Mati Rasa

11:13 PM Tameila 0 Comments



Akhir – akhir ini entah kenapa saya sering menemukan tulisan – tulisan jaman dulu, dari jaman SMA sampai dua tahun lalu. Warna tulisannya selalu sama, dan emm…kalau dibaca sekarang rasanya agak “oh girl, please deh !”. Eh tapi sumpah lho ini beneran. Bacanya itu bikin saya merinding sendiri bahkan nanya sama diri sendiri “kok bisa sih lo, Git, nulis beginian ?”

                Bingung ? Ya. Saya bingung. Saya nggak ngerti kenapa dulu bisa nulis begitu. Dulu mungkin bagus karena cuharan hati (ceritanyeee), tapi sekarang kok kesannya menye – menye. Begituan aja diambil hati. Begituan aja ditulis puitis. Begitu aja dirasain. Sensitif amat !

                Tapi, makin saya nyinyirin tulisan sendiri, saya malah mikir, “well, kapan lo terakhir ngerasain ini?”. Ini ? “Ini” yang seperti apa ? Saya sendiri nggak bisa ngejelasin secara rinci. Untungnya Carl Gustav Jung, founder – nya analytical psychology, bisa membantu saya mendeskripsikan perasaan itu. Intinya, sebuah rasa bahagia yang tidak bisa dijelaskan oleh seseorang. Otak merespon perasaan itu dan seketika membuah manusia bagai terbang kea wan (Jung lho yang bilang begitu). Intinya, jatuh cinta. 

                Emm…crap ! Ya, jatuh cinta.

                Sebenarnya saya males ngomongin masalah ini, karena memang udah lupa juga rasanya gimana. Tapi sebuah obrolan dengan teman saya membuat mau tak mau mencoba mengingat – ingat lagi rasanya gimana. Bedanya antara “jatuh suka” dengan “jatuh cinta”. Masalahnya, omongan teman saya itu ada benarnya juga. Dia bilang begini, “gue itu bisa aja gampang jatuh suka, tapi nggak dengan jatuh cinta. Gue nggak mau ngulang kesalahan yang sama”.

                Baiklah, kalimat itu bikin saya mikir. Mau nggak mau otak yang udah dapat stimulus pesan harus menginterpretasikannya. Nah, sialnya otak saya nangkap maknanya itu, “Git, antara jatuh suka dan jatuh cinta itu beda. Yang kamu rasain selama ini jatuh suka, bukan jatuh cintaI”. Ulalalalaa…saya tidak suka ini. Saya tidak suka ini. Saya tidak suka ini. Kenapa ? Ya jelas nggak suka lah kalau pada akhirnya saya harus mengurangi kadar “cinta” saya pada orang – orang yang ternyata hanya saya “suka” – in. Dengan begitu kan saya harus memisahkan mana yang harus saya beri “cinta”, mana yang hanya “bumbu” – nya saja. Padahal sebelumnya saya nggak pernah nyadar antara “cinta” dan “suka”, makannya bagi saya semua orang itu sama. Harus saya sayang. Harus saya cintai. Harus saya hormati. Enough !

                Seorang teman yang lain juga pernah bilang, “gak semua orang berhak dapat kebaikan kita. Bukannya picik, tapi untuk beberapa hal menjadi baik itu tidak selalu baik”. Makin bingung ? Ya, sama saya juga. Rasanya kenapa semakin hari dunia ini semakin skeptis ? Mau baik aja harus menghitung kadarnya. Mau mencintai aja harus pilih – pilih. Bagi saya, memberikan keduanya dengan porsi yang sama rata untuk semua orang nggak salah kok. I mean, kenapa harus dipisahkan dan diporsikan ? Menghindari kesalahpahaman ?

                Hmm…okay, kalau kita mau berbicara kesalahpahaman. Sebenarnya kalau terjadi salah paham itu bukan berasal dari si pemberi cinta. Toh “cinta” sendiri pun tidak harus selalu hubungan “pacaran”, “suami – istri”, atau ikatan lawan jenis, bukan ? “Cinta” kan sebuah perasaan mendalam ketika kamu sayang sama seseorang. Ketika kamu udah nerima kekurangan dan kelebihannya. Kamu udah nggak lagi hitung – hitungan. Kamu menerima orang itu atas dasar dirinya, bukan siapa dia saat itu, bagaimana lingkungannya, apa jabatannya, atau lainnya. Bukan. Kita menerima mereka ya karena mereka. Just the way they are.

                Makannya saya suka greget sendiri kalau ada orang yang bilang, “makannya dibatasi, tuh kan jadinya salah paham”. Hey, salah paham itu datangnya dari si penerima “cinta”. Salah – paham. Ada sebuah interpretasi yang tidak sesuai dengan maksud si pemberi kode (cinta). Bentuk komunikasi kode itukah yang salah ? Mungkin. Tapi bagi saya, saat saya ingin mengkomunikasikan rasa cinta itu tak ada yang salah. Karena saya percaya ketika sesuatu yang datangnya dari hati pasti nyampainya ke hati juga. Lantas yang salah siapa ?

                Bukan siapa, tapi apa. Apa yang salah di sini ?

                Harapan. Ya, harapan.

                Nggak salah sih saat kita menaruh ekspetasi tinggi di orang yang udah dekat banget dengan kita. Yang salah itu ketika kita nggak mempersiapkan diri saat encode – decode tidak berjalan sesuai impian. Sama halnya ketika kita galau sendiri mandangin timeline. Saya nggak mendiskreditkan teman – teman yang suka galau karena tweet seseorang, saya juga pernah bahkan terkadang masih suka merasa begitu kok. Tapi yang harus kita sadari adalah semakin hari orang itu semakin abstrak. Kita bukan lagi manusia – manusia kuno yang perilakunya dapat diprediksi. Bahkan saat ini saya meragukan terapi behaviorisme, suatu terapi dengan cara membiasakan seseorang agar dapat berperilaku seperti yang diharapkan si terapi. Kenapa ? Karena poker face.

                Ya, poker face. Makin hari orang makin pinter untuk poker face. Nggak menutup kemungkinan toh kita untuk berpura – pura terbiasa dengan sebuah peraturan atau sistem atau apapun itu ? Padahal harapannya dari peraturan atau sistem tersebut kita dapat berperilaku sesuai harapan si pembuatnya. Coba lihat hasilnya, nggak sedikit toh yang anarkis menolak karena alasan “muak” ? Ya, mereka adalah golongan yang telah lama menahan poker face itu.

                Tapi bagi saya nggak masalah. Selama poker face itu sama – sama bikin senang kenapa nggak ? Bukan kah selama hidup ini kita terbiasa bahagia untuk hal – hal yang ingin kita dengar daripada yang seharusnya kita dengar ? Life is getting complicated. Mau makan aja udah susah. Mau cari kerjaan aja udah sikut kanan – kiri. Lantas untuk apa memberi cinta aja diporsikan ? Menghindari kesalahpahaman bukan dengan membatasi kadar cinta, tapi dengan mengubah pesan cinta itu agar cinta dipahami sebagai bentuk yang sama. Mungkin kah ? Mungkin. Tapi teman saya bilang tidak. Baginya, cinta tetap cinta. Isinya akan selalu sama, bentuknya akan selalu sejenis, rasanya akan selalu serupa. Entah lah, mungkin sayanya saja yang sudah mati rasa atau lupa “cinta” itu sendiri.

You Might Also Like

0 comments: