Standing Applause

11:31 PM Tameila 0 Comments

Namanya Juli. Dia bukan anak biasa. Bagi saya, dia anak luar biasa. Bukan dari fisiknya, tapi dari ketulusannya untuk memberikan yang terbaik.

                Pertama kali saya ketemu dengannya, dia sedang duduk di balik pohon. Mukanya sudah putih penuh dengan pupuruan make up. Bibirnya pun merah ranum, bagaikan wanita yang sedang memakai lipstick. Tama, pelatihnya, bilang dia sudah di sini sejak pukul 8 pagi. Tapi saat itu sudah jam 10 dan acara pun belum di mulai. Benar saja, saat saya tengok ke dalam ruangan yang berspanduk “Lomba Pantomim SMA LB” belum ada satu pun juri di sana. Jangan kan juri, panitia untuk daftar ulang pun tak ada.

                Baiklah. Jam karet. Itu sudah biasa bagi masyarakat Indonesia, apalagi di lingkungan dengan tingkat edukasi yang rendah. Bukan menjelekkan, tapi memang begitu lah adanya di Indonesia. Jangankan di daerah, di kota pun di lingkungan orang – orang berpendidikan jam karet jadi sesuatu yang dimaklumi. Agaknya aneh gitu kalau orang Indonesia tepat waktu. Padahal Indonesia sendiri selalu berkaca ke negara maju yang orang – orangnya tepat waktu semua. Tapi kenapa Indonesia nggak mencontoh dari hal sekecil itu ?

                Kecil ? No. Tepat waktu adalah sesuatu yang besar dan sulit untuk dilakukan karena harus mengubah kebiasaan seseorang. Sesuatu yang kecil adalah melihat perjuangan anak – anak yang didandani layaknya Chaplin ini. Mereka rela lho menor – menor begitu untuk nunggu 3 jam. TIGA JAM WOY ! Saya sendiri nggak tega lihat Juli yang mukanya putih begitu selama 3 jam. Saya tahu dia kegerahan, tapi mau bagaimana dia nggak mau latihannya selama seminggu kemarin sia – sia. Sama seperti peserta lainnya. Anak di sebelah Juli malah sudah mengeluh lapar dan kepanasan.

                Biar bagaimana saya harus belajar untuk look at the good thing instead of the bad. Mungkin kalau nggak ngaret saya nggak akan paham tentang satu hal, yaitu kepincangan pendidikan luar biasa di negara ini nggak cuma disebabkan oleh regulatornya yang orang nggak paham, tapi dari eksekutornya juga yang minim. Siapa eksekutornya itu ? Bukan lagi pemerintah dinas, tapi guru – gurunya.

                Selama menemani Juli  saya ngobrol singkat dengan Arief. Saya bilang kalau guru – guru di sini ternyata sama dengan guru – guru di SLB tempat saya mengajar dulu. Minim yang bisa bahasa isyarat. Hal ini pernah saya bicarakan juga dengan Tama, bedanya Arief menjawab dari perspektif lain. Kalau dulu menurut Tama dan Pak Broto karena sistem pendidikannya yang nggak ngajarin bahasa isyarat, menurut Arief hal ini disebabkan karena memang mahasiswa PLB – nya yang kurang mau untuk bisa bahasa isyarat.

                Saya mengusulkan bagaimana kalau teman – teman DAC mengajari mahasiswa – mahasiswa PLB itu. Saya pikir ya udah lah kalau memang sistem pendidikan sekarang kayak begini. Udah terlanjur guru – guru tua itu nggak bisa bahasa isyarat. Tapi untuk generasi guru – guru PLB selanjutnya at least harus bisa bahasa isyarat. Semua ide yang saya kasih ke Arief dia jawab, “sudah pernah dilakukan. Tapi tetap aja nggak bisa”.

                Awalnya saya pikir Ariefnya aja ini yang pesimis. Tapi setelah saya ngobrol lebih lanjut memang susah juga. Pertama, nggak banyak mahasiswa PLB yang sadar untuk belajar bahasa isyarat. Kedua, ada yang sudah belajar tapi cepat lupa karena tidak pernah dipakai di lingkungannya yang tidak menggunakan bahasa isyarat. Ketiga, calon – calon guru ini berpikir kalau anak – anak tuna rungu bisa membaca gerak bibir, jadi untuk apa belajar bahasa isyarat. Ketiga alasan tadi cukup lah membuat saya paham kalau memang susah untuk mengubah kualitas keluaran SLB. Meski saya tahu nggak semua mahasiswa PLB seapatis itu dengan bahasa isyarat.

                Kalau begini terus, keluaran SMALB ya kemampuan kognitifnya akan selalu sama dengan anak SMP atau bahkan SD. Udah gurunya nggak mengajarkan sesuai caranya, sistemnya juga yang menurunkan standar. Pantas saja kualitas mereka nggak setara dengan anak – anak normal. Padahal coba deh kalau kita mau lihat lebih dekat, mereka itu sama dengan anak – anak normal. Bahkan dalam berkomunikasi pun nggak beda.

                Mereka tuli ? Indeed. So what’s the problem ? Masalah mereka itu bukan di tuli, kitanya aja yang nggak fleksibel untuk bermedia dengan mereka. Komunikasi itu apa sih selain proses encode – decode lewat media ? Kita ngomong A dengan lawan bicara lewat media supaya lawan bicara nangkep maksudnya A juga, bukan ? Nah sekarang tinggal kitanya yang diberi kelebihan oleh Tuhan untuk pintar memilih media itu. Jangan kan dengan orang tuli, komunikasi dengan orang berpendengar aja kalau nggak menggunakan media yang tepat bakalan salah persepsi. Jadi di sini masalahnya adalah apa ? Media toh ? Bahasa.

                Mungkin karena jumlah mereka juga yang minoritas makannya nggak banyak yang bisa dan mau belajar bahasa isyarat. Di sini saya nggak menyalahkan siapa – siapa, cuma saya menyayangkan mengapa keadaannya harus seperti ini. Saya pun nggak bisa berbuat banyak. Siapa saya ? Skripsi aja belum buat kok udah lancangnya bilang A, B, C, dan bla bla bla masalah pendidikan. Saya nggak mau teriak macam – macam kalau masih mahasiswa begini. Belum kapasitasnya.

                Kapasitas saya hanyalah mendorong satu – dua anak yang butuh pengertian bahwa mencoba itu jauh lebih baik daripada tidak pernah melakukan apapun. Sama seperti yang teman – teman DAC ajarkan kepada saya. Itu pun yang saya berikan pada Juli siang tadi. Saat ia mundur dari berdirinya waktu tau juara 3. Bagi saya itu sudah luar biasa untuk dirinya yang nervous dan blockingnya berantakan seperti tadi. Tapi dia ? Tidak. Dia tidak merasa cukup.

                Usai pengumuman ia tidak berani menemui pelatihnya. Saya tanya kenapa dan dia jawab, “mereka akan marah kalau saya juara 3, saya harusnya juara 1”. Ah, Juli. Andai kamu tahu betapa Tama dan Wawan memaklumi dan sangat menghargai semua usaha kamu. Latihan berjalan yang kamu lakukan selama 4 jam kemarin cukup membuat Tama dan Wawan telah berhasil membuatmu menjadi juara 1. Piala juara 3 – mu telah cukup membayar kekhawatiran mereka saat kamu sakit sehari sebelum tampil.

                Cukup. Sudah cukup semuanya, Juli. Lebih dari cukup apa yang telah kalian berikan untuk kami, teman – teman tuli. Biarkan kami sekarang yang berdiri dan bertepuk tangan untuk semua semangat dan pelajaran yang kalian berikan untuk kami sehingga kami bisa lebih bersabar. Lebih bersyukur. Lebih mahfum. Lebih bijaksana. Dan lebih semangat.

You Might Also Like

0 comments: