Bisa kok!

12:03 AM Tameila 0 Comments

Encok. Itu yang saya rasakan kini. Terserah mau dibilang nenek – nenek atau gimana, yang penting itu yang saya rasakan sekarang. Secara pasti saya sebenarnya nggak tau encok itu seperti apa, tapi urat di bawah ketiak sampai pinggang ini rasanya ketarik. Gara – gara apa ? Gara – gara manjat pagar kantor desa. Kok bisa ? Ya bisa lha ! Wong dua bule Amerika yang nggak paham bahasa Indonesia sama sekali pun bisa kok ngajar di SDN 05 Tete Batu.

                Tapi bener deh kalau lompat pagar kantor desa aja nggak bisa, saya malu dengan Ami dan temannya (lupa nama, biasa bad short term memory). Saya, Fery, dan Sarah bertemu Ami dan temannya saat tadi survey ke SDN 05 Tete Batu, tempat kami akan mengajar nanti. Kebetulan masih awal tahun ajaran baru, maka dari itu ada untung dan ada ruginya juga. Bukan rugi sih, tapi penghambat. Untungnya semua anak menginjak kelas yang baru jadi kita bisa menyusun materi dengan para guru bersama – sama. Sayangnya sekolah ini kurang tertib. Mungkin masih ada hawa liburan, anak – anaknya susah banget diajak masuk. Untung mau masuk kelas lima menit, baru diajak belajar mereka malah narik ngajak main bagi.

                Bagi itu permainan dari biji yang nanti dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam lubang. Lubang digali di atas tanah dan nggak terlalu dalam, nah nanti semua biji ditaruh di sana. Setiap orang pegang bijinya masing – masing lalu bergiliran menembakkan bijinya tadi ke biji – biji yang ada di dalam lubang. Biji – biji yang keluar dari lubang jadi hak milik si penembak. Siapa yang mampu mengumpulkan biji paling banyak maka dia lah yang menang.

                Ya, bahagia itu sederhana. Mereka cuma modal biji buah (lupa nama lagi, bad bad short term memory) senengnya sampai nggak mau masuk kelas. Karena udah desperate ngajak anak belajar, akhirnya kami bertiga dikenalkan sama Ami dan temannya tadi. Ternyata mereka berdua itu guru SMP di Amerika dan berencana untuk mengajar di sini selama lima bulan. Jadi rencananya nanti kita akan bekerja sama. Kalau kata si Ami tadi sih, “it’s good. We will collaborate”.

                Yes we do! We do so many collaborations here. Makannya abis sok – sok nyerocos bahasa Inggris, kami nyamperin bu bidan, namanya Teh Dini. Kenapa dipanggil “teh”? Ya memang dia orang Sunda kok, orang Cirebon. Dia dapat SK tugas di sini selama 10 bulan. Takjub saya dan teman – teman mendengarnya. Kami aja yang cuma lima minggu udah pusing ngatur ini – itu, lha dia 10 bulan! Ketakjuban kami bertambah saat tahu kalau si teteh itu sendirian tugasnya di sini. Nggak ada perawat, jadi kalau ada yang melahirkan ya sibuk sendiri. Tidur juga kadang – kadang sendirian, kadang – kadang ditemani gadis sini. Lebih takjubnya kamar mandi si teteh nggak ada pintunya ! Bagaimana mandinya ? Udah nggak usah dipikirin, saya dan kedua teman saya pun nggak berani ngebayanginnya.

                So what’s the other collaborations ? Kami mengunjungi Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Organisasi ini adalah perkumpulan para petani yang ada di Desa Tete Batu. Jumlahnya kalau nggak salah ada 66 orang yang tergabung dalam beberapa kelompok kecil tani lainnya. Karena saya bukan anak pertanian, makannya satu hal yang menarik saya tadi adalah bapaknya. Seneng banget si bapaknya ngobrol. Enak sih, tapi bikin resah dan gelisah karena saya dan teman – teman udah sibuk nahan pipis. Di sini itu dingin, pakai banget! Jangan heran kalau bawaannya pengen makan, tidur, pipis. Anehnya susah buat buang air besar. Kami sih (khususnya para perempuan) berharapnya lemak – lemak bertransformasi jadi karbohidrat atau protein (saya nggak tau mana yang benar).

                Selesai ngurus koordinasi semuanya, agak nggak enak saat pulang ke penginapan. Satu dari teman saya demam. Nggak tanggung – tanggung, saat diukur suhunya ternyata 39 derajat celcius. Wow! Tapi emang cuaca di sini dingin banget dan lembap. Radang tenggorokan saya pun betah nggak mau pergi sejak hari keberangkatan. Sudah dua malam juga hujan. Hujannya nggak deras, tapi tipis – tipis gitu. Nggak tau deh itu hujan jenis apa, yang pasti nggak deras tapi lebat.

                Melihat keadaannya begini semuanya jadi serba mungkin. Jadi serba bisa. Tiwi, teman saya yang demam, adalah salah satu anak yang ceria. Heboh. Bawel. Eh, sekarang tidur dikompres dan muntah – muntah nggak mau makan. Siapa sangka dia yang sakit duluan.

                Ami dan temannya yang nggak bisa bahasa Indonesia sama sekali, eh sekarang udah dua minggu ngajar bahasa Inggris di SDN 05 Tete Batu.

                Teh Dini yang awalnya ngerasa sendirian dan asing sendiri, bisa juga akhirnya adaptasi dengan orang – orang Lombok. Malah katanya dia mulai betah di sini, padahal kemarin – kemarin sempat nangis – nangis karena beratnya turun 6kg. Aneh ya, kalau saya sih senang turun gitu berat badannya !

                Pak kepala Gapoktan, siapa sangka ternyata udah dapat sertifikasi pelatih pertanian skala nasional. Terlepas dari dia bohong atau nggak, dia itu pendidikannya cuma sampai SMP eh bisa juga dapat penghargaan dari pemerintah.

                Nah, sekarang saya juga bisa ! Siapa sangka badan segede ini manjat pagar kantor kepala desa? Ini jangan kalian bayangkan pagar pada umumnya. Kalau manjat pagar biasa doang masih masuk akal. Tapi di sin beda cerita. Ceritanya pagar yang dipanjat itu pagar tembok. Badan mau gimana gedenya harus bisa selentur mungkin supaya bisa ngelewatin pagar. Jangan salah injak juga. Kalau salah pijak atau kepleset dikit, BUM! Selamat kalian jatuh ke jalan sempit dari ketinggian pagar yang lumayan. Mungkin diceritain begini nggak seberapa serem. Rasain deh sendiri, apalagi saya meliuk – liuk di antara tembok – tembok itu saat hujan. Gelap. Bau kemenyan. Can you imagine ? Of course, you can! You must able to imagine that ! Kalau nggak bisa kelewatan, wong saya aja yang nggak ngebayangin tapi praktik langsung bisa kok !

You Might Also Like

0 comments: