“Namaku KERTARADJASA!”

11:45 PM Tameila 0 Comments

Akhirnya saya paham juga polemik politik yang terjadi di sini. Barusan, tadi sore setelah menjelajahi tiga dusun, saya dan beberapa teman satu unit mengunjungi wisma Soedjono. Ternyata wisma itu adalah milik lawan politiknya si Pak Jun yang kemarin saya ceritakan. Dan ternyata juga Pak Soedjono ini juga sudah almarhum.

                Tadi sore kami bertemu dengan anaknya, Mbak Neni, berserta suami Mbak Neni, Mas Beni. Mereka berdua lah yang kini mengurus wisma itu dan segala kekayaan peninggalan pak Soedjono. Saya nggak tahu seberapa banyak kekayaan yang dulu dimiliki oleh pak Soedjono, yang pasti teman saya mengibaratkan si bapak ini adalah Kertaradjasa – nya Desa Tete Batu.

                Di wisma itu nggak cuma penginapan, tapi ada juga bar (meski pun nggak besar), budi daya ikan, budi daya beberapa tanaman, misalnya jamur, cabe, dan lainnya. Usai rapat pun kami diajak berkeliling ke komplek wismanya. Besar, sejuk, nyaman, yaahh..oke lah. Di bagian belakang ada mata air yang dikelola dengan baik. Bisa ditemukan aliran air yang didesain sedemikian rupa dan juga pengelolaannya yang modern.

                Sepanjang perjalanan mengelilingi wisma, saya ditemani oleh dua pemuda, namanya El dan Rizal. El baru saja lulus kemarin, sedangkan Rizal masih kelas 2 SMK Pariwisata. Dari kedua anak inilah saya mengetahui banyak hal, bukan hanya tentang politik mereka tapi juga perspektif beberapa hal terkait pendidikan.

                Buset...bakalan berat banget kayaknya bahasan kali ini. Nggak kok, saya nggak akan membahas sistem pendidikan yang emang mau dibagaimanakan juga nggak akan mampu memuaskan seluruh rakyat Indonesia. Yang ingin saya tulis di sini adalah kemajuan berpikirnya pendidikan di pedalaman tapi masih terkesan sederhana. Sangat sederhana.

                Selama Rizal asyik bercerita tentang kehebatannya membawa motor dengan kecepatan 180 KM/jam, saya sok menganalisis betapa tipisnya permukaan ilmu yang Rizal pelajari. Sebelum Rizal memamerkan kemampuannya itu, dia bercerita kalau di sekolahnya dia diajarkan tentang pariwisata. Saat saya tanya tentang pariwisata itu apa, jawabannya ngenes, begini katanya,

                “Kami harus bisa beres – beres kamar, Ka. Ada juga yang dilatih sebagai front office dan house keeper. Tapi saya juga belajar bertender dan waitress.” Papar Rizal.
                “Jadi pariwisata yang diajarkan seperti itu ? Yang lainnya nggak ada ?” tanya saya.
                “Ada sih, Ka, tapi teori – teori udah lewat kelas 1. Sekarang kelas 2 lebih banyak pratiknya.” Rizal diam sejenak kemudian tertawa, “kata guru saya, kalau di depan tamu kita nggak boleh cemberut. Harus selalu senyum dan bahagia. Kalau ada masalah pribadi nggak boleh dibawa – bawa.”
                “Iya betul, nanti yang ada tamunya pada kabur,” saya menimpali.

                Rizal tidak menyahut, alih – alih dia malah menceritakan kehebatannya. Sambil sedikit mendengarkan, apakah scoop pariwisata yang diajarkan di sekolah – sekolah hanya itu ? Sebatas menjadi pelayan kah pemahaman pariwisata itu diberikan ? Saya memang belum pernah bersentuhan dengan pendidikan pariwisata, tapi sebagai orang yang masih awam saya kaget. Pariwisata yang mereka pahami masih sangat – sangat permukaan dan itu pun permukaan luar yang tipis sekali.

                Saya jadi ingat pernah berbincang dengan mbak – mbak petugas salon. Sambil dipijat waktu itu iseng nanya kenapa bisa kerja di salon. Dia jawab kalau dulu sekolahnya pariwisata dan sempat kerja di hotel. Karena nggak betah dengan sistem kerja dan tempat tinggalnya, makannya dia keluar lalu melamar di salon. See ? Apakah teman – teman saya yang sekolah di pariwisata hanya dididik untuk jadi pelayan ?

                Mungkin saya nggak berhak untukk mengkritik atau sok menganalisis seperti ini, tapi sebagai orang yang buta permasalahan pendidikan pariwisata kok kesannya jebolan pendidikan pariwisata kerja jadi pelayan hotel. Di sekolah itu dididiknya jadi waitress yang bisa table manner, beres – beres kamar, nerima tamu, atau ketok – ketok kamar buat bersih – bersih. Kalau memang itu keterampilan yang harus mereka punya, jadi salah nggak kalau saya bilang pendidikan dalam negeri ini sendiri yang mencetak generasinya sebagai pelayan ?

                Mencoba melihat dari perspektif lain, saya pun mencoba untuk memahami kebutuhan mereka. Mungkin ini lah yang mereka butuhkan, sebuah keterampilan siap pakai yang sesuai pula dengan pendidikan mereka, SMK, kalau tidak meneruskan ke perguruan tinggi. Sama halnya seperti El yang ketika saya tanya apakah ada rencana mau melanjutkan ke perguruan tinggi dia malah ketawa. Dengan malu – malu dia jawab kalau ayah – ibunya nggak ada dana untuk membiayai ke jenjang selanjutnya. Akhirnya dia memilih untuk mengambil kursus komputer dan bahasa Inggris sebagai bekalnya nanti.

                “Bagus!” gumam saya dalam hati.

                Membandingkan pendidikan Rizal dan El dengan anak – anak di kota sedikit banyak membuat saya berasumsi kalau sebenarnya pendidikan mereka lebih siap pakai di lapangan kerja daripada anak – anak kota yang dicekoki banyak teori.

                Eist...tapi saya mikir lagi. Kalau saya ngee – judge  begitu tandanya lupa dong dengan kebutuhan pendidikan di setiap tempat. Di desa kan yang penting bisa kerja, kalau di kota pengennya jadi bos oleh sebab itu otaknya yang diasah, bukan ototnya. Alright..jadi di sini perbedaannya permasalahan yang diasahnya ? Hmm...really ?

                Well...I’m not really sure about that. Apakah permasalahan di sini itu perbedaan cara menghasilkan cetakan, mana yang kuat otot dan mana yang kuat otak. Atau mungkin permasalahannya pada pendidikan Indonesia yang secara tidak langsung menciptakan pembantu bagi negaranya sendiri. Agak sadis dan nggak berperasaan juga kalau saya bilang pembantu. Kesannya nge – judge gitu aja tanpa tahu betul sistem pendidikan pariwisata itu bagaimana. Tuh kan, saya khilaf lagi. Padahal saya juga nggak suka kalau Mama dan  Papa sekonyong – konyong men  - judge jebolan komunikasi bakalan jadi reporter doang. Sekarang malah saya yang membuat harga mati kalau lulusan pendidikan pariwisata jadi pelayan di Indonesia.

                Faktor capek kali ya saya ini mikir dan ngetiknya sekarang. Gimana nggak capek kalau abis jalan berkilo – kilo terus tidur cuma tiga jam kemudian lanjut keliling wisma pak “Kertaradjasa” ? Tired indeed, but it still gives some fun. Jadi agak kurang ajar kalau menghakimi pendidikan teman – teman baru saya ini akan menjad kacung, sedangkan mereka tadi seharian udah ngantar kami ke tempat – tempat, bantu cari transportasi, dan memberikan berbagai pengalaman lainnya, khususnya pengalaman untuk memahami pendidikan mereka sebenarnya di lapangan. Memahami sebenar – benarnya. Langsung dari yang merasakan. Secara praktik. Bukan teori.


You Might Also Like

0 comments: