“Andai gue cowok”

9:41 PM Tameila 0 Comments


Barusan teman sekamar saya bilang, “kadang kalau situasi lagi begini, kita pasti bilang, ‘andai gue cowok’”. Serentak harapan yang nggak mungkin terkabul itu di – amini oleh saya dan dua teman yang lainnya. Bagaimana tidak, kalau saja kita cowok, kita nggak akan selonjoran begini. Merasa tak berdaya, bukannya mandi malah ngeluh, mulai dari air kamar mandi yang kotor sampai distribusi lemak di tubuh yang nggak merata.

                Ya, andai saya cowok. Di hari keberangkatan ini pun saya nggak akan bawa tiga tas. Satu koper dorong. Satu koper jinjing. Satu ransel. Wait, satu lagi, satu plastik berisi bantal, boneka, dan novel. Mungkin yang saya bawa cuma satu koper dorong dan satu ransel. Nggak usah bawa – bawa kerudung, boneka, setrika, gantungan, dan barang – barang cewek yang nggak dipakai oleh cowok. Simpel. Ringkes. Nggak ribet.

                Sayangnya saya bukan cowok. Saya cewek yang nggak bisa lepas dari Choky. Saya pun cewek yang nggak tenang kalau nggak bawa ini – itu. Biar begitu, untungnya anak – anak cowok unit saya pengertian semua. Sekalian dipromosiin aja, mereka ini cowok – cowok pengertian. Terlepas dari ketidakpekaannya terhadap beberapa hal, mereka itu paham kalau cewek – cewek kerepotan gotong koper. Apalagi waktu loading dari bus satu ke bus lainnya.

                Memang waktu loading barang adalah waktunya rempong. Bagaimana tidak, perjalanan dari Jogja ke Lombok tidak seindah yang dibayangkan. Jangan bayangin kita naik pesawat terus turun di bandara kemudian geret koper. No ! Dari Jogja kita naik bus, namanya Safari Dharma (yang mengalami kemunduran keberangkatan berali – kali). Loading pertama di pool – nya Safari Dharma nggak begitu ribet (buat saya) karena dua koper saya sebelumnya udah di sana jadi tinggal orangnya aja yang masuk dan duduk manis.

                Keribetan sebagai perempuan dimulai saat menempuh setengah perjalanan. Karena saya ini berkerudung, mulai lah kepala seperti ada yang ngeraba – raba. Bukan kutu! Tapi gerah, gatal, kusut, kunciran copot, bentuk kerudung udah nggak karuan. Akhirnya saya dan teman sebangku (yang juga berkerudung) sibuk membenahi kerudung. Tarik sana, tarik sini. Untungnya kita berdua udah terlatih untuk memakai kerudung dalam 30 detik, jadi it’s not a big deal anymore.

                Perjalanan membelah selat dari Jawa ke Bali pun lancar. Hanya memakan waktu sekitar sejam dan hanya dua perempuan yang tumbang dari tim kami. Andai mereka cowok, mungkin mereka nggak akan mabuk lautan. Benar kok, lihat saja anak – anak cowok tim saya malah ketawa – ketawa di bangku belakang. Ada sih namanya Rendi yang meringis – ringis di pinggiran WC. Bukan karena mabuk laut, tapi karena “panggilan alam”.

                Loading kedua di terminal Ubung, Bali. Saya pikir yang namanya Bali itu indah. Maklum baru pertama kali ke Bali, eh sekalinya ke Bali ke terminalnya. Jangan bayangkan terminal Ubung ini banyak janur dan kain hitam – putih kayak di film – film cinta monyet anak SMA. Jangan ! For your information yang namanya terminal di mana – mana sama. Sumpek, berdebu, berisik, WC bau, ah sama aja. Bedanya cuma satu, di terminal Ubung saya mendengar orang ngomong pakai bahasa Bali. Entah apa artinya saya nggak peduli. All I care is moving these things. Tas – tas. Segambreng barang – barang KKN.

                Pindah ke bus kedua namanya bus Akas. Sedari di Jogja, 23 anak tim saya membayangkan kalau si Akas ini bentuknya sama kayak si Safari Dharma. Tapi memang ya, kenyataan itu tak seindah bayangan. Bentuk bus Akas nggak jauh beda dengan Kopaja atau Kopata, hanya saja seat – nya lebih banyak, 43 kursi. itu bus bukan hanya untuk tim saya. Bukan. Tapi sudah ada tim KKN lainnya di sana, jadi 43 seat itu pas sejumlah orang dan barang bawaan kita semua. Bagaimana bentuknya ? MUDDLE! Kacau balau.

                Saya udah nggak bisa lagi bedain mana kursi, mana koper yang didudukin. Semua koper dipampatkan. Si abang agaknya nggak rela kalau ada se – centi ruang kosong di dalam bus, jadi kita pun menuju pelabuhan harus berbagi oksigen. Lucu sih, karena di tengah – tengah iritnya bernapas saya masih sempat nyuapin teman saya makan. Selain karena saya kasihan dia susah gerak untuk makan, jatah makanan kami per orang banyak banget. Jadi daripada dibuang mending saya bagi dengan dia. Itung – itung beramal di tengah kesempitan.

                Tiga jam kemudian sampai lah di pelabuhan yang akan menyeberangkan kami ke Lombok. THIS IS THE TIME! Kami membutuhkan 5 jam untuk bisa sampai di pulau tujuan. Untungnya kapan yang sekarang enak dan bagus, mirip dengan kapal Ferry untuk nyeberang ke Lampung. Nah, setengah dari penyeberangan ini saya habiskan di ruang kapten. Kok bisa ? Ya, bisa dong!

                Ceritanya saat itu colokan listrik menjadi kebutuhan primer, begitu pun saya. Dua ponsel saya habis baterai dan saya harus men – charge – nya. Ada satu ruangan di mana tersisa satu colokan. Ruang nahkoda. Dengan segenap wajah melas dan tekad, saya masuk ke ruang itu. Padahal empat teman lelaki saya bilang kalau tadi salah satu teman wanita saya sudah mencoba tapi nggak bisa. Saya nggak percaya dan giliran saya kini mencobanya. BISA ! TERNYATA WAJAH MELAS SAYA BEKERJA!

                Senang ? Jelas. Karena selain bisa “membujuk” si kapten, baru kali itu saya masuk ke ruang kontrol kapal. Agak lebay mungkin, tapi rasanya kayak di film Titanic gitu. Ada di paling depan bagian kapal dan bersentuhan dengan sejumlah alat kontrol sampai akhirnya saya ketiduran di sana. Nggak lama teman saya masuk dan membangunkan. Lirik ponsel udah penuh, basa – basi dikit dengan kaptennya, terus cabut deh keluar. Ternyata di luar ada teman saya sedari SD yang sekarang ternyata sama – sama KKN di Lombok, tapi beda unit. Di atas dek kapal kita ngobrol ngalor – ngidul. Rindu rasanya ngobrol begini sama dia. Selain karena memang teman lama, meski kita sama – sama di Jogja jarang untuk bisa ketemu.

                Sayangnya metabolisme tubuh saya sedang nggak bagus. Setelah suara saya serak dan tenggorokan semakin gatal, dia ngajak ke bawah. Dia ngerokok, saya beii kopi. Nggak tau gimana ceritanya, saya ketiduran sambil megang kopi eh teman saya juga udah tidur di lain tempat. Waktu itu saya tidur di luar ruangan dengan posisi duduk di lantai. Karena dingin akhirnya saya habiskan kopi yang memang udah nggak panas dalam sekali tegak, lalu celingukan cari bangku kosong.

                Andai saya cowok, mungkin saya nggak harus celingukan cari kursi. Benar kok, andai saya cowok. Ternyata teman saya tadi udah tidur aja ngegeletak di lantai. Muka ditutupi topi dan tidur posisi telentang. Sayangnya saya bukan dia. Saya bukan cowok.

                Loading ketiga saat kita udah sampai di Lombok. Kita harus pindah bus lagi dari Akas ke bus yang dikirim oleh pemerintah daerah. Kalau bagian ini, saya nggak mau jadi cowok karena loading ketiga ini yang cowok bertanggung jawab loading semua barang. Cewek langsung naik ke bus yang mengantarkan kami ke penginapan. Curang ? Biar aja, kan saya memang begitu, ingin enaknya saja.

                Sampai di penginapan haji yang dipinjami oleh pemerintah daerah pun saya masih enggan untuk jadi cowok. Tapi, saat saya masuk ke kamar kontan saya langsung jadi ingin cowok. Pasalnya ternyata di kamar yang kita (saya dan lima teman perempuan satu tim) tempati ada tokek. Ya, cicak versi Hulk yang agak narsis selalu nyebut namanya. Apa yang kita lakukan pertama kali saat melihat tokek? NGEJERIT. Bukan ngusir, bukan mindahin barang. Tapi TERIAK. Beberapa detik (agak lama sih) baru kita nyadar kalau harus pindah kamar.

                Andai kami cowok, kami nggak harus pindah kamar dan angkut – angkut barang lagi karena ada tokek. Andai kami cowok, si tokek pasti yang pergi dari sini, bukan kami. Andai kami cowok, nggak ada ceritanya beberapa orang kaget karena kita ngejerit. Andai kami cowok, pasti kami nggak merinding dan misuh – misuh karena kaget.

                Nggak cukup sampai di tokek, sedetik kemudian teman perempuan kami dari bawah ngejerit. Okay, nggak ngejerit, tapi misuh. Cacing – cacing yang dibawanya untuk praktik kluster agro ternyata berantakan. Cacing – cacing tanah keluar dari tempatnya dan baunya itu...subhanallah ! Kalau kata teman saya, “baunya garing – garing gimana gitu. Untung gue bukan anak peternakan. Hidup arsitektur!”. Can you imagine the smell ? Nggak usah, karena udah dua perempuan yang muntah – muntah.

                Andai saya cowok, mungkin saya udah ngebantuin tiga teman perempuan saya yang perkasa ngerapiin cacing – cacing itu. Andai saya cowok, saya nggak akan diam dan nontonin mereka mindahin cacing – cacing itu. Andai saya cowok, mungkin perut saya nggak mual karena baunya.

                Karena nggak tahan, akhirnya saya masuk ke kamar dan berbenah diri untuk shalat subuh. Teman – teman sekamar saya sekarang ada yang sudah tidur, ada juga yang lagi mandi. Lantai bawah sudah sepi. Ternyata memang ada yang tidak bisa ditahan oleh cowok atau pun cewek. Rasa lelah. Ya, kami semua kelelahan. Anak – anak cowok. Anak – anak cewek. Mayoritas kita merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa seprai. Syukuri saja, sudah untung dapat tempat singgah.

                Ya, mulai sekarang dan ke depannya saya harus banyak bersyukur atas apa pun yang di dapat, mulai dari makanan sampai fasilitas. Namanya juga pengabdian ke masyarakat kok pengennya full service ala hotel bintang 5. Dalam keadaan seperti ini boleh berandai – andai mau jadi cowok, tapi kalau berandai – andainya hidup normal kayak di Jogja mending pulang lagi aja kali ya ke Jogja terus KKN di Pogung! Hehehee....

                Selamat ber – KKN, kawan – kawan ! Masalah “panggilan alam” mari kita atasi bersama karena dia pun tidak memandang cowok dan cewek. :D #ifonlyyouknowwhatImean

You Might Also Like

0 comments: