“Tap…Tap…Tap…”

1:24 AM Tameila 0 Comments

Sore itu masih seperti biasanya. Panas. Ramai. Dan saya mengantuk. Duduk di bawah pohon dan memperhatikan mereka melakukan ini – itu. Ada yang duduk melingkar saling mengadu suara. Ada yang mondar – mandir sambil misuh. Ada juga yang melompat ke kanan – ke kiri seperti di depan saya. Mereka belajar tari. Ah, mungkin lebih asyik disebut break dance. Tapi memang benar kok mereka sedang latihan break dance.

                Sedikit putus asa namun kesabaran masih lebih unggul, si pelatih terus mengulang dan mengulang lagi gerakan yang sama. Kaki kiri ke depan. Hap ! Lalu langsung kaki kanan diangkat dan loncat ke kiri. Tangan berayun searah tubuh sambil badan dilayangkan ke atas. Terus. Terus. Terus begitu. Di sebelahnya berdiri seorang wanita berjilbab sederhana. Ia tidak menari. Tidak juga seorang instruktur. Dia seorang interpreter.

                Dua anak tadi hanya tertawa kalau salah. Setelah mendekatkan jari jempol dan telunjuk ke pipinya membentuk isyarat “maaf”, mereka kembali mengulangi gerakan sesuai instruksi Sang Guru. Lima belas menit kemudian mereka kompak. Seakan ada melodi yang mengiri, ayunan tubuh menjadi seirama. Tak ada yang lebih cepat atau pun lebih lambat. Kepala mereka mengangguk – angguk seakan ada musik yang terhentak sebagai pengatur gerak. Ada. Memang ada. Irama alam. Tapi apakah mereka mendengar ?

                Ah, saya pikir untuk apa mereka mendengar ? Lebih baik hening mendekap telinga, namun hati dan pikiran terbuka. Daripada menyuara namun enggan mendengar. Bukan kah kita lebih sering berkoar daripada mendengar ? Simpel kok buktinya, rasakan saja kalau sedang berkendara. Hitung lebih banyak mana antara mengumpat atau menekan klakson daripada berhenti sedetik untuk orang menyebrang ? Mari kita ingat lebih banyak menyerapah atau mempersilahkan ?

                Saya sempat kaget waktu tahu salah satu dari mereka tidak memiliki SIM. Padahal jarak tempuhnya setiap hari terhitung jauh. Setelah ditanya mengapa, jawabannya sederhana. “Karena aku tuli. Aku nggak bisa dengar kalau harus tes”. Awalnya saya pikir mungkin benar karena mereka tidak akan bisa mendengar klakson, sirine, atau tanda – tanda suara lainnya. Tetapi melihat kenyataan di jalan raya, agak aneh rasanya kalau pendengaran menjadi faktor penghambat mereka untuk memiliki SIM. Kenapa ? Karena toh kenyataannya orang – orang pun di jalan raya seperti tuli semua. Setiap orang menomor duakan klakson dan klakson pun dipakai tidak sebagaimanamestinya. Klakson dipakai untuk mengusir orang dari depan mata, bukan karena memang sedang urgent atau sebagai warning. Jadi, kalau begini masih penting kah pendengaran menjadi salah satu persyaratan untuk lolos SIM ?

                Saya pun lebih memilih mereka untuk tetap tidak mendengar. Mengapa ? Karena mereka adalah ciptaan – ciptaan baik dari Tuhan yang bisa menampar orang – orang seperti saya. Dunia oriented. Materialistis. Opportunis. Dengan adanya mereka setidaknya saya bisa sadar kalau Tuhan itu baik, adil, Maha Kaya, dan segala – galanya. Me ? Nothing.

                Adanya mereka di dunia ini pun harusnya bisa membuat kita sadar kalau hening itu nggak selamanya sepi. Hening itu bukan sendiri. Hening itu damai karena kita bisa memilah mana yang patut diperhatikan, mana yang tidak. Heninig itu bukan sunyi senyap atau kedap suara. Hening itu tenang. Coba ingat gerakan yoga. Semuanya harus dilakukan saat hening, bukan ? Kita harus fokus dan berusaha menyatu dengan alam. Suasana harus hening supaya jiwa bisa tenang. Hening diciptakan saat yoga bukan supaya kita merasa sendirian. Bukan. Tapi untuk ketenangan jiwa. Hasilnya ? Kita bisa menerima diri sendiri dan menyelaraskan diri dengan alam. 

                “Tap…Tap…Tap….”

                Saya tertawa melihat mereka salah melakukan gerakan. Si instruktur mulai habis kesabaran. Ia mengelus dada. Si interpreter tertawa sambil berusaha membuat guyonan. Ice breaking. Dua muridnya yang tuli ikut tertawa juga. Mungkin lucu memperhatikan instrukturnya yang kebingungan bagaimana cara agar gerakan selanjutnya bisa kompak seperti sebelumnya. Saya bangkit. Saya tertawa. Tawa untuk diri saya yang tak pernah mengerti bagaimana mereka mampu berirama dalam ketulian.

You Might Also Like

0 comments: