Guru itu (nggak) Cuma Ngajar
Hari ini Hardiknas, Hari Pendidikan Nasional. Konon katanya
hari ini dinobatkan jadi hari pendidikan untuk memperingati jasa salah satu
pahlawan kita, Ki Hajar Dewantara. Tanggal 2 Mei adalah tanggal kelahiran
beliau. Ya, beliau yang telah memperjuangkan pendidikan bagi kaum pribumi
supaya bisa belajar layaknya orang – orang Belanda jaman dulu.
Pagi tadi saat saya diingatkan oleh seseorang untuk upacara.
Untuk apa ? Katanya untuk memperingati hari nasional ini. Saya jadi ingat waktu
SD dulu, kalau saat upacara bendera pasti lagu wajib nasionalnya disesuaikan
dengan seremonial saat itu. Misalnya seperti sekarang sedang hardiknas, nah
lagu pilihannya pasti “Hymne Guru”.
“Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti trima kasihku ‘tuk pengabdianmu”
Jujur saya merinding waktu ngetik lirik di atas. Saya jadi
ingat guru – guru dari TK sampai SMA, terlebih guru SD. Kenapa SD ? Karena saat
SD saya sering sekali memainkan lagu itu dengan recorder atau pianika saat
praktik kesenian. Tapi anehnya waktu dulu saya biasa aja tuh, nggak merinding
nggak juga kangen mereka. Apa karena saya yang belum paham guru itu apa dan
siapa, ya ?
Saya yakin setiap orang pasti punya satu sosok guru yang
sampai sekarang masih diingat. Kalau bukan gara – gara kita sering banget
dimarahin mereka, pasti karena kita disayang banget. Saya punya guru favorit di
setiap jenjang pendidikan. Ada Bu Itoh, kepala sekolah TK saya dulu. Dia rajin
banget lapor ke bokap – nyokap kalau saya nangis seharian di sekolah. Yah, saya
dulu memang cengeng, nggak bisa ditinggal sendirian di dalam kelas.
Di SD saya punya guru favorit, namanya pak Syafe’i. Doi pinter
banget ngelukis. Selain itu, ada juga Bu Wawat yang sekarang udah jadi kepala
sekolah. Terus ada Pak Asep, si guru bahasa Inggris merangkap pembina pramuka. Saya
punya Pak Budi dan Pak Bagya di SMP, mereka adalah pembina OSIS dan Pramuka
yang selalu mensupport saya. Ah, nggak lupa dengan Pak Dikdik yang akhirnya
bikin saya bisa main volly.
Naik ke jenjang SMA saya nggak akan lupa dengan Pak
Nurdiana. Dia yang ngajarin saya berkomitmen dan bertanggung jawab. Biar kata
Fisika saya jelek terus, tapi senyum Pak Nurdiana itu bikin adem. (halah). Ada juga
Bu Tatat dan Bu Ica, dua guru sosiologi yang menanamkan nilai pride kepada
murid – muridnya. Last but not least, guru ngaji saya, Teh ‘Aah, adalah favorit
saya juga. Orangnya bawel dan disiplin, tapi dengan begitu hafalan – hafalannya
masih nempel di otak sampai sekarang.
Mengingat mereka dan memerhatikan guru – guru membuat saya
berpikir, sebenarnya apa sih yang membuat mereka memilih perkerjaan itu ? Bukan
bermaksud apa – apa, tapi kadang saya ngerasa kalau gaji mereka itu nggak
sebanding dengan apa yang mereka lakuin. Mereka nggak hanya berhadapan dengan
gaji yang kecil, tapi mereka pun harus menaklukkan murid – muridnya. Mending kalau
murid – muridnya nurut semua, nggak sedikit juga yang kayak monster, bukan ?
Dulu, waktu saya memilih untuk mengajar di SLB, satu –
satunya alasan saya adalah karena prihatin. Miris lho mendengar satu sekolah
yang terdiri dari SD, SMP, dan SMA, tapi jumlah gurunya cuma hitungan belasan. Nggak
sampai dua puluh malah. Jadilah berkat bantuan sepupu saya akhirnya saya
mengajar di sana. Tapi selama jadi guru saya nggak pernah mau dipanggil “ibu
guru”, saya ingin dipanggil “teteh” karena saya pikir saya tidak mengajar
mereka, tapi hanya berbagi ilmu.
Hal ini pun terjadi pada instruktur bahasa Jerman saya. Mengapa
saya menyebutnya “instruktur bahasa” ? Karena dia pun merasa geli saat
dipanggil “pak guru”. Berbincang dengannya, ada sisi lain dari menjadi seorang
guru. Guru tidak sekedar mengajar, tapi guru adalah pijakan masa depan generasi
bangsa. Apa sih yang dilihat dari masa depan kalau bukan kesuksesan ? Dan ya,
berawal dari guru lah sukses itu bisa kita raih. Memang semuanya juga kembali
pada pribadi masing – masing, tapi guru itu rantai penyambung. Kalau nggak ada
guru, siapa yang mau mengajari ?
Mungkin di sini lah letak salahnya kita memandang seorang
guru. Mereka diidentikkan dengan baju safari atau PNS, kerjaannya pegang kapur
atau spidol lalu ceramah di depan kelas, lalu paling hobi ngasih PR. Lalu sejak
kecil juga kita diracuni pemikiran bahwa guru adalah seseorang yang mata
pencahariannya mengajar. Tapi coba deh kita pahami lebih dalam, guru itu nggak
sekedar cari uang lewat ngajar. Kalau memang untuk mencukupi kehidupannya, gaji
mereka nggak seberapa. So kalau gitu kenapa mereka masih mau jadi guru ?
Kepuasan pribadi. INI, INI, INI yang nggak bisa digantikan
dengan uang. Mereka punya kepuasan tersendiri ketika anak didiknya sukses. Ada perasaan
bahagia yang nggak bisa digambarkan saat muridnya mencapai target. Kalau instruktur
bahasa Jerman saya bilang, “target siswa adalah target saya”. Saat saya tanya, “nggak
takut kalah sukses dengan murid ?” Dia cuma senyum dan jawab, “untuk apa saya
kalah saing dengan murid saya ? Saya nggak menjadikan mereka saingan. Saya senang
kalau mereka sukses dan saya nggak butuh apresiasi berlebih dari mereka”.
Komitmen. Ya, komitmen lah yang membuat para guru tetap pada
jalurnya. Hal ini pun diutarakan oleh teman saya saat menjelaskan betapa
sulitnya menjadi seorang guru. Nggak hanya mengajar, tapi bagaimana muridnya
bisa suka dengan pelajaran dan selalu menghasilkan sesuatu yang baru di kelas. Guru
pun harus memahami satu per satu secara mendalam murid – muridnya. Wah, kalau
kayak begini mungkin kah saya bilang bahwa tingkat understanding guru jauh lebih yahud dibanding market research dalam
memahami pasarnya ?
Entah lah...yang pasti baik guru atau pun market research
keduanya sama – sama memahami sesuatu. Tapi entah mengapa pekerjaan yang kedua
lebih dianggap keren (bagi saya) daripada yang pertama. Apa mungkin dari
tempatnya bekerja ? Atau dari tantangannya ? Memahami para guru lebih dekat
membuat saya berpikir bahwa sebesar dan sekecil apapun gaji mereka, mereka
menghadapi medan yang tak kalah menantang.
Lantas bagaimana yang menjadikan guru sebagai opsi terakhir
?
Instruktur saya hanya tersenyum. Matanya berputar sambil
menyeringai. “Itu tandanya nggak profesional”. Dahi saya mengkerut. “Nantinya
dia hanya sekenanya. Dalam proses belajar mengajar akan terasa berbeda. Dia
akan asal, dan yah...begitulah”, lanjutnya seraya menyandarkan punggung.
0 comments: