Nobody, but Me

12:43 AM Tameila 0 Comments



Me love my self

Begitu lah kata campaign yang diusung oleh sebuah majalah wanita internasional. Bagai jamur, kini tagline itu mewabah ke semua orang, khususnya wanita. Tujuannya apa sih ? Supaya kita bisa lebih menghargai diri sendiri. Nggak lagi ngeluh atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Nggak lagi ngebanding – bandingin diri sendiri dengan orang lain. Nrima diri ini apa adanya.

Ada sebuah kebanggaan yang terselip di sana. Tapi apakah mungkin akan berujung kepada narsisme atau egoisme ?

Pada suatu sore teman saya bertanya, apa bedanya antara narsisme dengan eksistensi ? Wow, sepele tapi agak berat jawabnya. Bagi saya, keduanya beda tipis. Narsis itu nggak terkendali, tapi kalau eksistensi seseorang “tau diri”. Tau di mana dia berada dan bagaimana menempatkan dirinya. Simply said, narsis versi cerdas.

Is it true ? Well, I don’t give a damn whether it is true or not.

Tapi jujur aja saya agak irritate kalau dengar orang bilang, “it’s a normal being forever alone when you love your self more than others”. Oh wow, wait...ada yang salah kah ketika kita sangat mencintai diri sendiri ? Kenapa kok jadinya ditakdirkan kita nggak akan memiliki siapa pun ketika kita sangat mencintai diri sendiri ?

Diskusi siang ini cerdas – cerdas bego. Yah cerdas menurut saya dan teman saya, tapi mungkin jadinya bego kalau dinilai sama orang yang ahli di dalamnya, yakni para pakar psikologi. Bagaimana tidak, saya dan teman saya ini berkecimpung di alam komunikasi. Kadang kerja mulut lebih cepat daripada otak, jadinya kalau diskusi apa – apa suka sok tahu.

Terlepas dari benar nggaknya kesimpulan yang didapat, kami senang ketika berasumsi kalau orang yang terlalu ngerti orang lain itu nantinya nggak akan ngerti diri sendiri. Eist, jangan protes dulu ! Sudah saya bilang kan dari awal kalau ini cuma diskusi cerdas – cerdas begonya saya dan teman saya.

Oke lanjut !

Kenapa bisa kayak gitu ? Ya jelas lha, orang itu terlalu memahami orang lain. Ibarat bunglon, dia selalu menyamakan warnanya dengan apa yang ada di hadapannya. Ada bagusnya sih, secara “licik” pemahamannya bisa dimanfaatkan untuk memperoleh tujuan hidupnya. Sayangnya, nggak sedikit juga malah mereka itu disorientasi. Disorientasi apa ? Yah itu tadi, they don’t even know who they are, kecuali sebagai seseorang yang selalu mampu memahami orang lain.

Buktinya banyak kok. Nggak usah saya sebutin satu – satu, alih – alih salah satu pembaca artikel ini tersinggung. Tapi bener deh, saya punya teman. Jangan ditanya betapa jago hatinya untuk memahami orang – orang di sekitar dia. Sayangnya, sering saya mendapati dia nangis histeris sendiri. Ngeluhnya apa sih ? Capek katanya ! Dia capek ngertiin orang lain sedangkan nggak ada yang ngertiin dia katanya.

Contoh lain temannya teman saya yang diskusi cerdas – cerdas bego ini. Temannya teman saya ini lebih bombastis malah. Doi sering hampir bunuh diri gara – gara nggak ngenal dirinya siapa. Disenggol masalah dikit, udah kayak kena badai.  Dia nggak tahu harus menyikapi permasalahannya gimana dan mulai dari mana. Padahal kata teman saya, doi orangnya baik. Supel. Ramah. Pandai bergaul. Tapi kenapa dia nggak bersahabat sama dirinya sendiri, ya ?

Saya jadi ingat kata dosen saya, kita nggak akan mungkin bisa membahagiakan semua orang. Once you can do it, you’re not happy when you’re alone. Kita nggak bisa ngertiin semua orang, menyesuaikan kepribadian kita dengan mereka sehingga TARAAA ! cocok deh ! No ! Saya percaya, sebagaimana pun usaha kita untuk menyesuaikan diri dengan orang lain, pasti ada aja titik tolaknya. 

Mungkin egois banget ya kedengarannya ? Well, wait my audiens...let’s check the poem below then you’re allowed to judge me :

“I want, by understanding myself,
to understand others.
I want to be all
that I am capable of becoming..
This all sounds very strenuous and serious.
But now that I have wrestled with it,
it’s no longer so.
I feel happy – deep down
All is well”.
_Katherine Mansfield.

Salah kah kita sangat mencintai diri sendiri supaya mampu mencintai sesama dengan lebih baik ?

Agak nggak adil rasanya kalau masih aja disalahkan. Atau mungkin yang kontra merasa statement di atas itu nggak mungkin ?

Mungkin kok !

Dengan cinta sama diri sendiri, kita bisa tahu apa yang kita butuhkan dan tidak butuhkan. Akhirnya apa ? Kita tidak akan mengeksploitasi teman. Kita berteman dengan jujur. Kalau memang awalnya kita butuh bantuan, kita akan legowo meminta bantuan mereka. Dan sebaliknya, kalau memang bisa dihandle sendiri, kita akan menolaknya. Bukan berarti nggak butuh orang lain, tapi daripada dibantuin malah misuh – misuh dihati gara – gara dibantuin. Jadinya dosa toh ? Jujur deh, untuk beberapa hal kita lebih comfort doing something sendirian, bukan ?

Dengan cinta sama diri sendiri, kita bisa menghargai seseorang sesuai kadarnya. Kita nggak berlebihan dan nggak juga menyepelekan, karena kita tahu sesuatu yang kita hargai itu nggak cuma dibubuhi kata “wow !” dari mulut. Nggak. Sesuatu yang kita hargai itu benar – benar memberikan dampak bagi diri kita. Sounds it’s all about me, ya ? Indeed. Tapi sekarang tinggal pilih deh, menghargai orang benar – benar dari hati atau sok – sokan “terima kasih” padahal hatinya nggak berterima kasih. Mending mana ? I prefer the first to the second one. Sesuai kata teman saya, “there’s no future in faking”.

Dua paragraf di atas agaknya nggak cukup untuk nyimpulin betapa nggak adilnya nge – judge orang yang sangat cinta sama dirinya sendiri itu orang yang egois. No. Andai semua orang memahami kalau mencintai dirinya sendiri itu sebuah wujud syukur kepada Tuhan. Sebuah sikap di mana seseorang enggan ditempatkan sebagai ikan yang mengikuti arus. Sebuah pemahaman bahwa setiap orang punya kadarnya masing – masing, nggak maksa namun tetap melakukan yang terbaik. Sebuah upaya saling menyayangi tanpa adanya kepalsuan.

Saat santap siang kami habis, saya kembali teringat nyinyiran saya dan teman saya yang lain di suatu malam, bahwaorang yang forever alone itu bukan yang love my self more, tapi yang love my self most. MOST, ya, inget MOST ! Bukan MORE ! You know what I mean ?” nyinyir saya.

I got it. Kalau “more” kan tandanya dia nggak superlative, beda dengan “most”. Dia adalah yang paling”. Jawab teman saya.

Yup, bener !”

“Kalau you love your self most artinya lo nggak mencintai siapa pun kecuali dirinya. Tapi kalau you love your self more than the other, khususnya pacar kali yee, Ta, itu tandanya lo tahu kapasitas lo saling menghargai diri lo, pasangan lo, dan hubungan lo berdua”. Jelas teman saya.

“Indeed, you’re my bitch !”

Ini bukan masalah egoisme. Ini juga bukan masalah tidak butuh siapa – siapa. Ini cuma masalah bagaimana mengisi kekosongan karena yang saya punya adalah rentalan dari – Nya.

I know my self so I know how to make my self happy when I’m alone. Sounds I need nobody ? Of course no ! I just don’t want to put my happiness to the others or things. Once you do it, we’ll see how happy you are when God take them back to Him.

You Might Also Like

0 comments: