Is it all about money ?
Salah satu enaknya kuliah di Jogja itu kamu bisa belajar di
mana aja. Nggak juga sih, sebenarnya nggak cuma di Jogja. Mau kamu kuliah di
mana pun, asalkan open minded, WC
umum bisa jadi tempat belajar. Bersyukurnya saya di sini dipertemukan dengan
berbagai macam orang, salah satunya adalah orang – orang yang kritis. Awalnya
saya agak “ogah” ngobrol dengan orang – orang begini. Habis bawaannya mereka
tuh ngiritik terus. Segala dinilai jelek. Semuanya pasti dianggap “ada udang di balik batu”. Tapi lama
kelamaan asyik juga, karena saya bisa nyinyir kalau sudah kalah debat. Like typically
human beings, nggak mau kalah.
Anehnya,
malam ini otak saya lagi kompak dengan dua teman yang kritisnya sampai ujung
kuku. Bagaimana tidak, dua makhluk ini adalah orang – orang kritis yang paling
sering mengkritik hal – hal kecil. Misalnya kemarin, salah satu dari mereka
mengkritik bahwa penggunaan warna ungu yang diidentikkan dengan janda itu dapat
mendiskreditkan janda. Bah, buat saya sih nggak masalah dan nggak ada
hubungannya sampai sejauh itu juga. Tapi karena kritisnya udah akut, percaya
nggak percaya saat ini fenomena itu sedang diteliti lho !
Nah, barusan
saat makan malam kami ngobrol ngalor – ngidul masalah kampus kami yang
(katanya) berorientasi pada peneliti. Obrolan ini diawali dari pertanyaan saya
yang mendadak berkualitas. Pertanyaan saya begini, “kalau perusahaan bekerja
sama dengan NGO, berarti nggak ada dong ya LSM yang bener – bener independent ?
Kan sama aja tuh dipengaruhi dengan penanam modal”. Berangkat dari statement
itu, akhirnya sekarang saya tahu sedikit tentang nasib peneliti di Indonesia.
Secara singkat,
saya menyimpulkan kalau posisi peneliti Indonesia itu “win – win solution”
dengan kaum kapitalis. Siapa sih mereka ? Ya bisa siapa saja, yang penting
memiliki uang. Bisa pemerintah. Bisa perusahaan. Bisa juga pribadi yang punya
kepentingan politik. Jadi posisi peneliti di sini sedikit tergeser, bukan lagi “seseorang
yang berkomitmen untuk memajukan keilmuan”, tetapi menjadi “seseorang yang
menjual otaknya”. Ujung – ujungnya duit. Uang. Kenapa harus uang ? Guys, logika
aja peneliti juga manusia. Butuh makan, butuh isi pulsa, butuh liburan, butuh
beli baju, butuh hang out.
Dulu saya
pikir peneliti adalah profesi yang keren. Kesannya pinter banget dan digaji dengan digit tak hingga. Tapi perspektif itu mulai goyang saat kedua teman saya membuka pikiran
saya bahwa nggak sedikit kini hasil penelitian yang diperjualbelikan dengan mudah. Sistemnya
simpel, si peneliti yang butuh makan menjual hasil penelitiannya ke perusahaan
atau siapa pun yang mau mendanai. Si peneliti dapat uang, lalu bisa makan. Terus
si penyokong dana dapat apa ? Ya dapat datanya. Jadi data hasil penelitian bisa
diibaratkan produk yang dijual dan dapat diuangkan. Sama halnya seperti
pelukis. Dia melukis, lalu lukisannya dijual dan dibeli orang. Lukisannya dimiliki
oleh orang lain, meskipun nama si pelukis ada di sudut lukisan itu.
Bisa juga
seperti ini. Si peneliti mungkin tidak menjual hasil penelitiannya, tetapi
melalui proses negosiasi. Si peneliti mencari “sponsor” untuk mendanai
penelitiannya, lalu emm…sama aja sih ujung – ujungnya data hasil penelitian
diberikan untuk si sponsor. Hanya saja biasanya kalau lewat negosiasi si
peneliti masih mendapatkan keuntungan karena hasil penelitian tidak diakui
sepenuhnya oleh si sponsor. Tapi kalau dipikir – pikir, toh para penyokong dana
nggak butuh namanya tercantum sebagai pelaku (peneliti utama). Mereka cuma
butuh hasil penelitian. Toh mereka bukan berprofesi sebagai peneliti yang butuh
bukti pernah melakukan penelitian apa. Mereka cuma butuh fakta di lapangan yang
nggak sempat mereka cari. Simply said, mereka memanfaatkan kepintaran para
peneliti untuk menjamah ranah – ranah yang nggak terjangkau.
Waktu saya
masih menganggap peneliti adalah pekerjaan “dewa”, saya pun menganggap hasil
penelitian (data) adalah sesuatu yang “suci” atau sakral. Ibaratnya, hasil
penelitian adalah sesuatu yang nggak boleh dikomersilkan. Tapi sayangnya
kenyataan nggak selalu seindah yang saya bayangkan. Saya harus membuka mata
somehow peneliti adalah sebuah profesi. Sebuah pekerjaan. Dari sana lah mereka
mencari nafkah. Dari sana lah mereka menghidupi keluarga. Jadi nggak ada
salahnya ketika hasil penelitian atau data diperjualbelikan. Meski yeah...kok
agaknya bertolak belakang dengan “format” seorang peneliti di otak saya.
Mungkin
nggak bisa digeneralisasi juga, karena obrolan malam ini lahir dari tiga kepala
mahasiswa yang cuma dapat asupan mie rebus dan gorengan beserta es teh. Jadi,
apapun yang saya tulis nggak usah dipercaya. Logika kami bertiga cuma selebar
daun kelor.
Terlepas
dari kenyataan di atas (yang sok kami analisis), saya masih menganggap kalau
profesi peneliti itu patut diacungi jempol. Kenapa ? Karena mereka adalah orang
– orang yang sensitif dengan hal – hal kecil. Mereka mampu memvitalkan hal –
hal yang sering kita abaikan. Kemarin sempat dapat wejangan waktu diskusi skripsi,
kata salah satu kakak angkatan saya begini, “peneliti itu bisa melihat hal –
hal kecil menjadi sesuatu yang fundamental. Mereka nggak pernah ngeremehin hal –
hal sepele, karena menurut mereka di dunia ini nggak ada yang nggak berguna. Semuanya
punya peran dan urgensinya masing – masing”.
Nah lho
berat banget ! Sumpah ! Nggak banyak anak muda jaman sekarang yang peka dan mau
memperhatikan hal – hal kecil. Alih – alih menyadarinya, yang ada malah
menyepelekan. Hasilnya ? Ya kayak saya ini yang sampai sekarang masih bingung
nanti skripsi mau nulis apaan. Susah untuk membuka mata dan peka terhadap
sekitar. Untungnya saya nggak sendirian, banyak juga teman – teman saya yang
mengalami ini.
Hasil penelitian
kecil – kecilan lewat FGD dengan teman – teman seangkatan beberapa waktu lalu
menyebutkan bahwa kami, sebagai mahasiswa, kurang dirangsang rasa penasarannya.
Gairah penelitian itu kurang dibangkitkan padahal kampus saya ini (katanya) research oriented banget. Tapi salah
satu teman saya malam ini bilang bahwa kampus kami telah membangkitkan gairah
itu. Salah satu caranya dengan memberikan banyak dana hibah penelitian, meski follow up – nya entah bagaimana.
Think
again. Cara membangkitkan gairah peneliti mudanya aja pakai uang, jadi nggak
aneh toh kalau pada akhirnya peneliti – peneliti tua berorientasi pada uang ?
Nggak. Nggak aneh kok. Orang peneliti kan manusia, butuh makan guys. Manusia butuh
makan kok dibilang aneh !
0 comments: