang easy
come easy go. Janji lah yang membuat orang terkoersi. Bukan kah kamu bilang
sesuatu akan indah jika segala hal dilakukan dari hati ? Tanpa paksaan. Tanpa
tekanan.
Begitu pula lah yang saya inginkan saat ini. Itu yang saya
inginkan dari kamu. Itu yang saya inginkan dari kita. Biar semuanya mengalir,
seperti yang kamu selalu proteskan dari saya untuk jadi pribadi yang mengalir.
Tak usah melogikakan perasaan, meskipun hanya dengan itu lah saya membuat kamu
mengerti perasaan saya. Meski dengan cara itu lah saya tidak menaruh ekspetasi
apa – apa dari kamu, selain kepada Tuhan. Tak ada gunanya menggantungkan
harapan pada orang yang disayang. Mereka bukan Tuhan. Mereka sama dengan kita
yang selalu merasa fakir dengan kebahagiaan. Mereka hanya manusia yang juga
sama – sama menggantungkan harapan. Jadi untuk apa menggantung impian kepada
sesuatu yang juga menggantungkan impian kepada hal lain ?
Menulis tentang kita nggak akan ada habisnya. Kenapa ?
Because we never end this game. Game, buat saya. Versimu adalah “unfinished
business”. Lucu. Sebenarnya ini nggak akan pernah berakhir atau memang kita
yang nggak mau mengakhirinya ? Rasanya pilihan yang kedua yang cocok. Karena
pemahamanmu adalah hidup itu pilihan. Begitu pun dengan saya, kini perlahan
mulai menyetujui kalau hidup itu pilihan.
Masih dengan perasaan berkecamuk, semoga pilihan saya di
pagi ini tidak salah. Semoga menikmati hidupmu yang berwarna adalah pilihan
yang tepat. Semoga erangan saya semalam akan kerinduan dipeluk Tuhan
mengarahkan ketakutan ini pada sebuah keikhlasan. Rasa ikhlas untuk menyayangi
sesuai kadarnya, tanpa harus takut merasa kehilangan.
Yang saya butuhkan saat ini bukan kamu, tapi keikhlasan.
Ikhlas dari diri saya, kamu, dan kita. Yang kamu butuhkan saat ini pun bukan
saya, tapi keikhlasan itu sendiri juga. Ikhlas dengan rasa sakit, ketakutan,
dan kesendirian. Mari kita nikmati proses ini. Proses menuju jiwa yang ikhlas.
Sebuah metamorfosis menjadi pribadi yang saling menerima. Selama proses itu,
biar lah kita sama – sama menjadi pendengar. Terlepas dari pendengar yang
selektif, baik, atau empati, menikmati cerita hidupmu sudah cukup menjadi
sarana pembelajaran bagi saya untuk ikhlas. Untuk ikhlas terhadap segala
perasaan yang hadir tanpa harus mengutuk malam yang selalu berhasil
menghanyutkan kita pada satu ketidakpastian yang dihiasi dengan harapan.
Damai :D
ReplyDeleteBisa saja orang berkata hidup adalah pilihan, tapi itu tidak berguna tanpa kita putuskan.
ReplyDeleteso, kalau begitu pikirkanlah tentang 2 hal:
..menanti keajaiban setelah tekad membulat untuk mewujudkan bahwa kita telah 'ikhlas', atau
..menunggu mood yang bagus untuk menulis postingan terkini tentang arti 'terlambat'.
Try!