Renungan Malam
Sebentuk Bayangan dalam Cermin
AKU tahu aku sedang tidak baik – baik saja. Upayaku untuk membunuh
malam tidak berhasil. Musik yang berputar dari komputer membuat malam malah
terasa semakin panjang. Angin malam menyelusup dari sela pintu membelai kakiku.
Dingin. Kakiku gemetaran dan jemarinya bergerak risau. Minta dihangatkan oleh
si empunya. Tapi aku enggan untuk memakai kaos kaki. Aku tidak ingin membuat
tubuhku menjadi manja. Kalah dan menyerah dengan keadaan luar.
Beberapa orang
menyebut aku dengan sebutan kepala batu. Entah atas dasar apa mereka melabelkan
aku seperti itu. Aku tidak cukup bangga, malah aku risih. Mereka bilang kalau
aku sudah ada kemauan maka akan aku kejar sampai dapat. Tidak peduli betapa
besar resikonya. Terus maju seberapa kuat hambatannya. Apa aku salah ? Tidak
kan ? Bukan kah seorang bijak pun mengatakan, “if there is a will, there is a
way ?” Tapi bagi mereka beda. Mereka bilang aku gila. Aku sinting. Tidak punya
otak. Ah, peduli setan !
҉
Aku percaya ada saatnya seorang manusia
akan merasa jatuh sejatuh – jatuhnya. Masuk dan terus tenggelam hingga ke dasar
laut kehidupan. Seorang teman pernah berbisik begini padaku, “kau tahu hidup
ini seperti roda. Mengapa harus menangis ketika kau tahu kau akan jatuh ?
Mengapa harus mengerang ketika kau tahu kau akan sakit ? Jangan salahkan dunia.
Jangan salahkan kehidupan. Kau lah yang salah. Salah sendiri tidak
mempersiapkan amunisi.”
Semua ini gara – gara
siang itu. Siang di mana untuk kesekian kalinya aku diberi tantangan. Awalnya
aku pikir dia cukup bodoh menitahkan tugas ini padaku. Terlalu gampang. Memang
terkesan sombong. Dia pun berkata kalau aku cukup angkuh ketika terpancar
seringai di wajahku. Tapi memang benar tugas ini mudah. Terlalu mudah malah.
Semua ini gara – gara
orang itu. Dia yang selalu berhasil membuat dirinya dihujat dan ditertawakan.
Tapi dia tidak peduli. Dia terus berjalan lurus tanpa menghiraukan dunia yang
melecekannya. Aku pikir dia terlalu percaya diri, terlalu frontal malah.
Beberapa orang bilang dia orang bego. Sama halnya ketika orang – orang
melabelkan diriku kepala batu. Peduli setan !
Semua ini gara – gara
percakapan itu. Obrolan di tengah hujan deras yang aku kira hanya topik
kacangan semata. Tapi ternyata aku salah. Sesuatu yang sepele itu menjadi
serius. Sialnya berpengaruh pada hidupku. Dari sanalah aku belajar untuk
menjaga mulutku.
0 comments: