Kosong

11:36 PM Tameila 0 Comments


 Di suatu sore, di saat saya merasa “I-should-not-be-here” saya berkicau di Twitter, begini bunyinya, “Ada saatnya kamu hrs mengorbankan hal2 yg kamu suka demi tuntutan sosial”. Waktu itu yang me-Retweet lumayan lha untuk ukuran follower saya yang nggak banyak. Bagai gayung bersambut (nggak juga sih sebenarnya), malamnya seorang teman berkicau hal serupa. Ada tiga Tweet yang saya Retweet darinya, berikut adalah kicauan – kicauannya :

“there's satisfaction from not doing things, and satisfaction from actually doing things.”

“...if you are going to do something and regret it anyways, then you shouldn't have done it in the first place -_-“

"its better to regret something you did than something you did not do."
_ @hawwinbf (Hawwin Barri Falachi)

                Kembali membaca timeline, entah mengapa malam itu nuansa timeline saya serupa. Orang – orang bagai menyesal berjama’ah di Twitter. Saya jadi mikir, sebeginibanyaknya kah orang – orang yang sebenarnya menyesal atau tidak menginginkan apa yang telah mereka dapat dan lakukan ?

                Bagi saya, menyesal nggak ada salahnya selama kita bisa belajar dari kesalahan yang telah dibuat. Masalahnya, biasanya saat sedang menyesal atau sesudahnya kita cenderung untuk mencari kambing hitam. Kalau saya sih seringnya menyalahkan orang lain atau sistem. Nggak mau saya menyalahkan diri sendiri. Egois ? Mungkin. Eh, bukan mungkin, tapi memang.

                Makannya pernah suatu sore saya disemprot begini sama teman saya, “gantian kenapa, Ta, lo yang ngertiin gue. Sekali – kali kenapa luangin waktu untuk gue?” (itu teman perempuan lho yang ngomong, tapi protesnya udah kayak datang dari suami sendiri). Diomongin begitu saya jelas nggak terima dong. Pasalnya saya udah sebisa mungkin meluangkan waktu untuk dia. Jadinya saya balas begini, “I wish you knew that if I had two bodies, I would put one besides you. Tapi gue bisa apa ? Badan gue cuma satu, kalau bisa difotocopy atau gue ini amoeba udah dari dulu gue duplikasi badan”.

                Biar bagaimana, teman adalah orang yang paling pengertian setelah orang tua (buat saya siihh). Kami nggak musuhan, tapi debat kusir berakhir dengan sindiran, “makannya, Ta, jadi orang jangan banyak nuntut. Banyak tuh ngasih. Ngerti orang lain”. JLEB ! Dalem siihh..memangnya benar selama ini saya belum “taking less, giving more”?

                Semua orang punya rasa egoisnya masing – masing. Nongol lah ego saya. Saya dan ego saya ngobrol ceritanya. Di dalam otak kami membincangkan jumlah waktu yang saya korbankan untuk non kepentingan saya, tenaga yang saya kuras bukan untuk achievement saya, pikiran, uang, dan perasaan. Tahu bakalan disinggung belum pengertian, mending dari kemarin waktu – waktu saya dipakai untuk kerja, ikut lomba, baca buku, belajar, ngerjain tugas, dan TIDUR ! Tapi tiba – tiba datang sebuah pertanyaan, “emang bener itu semua yang kamu pengen ? What are you really searching for ?”

                Pernah nggak sih kalian ngerasa suatu saat di mana mendapatkan apa yang diinginkan atau check list – nya terpenuhi tapi masih ngerasa ada yang kurang ? Rasanya ada sesuatu yang belum komplit. Meskipun target udah terpenuhi, rasanya masih aja kosong. Pernah ? Saya pernah. Biasanya ini terjadi kalau saya terlalu fokus dengan deadline saya. Fokus bagus, tapi case – nya di sini kan terlalu. Berlebihan. Alhasil saya lupa dengan pelengkap itu. Hal – hal kecil bagai kepingan puzzle yang menyempurnakan hidup saya.

Saya lupa untuk berkumpul dengan teman – teman di kampus. Saya nggak duduk di café atau pinggir jalan untuk sekedar menertawakan hal – hal sepele. Saya nggak say “hello”, memeluk, dan mencium si Choky, boneka monyet yang selalu senyum biarpun majikannya pulang dengan tampang kusut. Saya nggak hadir dan melihat teman – teman DAC pentas. Saya nggak bergosip dengan para asisten di Pusat Studi Jerman. Saya lupa chat teman – teman yang jauh. Saya nggak nonton bareng di ruang TV dengan anak – anak kostan. Dan yang terpenting, saya nggak ngabarin orangtua saya.

                Miris.

                Memang. Itu lah kenyataannya ketika saya merasa kosong. Ketika saya merasa kurang. Ketika saya merasa tidak puas dengan yang telah saya raih. Ketika saya self – oriented. Ternyata dengan berkumpul teman – teman adalah bentuk saya bersyukur kepada Tuhan. Darisana saya bisa teriak, “THANKS GOD, YOU’RE SO ROCK. YOU’VE COMPLETED MY LIFE!”.

                Tapi biar bagaimana nggak ada kehidupan yang sempurna. Kesempurnaan itu cuma milik – Nya. Kadang – kadang kita harus membagi waktu untuk diri sendiri, akademis, kerjaan, dan partikel – partikel kebahagiaan tadi. Kalau merasa kurang waktunya untuk diri sendiri itu wajar. Hati – hati juga, saat kita kurang meluangkan waktu untuk diri sendiri nanti bisa merasa kosong juga. Makannya bagi saya orang yang hebat itu bukan orang yang punya segudang prestasi, tapi orang yang manajemen waktunya bagus. Dia bisa memporsikan waktu dengan tapat. Tuhan ngasih 24 jam dan dia bisa memaksimalkan setiap detiknya untuk dirinya sendiri, sosial, dan alam.

                Kemarin saya baru dikasih tahu sama adik kostan saya. Dia anak psikologi dan bilang kalau dalam tahap perkembangan setiap manusia punya “tugas” yang harus dilunasi. Misalnya anak kecil harus diajari untuk bisa mengurus dirinya sendiri. Menginjak dewasa seseorang harus bisa mendefinisikan dirinya. Hingga tahapan tertinggi adalah saat kita udah tua, itu adalah masa – masa dimana kita harus bisa bersyukur dengan apa yang telah kita lakukan dan kita raih.

                Kalau misalnya ada hal – hal yang belum dilunasi dalam tahapan perkembangan, maka nantinya akan menjadi hutang untuk tahapan perkembangan selanjutnya. Lubang yang masih kosong itu kalau nggak segera dilunasi maka akan menciptakan penyesalan. Makannya nggak sedikit orang – orang yang di hari tuanya cemas, kecewa, menyesal, dan takut menghadapi kematian. Itu dikarenakan masih punya “hutang” yang belum dilunasi. Apapun itu. Contoh sederhananya adalah tidak mampu menjadi atau meraih apa yang telah dicita – citakannya sejak kecil. Saat dia tahu telah tidak mampu, di tahapan selanjutnya tidak berusaha untuk mensyukuri yang dipunya, maka jadilah kakek atau nenek yang penuh dengan kekecewaan.

                Wah, kalau begini ceritanya saya jadi takut sendiri masih ngeluh dengan rasa kosong itu. Selain takut menjadi nenek – nenek yang dihinggapi rasa tidak puas di masa mudanya, saya pun menjadi takut saat menghadap – Nya. Bukan dari kematian, tapi dari tanggung jawab saya untuk memaknai nafas yang telah diberikan – Nya. Udah ngapain aja, bermanfaat apa nggak, dan kalau nggak bermanfaat kenapa selama hidup masih dilakuin. Terus kalau memang tahu nggak bermanfaat kenapa nggak lekas diganti dengan aktivitas lain. Terus kalau memang segala achievement nggak bisa bikin bersyukur untuk apa dikejar. Well…God, don’t get me wrong. Kamu tahu kapasitasku untuk bersyukur, bukan ? Ya, terus lah  bantu kami untuk bisa memanfaatkan dan melihat setiap sisi baik dari kado – Mu ini. Nafas. Waktu. Uang. Pikiran. Perasaan. Dan Cinta.


You Might Also Like

0 comments: