Tulisan Rindu
Matanya sipit, tapi bukan keturunan Cina
Tubuhnya gemuk dan pendek, jangan pernah sangka dia pemain sumo
Memang suaranya menggema, apalagi kalau sedang marah
Ya, dia memang mudah tersulut emosinya
Tapi siapa sangka kalau dia menyebutku permata
Dia bilang aku adalah hartanya yang paling berharga
Maka tak aneh jadinya kalau dia sangat menjagaku
Dulu aku sempat dibuatnya kesal
Aku merasa terkungkung karena banyak larangan
Tak boleh ini, tak boleh itu
Jangan begini, jangan begitu
Aku kesal, aku merasa tak bebas karena dibatasi
Tapi dia bilang itu semua karena dia sayang padaku
Dia bilang dia tak ingin aku masuk ke lingkaran yang salah
Sayang. Itu lah yang selalu menjadi alasannya tatkala membatasi gerakku
Namun waktu terus berlalu dan kita semakin jauh
Aku beranjak ke timur dan dia menetap di barat
Kami sempat mengadu otot karena ia ingin mempertahankanku di sana
Ia bilang tak ingin berpisah dariku
Ia takut kesepian
Ia tak ingin sendirian
Tak mudah ternyata untuk meyakinkan bahwa aku akan kembali
Tapi bagaimana pun juga aku tahu dia punya hati
Ku sentuh pada bagiannya yang tepat, maka menetes lah air dari sudut
matanya
Dia merengkuh tubuhku lalu membisikkan berbagai do’a
Meski harapan – harapannya terdengar berat, aku tahu hingga saat ini
dia terus menahan rindu padaku
Rindu untuk sarapan bersama
Rindu untuk berbagi cerita
Atau rindu sekedar untuk berebut remote TV
Sayang, dia selalu meragukan kerinduanku
Dia bilang aku terlalu sibuk dan melupakannya
Ahahahaa...dia cemburu
Aku suka
Aku suka kalau dia cemburu
Aku suka tatkala dia protes aku terlalu sering pulang malam, terlebih
karena terlalu sering ke bioskop
Suatu hari dia menelefonku
Seperti biasa, kami berbagi cerita dan mimpi
Di penghujung telefon dia berkata,
“Jangan biarkan lingkungan mengubahmu”
Berubah. Benar kah aku sudah berubah ?
Hening menggiringku untuk mundur menyusuri waktu
Ternyata benar, aku sudah berubah
Aku bukan lagi perempuan kecil yang dulu sering digendongnya
Aku bukan lagi perempuan yang suka duduk di atasnya
Mana lah kuat saat ini dia melakukan itu
Meski pun aku masih hobi memakai kaos kaki, tapi aku bukan lagi penggemar
kaos kaki bolong
Aku tak pernah lagi memainkan lagu “Teluk Bayur” dan “Aryati” dengan
piano untuknya
Aku pun tak pernah lagi mencium kedua pipinya saat berpamitan tidur
Tiba – tiba aku rindu padanya
Aku rindu melakukan kegilaan dengannya
Bahkan aku rindu dibentak olehnya
Aku rindu dibuat kesal
Aku rindu dibuat marah
Aku rindu larangannya
Sedang apa kamu di sana saat ini ?
Memandangi fotoku kah seperti yang biasa kamu bilang setiap malam ?
Atau sedang merasakan dinginnya lantai ruang TV ?
Kasihan kamu sendirian
Tak ada yang memijati kaki tanganmu, tak ada juga yang menghalau nyamuk
dengan raket listrik
Papa,
Biar aku tak pernah mengucap “sayang” terang – terangan, semoga pesan
singkat yang ku kirim siang tadi mampu memuaskan rindumu padaku
Semoga do’a – do’aku di sana didengar oleh langit seraya di – amini
oleh malaikat – Nya
Selamat ulang tahun, Papa
Terima kasih telah atas semua larangannya
Terima kasih telah menempaku dengan keras
Terima kasih telah mengajarkanku untuk menyaring semua hal yang aku
terima
Jangan khawatir, timur tidak akan mengubah gadis baratmu menjadi sosok
asing yang tak kamu kenali lagi
I love you more than words can say
0 comments: