Is it all about money ?

12:15 AM Tameila 0 Comments

Salah satu enaknya kuliah di Jogja itu kamu bisa belajar di mana aja. Nggak juga sih, sebenarnya nggak cuma di Jogja. Mau kamu kuliah di mana pun, asalkan open minded, WC umum bisa jadi tempat belajar. Bersyukurnya saya di sini dipertemukan dengan berbagai macam orang, salah satunya adalah orang – orang yang kritis. Awalnya saya agak “ogah” ngobrol dengan orang – orang begini. Habis bawaannya mereka tuh ngiritik terus. Segala dinilai jelek. Semuanya pasti  dianggap “ada udang di balik batu”. Tapi lama kelamaan asyik juga, karena saya bisa nyinyir kalau sudah kalah debat. Like typically human beings, nggak mau kalah.

                Anehnya, malam ini otak saya lagi kompak dengan dua teman yang kritisnya sampai ujung kuku. Bagaimana tidak, dua makhluk ini adalah orang – orang kritis yang paling sering mengkritik hal – hal kecil. Misalnya kemarin, salah satu dari mereka mengkritik bahwa penggunaan warna ungu yang diidentikkan dengan janda itu dapat mendiskreditkan janda. Bah, buat saya sih nggak masalah dan nggak ada hubungannya sampai sejauh itu juga. Tapi karena kritisnya udah akut, percaya nggak percaya saat ini fenomena itu sedang diteliti lho !

                Nah, barusan saat makan malam kami ngobrol ngalor – ngidul masalah kampus kami yang (katanya) berorientasi pada peneliti. Obrolan ini diawali dari pertanyaan saya yang mendadak berkualitas. Pertanyaan saya begini, “kalau perusahaan bekerja sama dengan NGO, berarti nggak ada dong ya LSM yang bener – bener independent ? Kan sama aja tuh dipengaruhi dengan penanam modal”. Berangkat dari statement itu, akhirnya sekarang saya tahu sedikit tentang nasib peneliti di Indonesia.

                Secara singkat, saya menyimpulkan kalau posisi peneliti Indonesia itu “win – win solution” dengan kaum kapitalis. Siapa sih mereka ? Ya bisa siapa saja, yang penting memiliki uang. Bisa pemerintah. Bisa perusahaan. Bisa juga pribadi yang punya kepentingan politik. Jadi posisi peneliti di sini sedikit tergeser, bukan lagi “seseorang yang berkomitmen untuk memajukan keilmuan”, tetapi menjadi “seseorang yang menjual otaknya”. Ujung – ujungnya duit. Uang. Kenapa harus uang ? Guys, logika aja peneliti juga manusia. Butuh makan, butuh isi pulsa, butuh liburan, butuh beli baju, butuh hang out. 

                Dulu saya pikir peneliti adalah profesi yang keren. Kesannya pinter banget dan  digaji dengan digit tak hingga. Tapi perspektif itu mulai goyang saat kedua teman saya membuka pikiran saya bahwa nggak sedikit kini hasil penelitian yang diperjualbelikan dengan mudah. Sistemnya simpel, si peneliti yang butuh makan menjual hasil penelitiannya ke perusahaan atau siapa pun yang mau mendanai. Si peneliti dapat uang, lalu bisa makan. Terus si penyokong dana dapat apa ? Ya dapat datanya. Jadi data hasil penelitian bisa diibaratkan produk yang dijual dan dapat diuangkan. Sama halnya seperti pelukis. Dia melukis, lalu lukisannya dijual dan dibeli orang. Lukisannya dimiliki oleh orang lain, meskipun nama si pelukis ada di sudut lukisan itu.

                Bisa juga seperti ini. Si peneliti mungkin tidak menjual hasil penelitiannya, tetapi melalui proses negosiasi. Si peneliti mencari “sponsor” untuk mendanai penelitiannya, lalu emm…sama aja sih ujung – ujungnya data hasil penelitian diberikan untuk si sponsor. Hanya saja biasanya kalau lewat negosiasi si peneliti masih mendapatkan keuntungan karena hasil penelitian tidak diakui sepenuhnya oleh si sponsor. Tapi kalau dipikir – pikir, toh para penyokong dana nggak butuh namanya tercantum sebagai pelaku (peneliti utama). Mereka cuma butuh hasil penelitian. Toh mereka bukan berprofesi sebagai peneliti yang butuh bukti pernah melakukan penelitian apa. Mereka cuma butuh fakta di lapangan yang nggak sempat mereka cari. Simply said, mereka memanfaatkan kepintaran para peneliti untuk menjamah ranah – ranah yang nggak terjangkau.

                Waktu saya masih menganggap peneliti adalah pekerjaan “dewa”, saya pun menganggap hasil penelitian (data) adalah sesuatu yang “suci” atau sakral. Ibaratnya, hasil penelitian adalah sesuatu yang nggak boleh dikomersilkan. Tapi sayangnya kenyataan nggak selalu seindah yang saya bayangkan. Saya harus membuka mata somehow peneliti adalah sebuah profesi. Sebuah pekerjaan. Dari sana lah mereka mencari nafkah. Dari sana lah mereka menghidupi keluarga. Jadi nggak ada salahnya ketika hasil penelitian atau data diperjualbelikan. Meski yeah...kok agaknya bertolak belakang dengan “format” seorang peneliti di otak saya.

                Mungkin nggak bisa digeneralisasi juga, karena obrolan malam ini lahir dari tiga kepala mahasiswa yang cuma dapat asupan mie rebus dan gorengan beserta es teh. Jadi, apapun yang saya tulis nggak usah dipercaya. Logika kami bertiga cuma selebar daun kelor.

                Terlepas dari kenyataan di atas (yang sok kami analisis), saya masih menganggap kalau profesi peneliti itu patut diacungi jempol. Kenapa ? Karena mereka adalah orang – orang yang sensitif dengan hal – hal kecil. Mereka mampu memvitalkan hal – hal yang sering kita abaikan. Kemarin sempat dapat wejangan waktu diskusi skripsi, kata salah satu kakak angkatan saya begini, “peneliti itu bisa melihat hal – hal kecil menjadi sesuatu yang fundamental. Mereka nggak pernah ngeremehin hal – hal sepele, karena menurut mereka di dunia ini nggak ada yang nggak berguna. Semuanya punya peran dan urgensinya masing – masing”.

                Nah lho berat banget ! Sumpah ! Nggak banyak anak muda jaman sekarang yang peka dan mau memperhatikan hal – hal kecil. Alih – alih menyadarinya, yang ada malah menyepelekan. Hasilnya ? Ya kayak saya ini yang sampai sekarang masih bingung nanti skripsi mau nulis apaan. Susah untuk membuka mata dan peka terhadap sekitar. Untungnya saya nggak sendirian, banyak juga teman – teman saya yang mengalami ini.

                Hasil penelitian kecil – kecilan lewat FGD dengan teman – teman seangkatan beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa kami, sebagai mahasiswa, kurang dirangsang rasa penasarannya. Gairah penelitian itu kurang dibangkitkan padahal kampus saya ini (katanya) research oriented banget. Tapi salah satu teman saya malam ini bilang bahwa kampus kami telah membangkitkan gairah itu. Salah satu caranya dengan memberikan banyak dana hibah penelitian, meski follow up – nya entah bagaimana.

                Think again. Cara membangkitkan gairah peneliti mudanya aja pakai uang, jadi nggak aneh toh kalau pada akhirnya peneliti – peneliti tua berorientasi pada uang ? Nggak. Nggak aneh kok. Orang peneliti kan manusia, butuh makan guys. Manusia butuh makan kok dibilang aneh !

You Might Also Like

0 comments: