Tuhan, saya kangen murid – murid saya…
Tuhan, saya kangen murid – murid saya…
Saya kangen mereka yang seperti kertas putih. Saya kangen
pertanyaan mereka yang membuat saya harus berpikir dua kali. Bukan untuk
memberikan jawaban yang bagus. Tapi untuk membuat mereka mengerti dengan
kealpaan saya. Kealpaan terhadap ketulian mereka.
Tuhan, apa kabar Didin yang mengajari saya isyarat banteng ?
Waktu itu saya sedang bercerita di kelas tentang restoran.
Kami belajar nama – nama tempat dalam bahasa Inggris dan seketika ia
memperagakan isyarat hewan – hewan di depan saya. Masih saya ingat waktu murid
– murid sekelas tertawa melihat gurunya menirukan gerakan – gerakan mereka.
Mereka bilang saya lucu. Mereka bilang saya tidak pantas memperagakan ayam.
Katanya saya terlalu besar untuk jadi seekor ayam.
Tuhan, apa kabar Rasman yang kritis ?
Satu murid saya yang selalu bertanya tentang segala hal. “Bu, apa itu Sakura ?”, “Bu, kenapa ibu
kuliah?”, dan satu pertanyaan menggelikan, “bu, kalau ke Jogja harus berapa bulan ?”. Hmm…Rasman…betapa
bangganya saya ketika melihatmu mengangkat piala olimpiade Biologi itu. Kamu
tidak mengerti apa itu perjuangan, yang kamu tahu hanya “saya suka Biologi. Saya suka belajar hewan”. Sudah. Hanya itu. Kamu
tidak paham apa itu kompetisi. Yang kamu tahu hanya sesuatu yang kamu suka dan
kamu menekuninya. Selamat atas piala barumu. Selamat telah menjadi juara 1
Fisika, Rasman.
Tuhan, apa kabar Trisna yang pendiam namun cemerlang ?
Saya masih ingat dengan senyumnya yang tipis di wajahnya
yang merah tersipu malu. Di ruang kesenian kami bermain kartu bahasa Inggris.
Siapa yang banyak menebak dengan benar, maka akan saya traktir. Ya, itulah
janji saya. Kami bermain berempat, dua murid saya dan seorang guru kesenian.
Trisna menang. Ia hanya menunduk malu waktu saya memberinya permen dan
sebungkus cokelat. Hanya itu. Sebelum saya keluar ruangan ia bergegas bangkit
dan mencium tangan saya. Dengan tergagap dan sambil berisyarat ia berusaha
untuk bilang, “bu, terima kasih
permennya. Saya senang”.
Tuhan, apa kabar Bian yang jahil ?
Dia adalah murid pertama yang saya kenal. Murid lelaki yang
memiliki hobi main futsal. Meskipun jahil, ia anak yang ramah, sopan, dan
akrab. Pelajaran favoritnya adalah komputer. Ia bilang ia suka desain. Sama
seperti Akib, Bian termasuk anak yang berprestasi. Saat saya datang ke
sekolahnya ia baru saja pulang dari Makassar usai kompetisi desain. Oh ya,
selamat atas kejuaraanmu yang baru di bidang desain. Kejahilan yang tak akan
pernah saya lupakan waktu ia mengajak teman sekelasnya mengobrol setiap kali
saya membalikkan badan membelakangi mereka. Ia selalu tertawa dan garuk – garuk
kepala saat kepergok tidak menyalin catatan di papan tulis. Dengan polosnya ia
bilang, “enak bu jadi tuli. Kalau ngobrol
nggak pakai suara, nggak ketahuan guru”.
Tuhan, apa kabar Akib yang pemalu ?
Apakah ia masih berjualan tahu setiap sore ? Apakah ia masih
sering meminta “maaf” untuk setiap hal yang tidak salah ? Apakah seringainya
saat salah menjawab pertanyaan atau lupa hafalan masih sama ? Saya masih ingat
suaranya yang sengau saat setiap kali berusaha menjelaskan hal – hal secara
verbal kepada saya.
Tuhan, apa kabar si Neneng yang ceria ?
Neneng adalah murid sekaligus teman saya di sana. Saya hafal
semua murid, tapi Neneng lah yang paling saya cari. Selain dia satu – satunya
murid saya yang duduk di kelas XII, dia adalah yang setiap pagi menyapa saya
dengan, “selamat pagi ibu Gita. Apa kabar
?”. Saya rindu dengan isyaratnya itu tatkala saya masih mengatur nafas di
depan kelas. Lucu ketika saya kembali mengingat ekspresinya yang putus asa
kalau kita mengobrol tapi sudah tidak nyambung. Masih saya ingat ketika ia
menggaruk kerudungnya gemas saat ingin menyampaikan maksudnya untuk izin keluar
kelas tapi tak saya pahami.
Tuhan, apa kabar si cantik Rita ?
Dia adalah murid saya yang masih duduk di bangku SMP.
Pertama kali melihat dia tak ada bedanya dengan murid – murid di sekolah
normal. Ia cantik, riang, kritis, penurut, meski agak kurang dalam pelajaran
bahasa Inggris. Tapi saya ingat betapa semangatnya dia waktu saya membawa
majalah Go Girl ke sekolah. Ia menatap sosok Tavi dengan penuh kekaguman. Ia
bilang Tavi di cover majalah itu cantik meski rambutnya hijau. Cita – citanya
sederhana, “saya suka menjahit dan
memasak, bu. Saya mau punya rumah makan dan jadi desaigner”. Desaigner ?
Ya, ia mengucapkan desaigner lewat tangan dan suaranya.
Tuhan, apa kabar murid – murid saya yang lainnya ?
Bagaimana keadaan Romy, Sumi, Ifat, Rizky, Zikri, dan
lainnya ? Masih kah mereka dalam keadaan semangat yang sama ?
Terima kasih, Tuhan, telah menghapus lelah saya dengan kabar
kejuaraan – kejuaraan yang mereka raih kemarin !
0 comments: