It's (soooo) Normal
“So kiss me and smile for me, tell me that you wait for meHold me like you never let me goCause I’m leaving on a jet plane, don’t know where I’ll be back againOh babe, I hate to go”
Rupanya nyanyian saya barusan disambut oleh Sarah, mahasiswi
perikanan. Statusnya jomblo nggak jelas. Tingkat kewarasannya sama lha dengan
saya. Jodohnya, kami satu sub – unit. Bawaannya kalau dekat dia itu pengen
ngeledek terus. Usut punya usut punya “relation” dengan teman satu unit kita. Well,
biar lah Sarah bertualang dengan cintanya di Lombok. Di sini, saya bertualang
dengan mata – mata liar saya.
Banyak yang
saya lihat di sini. Bukan cuma alamnya yang cantik, tapi politiknya juga yang
pelik. Semuanya ini berawal dari pondokan perempuan yang mirip dengan
emm...nggak mau sebut deh tapi bayangin aja ya, rumahnya udah nggak pernah
dibuka sejak 2 tahun lalu. Bisa dong dirasakan hawanya gimana. Debu, pasti. Pengap,
jelas. Spooky, emm..gitu deh. Kamar mandi
atapnya cuma setengah, lampunya nggak ada. Ada sih, tapi cuma di satu kamar dan
di bagian halaman. Selebihnya selamat bersenter ria !
Ketidaknyamanan
ini akhirnya membuat kita harus rapat mendadak saat sedang latihan paduan
suara. Okay, agak random indeed. Jadi
ceritanya desa ini lolos nominasi untuk lomba desa peduli hutan tingkat
nasional. Pak Jun, si bapak kepala desa, meminta kita untuk nyanyi Indonesia
Raya saat penyambutan juri nasional besok. Jadilah kita harus latihan dengan
suara serak dan kekompakkan pas – pasan. Biar kata cuma modal solid satu tim,
katanya..katanya sih..paduan suara kita bikin tamu merinding.
Back to topic. Saat rapat para cewek
mendesak supaya bisa tidur di kantor desa. Gila aja baru datang udah disuruh
tidur di rumah yang kosong. Lantainya masih berpasir dan ah...nggak kebayang
deh. Emang dasarnya anak – anak lelaki kelompok saya ini baik – baik, jadi
mereka mau ngalah. Mereka setuju untuk tidur di luar dan kita di kantor desa.
Sebenarnya
awalnya pondokan kami mau dibagi dua lokasi, masing – masing lokasi diisi
dengan dua sub – unit. Tapi kenapa nggak jadi ? Begini ceritanya...
Saya anak
FISIPOL yang nggak peduli politik mau nggak mau di sini jadi korban politik
(lagi). Kita nggak jadi dipisah dua penginapan karena di daerah tempat
penginapan satunya (bukan di desa ini) adalah wilayah lawan politiknya si bapak
kepala desa. Waktu pemilihan kepala desa dulu yang nguasain wilayah satunya itu
pihak oposisi si bapak kepala desa sekarang. Kita ditahan untuk nggak nginap di
sana supaya nggak terhasut. Well, I don’t give a care sih sebenarnya, cuma aneh
aja hal sesensitif itu berani dia utarakan ke mahasiswa. Di sini kan kita outsider, kok hal – hal seperti itu kita
dilibatkan.
Berangkat
dari permasalahan itu akhirnya berbuntut ke mana – mana. Awalnya masalah
pemondokan, kemudian masalah akses ke desa setiap sub – unit. Tim kami dipecah
ke empat dusun, saya sih untung ke dusunnya tinggal ngesot, lha teman – teman saya
yang lain butuh tenaga ekstra. Belum lagi nanti kalau bulan puasa. Makannya setelah
tadi sore sok – sokan mau jalan – jalan malah tepar sendiri. Niatnya mau
mengunjungi ke tiga dusun lainnya, tapi karena jauh kita hanya bisa menjangkau
dua dusun.
Anak –
anak perempuan mulai ngeluh capek dan sebagainya. Masuk akal sih dan itu sangat
wajar karena medan perjalannya aduhai. Sebenarnya banyak alternatif solusi
untuk masalah ini dan nggak harus di – pending
sampai rapat besok, tapi ya balik lagi ke permasalahan di atas. Politik. Bapak kepala
desa agaknya akan keberatan terhadap alternatif solusi yang udah kita rancang
karena beberapa alternatif solusi itu bersinggungan dengan pihak oposisinya. Kenapa
sih setiap langkah kita selalu bersinggungan dengan pihak oposisinya ?
Emm...bisa dibilang kalau oposisinya itu “orang kedua” yang ada di desa ini. Jadi
nggak heran kalau pengaruhnya cukup kuat.
Nggak hanya
masalah akses juga, konsumsi pun ikut terseret – seret. Andai saja nggak ada
masalah politik di sini, mungkin Indah dan Yuli, teman satu tim saya yang
ngurusin konsumsi, nggak bingung harus ngisi perut kami dari mana. Mereka harus
muter otak setiap hari untuk cari makanan yang murah, halal, dan bisa diterima
sama perut kita semua. Nah, kalau nggak ada permasalahan politik ini, kita bisa
pesan ke catering oposisi si bapak dan malah kalau kita menggunakan semua
fasilitas si bapak “oposisi” tadi hari ini udah bisa jalan program. Tapi apa ?
Lagi – lagi permasalahan politik.
Pondokan.
Akses ke dusun – dusun. Konsumsi. Baru tiga. Entah apakah akan beranak lagi
atau berhenti sampai di sana. Rencananya besok kita mau mengunjungi setiap
dusun satu tim. Survey serentak dan mem – fix
– kan setiap program karena sebanarnya besok program harus sudah jalan.
Biar
kata saya ini anak politik yang nggak peduli politik, saya mahfum kok dengan polemik
yang terjadi. Dalam sebuah dunia perpolitikan wajar adanya seperti ini. Ketika merugikan
beberapa pihak pun sudah bukan sesuatu yang aneh. Maka dari itu saya nggak
pernah suka dengan politik karena nggak lebih dari memenuhi kepentingan
pribadi. Tapi melihat usaha ketua unit saya dan bapak kepala desa, saya appreciate dengan usaha mereka yang
selalu memenuhi fasilitas yang kita pinta. Mulai dari debet air sampai
ketanggapannya atas keluhan penginapan untuk perempuan.
Nggak aneh.
Nggak. Yang aneh itu SD di depan penginapan saya. Udah jam 8 masih aja belum
masuk. Anak – anaknya masih pada asyik jajan tahu dicelup ke saus sambal yang
nggak karuan. Pas ditanya masuk jam berapa, dijawab masuk jam 10. Pas ditanya
pulang jam berapa, dijawab pulang jam 12. Nah lho mereka belajar apaan dalam
dua jam. Eits, nggak sampai di situ...tadi, saat kami menyambut tim juri
nasional dengan kebingaran musik adat Lombok, anak – anak sekolahnya pada
nonton. Lalu, ke mana 2 jam yang katanya sekolah itu ? Ke mana ? K-E-M-A-N-A ?
Inhale. Exhale. Harusnya saya juga
mahfum dengan keadaan pendidikan seperti itu di sinii. Udah bukan rahasia umum
kalau profesi guru di beberapa tempat cuma formalitas. Wong nyatanya pas tadi “si
bapak guru” saya lihat jadi bagian teknisi di acara penyambutan tim juri
nasional kok. Tapi mudah – mudahan mata saya aja yang saya lihat kalau ternyata
orang yang saya maksud barusan bukan “si bapak guru”. Biar begitu, saya yakin
nggak salah lihat sama satu hal ini. Semangat anak – anak SMP di desa Tete Batu
untuk lomba gerak jalan besok. Jam 2 siang di kantor Kecamatan Sikur. Saya pun
nggak salah lihat betapa bahagianya anak – anak cowok tim saya usai bermain
bola dengan pemuda – pemuda desa. Satu lagi. Saya juga nggak salah lihat kalau
banyak anjing berkeliaran di sini.
Mahfum.
Harus mahfum. Itu wajar. Normal. Normal ?
Okay, it’s soooooo normal, Ta!
0 comments: