No Judge, No Doubt

1:29 AM Tameila 0 Comments


Sepanjang perjalanan pulang dari Surabaya kemarin, tak lepas saya memantau timeline Twitter. Ada sebuah tweet yang menginfokan bahwa pemeberitaan konser NKOTBSB dimuat di salah satu surat kabar. Sesampainya di stasiun Tugu, saya membeli surat kabar yang dimaksud. Kompas, edisi Minggu 3 Juni 2012. Baru membaca halaman pertama, saya sudah tersenyum. Saya lupa untuk melaju ke halaman 15. Halaman liputan NKOTBSB.

                Di halaman pertama ada liputan konser Lady Gaga di Singapura tanggal 31 Mei 2012 lalu. Saya terhanyut oleh paragraf pertamanya. Bunyinya seperti ini, 

“My name is Lady Gaga. Aku adalah harapanmu, impianmu, ketakutanmu, rasa ketidakamananmu. Aku adalah segala yang kalian sukai. Aku adalah segala yang kalian benci. Kalian menciptakan aku Singapura…!”

                Si Lady pada akhirnya nggak jadi manggung di sini. Ada yang bersorak senang, ada yang menyumpah serapah. Siapa yang salah ? Siapa yang benar ? Tak ada satu pun di mata saya. Masing – masing punya alasannya. Yang satu bilang kalau si Lady penganut satanism sehingga nggak baik untuk “kesehatan” agama di Indonesia. Yang lain bilang kalau “yang satu” tadi terlalu sempit pemikirannya. Lady Gaga itu sebetulnya inspiring, powerful, dan nggak ada sedikit pun hagemoni agama dalam lagunya.

                Terlepas dari siapa yang benar dan patut didengar, saya appreciate dengan si Lady. Nggak mudah untuk menjadi seperti dia. Sosok “aneh” dan penuh kontroversi di mana – mana. Nggak semua orang bisa nerima dia apa adanya sebagai musisi (please, lepasin dulu unsur keagamaa, politik, or other shitty things). Nggak semua bisa memahami betul maksud isi hati dia lewat lagu – lagunya. Makannya saya merinding waktu baca petikan paragraf dalam berita itu. Bunyinya seperti ini,

“Di tengah lagu, ia memberi jeda bicara lagi. “Intinya seseorang harus menjadi dirinya sendiri. Saya setiap hari bertanya, who is the real Lady Gaga?” kata Gaga. Penonton menyambut dengan aneka celotehan. Dan, Gaga pun menanggapi. “Kalian berbicara kepada saya, ya? Atau bicara kepada orang lain, ha-ha-ha…?” Gaga seakan bicara tentang sosok Lady Gaga dan sosok lain yang bisa bernama Stefani (nama asli Lady Gaga – “Me added”). “I am Lady Gaga, dan rasanya mengerikan, ha-ha-ha… Bayangkan, setiap hari orang bertanya siapa sebenarnya Lady Gaga. Yah, setiap hari begitu susahnya menjadi diri sendiri…”

                Mungkin bagi dia nggak enak rasanya diadili oleh orang – orang yang nggak tau who’s the real Lady Gaga. Yap, memang benar…toh selama ini kita hanya men – judge orang dari luarnya saja tanpa memikirkan perasaan orang yan kita judge. Coba dengar para aktivis yang kemarin menentang Irsyad Manji. Teriakan mereka nggak jauh dari seputar diri Irsyad yang (katanya) lesbian. Ada juga yang bilang kalau Irsyad ingin menghancurkan Islam pelan – pelan. Saya nggak bermaksud membela Irsyad Manji, tapi lucu toh rasanya ketika kamu membaca sebuah berita yang menginformasikan bahwa salah satu ketua dari oknum X (yang menentang Irsyad Mandji) bilang kalau dia pun belum pernah baca buku Irsyad Mandji. Aksinya menentang Irsyad Mandji hanya berdasarkan perintah dari atasannya. Ironis. Seorang cendikia dan tokoh masyarakat begitu mudahnya men – judge tanpa mengenal dulu siapa yang diadilnya. 

                Tapi kejadian ironis di atas tidak hanya menyerang para artis atau public figure aja. Merasa nggak sih kalau kita pun menjadi korban sekaligus pelaku judging tersebut ? Satu kejadian yang nggak akan saya lupain waktu saya serta merta dikatain “pecun”, yang artinya pelacur. Wow..wow…jangan disangka saya tidak kaget. Saya nggak ngerti apa dosa saya. Saya nggak tau apa kesalahan saya. Shock jelas, tapi setelah tau siapa yang bilang jadinya cuma ketawa nyinyir. Geli aja rasanya saya dapat e-mail serapahan tadi dari seorang cendikia yang saya kenal sangat agamis.

                Miris lho dapat e-mail seperti itu. Bukan karena dibilang pecun. Bukan. Tapi saya miris betapa sempitnya dan tidak terjaganya lisan si pengirim e-mail itu. Bahwasannya kalau saja si pengirim adalah tipe cowok gaul masa kini, mungkin saya akan marah bahkan sakit hati. Dan andai kita baru mengenal satu – dua hari mungkin wajar adanya. But this, we known each other for more than one year. Tapi dari sini saya belajar kalau waktu setahun itu nggak cukup untuk seseorang mengenal orang lain.

                Biar bagaimana juga, kita nggak pernah tahu siapa orang yang ada di sekitar kita. Jangan pernah pikir kita tau banget orang itu atau berkata, “gue tau banget lo itu gimana”. Never ! Ever. Ever. Ever. Kita nggak akan pernah tahu orang yang kita kenal, bahkan dekat itu gimana. Ada ranah – ranah dalam diri seseorang yang tidak bisa dan tidak diperbolehkan untuk kita baca. Sisi itu adalah sisi misteri bagi kita, the outsider orang – orang yang hanya mengenal surface – nya orang lain. Kita nggak pernah tau betul isi hati dan isi pemikiran orang lain. Hey, kita ini bukan Tuhan Yang Tahu Segalanya. Even “para pembaca pikiran” pun hanya bisa membaca kalau diperbolehkan oleh korbannya. It means that ada tempat dalam diri setiap orang yang nggak bisa kita jangkau. 

                Tapi mungkin e-mail itu bisa hinggap di saya sebagai jawaban atas perilaku saya juga yang suka men – judge orang seenak jidat. Saya ini kan orangnya percaya hukum karma. Apa yang kita lakukan, mau baik atau jelek, pasti akan dibalas oleh – Nya meski tidak dalam bentuk yang sama. Jadi setelah membaca e-mail itu, saya menyuruh otak untuk me – recall apa saja yang telah saya lakukan dengannya. Emm…setelah memastikan tidak ada yang salah, baru lah ego saya ini keluar.

                Dengan kesal saya bilang, “hey you, bastard, you don’t have any right to judge me. Well..you’re allowed to guess but keep these words that you-don’t-even-know-who-I-am. Never ever ever happen!”.

                Saya mau melakukan pembelaan diri dulu nih. Wajar ketika saya marah, bukan ? Bukan kah ketika kita menilai orang dari luarnya saja itu artinya nggak lebih dari menduga – duga. Ibaratnya kayak beli majalah yang dibungkus plastik tapi bungkusnya nggak boleh dibuka. Dari mana coba kita menilai isi majalah kalau bukan dari covernya ? Yang kita lihat pasti gambar covernya dan info apa saja yang tertulis di luarnya. Padahal belum tentu isinya itu semenarik dalamnya, atau malah sebaliknya. Kalau aja covernya biasa aja, siapa tahu kontennya sangat berguna buat kita. Sama halnya dengan manusia. Saat yang kita lihat bagus –bagusnya aja, belum tentu pribadinya sebagus penampilannya. Begitu pun dengan appearance – nya yang biasa aja, eh ternayata otak dan kepribadiannya luar biasa. Am I right ?

                Mengingat sikap saya saat merespon e-mail dua tahun lalu rasanya nggak bagus juga kalau bisanya cuma mencak – mencak. Kan ceritanya udah 21 tahun nih, sudah seharusnya mengurangi pembenaran terhadap diri sendiri. Well…mungkin seharusnya saya mikir kalau memang benar e-mail itu datang karena kelakuan saya yang nggak karuan. Mungkin juga karena saya yang seenaknya ngenilai orang rendah sehingga saya direndahkan oleh – Nya lewat si pengirim e – mail itu. Atau mungkin juga Tuhan mau nyadarin saya bahwa nggak semua orang suka sama saya.

                Mungkin.

                Mungkin.

                Mungkin.

                Ya, lihat lah saat ini pun saya atau mungkin kalian pun sedang men – judge segala kemungkinan. Padahal kalau dipikir – pikir dari mengadili segala kemungkinan, akhirnya pun akan mengadili seseorang. Paling tidak Tuhan. Tuhan lagi korbannya. Tuhan lagi yang saya ragukan. Lantas kapan saya menyalahkan diri sendiri ? Mungkin nanti. Mungkin di saat saya tidak lagi menganggap bahwa “judging” adalah sesuatu yang penting sehingga saya tidak lagi memiliki keraguan terhadap segala kemungkinan – kemungkinan – Nya.

NB : Dan apakah saya malu mengaku kalau pernah dipanggil “pelacur” ? Absolutely not. For me, untuk apa malu terhadap hal yang tidak pernah kita lakukan ? Well…eventhough  I’m a bitch, you guys, especially the one who ever called me that, has no right to judge what kind of slut I am. We only can guess just to reduce the uncertainty. Perhaps. Maybe. Probably. It’s just in a doubt.

You Might Also Like

0 comments: