“Tap…Tap…Tap…”
Sore itu masih seperti biasanya. Panas. Ramai. Dan saya
mengantuk. Duduk di bawah pohon dan memperhatikan mereka melakukan ini – itu. Ada
yang duduk melingkar saling mengadu suara. Ada yang mondar – mandir sambil
misuh. Ada juga yang melompat ke kanan – ke kiri seperti di depan saya. Mereka belajar
tari. Ah, mungkin lebih asyik disebut break dance. Tapi memang benar kok mereka
sedang latihan break dance.
Sedikit
putus asa namun kesabaran masih lebih unggul, si pelatih terus mengulang dan
mengulang lagi gerakan yang sama. Kaki kiri ke depan. Hap ! Lalu langsung kaki
kanan diangkat dan loncat ke kiri. Tangan berayun searah tubuh sambil badan
dilayangkan ke atas. Terus. Terus. Terus begitu. Di sebelahnya berdiri seorang
wanita berjilbab sederhana. Ia tidak menari. Tidak juga seorang instruktur. Dia
seorang interpreter.
Dua anak
tadi hanya tertawa kalau salah. Setelah mendekatkan jari jempol dan telunjuk ke
pipinya membentuk isyarat “maaf”, mereka kembali mengulangi gerakan sesuai
instruksi Sang Guru. Lima belas menit kemudian mereka kompak. Seakan ada melodi
yang mengiri, ayunan tubuh menjadi seirama. Tak ada yang lebih cepat atau pun
lebih lambat. Kepala mereka mengangguk – angguk seakan ada musik yang terhentak
sebagai pengatur gerak. Ada. Memang ada. Irama alam. Tapi apakah mereka
mendengar ?
Ah,
saya pikir untuk apa mereka mendengar ? Lebih baik hening mendekap telinga,
namun hati dan pikiran terbuka. Daripada menyuara namun enggan mendengar. Bukan
kah kita lebih sering berkoar daripada mendengar ? Simpel kok buktinya, rasakan
saja kalau sedang berkendara. Hitung lebih banyak mana antara mengumpat atau
menekan klakson daripada berhenti sedetik untuk orang menyebrang ? Mari kita
ingat lebih banyak menyerapah atau mempersilahkan ?
Saya
sempat kaget waktu tahu salah satu dari mereka tidak memiliki SIM. Padahal jarak
tempuhnya setiap hari terhitung jauh. Setelah ditanya mengapa, jawabannya
sederhana. “Karena aku tuli. Aku nggak bisa dengar kalau harus tes”. Awalnya saya
pikir mungkin benar karena mereka tidak akan bisa mendengar klakson, sirine,
atau tanda – tanda suara lainnya. Tetapi melihat kenyataan di jalan raya, agak
aneh rasanya kalau pendengaran menjadi faktor penghambat mereka untuk memiliki
SIM. Kenapa ? Karena toh kenyataannya orang – orang pun di jalan raya seperti
tuli semua. Setiap orang menomor duakan klakson dan klakson pun dipakai tidak
sebagaimanamestinya. Klakson dipakai untuk mengusir orang dari depan mata,
bukan karena memang sedang urgent
atau sebagai warning. Jadi, kalau
begini masih penting kah pendengaran menjadi salah satu persyaratan untuk lolos
SIM ?
Saya pun
lebih memilih mereka untuk tetap tidak mendengar. Mengapa ? Karena mereka
adalah ciptaan – ciptaan baik dari Tuhan yang bisa menampar orang – orang seperti
saya. Dunia oriented. Materialistis. Opportunis. Dengan adanya mereka
setidaknya saya bisa sadar kalau Tuhan itu baik, adil, Maha Kaya, dan segala –
galanya. Me ? Nothing.
Adanya mereka
di dunia ini pun harusnya bisa membuat kita sadar kalau hening itu nggak
selamanya sepi. Hening itu bukan sendiri. Hening itu damai karena kita bisa
memilah mana yang patut diperhatikan, mana yang tidak. Heninig itu bukan sunyi
senyap atau kedap suara. Hening itu tenang. Coba ingat gerakan yoga. Semuanya harus
dilakukan saat hening, bukan ? Kita harus fokus dan berusaha menyatu dengan
alam. Suasana harus hening supaya jiwa bisa tenang. Hening diciptakan saat yoga
bukan supaya kita merasa sendirian. Bukan. Tapi untuk ketenangan jiwa. Hasilnya
? Kita bisa menerima diri sendiri dan menyelaraskan diri dengan alam.
“Tap…Tap…Tap….”
Saya tertawa
melihat mereka salah melakukan gerakan. Si instruktur mulai habis kesabaran. Ia
mengelus dada. Si interpreter tertawa sambil berusaha membuat guyonan. Ice breaking. Dua muridnya yang tuli
ikut tertawa juga. Mungkin lucu memperhatikan instrukturnya yang kebingungan
bagaimana cara agar gerakan selanjutnya bisa kompak seperti sebelumnya. Saya bangkit.
Saya tertawa. Tawa untuk diri saya yang tak pernah mengerti bagaimana mereka mampu
berirama dalam ketulian.
0 comments: