Kosong
Di suatu sore, di saat saya merasa “I-should-not-be-here”
saya berkicau di Twitter, begini bunyinya, “Ada
saatnya kamu hrs mengorbankan hal2 yg kamu suka demi tuntutan sosial”. Waktu
itu yang me-Retweet lumayan lha untuk ukuran follower saya yang nggak banyak. Bagai
gayung bersambut (nggak juga sih sebenarnya), malamnya seorang teman berkicau
hal serupa. Ada tiga Tweet yang saya Retweet darinya, berikut adalah kicauan –
kicauannya :
“there's satisfaction
from not doing things, and satisfaction from actually doing things.”
“...if you are going
to do something and regret it anyways, then you shouldn't have done it in the
first place -_-“
"its better to
regret something you did than something you did not do."
_ @hawwinbf
(Hawwin Barri Falachi)
Kembali
membaca timeline, entah mengapa malam itu nuansa timeline saya serupa. Orang –
orang bagai menyesal berjama’ah di Twitter. Saya jadi mikir, sebeginibanyaknya
kah orang – orang yang sebenarnya menyesal atau tidak menginginkan apa yang
telah mereka dapat dan lakukan ?
Bagi saya,
menyesal nggak ada salahnya selama kita bisa belajar dari kesalahan yang telah
dibuat. Masalahnya, biasanya saat sedang menyesal atau sesudahnya kita
cenderung untuk mencari kambing hitam. Kalau saya sih seringnya menyalahkan
orang lain atau sistem. Nggak mau saya menyalahkan diri sendiri. Egois ?
Mungkin. Eh, bukan mungkin, tapi memang.
Makannya
pernah suatu sore saya disemprot begini sama teman saya, “gantian kenapa, Ta, lo yang ngertiin gue. Sekali – kali kenapa luangin
waktu untuk gue?” (itu teman perempuan lho yang ngomong, tapi protesnya
udah kayak datang dari suami sendiri). Diomongin begitu saya jelas nggak terima
dong. Pasalnya saya udah sebisa mungkin meluangkan waktu untuk dia. Jadinya saya
balas begini, “I wish you knew that if I
had two bodies, I would put one besides you. Tapi gue bisa apa ? Badan gue cuma
satu, kalau bisa difotocopy atau gue ini amoeba udah dari dulu gue duplikasi
badan”.
Biar bagaimana,
teman adalah orang yang paling pengertian setelah orang tua (buat saya siihh). Kami
nggak musuhan, tapi debat kusir berakhir dengan sindiran, “makannya, Ta, jadi orang jangan banyak nuntut. Banyak tuh ngasih. Ngerti
orang lain”. JLEB ! Dalem siihh..memangnya benar selama ini saya belum “taking less, giving more”?
Semua orang
punya rasa egoisnya masing – masing. Nongol lah ego saya. Saya dan ego saya
ngobrol ceritanya. Di dalam otak kami membincangkan jumlah waktu yang saya
korbankan untuk non kepentingan saya, tenaga yang saya kuras bukan untuk achievement saya, pikiran, uang, dan
perasaan. Tahu bakalan disinggung belum pengertian, mending dari kemarin waktu –
waktu saya dipakai untuk kerja, ikut lomba, baca buku, belajar, ngerjain tugas,
dan TIDUR ! Tapi tiba – tiba datang sebuah pertanyaan, “emang bener itu semua yang kamu pengen ? What are you really searching
for ?”
Pernah nggak
sih kalian ngerasa suatu saat di mana mendapatkan apa yang diinginkan atau check list – nya terpenuhi tapi masih
ngerasa ada yang kurang ? Rasanya ada sesuatu yang belum komplit. Meskipun target
udah terpenuhi, rasanya masih aja kosong. Pernah ? Saya pernah. Biasanya ini
terjadi kalau saya terlalu fokus dengan deadline saya. Fokus bagus, tapi case – nya di sini kan terlalu. Berlebihan.
Alhasil saya lupa dengan pelengkap itu. Hal – hal kecil bagai kepingan puzzle
yang menyempurnakan hidup saya.
Saya lupa untuk berkumpul dengan
teman – teman di kampus. Saya nggak duduk di café atau pinggir jalan untuk
sekedar menertawakan hal – hal sepele. Saya nggak say “hello”, memeluk, dan
mencium si Choky, boneka monyet yang selalu senyum biarpun majikannya pulang
dengan tampang kusut. Saya nggak hadir dan melihat teman – teman DAC pentas. Saya
nggak bergosip dengan para asisten di Pusat Studi Jerman. Saya lupa chat teman –
teman yang jauh. Saya nggak nonton bareng di ruang TV dengan anak – anak kostan.
Dan yang terpenting, saya nggak ngabarin orangtua saya.
Miris.
Memang.
Itu lah kenyataannya ketika saya merasa kosong. Ketika saya merasa kurang. Ketika
saya merasa tidak puas dengan yang telah saya raih. Ketika saya self –
oriented. Ternyata dengan berkumpul teman – teman adalah bentuk saya bersyukur
kepada Tuhan. Darisana saya bisa teriak, “THANKS GOD, YOU’RE SO ROCK. YOU’VE
COMPLETED MY LIFE!”.
Tapi biar
bagaimana nggak ada kehidupan yang sempurna. Kesempurnaan itu cuma milik – Nya.
Kadang – kadang kita harus membagi waktu untuk diri sendiri, akademis, kerjaan,
dan partikel – partikel kebahagiaan tadi. Kalau merasa kurang waktunya untuk
diri sendiri itu wajar. Hati – hati juga, saat kita kurang meluangkan waktu
untuk diri sendiri nanti bisa merasa kosong juga. Makannya bagi saya orang yang
hebat itu bukan orang yang punya segudang prestasi, tapi orang yang manajemen
waktunya bagus. Dia bisa memporsikan waktu dengan tapat. Tuhan ngasih 24 jam
dan dia bisa memaksimalkan setiap detiknya untuk dirinya sendiri, sosial, dan
alam.
Kemarin
saya baru dikasih tahu sama adik kostan saya. Dia anak psikologi dan bilang kalau
dalam tahap perkembangan setiap manusia punya “tugas” yang harus dilunasi. Misalnya
anak kecil harus diajari untuk bisa mengurus dirinya sendiri. Menginjak dewasa
seseorang harus bisa mendefinisikan dirinya. Hingga tahapan tertinggi adalah
saat kita udah tua, itu adalah masa – masa dimana kita harus bisa bersyukur
dengan apa yang telah kita lakukan dan kita raih.
Kalau misalnya
ada hal – hal yang belum dilunasi dalam tahapan perkembangan, maka nantinya
akan menjadi hutang untuk tahapan perkembangan selanjutnya. Lubang yang masih
kosong itu kalau nggak segera dilunasi maka akan menciptakan penyesalan. Makannya
nggak sedikit orang – orang yang di hari tuanya cemas, kecewa, menyesal, dan
takut menghadapi kematian. Itu dikarenakan masih punya “hutang” yang belum
dilunasi. Apapun itu. Contoh sederhananya adalah tidak mampu menjadi atau
meraih apa yang telah dicita – citakannya sejak kecil. Saat dia tahu telah
tidak mampu, di tahapan selanjutnya tidak berusaha untuk mensyukuri yang
dipunya, maka jadilah kakek atau nenek yang penuh dengan kekecewaan.
Wah,
kalau begini ceritanya saya jadi takut sendiri masih ngeluh dengan rasa kosong
itu. Selain takut menjadi nenek – nenek yang dihinggapi rasa tidak puas di masa
mudanya, saya pun menjadi takut saat menghadap – Nya. Bukan dari kematian, tapi
dari tanggung jawab saya untuk memaknai nafas yang telah diberikan – Nya. Udah ngapain
aja, bermanfaat apa nggak, dan kalau nggak bermanfaat kenapa selama hidup masih
dilakuin. Terus kalau memang tahu nggak bermanfaat kenapa nggak lekas diganti
dengan aktivitas lain. Terus kalau memang segala achievement nggak bisa bikin bersyukur untuk apa dikejar. Well…God,
don’t get me wrong. Kamu tahu kapasitasku untuk bersyukur, bukan ? Ya, terus
lah bantu kami untuk bisa memanfaatkan
dan melihat setiap sisi baik dari kado – Mu ini. Nafas. Waktu. Uang. Pikiran. Perasaan.
Dan Cinta.
0 comments: