“Namaku KERTARADJASA!”
Akhirnya saya paham juga polemik politik yang terjadi di
sini. Barusan, tadi sore setelah menjelajahi tiga dusun, saya dan beberapa
teman satu unit mengunjungi wisma Soedjono. Ternyata wisma itu adalah milik
lawan politiknya si Pak Jun yang kemarin saya ceritakan. Dan ternyata juga Pak
Soedjono ini juga sudah almarhum.
Tadi sore
kami bertemu dengan anaknya, Mbak Neni, berserta suami Mbak Neni, Mas Beni. Mereka
berdua lah yang kini mengurus wisma itu dan segala kekayaan peninggalan pak
Soedjono. Saya nggak tahu seberapa banyak kekayaan yang dulu dimiliki oleh pak
Soedjono, yang pasti teman saya mengibaratkan si bapak ini adalah Kertaradjasa –
nya Desa Tete Batu.
Di wisma
itu nggak cuma penginapan, tapi ada juga bar (meski pun nggak besar), budi daya
ikan, budi daya beberapa tanaman, misalnya jamur, cabe, dan lainnya. Usai rapat
pun kami diajak berkeliling ke komplek wismanya. Besar, sejuk, nyaman,
yaahh..oke lah. Di bagian belakang ada mata air yang dikelola dengan baik. Bisa
ditemukan aliran air yang didesain sedemikian rupa dan juga pengelolaannya yang
modern.
Sepanjang
perjalanan mengelilingi wisma, saya ditemani oleh dua pemuda, namanya El dan
Rizal. El baru saja lulus kemarin, sedangkan Rizal masih kelas 2 SMK
Pariwisata. Dari kedua anak inilah saya mengetahui banyak hal, bukan hanya
tentang politik mereka tapi juga perspektif beberapa hal terkait pendidikan.
Buset...bakalan
berat banget kayaknya bahasan kali ini. Nggak kok, saya nggak akan membahas
sistem pendidikan yang emang mau dibagaimanakan juga nggak akan mampu memuaskan
seluruh rakyat Indonesia. Yang ingin saya tulis di sini adalah kemajuan
berpikirnya pendidikan di pedalaman tapi masih terkesan sederhana. Sangat sederhana.
Selama Rizal
asyik bercerita tentang kehebatannya membawa motor dengan kecepatan 180 KM/jam,
saya sok menganalisis betapa tipisnya permukaan ilmu yang Rizal pelajari. Sebelum
Rizal memamerkan kemampuannya itu, dia bercerita kalau di sekolahnya dia
diajarkan tentang pariwisata. Saat saya tanya tentang pariwisata itu apa,
jawabannya ngenes, begini katanya,
“Kami harus bisa beres – beres kamar, Ka. Ada juga yang dilatih sebagai front office dan house keeper. Tapi saya juga belajar bertender dan waitress.” Papar Rizal.“Jadi pariwisata yang diajarkan seperti itu ? Yang lainnya nggak ada ?” tanya saya.“Ada sih, Ka, tapi teori – teori udah lewat kelas 1. Sekarang kelas 2 lebih banyak pratiknya.” Rizal diam sejenak kemudian tertawa, “kata guru saya, kalau di depan tamu kita nggak boleh cemberut. Harus selalu senyum dan bahagia. Kalau ada masalah pribadi nggak boleh dibawa – bawa.”“Iya betul, nanti yang ada tamunya pada kabur,” saya menimpali.
Rizal tidak
menyahut, alih – alih dia malah menceritakan kehebatannya. Sambil sedikit
mendengarkan, apakah scoop pariwisata
yang diajarkan di sekolah – sekolah hanya itu ? Sebatas menjadi pelayan kah
pemahaman pariwisata itu diberikan ? Saya memang belum pernah bersentuhan
dengan pendidikan pariwisata, tapi sebagai orang yang masih awam saya kaget. Pariwisata
yang mereka pahami masih sangat – sangat permukaan dan itu pun permukaan luar
yang tipis sekali.
Saya jadi
ingat pernah berbincang dengan mbak – mbak petugas salon. Sambil dipijat waktu
itu iseng nanya kenapa bisa kerja di salon. Dia jawab kalau dulu sekolahnya
pariwisata dan sempat kerja di hotel. Karena nggak betah dengan sistem kerja
dan tempat tinggalnya, makannya dia keluar lalu melamar di salon. See ? Apakah
teman – teman saya yang sekolah di pariwisata hanya dididik untuk jadi pelayan
?
Mungkin
saya nggak berhak untukk mengkritik atau sok menganalisis seperti ini, tapi sebagai
orang yang buta permasalahan pendidikan pariwisata kok kesannya jebolan pendidikan pariwisata kerja jadi
pelayan hotel. Di sekolah itu dididiknya jadi waitress yang bisa table manner, beres – beres kamar, nerima tamu,
atau ketok – ketok kamar buat bersih – bersih. Kalau memang itu keterampilan
yang harus mereka punya, jadi salah nggak kalau saya bilang pendidikan dalam
negeri ini sendiri yang mencetak generasinya sebagai pelayan ?
Mencoba
melihat dari perspektif lain, saya pun mencoba untuk memahami kebutuhan mereka.
Mungkin ini lah yang mereka butuhkan, sebuah keterampilan siap pakai yang
sesuai pula dengan pendidikan mereka, SMK, kalau tidak meneruskan ke perguruan
tinggi. Sama halnya seperti El yang ketika saya tanya apakah ada rencana mau
melanjutkan ke perguruan tinggi dia malah ketawa. Dengan malu – malu dia jawab
kalau ayah – ibunya nggak ada dana untuk membiayai ke jenjang selanjutnya. Akhirnya
dia memilih untuk mengambil kursus komputer dan bahasa Inggris sebagai bekalnya
nanti.
“Bagus!” gumam saya dalam hati.
Membandingkan
pendidikan Rizal dan El dengan anak – anak di kota sedikit banyak membuat saya
berasumsi kalau sebenarnya pendidikan mereka lebih siap pakai di lapangan kerja
daripada anak – anak kota yang dicekoki banyak teori.
Eist...tapi
saya mikir lagi. Kalau saya ngee – judge begitu tandanya lupa dong dengan kebutuhan
pendidikan di setiap tempat. Di desa kan yang penting bisa kerja, kalau di kota
pengennya jadi bos oleh sebab itu otaknya yang diasah, bukan ototnya. Alright..jadi
di sini perbedaannya permasalahan yang diasahnya ? Hmm...really ?
Well...I’m
not really sure about that. Apakah permasalahan di sini itu perbedaan cara menghasilkan
cetakan, mana yang kuat otot dan mana yang kuat otak. Atau mungkin
permasalahannya pada pendidikan Indonesia yang secara tidak langsung
menciptakan pembantu bagi negaranya sendiri. Agak sadis dan nggak berperasaan
juga kalau saya bilang pembantu. Kesannya nge – judge gitu aja tanpa tahu betul sistem pendidikan pariwisata itu
bagaimana. Tuh kan, saya khilaf lagi. Padahal saya juga nggak suka kalau Mama
dan Papa sekonyong – konyong men - judge
jebolan komunikasi bakalan jadi reporter doang. Sekarang malah saya yang
membuat harga mati kalau lulusan pendidikan pariwisata jadi pelayan di
Indonesia.
Faktor capek
kali ya saya ini mikir dan ngetiknya sekarang. Gimana nggak capek kalau abis
jalan berkilo – kilo terus tidur cuma tiga jam kemudian lanjut keliling wisma
pak “Kertaradjasa” ? Tired indeed, but it still gives some fun. Jadi agak
kurang ajar kalau menghakimi pendidikan teman – teman baru saya ini akan menjad
kacung, sedangkan mereka tadi
seharian udah ngantar kami ke tempat – tempat, bantu cari transportasi, dan
memberikan berbagai pengalaman lainnya, khususnya pengalaman untuk memahami
pendidikan mereka sebenarnya di lapangan. Memahami sebenar – benarnya. Langsung
dari yang merasakan. Secara praktik. Bukan teori.
0 comments: