No Judge, No Doubt
Sepanjang perjalanan pulang dari Surabaya kemarin, tak lepas
saya memantau timeline Twitter. Ada sebuah tweet yang menginfokan bahwa
pemeberitaan konser NKOTBSB dimuat di salah satu surat kabar. Sesampainya di
stasiun Tugu, saya membeli surat kabar yang dimaksud. Kompas, edisi Minggu 3
Juni 2012. Baru membaca halaman pertama, saya sudah tersenyum. Saya lupa untuk
melaju ke halaman 15. Halaman liputan NKOTBSB.
Di halaman
pertama ada liputan konser Lady Gaga di Singapura tanggal 31 Mei 2012 lalu. Saya
terhanyut oleh paragraf pertamanya. Bunyinya seperti ini,
“My
name is Lady Gaga. Aku adalah harapanmu, impianmu, ketakutanmu, rasa
ketidakamananmu. Aku adalah segala yang kalian sukai. Aku adalah segala yang
kalian benci. Kalian menciptakan aku Singapura…!”
Si Lady
pada akhirnya nggak jadi manggung di sini. Ada yang bersorak senang, ada yang
menyumpah serapah. Siapa yang salah ? Siapa yang benar ? Tak ada satu pun di
mata saya. Masing – masing punya alasannya. Yang satu bilang kalau si Lady
penganut satanism sehingga nggak baik untuk “kesehatan” agama di Indonesia. Yang
lain bilang kalau “yang satu” tadi terlalu sempit pemikirannya. Lady Gaga itu sebetulnya
inspiring, powerful, dan nggak ada sedikit pun hagemoni agama dalam lagunya.
Terlepas
dari siapa yang benar dan patut didengar, saya appreciate dengan si Lady. Nggak
mudah untuk menjadi seperti dia. Sosok “aneh” dan penuh kontroversi di mana –
mana. Nggak semua orang bisa nerima dia apa adanya sebagai musisi (please,
lepasin dulu unsur keagamaa, politik, or other shitty things). Nggak semua bisa
memahami betul maksud isi hati dia lewat lagu – lagunya. Makannya saya
merinding waktu baca petikan paragraf dalam berita itu. Bunyinya seperti ini,
“Di
tengah lagu, ia memberi jeda bicara lagi. “Intinya seseorang harus menjadi
dirinya sendiri. Saya setiap hari bertanya, who is the real Lady Gaga?” kata
Gaga. Penonton menyambut dengan aneka celotehan. Dan, Gaga pun menanggapi. “Kalian
berbicara kepada saya, ya? Atau bicara kepada orang lain, ha-ha-ha…?” Gaga
seakan bicara tentang sosok Lady Gaga dan sosok lain yang bisa bernama Stefani
(nama asli Lady Gaga – “Me added”). “I am Lady Gaga, dan rasanya mengerikan,
ha-ha-ha… Bayangkan, setiap hari orang bertanya siapa sebenarnya Lady Gaga. Yah,
setiap hari begitu susahnya menjadi diri sendiri…”
Mungkin
bagi dia nggak enak rasanya diadili oleh orang – orang yang nggak tau who’s the
real Lady Gaga. Yap, memang benar…toh selama ini kita hanya men – judge orang
dari luarnya saja tanpa memikirkan perasaan orang yan kita judge. Coba dengar
para aktivis yang kemarin menentang Irsyad Manji. Teriakan mereka nggak jauh
dari seputar diri Irsyad yang (katanya) lesbian. Ada juga yang bilang kalau
Irsyad ingin menghancurkan Islam pelan – pelan. Saya nggak bermaksud membela Irsyad
Manji, tapi lucu toh rasanya ketika kamu membaca sebuah berita yang menginformasikan
bahwa salah satu ketua dari oknum X (yang menentang Irsyad Mandji) bilang kalau
dia pun belum pernah baca buku Irsyad Mandji. Aksinya menentang Irsyad Mandji
hanya berdasarkan perintah dari atasannya. Ironis. Seorang cendikia dan tokoh
masyarakat begitu mudahnya men – judge tanpa mengenal dulu siapa yang
diadilnya.
Tapi
kejadian ironis di atas tidak hanya menyerang para artis atau public figure aja. Merasa nggak sih
kalau kita pun menjadi korban sekaligus pelaku judging tersebut ? Satu kejadian
yang nggak akan saya lupain waktu saya serta merta dikatain “pecun”, yang
artinya pelacur. Wow..wow…jangan disangka saya tidak kaget. Saya nggak ngerti
apa dosa saya. Saya nggak tau apa kesalahan saya. Shock jelas, tapi setelah tau
siapa yang bilang jadinya cuma ketawa nyinyir. Geli aja rasanya saya dapat
e-mail serapahan tadi dari seorang cendikia yang saya kenal sangat agamis.
Miris lho
dapat e-mail seperti itu. Bukan karena dibilang pecun. Bukan. Tapi saya miris
betapa sempitnya dan tidak terjaganya lisan si pengirim e-mail itu. Bahwasannya
kalau saja si pengirim adalah tipe cowok gaul masa kini, mungkin saya akan
marah bahkan sakit hati. Dan andai kita baru mengenal satu – dua hari mungkin
wajar adanya. But this, we known each other for more than one year. Tapi dari
sini saya belajar kalau waktu setahun itu nggak cukup untuk seseorang mengenal
orang lain.
Biar bagaimana
juga, kita nggak pernah tahu siapa orang yang ada di sekitar kita. Jangan pernah
pikir kita tau banget orang itu atau berkata, “gue tau banget lo itu gimana”. Never ! Ever. Ever. Ever. Kita nggak
akan pernah tahu orang yang kita kenal, bahkan dekat itu gimana. Ada ranah –
ranah dalam diri seseorang yang tidak bisa dan tidak diperbolehkan untuk kita
baca. Sisi itu adalah sisi misteri bagi kita, the outsider orang – orang yang
hanya mengenal surface – nya orang lain. Kita nggak pernah tau betul isi hati
dan isi pemikiran orang lain. Hey, kita ini bukan Tuhan Yang Tahu Segalanya. Even
“para pembaca pikiran” pun hanya bisa membaca kalau diperbolehkan oleh
korbannya. It means that ada tempat dalam diri setiap orang yang nggak bisa
kita jangkau.
Tapi mungkin
e-mail itu bisa hinggap di saya sebagai jawaban atas perilaku saya juga yang
suka men – judge orang seenak jidat. Saya ini kan orangnya percaya hukum karma.
Apa yang kita lakukan, mau baik atau jelek, pasti akan dibalas oleh – Nya meski
tidak dalam bentuk yang sama. Jadi setelah membaca e-mail itu, saya menyuruh
otak untuk me – recall apa saja yang telah saya lakukan dengannya. Emm…setelah
memastikan tidak ada yang salah, baru lah ego saya ini keluar.
Dengan kesal
saya bilang, “hey you, bastard, you don’t
have any right to judge me. Well..you’re allowed to guess but keep these words that
you-don’t-even-know-who-I-am. Never ever ever happen!”.
Saya
mau melakukan pembelaan diri dulu nih. Wajar ketika saya marah, bukan ? Bukan
kah ketika kita menilai orang dari luarnya saja itu artinya nggak lebih dari
menduga – duga. Ibaratnya kayak beli majalah yang dibungkus plastik tapi
bungkusnya nggak boleh dibuka. Dari mana coba kita menilai isi majalah kalau
bukan dari covernya ? Yang kita lihat pasti gambar covernya dan info apa saja
yang tertulis di luarnya. Padahal belum tentu isinya itu semenarik dalamnya,
atau malah sebaliknya. Kalau aja covernya biasa aja, siapa tahu kontennya
sangat berguna buat kita. Sama halnya dengan manusia. Saat yang kita lihat
bagus –bagusnya aja, belum tentu pribadinya sebagus penampilannya. Begitu pun
dengan appearance – nya yang biasa
aja, eh ternayata otak dan kepribadiannya luar biasa. Am I right ?
Mengingat
sikap saya saat merespon e-mail dua tahun lalu rasanya nggak bagus juga kalau
bisanya cuma mencak – mencak. Kan ceritanya udah 21 tahun nih, sudah seharusnya
mengurangi pembenaran terhadap diri sendiri. Well…mungkin seharusnya saya mikir
kalau memang benar e-mail itu datang karena kelakuan saya yang nggak karuan. Mungkin
juga karena saya yang seenaknya ngenilai orang rendah sehingga saya direndahkan
oleh – Nya lewat si pengirim e – mail itu. Atau mungkin juga Tuhan mau nyadarin
saya bahwa nggak semua orang suka sama saya.
Mungkin.
Mungkin.
Mungkin.
Ya, lihat
lah saat ini pun saya atau mungkin kalian pun sedang men – judge segala
kemungkinan. Padahal kalau dipikir – pikir dari mengadili segala kemungkinan,
akhirnya pun akan mengadili seseorang. Paling tidak Tuhan. Tuhan lagi
korbannya. Tuhan lagi yang saya ragukan. Lantas kapan saya menyalahkan diri
sendiri ? Mungkin nanti. Mungkin di saat saya tidak lagi menganggap bahwa “judging”
adalah sesuatu yang penting sehingga saya tidak lagi memiliki keraguan terhadap
segala kemungkinan – kemungkinan – Nya.
NB : Dan apakah saya malu mengaku kalau pernah dipanggil “pelacur”
? Absolutely not. For me, untuk apa malu terhadap hal yang tidak pernah kita
lakukan ? Well…eventhough I’m a bitch,
you guys, especially the one who ever called me that, has no right to judge
what kind of slut I am. We only can guess just to reduce the uncertainty. Perhaps.
Maybe. Probably. It’s just in a doubt.
0 comments: