It's (soooo) Normal

10:52 PM Tameila 0 Comments


“So kiss me and smile for me, tell me that you wait for me
Hold me like you never let me go
Cause I’m leaving on a jet plane, don’t know where I’ll be back again
Oh babe, I hate to go”

Rupanya nyanyian saya barusan disambut oleh Sarah, mahasiswi perikanan. Statusnya jomblo nggak jelas. Tingkat kewarasannya sama lha dengan saya. Jodohnya, kami satu sub – unit. Bawaannya kalau dekat dia itu pengen ngeledek terus. Usut punya usut punya “relation” dengan teman satu unit kita. Well, biar lah Sarah bertualang dengan cintanya di Lombok. Di sini, saya bertualang dengan mata – mata liar saya.

                Banyak yang saya lihat di sini. Bukan cuma alamnya yang cantik, tapi politiknya juga yang pelik. Semuanya ini berawal dari pondokan perempuan yang mirip dengan emm...nggak mau sebut deh tapi bayangin aja ya, rumahnya udah nggak pernah dibuka sejak 2 tahun lalu. Bisa dong dirasakan hawanya gimana. Debu, pasti. Pengap, jelas. Spooky, emm..gitu deh. Kamar mandi atapnya cuma setengah, lampunya nggak ada. Ada sih, tapi cuma di satu kamar dan di bagian halaman. Selebihnya selamat bersenter ria !

                Ketidaknyamanan ini akhirnya membuat kita harus rapat mendadak saat sedang latihan paduan suara. Okay, agak random indeed. Jadi ceritanya desa ini lolos nominasi untuk lomba desa peduli hutan tingkat nasional. Pak Jun, si bapak kepala desa, meminta kita untuk nyanyi Indonesia Raya saat penyambutan juri nasional besok. Jadilah kita harus latihan dengan suara serak dan kekompakkan pas – pasan. Biar kata cuma modal solid satu tim, katanya..katanya sih..paduan suara kita bikin tamu merinding.

                Back to topic. Saat rapat para cewek mendesak supaya bisa tidur di kantor desa. Gila aja baru datang udah disuruh tidur di rumah yang kosong. Lantainya masih berpasir dan ah...nggak kebayang deh. Emang dasarnya anak – anak lelaki kelompok saya ini baik – baik, jadi mereka mau ngalah. Mereka setuju untuk tidur di luar dan kita di kantor desa.

                Sebenarnya awalnya pondokan kami mau dibagi dua lokasi, masing – masing lokasi diisi dengan dua sub – unit. Tapi kenapa nggak jadi ? Begini ceritanya...

                Saya anak FISIPOL yang nggak peduli politik mau nggak mau di sini jadi korban politik (lagi). Kita nggak jadi dipisah dua penginapan karena di daerah tempat penginapan satunya (bukan di desa ini) adalah wilayah lawan politiknya si bapak kepala desa. Waktu pemilihan kepala desa dulu yang nguasain wilayah satunya itu pihak oposisi si bapak kepala desa sekarang. Kita ditahan untuk nggak nginap di sana supaya nggak terhasut. Well, I don’t give a care sih sebenarnya, cuma aneh aja hal sesensitif itu berani dia utarakan ke mahasiswa. Di sini kan kita outsider, kok hal – hal seperti itu kita dilibatkan.

                Berangkat dari permasalahan itu akhirnya berbuntut ke mana – mana. Awalnya masalah pemondokan, kemudian masalah akses ke desa setiap sub – unit. Tim kami dipecah ke empat dusun, saya sih untung ke dusunnya tinggal ngesot, lha teman – teman saya yang lain butuh tenaga ekstra. Belum lagi nanti kalau bulan puasa. Makannya setelah tadi sore sok – sokan mau jalan – jalan malah tepar sendiri. Niatnya mau mengunjungi ke tiga dusun lainnya, tapi karena jauh kita hanya bisa menjangkau dua dusun.

                Anak – anak perempuan mulai ngeluh capek dan sebagainya. Masuk akal sih dan itu sangat wajar karena medan perjalannya aduhai. Sebenarnya banyak alternatif solusi untuk masalah ini dan nggak harus di – pending sampai rapat besok, tapi ya balik lagi ke permasalahan di atas. Politik. Bapak kepala desa agaknya akan keberatan terhadap alternatif solusi yang udah kita rancang karena beberapa alternatif solusi itu bersinggungan dengan pihak oposisinya. Kenapa sih setiap langkah kita selalu bersinggungan dengan pihak oposisinya ? Emm...bisa dibilang kalau oposisinya itu “orang kedua” yang ada di desa ini. Jadi nggak heran kalau pengaruhnya cukup kuat.

                Nggak hanya masalah akses juga, konsumsi pun ikut terseret – seret. Andai saja nggak ada masalah politik di sini, mungkin Indah dan Yuli, teman satu tim saya yang ngurusin konsumsi, nggak bingung harus ngisi perut kami dari mana. Mereka harus muter otak setiap hari untuk cari makanan yang murah, halal, dan bisa diterima sama perut kita semua. Nah, kalau nggak ada permasalahan politik ini, kita bisa pesan ke catering oposisi si bapak dan malah kalau kita menggunakan semua fasilitas si bapak “oposisi” tadi hari ini udah bisa jalan program. Tapi apa ? Lagi – lagi permasalahan politik.

                Pondokan. Akses ke dusun – dusun. Konsumsi. Baru tiga. Entah apakah akan beranak lagi atau berhenti sampai di sana. Rencananya besok kita mau mengunjungi setiap dusun satu tim. Survey serentak dan mem – fix – kan setiap program karena sebanarnya besok program harus sudah jalan.

                Biar kata saya ini anak politik yang nggak peduli politik, saya mahfum kok dengan polemik yang terjadi. Dalam sebuah dunia perpolitikan wajar adanya seperti ini. Ketika merugikan beberapa pihak pun sudah bukan sesuatu yang aneh. Maka dari itu saya nggak pernah suka dengan politik karena nggak lebih dari memenuhi kepentingan pribadi. Tapi melihat usaha ketua unit saya dan bapak kepala desa, saya appreciate dengan usaha mereka yang selalu memenuhi fasilitas yang kita pinta. Mulai dari debet air sampai ketanggapannya atas keluhan penginapan untuk perempuan.

                Nggak aneh. Nggak. Yang aneh itu SD di depan penginapan saya. Udah jam 8 masih aja belum masuk. Anak – anaknya masih pada asyik jajan tahu dicelup ke saus sambal yang nggak karuan. Pas ditanya masuk jam berapa, dijawab masuk jam 10. Pas ditanya pulang jam berapa, dijawab pulang jam 12. Nah lho mereka belajar apaan dalam dua jam. Eits, nggak sampai di situ...tadi, saat kami menyambut tim juri nasional dengan kebingaran musik adat Lombok, anak – anak sekolahnya pada nonton. Lalu, ke mana 2 jam yang katanya sekolah itu ? Ke mana ? K-E-M-A-N-A ?

                Inhale. Exhale. Harusnya saya juga mahfum dengan keadaan pendidikan seperti itu di sinii. Udah bukan rahasia umum kalau profesi guru di beberapa tempat cuma formalitas. Wong nyatanya pas tadi “si bapak guru” saya lihat jadi bagian teknisi di acara penyambutan tim juri nasional kok. Tapi mudah – mudahan mata saya aja yang saya lihat kalau ternyata orang yang saya maksud barusan bukan “si bapak guru”. Biar begitu, saya yakin nggak salah lihat sama satu hal ini. Semangat anak – anak SMP di desa Tete Batu untuk lomba gerak jalan besok. Jam 2 siang di kantor Kecamatan Sikur. Saya pun nggak salah lihat betapa bahagianya anak – anak cowok tim saya usai bermain bola dengan pemuda – pemuda desa. Satu lagi. Saya juga nggak salah lihat kalau banyak anjing berkeliaran di sini.

                Mahfum. Harus mahfum. Itu wajar. Normal. Normal ?

                Okay, it’s soooooo normal, Ta!

You Might Also Like

0 comments: