Nobody, but Me
“Me love my self”
Begitu lah kata campaign
yang diusung oleh sebuah majalah wanita internasional. Bagai jamur, kini
tagline itu mewabah ke semua orang, khususnya wanita. Tujuannya apa sih ?
Supaya kita bisa lebih menghargai diri sendiri. Nggak lagi ngeluh atas apa yang
diberikan Tuhan kepada kita. Nggak lagi ngebanding – bandingin diri sendiri
dengan orang lain. Nrima diri ini apa
adanya.
Ada sebuah kebanggaan yang terselip di sana. Tapi apakah
mungkin akan berujung kepada narsisme atau egoisme ?
Pada suatu sore teman saya bertanya, apa bedanya antara
narsisme dengan eksistensi ? Wow, sepele tapi agak berat jawabnya. Bagi saya,
keduanya beda tipis. Narsis itu nggak terkendali, tapi kalau eksistensi
seseorang “tau diri”. Tau di mana dia berada dan bagaimana menempatkan dirinya.
Simply said, narsis versi cerdas.
Is it true ? Well, I don’t give a damn whether it is true or
not.
Tapi jujur aja saya agak irritate kalau dengar orang bilang,
“it’s a normal being forever alone when
you love your self more than others”. Oh wow, wait...ada yang salah kah
ketika kita sangat mencintai diri sendiri ? Kenapa kok jadinya ditakdirkan kita
nggak akan memiliki siapa pun ketika kita sangat mencintai diri sendiri ?
Diskusi siang ini cerdas – cerdas bego. Yah cerdas menurut
saya dan teman saya, tapi mungkin jadinya bego kalau dinilai sama orang yang
ahli di dalamnya, yakni para pakar psikologi. Bagaimana tidak, saya dan teman
saya ini berkecimpung di alam komunikasi. Kadang kerja mulut lebih cepat
daripada otak, jadinya kalau diskusi apa – apa suka sok tahu.
Terlepas dari benar nggaknya kesimpulan yang didapat, kami
senang ketika berasumsi kalau orang yang terlalu ngerti orang lain itu nantinya
nggak akan ngerti diri sendiri. Eist, jangan protes dulu ! Sudah saya bilang
kan dari awal kalau ini cuma diskusi cerdas – cerdas begonya saya dan teman
saya.
Oke lanjut !
Kenapa bisa kayak gitu ? Ya jelas lha, orang itu terlalu
memahami orang lain. Ibarat bunglon, dia selalu menyamakan warnanya dengan apa
yang ada di hadapannya. Ada bagusnya sih, secara “licik” pemahamannya bisa
dimanfaatkan untuk memperoleh tujuan hidupnya. Sayangnya, nggak sedikit juga
malah mereka itu disorientasi. Disorientasi apa ? Yah itu tadi, they don’t even
know who they are, kecuali sebagai seseorang yang selalu mampu memahami orang
lain.
Buktinya banyak kok. Nggak usah saya sebutin satu – satu,
alih – alih salah satu pembaca artikel ini tersinggung. Tapi bener deh, saya
punya teman. Jangan ditanya betapa jago hatinya untuk memahami orang – orang di
sekitar dia. Sayangnya, sering saya mendapati dia nangis histeris sendiri. Ngeluhnya
apa sih ? Capek katanya ! Dia capek ngertiin orang lain sedangkan nggak ada
yang ngertiin dia katanya.
Contoh lain temannya teman saya yang diskusi cerdas – cerdas
bego ini. Temannya teman saya ini lebih bombastis malah. Doi sering hampir
bunuh diri gara – gara nggak ngenal dirinya siapa. Disenggol masalah dikit,
udah kayak kena badai. Dia nggak tahu
harus menyikapi permasalahannya gimana dan mulai dari mana. Padahal kata teman
saya, doi orangnya baik. Supel. Ramah. Pandai bergaul. Tapi kenapa dia nggak
bersahabat sama dirinya sendiri, ya ?
Saya jadi ingat kata dosen saya, “kita nggak akan mungkin bisa membahagiakan semua orang. Once you can do
it, you’re not happy when you’re alone”. Kita nggak bisa ngertiin semua
orang, menyesuaikan kepribadian kita dengan mereka sehingga TARAAA ! cocok deh
! No ! Saya percaya, sebagaimana pun usaha kita untuk menyesuaikan diri dengan
orang lain, pasti ada aja titik tolaknya.
Mungkin egois banget ya kedengarannya ? Well, wait my
audiens...let’s check the poem below then you’re allowed to judge me :
“I want, by
understanding myself,
to understand others.
I want to be all
that I am capable of
becoming..
This all sounds very
strenuous and serious.
But now that I have
wrestled with it,
it’s no longer so.
I feel happy – deep down
All is well”.
_Katherine
Mansfield.
Salah kah kita sangat mencintai diri sendiri supaya mampu
mencintai sesama dengan lebih baik ?
Agak nggak adil rasanya kalau masih aja disalahkan. Atau mungkin
yang kontra merasa statement di atas itu nggak mungkin ?
Mungkin kok !
Dengan cinta sama diri sendiri, kita bisa tahu apa yang kita
butuhkan dan tidak butuhkan. Akhirnya apa ? Kita tidak akan mengeksploitasi
teman. Kita berteman dengan jujur. Kalau memang awalnya kita butuh bantuan,
kita akan legowo meminta bantuan
mereka. Dan sebaliknya, kalau memang bisa dihandle sendiri, kita akan
menolaknya. Bukan berarti nggak butuh orang lain, tapi daripada dibantuin malah
misuh – misuh dihati gara – gara dibantuin. Jadinya dosa toh ? Jujur deh, untuk
beberapa hal kita lebih comfort doing something sendirian, bukan ?
Dengan cinta sama diri sendiri, kita bisa menghargai
seseorang sesuai kadarnya. Kita nggak berlebihan dan nggak juga menyepelekan,
karena kita tahu sesuatu yang kita hargai itu nggak cuma dibubuhi kata “wow !”
dari mulut. Nggak. Sesuatu yang kita hargai itu benar – benar memberikan dampak
bagi diri kita. Sounds it’s all about me, ya ? Indeed. Tapi sekarang tinggal
pilih deh, menghargai orang benar – benar dari hati atau sok – sokan “terima
kasih” padahal hatinya nggak berterima kasih. Mending mana ? I prefer the first
to the second one. Sesuai kata teman saya, “there’s
no future in faking”.
Dua paragraf di atas agaknya nggak cukup untuk nyimpulin
betapa nggak adilnya nge – judge orang yang sangat cinta sama dirinya sendiri
itu orang yang egois. No. Andai semua orang memahami kalau mencintai dirinya
sendiri itu sebuah wujud syukur kepada Tuhan. Sebuah sikap di mana seseorang
enggan ditempatkan sebagai ikan yang mengikuti arus. Sebuah pemahaman bahwa
setiap orang punya kadarnya masing – masing, nggak maksa namun tetap melakukan
yang terbaik. Sebuah upaya saling menyayangi tanpa adanya kepalsuan.
Saat santap siang kami habis, saya kembali teringat
nyinyiran saya dan teman saya yang lain di suatu malam, bahwa “orang yang forever alone itu bukan yang love
my self more, tapi yang love my self most. MOST, ya, inget MOST ! Bukan MORE !
You know what I mean ?” nyinyir saya.
“I got it. Kalau “more”
kan tandanya dia nggak superlative, beda dengan “most”. Dia adalah yang paling”.
Jawab teman saya.
“Yup, bener !”
“Kalau you love your
self most artinya lo nggak mencintai siapa pun kecuali dirinya. Tapi kalau you
love your self more than the other, khususnya pacar kali yee, Ta, itu tandanya
lo tahu kapasitas lo saling menghargai diri lo, pasangan lo, dan hubungan lo
berdua”. Jelas teman saya.
“Indeed, you’re my
bitch !”
Ini bukan masalah egoisme. Ini juga bukan masalah tidak
butuh siapa – siapa. Ini cuma masalah bagaimana mengisi kekosongan karena yang
saya punya adalah rentalan dari – Nya.
I know my self so I know how to make my self happy when I’m
alone. Sounds I need nobody ? Of course no ! I just don’t want to put my
happiness to the others or things. Once you do it, we’ll see how happy you are
when God take them back to Him.
0 comments: