Mati Rasa
Akhir – akhir ini entah kenapa
saya sering menemukan tulisan – tulisan jaman dulu, dari jaman SMA sampai dua
tahun lalu. Warna tulisannya selalu sama, dan emm…kalau dibaca sekarang rasanya
agak “oh girl, please deh !”. Eh tapi
sumpah lho ini beneran. Bacanya itu bikin saya merinding sendiri bahkan nanya
sama diri sendiri “kok bisa sih lo, Git,
nulis beginian ?”
Bingung
? Ya. Saya bingung. Saya nggak ngerti kenapa dulu bisa nulis begitu. Dulu mungkin
bagus karena cuharan hati (ceritanyeee), tapi sekarang kok kesannya menye – menye. Begituan aja diambil
hati. Begituan aja ditulis puitis. Begitu aja dirasain. Sensitif amat !
Tapi,
makin saya nyinyirin tulisan sendiri, saya malah mikir, “well, kapan lo terakhir ngerasain ini?”. Ini ? “Ini” yang seperti
apa ? Saya sendiri nggak bisa ngejelasin secara rinci. Untungnya Carl Gustav
Jung, founder – nya analytical psychology,
bisa membantu saya mendeskripsikan perasaan itu. Intinya, sebuah rasa bahagia
yang tidak bisa dijelaskan oleh seseorang. Otak merespon perasaan itu dan
seketika membuah manusia bagai terbang kea wan (Jung lho yang bilang begitu). Intinya,
jatuh cinta.
Emm…crap
! Ya, jatuh cinta.
Sebenarnya
saya males ngomongin masalah ini, karena memang udah lupa juga rasanya gimana. Tapi
sebuah obrolan dengan teman saya membuat mau tak mau mencoba mengingat – ingat lagi
rasanya gimana. Bedanya antara “jatuh suka” dengan “jatuh cinta”. Masalahnya,
omongan teman saya itu ada benarnya juga. Dia bilang begini, “gue itu bisa aja gampang jatuh suka, tapi
nggak dengan jatuh cinta. Gue nggak mau ngulang kesalahan yang sama”.
Baiklah,
kalimat itu bikin saya mikir. Mau nggak mau otak yang udah dapat stimulus pesan
harus menginterpretasikannya. Nah, sialnya otak saya nangkap maknanya itu, “Git, antara jatuh suka dan jatuh cinta itu
beda. Yang kamu rasain selama ini jatuh suka, bukan jatuh cintaI”. Ulalalalaa…saya
tidak suka ini. Saya tidak suka ini. Saya tidak suka ini. Kenapa ? Ya jelas
nggak suka lah kalau pada akhirnya saya harus mengurangi kadar “cinta” saya
pada orang – orang yang ternyata hanya saya “suka” – in. Dengan begitu kan saya
harus memisahkan mana yang harus saya beri “cinta”, mana yang hanya “bumbu” –
nya saja. Padahal sebelumnya saya nggak pernah nyadar antara “cinta” dan “suka”,
makannya bagi saya semua orang itu sama. Harus saya sayang. Harus saya cintai. Harus
saya hormati. Enough !
Seorang
teman yang lain juga pernah bilang, “gak
semua orang berhak dapat kebaikan kita. Bukannya picik, tapi untuk beberapa hal
menjadi baik itu tidak selalu baik”. Makin bingung ? Ya, sama saya juga. Rasanya
kenapa semakin hari dunia ini semakin skeptis ? Mau baik aja harus menghitung
kadarnya. Mau mencintai aja harus pilih – pilih. Bagi saya, memberikan keduanya
dengan porsi yang sama rata untuk semua orang nggak salah kok. I mean, kenapa
harus dipisahkan dan diporsikan ? Menghindari kesalahpahaman ?
Hmm…okay,
kalau kita mau berbicara kesalahpahaman. Sebenarnya kalau terjadi salah paham
itu bukan berasal dari si pemberi cinta. Toh “cinta” sendiri pun tidak harus
selalu hubungan “pacaran”, “suami – istri”, atau ikatan lawan jenis, bukan ? “Cinta”
kan sebuah perasaan mendalam ketika kamu sayang sama seseorang. Ketika kamu
udah nerima kekurangan dan kelebihannya. Kamu udah nggak lagi hitung –
hitungan. Kamu menerima orang itu atas dasar dirinya, bukan siapa dia saat itu,
bagaimana lingkungannya, apa jabatannya, atau lainnya. Bukan. Kita menerima
mereka ya karena mereka. Just the way they are.
Makannya
saya suka greget sendiri kalau ada orang yang bilang, “makannya dibatasi, tuh kan jadinya salah paham”. Hey, salah paham
itu datangnya dari si penerima “cinta”. Salah – paham. Ada sebuah interpretasi
yang tidak sesuai dengan maksud si pemberi kode (cinta). Bentuk komunikasi kode
itukah yang salah ? Mungkin. Tapi bagi saya, saat saya ingin mengkomunikasikan
rasa cinta itu tak ada yang salah. Karena saya percaya ketika sesuatu yang
datangnya dari hati pasti nyampainya ke hati juga. Lantas yang salah siapa ?
Bukan
siapa, tapi apa. Apa yang salah di sini ?
Harapan.
Ya, harapan.
Nggak
salah sih saat kita menaruh ekspetasi tinggi di orang yang udah dekat banget
dengan kita. Yang salah itu ketika kita nggak mempersiapkan diri saat encode – decode tidak berjalan sesuai
impian. Sama halnya ketika kita galau sendiri mandangin timeline. Saya nggak
mendiskreditkan teman – teman yang suka galau karena tweet seseorang, saya juga
pernah bahkan terkadang masih suka merasa begitu kok. Tapi yang harus kita
sadari adalah semakin hari orang itu semakin abstrak. Kita bukan lagi manusia –
manusia kuno yang perilakunya dapat diprediksi. Bahkan saat ini saya meragukan
terapi behaviorisme, suatu terapi dengan cara membiasakan seseorang agar dapat
berperilaku seperti yang diharapkan si terapi. Kenapa ? Karena poker face.
Ya,
poker face. Makin hari orang makin pinter untuk poker face. Nggak menutup
kemungkinan toh kita untuk berpura – pura terbiasa dengan sebuah peraturan atau
sistem atau apapun itu ? Padahal harapannya dari peraturan atau sistem tersebut
kita dapat berperilaku sesuai harapan si pembuatnya. Coba lihat hasilnya, nggak
sedikit toh yang anarkis menolak karena alasan “muak” ? Ya, mereka adalah
golongan yang telah lama menahan poker face itu.
Tapi
bagi saya nggak masalah. Selama poker face itu sama – sama bikin senang kenapa nggak
? Bukan kah selama hidup ini kita terbiasa bahagia untuk hal – hal yang ingin
kita dengar daripada yang seharusnya kita dengar ? Life is getting complicated.
Mau makan aja udah susah. Mau cari kerjaan aja udah sikut kanan – kiri. Lantas
untuk apa memberi cinta aja diporsikan ? Menghindari kesalahpahaman bukan
dengan membatasi kadar cinta, tapi dengan mengubah pesan cinta itu agar cinta
dipahami sebagai bentuk yang sama. Mungkin kah ? Mungkin. Tapi teman saya
bilang tidak. Baginya, cinta tetap cinta. Isinya akan selalu sama, bentuknya akan
selalu sejenis, rasanya akan selalu serupa. Entah lah, mungkin sayanya saja
yang sudah mati rasa atau lupa “cinta” itu sendiri.
0 comments: