Standing Applause
Namanya Juli. Dia bukan anak biasa. Bagi saya, dia anak luar
biasa. Bukan dari fisiknya, tapi dari ketulusannya untuk memberikan yang
terbaik.
Pertama
kali saya ketemu dengannya, dia sedang duduk di balik pohon. Mukanya sudah
putih penuh dengan pupuruan make up. Bibirnya pun merah ranum, bagaikan wanita
yang sedang memakai lipstick. Tama, pelatihnya, bilang dia sudah di sini sejak
pukul 8 pagi. Tapi saat itu sudah jam 10 dan acara pun belum di mulai. Benar saja,
saat saya tengok ke dalam ruangan yang berspanduk “Lomba Pantomim SMA LB” belum
ada satu pun juri di sana. Jangan kan juri, panitia untuk daftar ulang pun tak
ada.
Baiklah.
Jam karet. Itu sudah biasa bagi masyarakat Indonesia, apalagi di lingkungan
dengan tingkat edukasi yang rendah. Bukan menjelekkan, tapi memang begitu lah
adanya di Indonesia. Jangankan di daerah, di kota pun di lingkungan orang –
orang berpendidikan jam karet jadi sesuatu yang dimaklumi. Agaknya aneh gitu
kalau orang Indonesia tepat waktu. Padahal Indonesia sendiri selalu berkaca ke
negara maju yang orang – orangnya tepat waktu semua. Tapi kenapa Indonesia
nggak mencontoh dari hal sekecil itu ?
Kecil ?
No. Tepat waktu adalah sesuatu yang besar dan sulit untuk dilakukan karena
harus mengubah kebiasaan seseorang. Sesuatu yang kecil adalah melihat
perjuangan anak – anak yang didandani layaknya Chaplin ini. Mereka rela lho
menor – menor begitu untuk nunggu 3 jam. TIGA JAM WOY ! Saya sendiri nggak tega
lihat Juli yang mukanya putih begitu selama 3 jam. Saya tahu dia kegerahan,
tapi mau bagaimana dia nggak mau latihannya selama seminggu kemarin sia – sia. Sama
seperti peserta lainnya. Anak di sebelah Juli malah sudah mengeluh lapar dan
kepanasan.
Biar
bagaimana saya harus belajar untuk look at the good thing instead of the bad. Mungkin
kalau nggak ngaret saya nggak akan paham tentang satu hal, yaitu kepincangan
pendidikan luar biasa di negara ini nggak cuma disebabkan oleh regulatornya
yang orang nggak paham, tapi dari eksekutornya juga yang minim. Siapa eksekutornya
itu ? Bukan lagi pemerintah dinas, tapi guru – gurunya.
Selama menemani
Juli saya ngobrol singkat dengan Arief. Saya
bilang kalau guru – guru di sini ternyata sama dengan guru – guru di SLB tempat
saya mengajar dulu. Minim yang bisa bahasa isyarat. Hal ini pernah saya
bicarakan juga dengan Tama, bedanya Arief menjawab dari perspektif lain. Kalau
dulu menurut Tama dan Pak Broto karena sistem pendidikannya yang nggak ngajarin
bahasa isyarat, menurut Arief hal ini disebabkan karena memang mahasiswa PLB –
nya yang kurang mau untuk bisa bahasa isyarat.
Saya mengusulkan
bagaimana kalau teman – teman DAC mengajari mahasiswa – mahasiswa PLB itu. Saya
pikir ya udah lah kalau memang sistem pendidikan sekarang kayak begini. Udah terlanjur
guru – guru tua itu nggak bisa bahasa isyarat. Tapi untuk generasi guru – guru PLB
selanjutnya at least harus bisa bahasa isyarat. Semua ide yang saya kasih ke
Arief dia jawab, “sudah pernah dilakukan.
Tapi tetap aja nggak bisa”.
Awalnya
saya pikir Ariefnya aja ini yang pesimis. Tapi setelah saya ngobrol lebih
lanjut memang susah juga. Pertama, nggak banyak mahasiswa PLB yang sadar untuk
belajar bahasa isyarat. Kedua, ada yang sudah belajar tapi cepat lupa karena
tidak pernah dipakai di lingkungannya yang tidak menggunakan bahasa isyarat. Ketiga,
calon – calon guru ini berpikir kalau anak – anak tuna rungu bisa membaca gerak
bibir, jadi untuk apa belajar bahasa isyarat. Ketiga alasan tadi cukup lah
membuat saya paham kalau memang susah untuk mengubah kualitas keluaran SLB. Meski
saya tahu nggak semua mahasiswa PLB seapatis itu dengan bahasa isyarat.
Kalau begini
terus, keluaran SMALB ya kemampuan kognitifnya akan selalu sama dengan anak SMP
atau bahkan SD. Udah gurunya nggak mengajarkan sesuai caranya, sistemnya juga
yang menurunkan standar. Pantas saja kualitas mereka nggak setara dengan anak –
anak normal. Padahal coba deh kalau kita mau lihat lebih dekat, mereka itu sama
dengan anak – anak normal. Bahkan dalam berkomunikasi pun nggak beda.
Mereka tuli
? Indeed. So what’s the problem ? Masalah mereka itu bukan di tuli, kitanya aja
yang nggak fleksibel untuk bermedia dengan mereka. Komunikasi itu apa sih
selain proses encode – decode lewat
media ? Kita ngomong A dengan lawan bicara lewat media supaya lawan bicara
nangkep maksudnya A juga, bukan ? Nah sekarang tinggal kitanya yang diberi
kelebihan oleh Tuhan untuk pintar memilih media itu. Jangan kan dengan orang
tuli, komunikasi dengan orang berpendengar aja kalau nggak menggunakan media
yang tepat bakalan salah persepsi. Jadi di sini masalahnya adalah apa ? Media
toh ? Bahasa.
Mungkin
karena jumlah mereka juga yang minoritas makannya nggak banyak yang bisa dan
mau belajar bahasa isyarat. Di sini saya nggak menyalahkan siapa – siapa, cuma
saya menyayangkan mengapa keadaannya harus seperti ini. Saya pun nggak bisa
berbuat banyak. Siapa saya ? Skripsi aja belum buat kok udah lancangnya bilang
A, B, C, dan bla bla bla masalah pendidikan. Saya nggak mau teriak macam –
macam kalau masih mahasiswa begini. Belum kapasitasnya.
Kapasitas
saya hanyalah mendorong satu – dua anak yang butuh pengertian bahwa mencoba itu
jauh lebih baik daripada tidak pernah melakukan apapun. Sama seperti yang teman
– teman DAC ajarkan kepada saya. Itu pun yang saya berikan pada Juli siang
tadi. Saat ia mundur dari berdirinya waktu tau juara 3. Bagi saya itu sudah
luar biasa untuk dirinya yang nervous
dan blockingnya berantakan seperti tadi. Tapi dia ? Tidak. Dia tidak merasa
cukup.
Usai pengumuman
ia tidak berani menemui pelatihnya. Saya tanya kenapa dan dia jawab, “mereka akan marah kalau saya juara 3, saya
harusnya juara 1”. Ah, Juli. Andai kamu tahu betapa Tama dan Wawan
memaklumi dan sangat menghargai semua usaha kamu. Latihan berjalan yang kamu
lakukan selama 4 jam kemarin cukup membuat Tama dan Wawan telah berhasil
membuatmu menjadi juara 1. Piala juara 3 – mu telah cukup membayar kekhawatiran
mereka saat kamu sakit sehari sebelum tampil.
Cukup. Sudah
cukup semuanya, Juli. Lebih dari cukup apa yang telah kalian berikan untuk
kami, teman – teman tuli. Biarkan kami sekarang yang berdiri dan bertepuk
tangan untuk semua semangat dan pelajaran yang kalian berikan untuk kami
sehingga kami bisa lebih bersabar. Lebih bersyukur. Lebih mahfum. Lebih bijaksana.
Dan lebih semangat.
0 comments: