Dimensi
di·men·si /diménsi/ n ukuran (panjang, lebar, tinggi, luas, dsb);
dimension
Pronunciation:/dɪˈmɛnʃ(ə)n, dʌɪ-/
noun
1 (usually dimensions) a measurable
extent of a particular kind, such as length, breadth, depth, or height:the final dimensions of the pond were
14 ft x 8 ft[mass noun]:the drawing must be precise in dimension
Tanya lah ke beberapa orang, jawaban mereka pasti serupa.
Dimensi adalah sesuatu yang bisa diukur atau punya standar baku. Bapak tua itu
pun bilang bahwa sesuatu yang tidak bisa menyambung karena adanya perbedaan
dimensi. Dunia berkomunikasi lewat apa, sedangkan dia meresepsi lewat yang lain. Tapi tidak
dengan kita. Dimensi kita satu. Kita saling berkomunikasi dan meresepsi dengan
cara yang sama. Bedanya hanya sedikit, yaitu
dimensi bagi kita lebih dari sekedar sesuatu yang bisa diukur. Ia adalah
perpaduan indah
dari ketunaan dan kegagapan.
Tak
ada yang paham tulisan ini selain kamu. Memang aku tak berniat membagi kisah
kita dengan yang lain. Untuk apa ? Mereka memahamimu pun enggan, jadi tak usah
ku buang tenaga untuk membagi cerita ini. Biar sunyi saja yang mendengar tanpa
harus menyebarluaskannya pada dunia. Karena dunia tidak peduli. Karena dunia
pun tak bisa memahami.
Seperti
katamu, bukan ? Kalau orang – orang di dunia ini membencimu, merasa jijik,
bahkan tak peduli. Ada kalanya aku berpikir kamu terlalu picik saat merasa
terdiskriminasi. Apakah kamu tidak melihat aku ? Apakah kamu tidak melihat
teman – teman yang lain ? Hey, tidak semuanya. Masih ada orang yang peduli
denganmu. Banyak yang bangga dan sayang padamu. Mengapa otakmu begitu kecil?
Aku
marah ? Ya. Jelas. Tapi setelah sabit berganti purnama dan begitu seterusnya, aku
jadi lebih paham maksudmu. Aku mengerti dunia sebalah mana yang kamu maksud.
Agak tenang ketika aku tahu itu bukan duniaku, tapi dunia mereka. Dunia mereka
? Hey, aku salah satu dari mereka lho. Aku sama dengan mereka. Coba lihat…sama,
bukan ?
Sekeras
apapun aku menyamakan diri, kamu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Kamu
bilang aku beda dengan mereka. Lalu, apakah aku sama denganmu ? Kamu malah
tertawa dan cepat menggeleng tidak setuju. Kalau begitu, aku ada di mana ? Kamu
jawab, kamu ada di kamu. Kamu ya kamu. Kamu bukan mereka. Kamu bukan aku. Kamu
adalah kamu.
Kepincanganku
lah yang lama memahami jawabanmu. Hingga saat matahari sedang riang bermain
bersama bumi, aku baru tahu apa maksudnya. Aku adalah bagian dari mereka yang
ada di dimensimu. Mungkin belum berada sepenuhnya, karena kita pun masih
membutuhkan menit dan jam untuk saling memahami. Bahkan aku butuh hari sampai
akhirnya bergumam, “oh, begitu maksudnya”.
I feel
so stupid. It’s too late. Saat aku baru menuntaskan proses decode – ku, mengapa kamu mengirimkan pesan yang lain ? Berilah
jeda sejenak untukku membalas pesanmu. Izinkan aku untuk melengkapi komunikasi
interaktif ini, aku tak mau berada dalam komunikasi satu arah. Tapi mau
bagaimana ? Pesanmu sudah menghampiriku dan mau tak mau aku harus memaksa jalan
otakku yang pincang.
Benar,
butuh beberapa jam untuk paham betul maksudmu. Beruntunglah aku memasuki
dimensi yang berpenghuni jiwa penyabar. Ah, apa benar kamu penyabar ? Coba
ingat berapa jitakan yang kamu layangkan kalau aku lama merespon. Coba ingat
berapa kali kamu meninggalkanku kalau aku menunjukkan “ekspresi nol” – ku. Coba
ingat berapa kali protes yang kamu lakukan kalau aku malas menggunakan tanganku
dan memilih memanfaatkan bibirku. Coba ingat. Coba ingat. Coba ingat.
Aku
ingat, kamu melakukannya berkali – kali. Setiap saat tatkala kita berusaha
menyatukan dua dimensi ini. Tatkala aku memaksakan dimensiku harus diterima
olehmu, tanpa aku peduli betapa sulitnya ini untukmu. Aku egois ? Ya. Tapi aku
lakukan ini semata – mata agar aku dapat masuk ke dimensimu. Mengapa ? Ada
Tuhan di sana. Ada diriku di sana. Ada kamu di sana. Ada kalian di sana. Ada
tawa yang tak membuat bingar. Ada tangis yang tak membuat air mata. Ada canda
yang tak membuat luka. Ada pengorbanan yang tak membuat darah. Ada ketulusan
yang tak membuat tuntut.
Keegoisanku
lah yang akhirnya membuatku tak melibatkanmu jauh ke dalam dimensiku. Aku tahu
tak cukup baik untukmu. Aku tak cukup memahamimu. Aku tak lebih dari seorang
pincang yang masih belajar berjalan namun memimpikan untuk bisa terbang
bersamamu. Lama. Masih lama dimensiku untuk bisa bersatu denganmu. Masih ada
egoku di sana.
Aku
sendiri heran, ke mana ego dalam dimensimu ? Kamu kuburkan sepenuhnya kah ?
Kamu tenggelamkan dia hidup – hidup ? Jangan lah menjadi kanibal. Biar aku saja
yang memutilasi perasaanku, kamu tidak usah. Karena memang sejak awal aku yang
memaksakan dua dimensi ini menyatu.
Simpan
dan rawat egomu untuk yang lebih berhak. Matikan saat kamu memperjuangkan nyawa
yang lebih berharga. Kamu sudah lebih dari cukup membuka dimensi itu untukku.
Biar lah saatnya kini aku tahu diri dan membalas semua yang telah kamu berikan.
Hanya satu pintaku, jangan dulu tutup dimensimu. Kalau kamu tidak mengizinkanku
untuk mengubah dimensiku menjadi seperti milikmu, beri lah aku kesempatan untuk
bisa menghiasi dimensiku dengan dimensimu. Ah ya, kamu pernah berbicara tentang
masa depan. Kamu sering berbagi mimpi denganku, bukan ? Beri lah aku celah di
sana untuk bisa merajut jahitan – jahitan kecil penyambung mimpi – mimpimu agar
terangkai menjadi masa depanmu yang nyata.
Dimensiku.
Dimensimu. Tergeletak dalam dua ruang di bawah atap yang sama. Atap – Nya yang
tak hingga.
0 comments: