Guru itu (nggak) Cuma Ngajar

8:45 PM Tameila 0 Comments

Hari ini Hardiknas, Hari Pendidikan Nasional. Konon katanya hari ini dinobatkan jadi hari pendidikan untuk memperingati jasa salah satu pahlawan kita, Ki Hajar Dewantara. Tanggal 2 Mei adalah tanggal kelahiran beliau. Ya, beliau yang telah memperjuangkan pendidikan bagi kaum pribumi supaya bisa belajar layaknya orang – orang Belanda jaman dulu.

Pagi tadi saat saya diingatkan oleh seseorang untuk upacara. Untuk apa ? Katanya untuk memperingati hari nasional ini. Saya jadi ingat waktu SD dulu, kalau saat upacara bendera pasti lagu wajib nasionalnya disesuaikan dengan seremonial saat itu. Misalnya seperti sekarang sedang hardiknas, nah lagu pilihannya pasti “Hymne Guru”.

“Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti trima kasihku ‘tuk pengabdianmu

Jujur saya merinding waktu ngetik lirik di atas. Saya jadi ingat guru – guru dari TK sampai SMA, terlebih guru SD. Kenapa SD ? Karena saat SD saya sering sekali memainkan lagu itu dengan recorder atau pianika saat praktik kesenian. Tapi anehnya waktu dulu saya biasa aja tuh, nggak merinding nggak juga kangen mereka. Apa karena saya yang belum paham guru itu apa dan siapa, ya ?

Saya yakin setiap orang pasti punya satu sosok guru yang sampai sekarang masih diingat. Kalau bukan gara – gara kita sering banget dimarahin mereka, pasti karena kita disayang banget. Saya punya guru favorit di setiap jenjang pendidikan. Ada Bu Itoh, kepala sekolah TK saya dulu. Dia rajin banget lapor ke bokap – nyokap kalau saya nangis seharian di sekolah. Yah, saya dulu memang cengeng, nggak bisa ditinggal sendirian di dalam kelas.

Di SD saya punya guru favorit, namanya pak Syafe’i. Doi pinter banget ngelukis. Selain itu, ada juga Bu Wawat yang sekarang udah jadi kepala sekolah. Terus ada Pak Asep, si guru bahasa Inggris merangkap pembina pramuka. Saya punya Pak Budi dan Pak Bagya di SMP, mereka adalah pembina OSIS dan Pramuka yang selalu mensupport saya. Ah, nggak lupa dengan Pak Dikdik yang akhirnya bikin saya bisa main volly.

Naik ke jenjang SMA saya nggak akan lupa dengan Pak Nurdiana. Dia yang ngajarin saya berkomitmen dan bertanggung jawab. Biar kata Fisika saya jelek terus, tapi senyum Pak Nurdiana itu bikin adem. (halah). Ada juga Bu Tatat dan Bu Ica, dua guru sosiologi yang menanamkan nilai pride kepada murid – muridnya. Last but not least, guru ngaji saya, Teh ‘Aah, adalah favorit saya juga. Orangnya bawel dan disiplin, tapi dengan begitu hafalan – hafalannya masih nempel di otak sampai sekarang.

Mengingat mereka dan memerhatikan guru – guru membuat saya berpikir, sebenarnya apa sih yang membuat mereka memilih perkerjaan itu ? Bukan bermaksud apa – apa, tapi kadang saya ngerasa kalau gaji mereka itu nggak sebanding dengan apa yang mereka lakuin. Mereka nggak hanya berhadapan dengan gaji yang kecil, tapi mereka pun harus menaklukkan murid – muridnya. Mending kalau murid – muridnya nurut semua, nggak sedikit juga yang kayak monster, bukan ?

Dulu, waktu saya memilih untuk mengajar di SLB, satu – satunya alasan saya adalah karena prihatin. Miris lho mendengar satu sekolah yang terdiri dari SD, SMP, dan SMA, tapi jumlah gurunya cuma hitungan belasan. Nggak sampai dua puluh malah. Jadilah berkat bantuan sepupu saya akhirnya saya mengajar di sana. Tapi selama jadi guru saya nggak pernah mau dipanggil “ibu guru”, saya ingin dipanggil “teteh” karena saya pikir saya tidak mengajar mereka, tapi hanya berbagi ilmu. 

Hal ini pun terjadi pada instruktur bahasa Jerman saya. Mengapa saya menyebutnya “instruktur bahasa” ? Karena dia pun merasa geli saat dipanggil “pak guru”. Berbincang dengannya, ada sisi lain dari menjadi seorang guru. Guru tidak sekedar mengajar, tapi guru adalah pijakan masa depan generasi bangsa. Apa sih yang dilihat dari masa depan kalau bukan kesuksesan ? Dan ya, berawal dari guru lah sukses itu bisa kita raih. Memang semuanya juga kembali pada pribadi masing – masing, tapi guru itu rantai penyambung. Kalau nggak ada guru, siapa yang mau mengajari ?

Mungkin di sini lah letak salahnya kita memandang seorang guru. Mereka diidentikkan dengan baju safari atau PNS, kerjaannya pegang kapur atau spidol lalu ceramah di depan kelas, lalu paling hobi ngasih PR. Lalu sejak kecil juga kita diracuni pemikiran bahwa guru adalah seseorang yang mata pencahariannya mengajar. Tapi coba deh kita pahami lebih dalam, guru itu nggak sekedar cari uang lewat ngajar. Kalau memang untuk mencukupi kehidupannya, gaji mereka nggak seberapa. So kalau gitu kenapa mereka masih mau jadi guru ?

Kepuasan pribadi. INI, INI, INI yang nggak bisa digantikan dengan uang. Mereka punya kepuasan tersendiri ketika anak didiknya sukses. Ada perasaan bahagia yang nggak bisa digambarkan saat muridnya mencapai target. Kalau instruktur bahasa Jerman saya bilang, “target siswa adalah target saya”. Saat saya tanya, “nggak takut kalah sukses dengan murid ?” Dia cuma senyum dan jawab, “untuk apa saya kalah saing dengan murid saya ? Saya nggak menjadikan mereka saingan. Saya senang kalau mereka sukses dan saya nggak butuh apresiasi berlebih dari mereka”.

Komitmen. Ya, komitmen lah yang membuat para guru tetap pada jalurnya. Hal ini pun diutarakan oleh teman saya saat menjelaskan betapa sulitnya menjadi seorang guru. Nggak hanya mengajar, tapi bagaimana muridnya bisa suka dengan pelajaran dan selalu menghasilkan sesuatu yang baru di kelas. Guru pun harus memahami satu per satu secara mendalam murid – muridnya. Wah, kalau kayak begini mungkin kah saya bilang bahwa tingkat understanding guru jauh lebih yahud dibanding market research dalam memahami pasarnya ?

Entah lah...yang pasti baik guru atau pun market research keduanya sama – sama memahami sesuatu. Tapi entah mengapa pekerjaan yang kedua lebih dianggap keren (bagi saya) daripada yang pertama. Apa mungkin dari tempatnya bekerja ? Atau dari tantangannya ? Memahami para guru lebih dekat membuat saya berpikir bahwa sebesar dan sekecil apapun gaji mereka, mereka menghadapi medan yang tak kalah menantang.

Lantas bagaimana yang menjadikan guru sebagai opsi terakhir ?

Instruktur saya hanya tersenyum. Matanya berputar sambil menyeringai. “Itu tandanya nggak profesional”. Dahi saya mengkerut. “Nantinya dia hanya sekenanya. Dalam proses belajar mengajar akan terasa berbeda. Dia akan asal, dan yah...begitulah”, lanjutnya seraya menyandarkan punggung.

Otak saya bekerja. Perlahan coba menyerap apa yang diutarakannya. Kembali teringat bagaimana gigihnya guru olah raga saya dulu, Pak Dikdik, saat memaksa saya untuk berani men – serve bola volly dari ujung lapangan. Biar kata suaranya kayak tentara dan mukanya sangar, saat ini saya masih tersenyum kalau ingat dia teriak, “ayo Gita masa nembak bola aja nggak kuat ?! Badan gede tapi tenaganya nggak ada ! Ayo, harus bisa ngelewatin net !”

You Might Also Like

0 comments: