Bisa kok!
Encok. Itu yang saya rasakan kini. Terserah mau dibilang
nenek – nenek atau gimana, yang penting itu yang saya rasakan sekarang. Secara pasti
saya sebenarnya nggak tau encok itu seperti apa, tapi urat di bawah ketiak
sampai pinggang ini rasanya ketarik. Gara – gara apa ? Gara – gara manjat pagar
kantor desa. Kok bisa ? Ya bisa lha ! Wong dua bule Amerika yang nggak paham
bahasa Indonesia sama sekali pun bisa kok ngajar di SDN 05 Tete Batu.
Tapi bener
deh kalau lompat pagar kantor desa aja nggak bisa, saya malu dengan Ami dan
temannya (lupa nama, biasa bad short term
memory). Saya, Fery, dan Sarah bertemu Ami dan temannya saat tadi survey ke
SDN 05 Tete Batu, tempat kami akan mengajar nanti. Kebetulan masih awal tahun
ajaran baru, maka dari itu ada untung dan ada ruginya juga. Bukan rugi sih,
tapi penghambat. Untungnya semua anak menginjak kelas yang baru jadi kita bisa
menyusun materi dengan para guru bersama – sama. Sayangnya sekolah ini kurang
tertib. Mungkin masih ada hawa liburan, anak – anaknya susah banget diajak
masuk. Untung mau masuk kelas lima menit, baru diajak belajar mereka malah
narik ngajak main bagi.
Bagi itu permainan dari biji yang nanti
dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam lubang. Lubang digali di atas tanah dan
nggak terlalu dalam, nah nanti semua biji ditaruh di sana. Setiap orang pegang
bijinya masing – masing lalu bergiliran menembakkan bijinya tadi ke biji – biji
yang ada di dalam lubang. Biji – biji yang keluar dari lubang jadi hak milik si
penembak. Siapa yang mampu mengumpulkan biji paling banyak maka dia lah yang
menang.
Ya,
bahagia itu sederhana. Mereka cuma modal biji buah (lupa nama lagi, bad bad short term memory) senengnya
sampai nggak mau masuk kelas. Karena udah desperate ngajak anak belajar,
akhirnya kami bertiga dikenalkan sama Ami dan temannya tadi. Ternyata mereka
berdua itu guru SMP di Amerika dan berencana untuk mengajar di sini selama lima
bulan. Jadi rencananya nanti kita akan bekerja sama. Kalau kata si Ami tadi
sih, “it’s good. We will collaborate”.
Yes we
do! We do so many collaborations here. Makannya abis sok – sok nyerocos bahasa Inggris, kami nyamperin
bu bidan, namanya Teh Dini. Kenapa dipanggil “teh”? Ya memang dia orang Sunda
kok, orang Cirebon. Dia dapat SK tugas di sini selama 10 bulan. Takjub saya dan
teman – teman mendengarnya. Kami aja yang cuma lima minggu udah pusing ngatur
ini – itu, lha dia 10 bulan! Ketakjuban kami bertambah saat tahu kalau si teteh
itu sendirian tugasnya di sini. Nggak ada perawat, jadi kalau ada yang
melahirkan ya sibuk sendiri. Tidur juga kadang – kadang sendirian, kadang –
kadang ditemani gadis sini. Lebih takjubnya kamar mandi si teteh nggak ada
pintunya ! Bagaimana mandinya ? Udah nggak usah dipikirin, saya dan kedua teman
saya pun nggak berani ngebayanginnya.
So what’s
the other collaborations ? Kami mengunjungi Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Organisasi
ini adalah perkumpulan para petani yang ada di Desa Tete Batu. Jumlahnya kalau
nggak salah ada 66 orang yang tergabung dalam beberapa kelompok kecil tani
lainnya. Karena saya bukan anak pertanian, makannya satu hal yang menarik saya
tadi adalah bapaknya. Seneng banget si bapaknya ngobrol. Enak sih, tapi bikin
resah dan gelisah karena saya dan teman – teman udah sibuk nahan pipis. Di sini
itu dingin, pakai banget! Jangan heran kalau bawaannya pengen makan, tidur,
pipis. Anehnya susah buat buang air besar. Kami sih (khususnya para perempuan)
berharapnya lemak – lemak bertransformasi jadi karbohidrat atau protein (saya
nggak tau mana yang benar).
Selesai
ngurus koordinasi semuanya, agak nggak enak saat pulang ke penginapan. Satu dari
teman saya demam. Nggak tanggung – tanggung, saat diukur suhunya ternyata 39
derajat celcius. Wow! Tapi emang cuaca di sini dingin banget dan lembap. Radang
tenggorokan saya pun betah nggak mau pergi sejak hari keberangkatan. Sudah dua
malam juga hujan. Hujannya nggak deras, tapi tipis – tipis gitu. Nggak tau deh
itu hujan jenis apa, yang pasti nggak deras tapi lebat.
Melihat
keadaannya begini semuanya jadi serba mungkin. Jadi serba bisa. Tiwi, teman
saya yang demam, adalah salah satu anak yang ceria. Heboh. Bawel. Eh, sekarang
tidur dikompres dan muntah – muntah nggak mau makan. Siapa sangka dia yang
sakit duluan.
Ami dan
temannya yang nggak bisa bahasa Indonesia sama sekali, eh sekarang udah dua
minggu ngajar bahasa Inggris di SDN 05 Tete Batu.
Teh
Dini yang awalnya ngerasa sendirian dan asing sendiri, bisa juga akhirnya
adaptasi dengan orang – orang Lombok. Malah katanya dia mulai betah di sini,
padahal kemarin – kemarin sempat nangis – nangis karena beratnya turun 6kg.
Aneh ya, kalau saya sih senang turun gitu berat badannya !
Pak
kepala Gapoktan, siapa sangka ternyata udah dapat sertifikasi pelatih pertanian
skala nasional. Terlepas dari dia bohong atau nggak, dia itu pendidikannya cuma
sampai SMP eh bisa juga dapat penghargaan dari pemerintah.
Nah,
sekarang saya juga bisa ! Siapa sangka badan segede ini manjat pagar kantor
kepala desa? Ini jangan kalian bayangkan pagar pada umumnya. Kalau manjat pagar
biasa doang masih masuk akal. Tapi di sin beda cerita. Ceritanya pagar yang dipanjat
itu pagar tembok. Badan mau gimana gedenya harus bisa selentur mungkin supaya
bisa ngelewatin pagar. Jangan salah injak juga. Kalau salah pijak atau kepleset
dikit, BUM! Selamat kalian jatuh ke jalan sempit dari ketinggian pagar yang
lumayan. Mungkin diceritain begini nggak seberapa serem. Rasain deh sendiri,
apalagi saya meliuk – liuk di antara tembok – tembok itu saat hujan. Gelap. Bau
kemenyan. Can you imagine ? Of course, you can! You must able to imagine that !
Kalau nggak bisa kelewatan, wong saya aja yang nggak ngebayangin tapi praktik
langsung bisa kok !
0 comments: